Masih Banyak Orang Baik Di Jakarta

Jalan Thamrin suatu malam...
Dalam perjalanan menuju Palembang, beberapa tahun lalu, nyaris saya kehilangan sebuah laptop dalam ransel besar yang tertinggal di dalam bajaj. Bajaj bukan taksi, di mana kita bisa mencatat nomor taksi dan melaporkannya pada operator taksi dan dalam hitungan hari sebuah surat pernyataan salut akan kejujuran supir taksi menghiasi majalah khusus perusahaan taksi tersebut. Karena itu, terbayang betapa paniknya saya menyadari benda berharga itu lenyap. Setengah berharap, saya datangi pangkalan taksi di sisi Sarinah Thamrin. Beruntung, kawanan sopir bajaj yang mangkal di sana mengenal baik sopir bajaj yang membawa tas backpack saya. Melalui sebuah perjalanan panjang dan penuh keajaiban *sampai malam ini masih sangat saya syukuri*, laptop tersebut kembali ke pelukan saya dengan selamat. Lewat kejujuran dan kebaikan hati supir bajaj, Tuhan menunjukkan kebesarannya ..

Bintaro sektor tiga...
Seorang ibu paruh baya menampung pemulung di rumahnya untuk belajar baca tulis dan berhitung gratis. Bukan hanya itu, setiap anak mendapatkan "uang saku" berupa gelas bekas air mineral dan kardus sebagai ganti waktu mereka yang "terbuang" di kursi belajar. Di bulan Ramadhan, saya dan teman-teman berinisiatif membagi paket lebaran untuk orang tua siswa pemulung itu dan melihat langsung keakraban yang terjalin antara ibu pengelola sekolah pemulung dan para orang tua.

Depok, Juli beberapa tahun lalu ...
Usai menghadiri sebuah pesta pernikahan seorang 'sahabat', saya mendapati segaris luka di hati. Bukan karena sahabat saya itu meninggalkan saya dalam kejombloan. Tapi, sambutan yang kurang menyenangkan disajikan ketika saya dan teman lain datang ke pesta terlalu sore. "Sahabat" saya itu menganggap saya mustinya mendahului pestanya ketimbang perhelatan lain di hari itu. Dengan luka berdarah, saya mengirim pesan singkat ke teman lain. Selang beberapa detik sang teman menelpon saya untuk membesarkan hati...

Orang bilang, ibu kota itu kejam. Tapi, di tengah bengisnya belantara Jakarta saya masih menemukan banyak sosokyang tidak bosan untuk menjadi orang baik ...
Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

7 comments:

lukman said...

ahahaha

selalu seperti itu ya, di saat rasa percaya akan ketulusan dan kebaikan mulai tenggelam, sekejap muncul orang-orang yang melemparkan pelampung dan menyelamatkan rasa itu, begitu saja.

dan kita di sini, kembali percaya, bahkan lebih percaya

what a life :D

*komen apa sih gw ini*

e-no: si nagacentil said...

@lukman ini yang ngetik beneran elo bukan sih? huahahaha

ImanSulaimanBlog said...

Mutiara tetaplah mutiara sekali pun dia berada di dalam lumpur. Orang-orang berhati mutiara ini memang masih ada walaupun langkanya bukan main.

Konon malaikat-malaikat ini hadir berkat buah kebajikan yang pernah kita tanam, selamat buat siapa pun yang pernah bertemu mereka (worship)

Dan saya masih mendambakan bertemu salah satu dari mereka ...

Rusa Bawean™ said...

hmmmm
belum pernah ke Jakarta
:)

luvie said...

@iman sulaiman : aku disiniiiii.. *berasa menjadi yang di damba oleh mas iman* Kabuuuurrrr...(ninja)

@eno : yaps.. kebaikan di jakarta memang langka banget ya, no.. sampe2 ketika ada yang tiba2 baik pun, kita kadang masih menaruh curiga.. apakah ada udang di balik bakwan yang dia tawarkan??? hehehehe... dont worry, dear.. like everbody said... there's still a lot of good people out there.. :)

e-no: si nagacentil said...

@Rusa jangan kaget kalo ke Jakarta, kita akan menjadi mahluk yang dibalut prasangka
@Iman : kan kita udah ketemu hahaha *pentung*
@Luvie : gw juga jadi parno kalo ktemu orang, even dia cuma nanya alamat... adooh

Bandit Pangaratto said...

Jadi mikir, banyak mana ya orang baik sama orang gak baik?

heheheh