Nobody's Perfect.... and I am Nobody



Saya percaya setiap manusia terlahir sempurna.

Artinya, memiliki organ sesuai standar minimum kelengkapan untuk bisa disebut manusia: satu kepala; dua tangan dan kaki; sepasang mata dan telinga; hidung dan mulut cukup masing-masing satu; ditumbuhi rambut di sekujur tubuh dalam panjang yang berbeda-beda. Bahkan ketiak secara fisik sang bayi dilahirkan dengan kekurang lengkapan organ, Tuhan telah menyiapkan gantinya dalam bentuk indera pengganti. Perkara adanya stereotip baru kesempurnaan adalah hidung bangir, kulit putih cerah mulus tanpa noda, tulang pipi tinggi, bibir tipis meronakan merah, perut rata atau bahkan ukuran tertentu itu cuma elemen sekunder yang diciptakan industri kecantikan dan mode. Saya akui, saya sempat termakan stigma itu ...



Tentang Rambut


Entah siapa yang pertama membuat parameter rambut indah adalah rambut lurus berkilau. Nyatanya, dengan rambut ikal alami saya --dulu-- selalu berusaha menciptakan kesan rambut lurus dengan potongan bob. Karena agak maksa, jujur hasilnya jadi ajaib: beberapa helai rambut mengelompok berlarian ke sana sini macam ibu-ibu histeris lihat sale.

Kesadaran bahwa rambut ikal saya juga bisa menarik justru datang dari seorang teman kuliah yang berambut lurus jatuh di bahu. Sebaris kalimat menyatakan bahwa rambut ikal saya keren, gak perlu blow seketika menghentakkan saya untuk menyadari pesonanya. Dan meski saat ini saya tak membiarkan keindahannya dinikmati semua mata, saya jadi lebih memanjakan dengan treatment dan hair style layering yang manis. 


Tentang Kurus


Sejak kecil, saya dianugerahi kurus. Kisaran berat badan saya masih di angka 40-an. Bahkan lingkar pinggang saya sejak SMP sampai sekarang cuma bertambah 1 cm, 2cm sesudah makan. BMI menunjukkan status saya berada pada ambang underweight yang bagi beberapa orang sangat mengenaskan --jika kesejahteraan dianggap berbanding lurus dengan berat badan. Jujur, terasa mengganggu ketika saya ingin asyik menikmati makanan sesuka saya. 


Kalau sudah begitu, saya musti menebalkan telinga terhadap anggapan miris metabolisme yang boros atau bahkan cacingan yang menyergap ketika saya berwisata boga.

Pernah juga tersirat sedikit nelangsa menatap mahluk-mahluk di sekitar saya bertubuh curvy melenggang diiringi tatapan serigala para pria. Rasanya enak juga ya jadi mahluk yang dikagumi laki-laki?

Tapi, lagi-lagi saya kembali disadarkan untuk puas dan bersyukur pada anugerah body Twiggy ini. Sore kemarin, seorang teman terkagum-kagum ketika saya bolak-balik menukar piring kosong dengan beragam bahan mentah untuk diolah menjadi rebusan dan bakaran sebelum diekspor ke dalam lambung saya. Komentar singkatnya, enak betul jadi saya. Bolak-balik isi perut tapi tetap dengan badan semampai. Sementara dia, musti ketat menjaga makan supaya jauh dari urusan melar. Puding coklat yang saya kunyah sebagai penutup, tiba-tiba menjadi hidangan paling nikmat yang pernah saya nikmati ...


Tentang Wajah


Hidung bangir, gigi timun, mata almond dengan warna hazelnut, siapa yang gak mau? 
Saya tidak memiliki semua itu. Wajah saya sangat Indonesia dengan kulit kecoklatan. Percuma dilapisi alas bedak karena selain lekat bagai topeng, rasanya kayak menempelkan adonan nastar di muka: berat. Maka biarkan saja, dan saya lalu melengkapi intelejensia saya dengan penguasaan beberapa bahasa asing; hobi nonton berita; banyak melahap brokoli supaya daya ingat tetap bagus; plus berusaha menjadi teman ngobrol yang menyenangkan.

Masih perlu juga diinduksi dengan case study dari teman untuk meningkatkan narsisme dan kepercayaan diri rupanya. Kali ini, pori-pori wajah yang jauh dari minyak berlebih jadi value tersendiri. Dihitung-hitung, sejak masa pubertas sampai maturitas, rasanya saya adalah mahluk yang jarang mengoleskan krim anti jerawat atau betah bolak-balik menempel kertas minyak di wajah. Tak berbilang syukur saya saat menyadari betapa "tambeng"-nya kulit muka saya terhadap efek jelek debu jalanan. Padahal sebagai pedestrian dan komuter, wajah adalah tameng utama yang rentan terhadap polutan.


Overall, meski kerap didera alergi terhadap bau yang merangsang mual dan sensitif terhadap terik matahari serta asap rokok pengundang flu, rasanya gak ada yang perlu saya keluhkan seputar wujud saya sebagai manusia yang sempurna.


Tuhan telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?
Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

3 comments:

luvie said...

yes dear.. you are perfect..

aku jadi nge-fans sama kamyuuuu.. (worship) (cozy)

e-no: si nagacentil said...

@luvie mau foto bareng plus tandatangan? hahaha
it's just a thoughts when i found that most of us got a BDD *body dismorphic disorder* seems like we don't belong to thankful people.
dan gw yakin, bahkan para tuna organ fisik -apa pun you name it-- juga memiliki kesempurnaan karena Tuhan memberi ganti organ fisiknya itu dengan indra lain yanng berfungsi sama, bahkan lebih hebat :-)

Anonymous said...

Yup kadang ngelirik orang lain yang punya body beda bikin ngiri tapi akhirnya setelah dipikir ini udah yang terbaik tinggal maintenancenya ajah serta gimana kita bersyukur :)*waa ad sesi poto-poto diatas ikutannnn*