ketemu si "mbak" dan terpenjara dalam perangkap ratu gosip

sabtu lalu, selagi iseng jalan ke margo city di depok untuk keperluan blanja bulanan *terpaksa jalan karena terancam kehabisan sabun cuci yang akan mengancam kelangsungan tampil fesyenebel* gw dihadang oleh suara keras yang ternyata tersembur dari mulut seorang senior bernama "mbak" n. si "mbak" n ini --diucapkan dengan penuh penekanan pada kata embak, karena demikianlah senior kita itu biasa membahasakan diri--rupanya lagi berpartisipasi di ajang pamer yang berlokasi di ground area mal gede itu. materi pamer-nya gak laen adalah seonggok kaen sulam pita kebanggaannya.

"mbak" n adalah senior dengan sebaris prestasi yang sejalan dengan buku pedoman utama menjadi perempuan idaman indonesia di suatu masa: indeks prestasi selalu di atas tiga, aktifis organisasi senat mahasiswa *ketauan kan generasi berapa hahaha*, lulus cum laude *ditandai dengan i-pe tiga koma sekian nyaris empat*, menikah pada waktunya *kalo di bawah 25 dianggap standar paling ideal untuk nikah*, menambah gelar akademik dengan master yang diperoleh dari beasiswa, berkarir sebagai dosen, punya suwamik, dilengkapi dengan dua anak perempuan yang terlahir sempurna, punya usaha sulam pita yang bisa menghidupi tetangga... hohoho apa gak ngebanggain?

adalah sebauah hal biasa, ketika elo ketemu dengan temen lama atau pun lammmmmaaa, daftar pertanyaan yang akan diajukan adalah sebagai berikut:
1 - kerja di mana?
2 - udah nikah? kalau jawabannya iya, maka dilanjutkan dengan pertanyaan nomor 3. kalau belum, akan diberondong dengan pertanyaan nomor 5
3 - yaitu: anak udah berapa? lanjut ke pertanyaan berikutnya kalo udah menghasilkan keturunan
4 - eh anak lo umur berapa sekarang? laki apa cewek? kapan nambah adek?
5 - kapan ngundang? kalo lo cukup berbesar hati, lo bakal jawab: doain yaaaaa. si penanya akan melontarkan pertanyaan berikutnya seperti tercantum di nomor 6
6 - emang siapa calonnya? ada dua pilihan yaitu: 6a) udah tersedia dan 6b) errr masih nyari-nyari nih. jenis pertanyaan ini akan mengalami pengembangan seperti pada nomor 7 dan 8
7 - udah jangan kelamaan, nunggu apa lagi sih
8 - emang nyari yang kayak gimana sih? jangan pilih-pilih napa, inget umur....*dua kata terakhir ini bisa diulang sampe dua juta kali hahaha lebay*

secara status di katepe gw adalah belum menikah, maka tentu saja pertanyaan yang layak dikonsumsi adalah kategori nomer 5.

adalah hal yang wajar sebenernya, tapi pertanyaan itu tentu aja akan menjadi lebih menyebalkan ketimbang duduk di angkot tanpa pendingin dengan waktu tunggu alias ngetem mendekati 30 menit dan orang sei seblah lo asik ngepul-ngepulin asap rokoknya tanpa dosa, jika diucapkan lebih dari 50 kali dalam sekian menit pertemuan. i think it's happened to me... sigh

apalagi kalo pertanyaan itu dibarengi dengan tatapan kasihan, terus memandangi ujung kepala lo sampe kaki. trus ngomentarin bodi lo yang skinny-skinny mengggemaskan *sedikit narsis tanda bersyukur atas karunia-NYA*. rasanya pengen banget menggunakan jurus totok untuk menghentikan saraf bicaranya.

masih belum sampe situ penderitaan gw, karena "mbak" n ini lalu nanya : gimana kabar anak-anak yang laen? hwaks?

pertanyaan itu sebenernya adalah sebuah retorika yang gak perlu dijawab karena jumlah temen kuliah yang musti diberitakan akan sangat banyak dan kalo dibukuin bisa jadi sebuah novel. ibarat lo lagi menghadapi jawara kungfu lidah, lo musti ati-ati kalo ketemu mahluk semacam ini karena bisa jadi ini adalah perangkap jitu untuk menjebak lo dalam arus pergosipan gak penting.

alur berikutnya adalah seperti ini:

eh si kak niit *nama disamarkan* sekarang gendut lowh, ih jelek banget, mana item blablablabla yang intinya adalah : istrinya si kak niit ini payah banget gak bisa ngurus suwamik dengan baik dan benar. padahal kak niit yang dimaksud itu, sekarang udah jadi selebriti yang wara wiri di layar gelas untuk program liputan gaza. tentang badannya yang gendut, adalah tanda bahwa dia hidup makmur berlimpah cukup makan dan istirahat. sementara kulit itemnya adalah bonus yang dia dapat akibat terlalu banyak berjemur di matahari tropis indonesia sebagai konsekuensi liputan segarnya.

tanpa bermaksud merendahkan kualitas sinetron yang sekarang banyak menjejali layar tipi, rasanya gw bak salah satu dari sekian pemegang peran di sinetron dengan scene penghuni perumahan baru yang lagi blanja sayur keluar trus ktemu segrombolan ibu-ibu gosip. ketimbang dongkol gw makin mengalami pembesaran macam kelenjar limfa yang terinfeksi, mendingan gw angkat kaki kanan dan kiri, bilang dah ya mo blanja dulu, lalu cabs cus dengan perasaan gundah.

seringkali kita terjebak pada satu alur kehidupan yang menurut kita sempurna dan standar: lahir, tumbuh, sekolah, kerja, menikah, punya anak dengan serangkaian pertanyaan yang udah bisa ditebak:
- ketika lulus kuliah : udah kerja? di mana?
- ketika udah kerja: udah nikah?
- ketika udah nikah : eh anak lo udah berapa?
- ketika udah punya anak satu : kapan tuuuuh si ade dapet adek

kok ga ada yang nanya kapan mati ya? padahal kan mati adalah bagian dari alur yang udah pasti hihihi

gak semua orang bisa "seberuntung" kita dengan anugerah berupa kehidupan yang lancar lurus.
ketika kita berada di posisi aman, dan ketemu orang yang ga seberuntung kita, tanpa kita sadari ada kecenderungan untuk memandang rendah orang itu. deskripsinya kurang lebih kayak gini:

elo udah nikah, ketemu temen lo yang jomblo, elo merasa menang seakan-akan status nikah itu adalah piala dunia yang musti lo pamerin sebagai prestasi membanggakan.
elo udah punya anak satu yang lucu, ketemu temen lo yang -maap- anaknya ga sempurna fisik: duh kasihan tu anak *tapi dalem hati karena maknya melotot kalo lo ngomong gitu*
elo udah punya anak yang manis, ketemu temen lo yang udah sekian taon nikah tapi masi kayak pacaran karena belom juga dikasih keturunan, lo langsung kasih rekomendasi dokter sakti tapi dalam hati mengernyit: siapa yang mandul yakk?

sekarang gimana kalo lo dibalikin?

gak perlu mengalami pertukaran jiwa seperti freaky friday atau tiga venus-nya clara ng untuk bisa berempati pada apa yang orang lain alami kalo ga "sesuai jalur" kan?
Share on Google Plus

About Unknown

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

2 comments:

dadan said...

problem yang sama saat reuni, empati dan ekor merak (merak kalo diliat orang kan selalu pamer ekor).

ipied said...

hwkakakaakakakakaka gile males banget ketemu orang macam gitu... (doh) makannya gw jarang bersua dengan teman sma atau teman kuliah gw kalo gw gak siap lahir batin di gosipin :D