de ja vu?

pernah ngalemin kayak gini?
suatu hari di bulan ramadhan, saat kamu berpuasa. bulan yang katanya penuh berkah sehinga kita berlomba-lomba menambah saldo tabungan akhirat kita. tiba2 di jalan, saat duduk di bangku bis langganan kita, seorang ibu setengah baya dan masih cukup bugar meminta ijin duduk di sebelah kita. setelah cukup panjang berbasa-basi, si ibu akhirnya mengaku mau bertakziyah kerumah saudaranya yang meninggal di kawasan X, yang tentu aja ga searah dengan jurusan bis yang kamu tumpangi. lalu si ibu berkilah bis yang jurusan X kelamaan ngetem. si ibu lalu berkisah kedatangannya dari bogor itu diwarnai aksi copet sehinga tas tangannya disilet, ditunjukan ke kamu goresan siletnya yang cukup lebar. dan ... de ja vu... si ibu mengaku ga punya uang buat ke X, minta kebaikan hati kamu untuk sekedar ongkos ke sana. masih belum cukup? tambahlah dengan informasi bahwa si bu ini janda pensiunan yang sodara-sodaranya berada jauh di mana.

crita seperti ini mungkin seperti pita seluloid yang diputar ulang, menampilkan rekaman kejadian serupa dengan kesamaan skenario: kecopetan, butuh uang buat ke rumah ato ke tujuannya semula.

apakah cerita seperti ini bisa bikin kamu sedikit terharu dan spontan merogoh saku untuk memindahkan selembar sepuluhribuan yang ada ke tangan si ibu? di sinilah kita diuji keikhlasan dan kebeningan hati, merelakan uang yang sedianya untuk buka puasa nanti dengan pikiran positif si ibu benar2 mengalami kejadian seperti ini. coba bayangkan gimana kalo hal ini terjadi pada diri kita?

tapi tunggu dulu.. rupanya ada sisi hati yang mentah-mentah menolak kita mempercayai kisah rekaan si ibu. sebab terlalu banyak kejanggalan dalam ceritanya, terlalu sering kita dihampiri orang2 yang mengaku kehabisan uang. usai bertutur pada kita, bisa jadi si ibu menghampiri orang lain dan memutar rekaman cerita yang sama atau dengan sedikit modifikasi supaya laik dipercaya?

bagaimana?










Share on Google Plus

About Unknown

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment