Airmata untuk Indonesia

Pagi hari ini, lewat corong siar saya mendapat kabar miris: bom meledak (lagi). Seperti memutar pita seluloid untuk adegan 6 tahun lalu, di lokasi yang sama, letupan kimiawi berdaya hancur tinggi meluluhlantakkan bangunan mewah di kawasan multinegara Mega Kuningan.

Reaksi pertama menerima berita duka yang gak menyenangkan itu, jelas perasaan saya terusik. Terbayang lagi kepingan tubuh manusia berlumur darah dan wajah traumatis di layar gelas 6 tahun lalu. Kemudian, saya dihentakkan oleh sebuah ingatan bahwa sedikitnya kejadian ini akan berefek pada event besar yang diagendakan kantor saya akhir bulan ini. Mustikah batal seperti laga persahabatan tim raksasa Setan Merah dengan pesepakbola negeri ini?

Dan thread di ranah jejaring sosial pun diwarnai komentar haru dan beratmosfir emosi menggelegak, berujung pada satu kutukan bagi sang peledak, siapa pun ia.

Every cloud has silver lining. Berkali-kali dihantam ledakan, mustinya membuat negeri ini matang dan dewasa. Terlepas dari kelicikan kaum teroris memanfaatkan euforia Pilpres yang masih dalam proses, jujur saya enggan mengomentari banyak komentar dari petinggi negeri ini. Saya justru mencermati adanya semangat dari para pelaku dunia maya, yang umumnya didominasi kaum muda terdidik untuk gak menyerah pada terorisme yang bersembunyi di balik selimut sebagai pengecut.

Alih-alih membuat spekulasi dan tudingan siapa di balik aksi keji, netter dengan manisnya bergenggaman tangan *secara virtual pastinya hehehe* menyuarakan satu semangat: TIDAK TAKUT !!! Mirip iklan sabun antiseptik sebetulnya hehehe... Group page di facebook resmi terbentuk dengan nama Indonesiaunite. Satu per satu teman dunia maya saya mengganti avatar dan tema-nya menjadi merah putih. Tak sedikit pernyataan yang meengekspresikan cintanya pada negeri indah ini... Bukan lagi mengirimkan cacian dan keluhan dalam bungkus ketakutan akan teror-teror lain yang mungkin saja masih dalam perencanaan.

Kali ini saya ingin membingkiskan air mata buat bangsa yang saya cintai ini. Bukan cuma untuk korban yang meneteskan darahnya pagi ini. Tapi untuk sebuah keharuan dan kebanggaan yang menyelip hadir di balik rongga hati saya....

Ada kalanya masalah mendewasakan kita, untuk bisa lebih kuat mengarungi lautan kehidupan yang tak pernah jelas arahnya. Dan kita, akan membuktikan itu.
Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

5 comments:

amri said...

turut berduka cita

e-no: si nagacentil said...

thanks latip telah menjejakkan kaki di rumah maya gw m(_ _)m

Fanther said...

sorry to heard that....
jangan lupa yah link aku yah...

torik said...

Indonesiaku... Maafkanlah au belum bisa semaksimal mungkin menjagamu...

e-no: si nagacentil said...

@fanther link-nya apa?
@torik do what you can do ;-)