Suami-suami (Gak Perlu) Takut Istri


Pernah lihat iklan mesin cuci yang dibintangi pelakon sinetron --so called-- sitkom Suami-suami Takut Istri? Di mana si suami dengan terpaksa terjun ke dunia cuci mencuci di bawah ancaman sang istri. 

Lakon semacam itu mustinya tak terjadi di dunia nyata, jika saja kita tak terbiasa dengan pengotak-kotakan pekerjaan berdasarkan gender: bahwa pekerjaan domestik adalah mutlak wewenang perempuan dan lelaki akan turun kasta jika melakukannya. Termasuk kategori pekerjaan domestik adalah segala hal yang umum dikerjakan oleh kaum istri antara lain mencuci, memasak, membersihkan rumah dan tidak termasuk pekerjaan "macho" seperti membetulkan genteng bocor atau mengganti bola lampu yang sudah aus. 

Adalah sebuah ironi menyedihkan ketika ada statement bahwa selama masih ada mahluk berjenis perempuan maka untuk apa lelaki turun tangan. Nyatanya lebaran tahun ini saya dibuat terharu ketika kakak ipar saya--perempuan-- bertutur, suaminya --yang berarti abang kandung saya-- baru tidur jam dua dini hari karena sibuk dengan proyek ketupat dan hidangan lebaran lain. Sementara sang istri bisa dengan santai membuai bayi mereka yang baru genap menginjak usia enam bulan.


Abang saya, sebagai satu-satunya anak tampan di keluarga kami, memang piawai urusan perdapuran. Selain tak sungkan mengepel, saya akui masakan ikan mas bumbu kuningnya sanggup membuat saya menambah nasi di piring. :-) Mungkin ini turunan kebiasaan dari ayah, lelaki perantau yang biasa mengerjalan segala sesuatunya sendirian sebelum akhirnya menikah. Jadi, kalau cuma masak nasi itu bukan hal yang tabu.  Selain kultur keluarga kami yang tak pernah terbiasa dengan jasa khadimat tentunya.


Meski --jujur saja-- kami bukan dari keluarga relijius, kenyataan ini menyeruakkan keyakinan saya bahwa seseungguhnya dalam Islam pun tidak ada pembedaan pekerjaan laki-laki dan perempuan. Selain kewajiban utama pria sebagai pencari nafkah serta kodrat hamil dan melahirkan sebagai hak istimewa wanita, rasanya so silly menganggap bukan pada tempatnya jika pria terjun mencuci piring.  Bukankah Rasulullah yang mulia pun dengan senang hati membantu istrinya di area domestik yang bagi sebagian pria ditahbiskan sebagai kawasan terlarang?
Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

16 comments:

Braveheart Novi said...

Thass it, seharusnya laki-laki juga bisa merasakan betapa beratnya menjaga tiga anak laki-laki di usia playgroup, preschool, and primary school. Menjaga mereka, mengajarkan mereka belajar, sambil memasak, membersihkan rumah, menyeterika, menyuci baju ... hayoooo ... jgn doyan buat anaknya doang! hahahaha

e-no: si nagacentil said...

@novi gw pikir, kalo para lelaki itu mau jadi Mr. Mom maka sebuah keluarga akan menjadi utuh banget deh... bukan berarti ini memberi kelonggaran buat istri kluyuran tapi bisa berbagi kerjaan: termasuk bermain sama anak-anak :-)

luvie said...

Enooo.. Pesen suami yg ga sungkan turun ke dapur kayak gini, satu.. ^o^

e-no: si nagacentil said...

@luvie paklek gw juga proven mau nyuci dengan penuh kesadaran, kalo masak belom pernah tau sih. Tapi bisa gw maklumi karena kesalahan memasak bisa berakibat fatal keracunan akut hahaha

ES DAWET said...

hmmmmm...pantesan kuping gw dari tadi gatal. Gw pikir gw congekan, ternyata ada yang ngomongin gw. Kalo masak gw dah certified juga, karena bagi gw masak adalah satu pekerjaan yang ga ada salah ato bener. Gw pernah masukin semua segala macam species sayuran yang ada di kulkas, dari ordo yang paling tinggi matjam brokoli, wortel, kentang sampai dengan sayuran ndeso matjam bayam, kangkung, bla bla bla trus gw kasih roysuryo eh royco ternyata orang bilang itu sup. Gw aja sampe hampir semaput saking takjubnya, oh ini tho yang namanya sup.

eskopidantipi said...

saya gak segitu2 amat loh...

nyuci piring ayoh aja

luvie said...

@eno : monggo di buktikan keahlian pak lik es dawet dalam memasak... dia udah nantangin, tuh.. ^o^

@es dawet : errrr... itu sop versi apah??

e-no: si nagacentil said...

melihat kemesraan antara paklik @we dawet dan @luvie... hihii

@eskopi minimal biasa bikin kopi sendiri yaa hahaha

Bandit Pangaratto said...

heheheh...
iya, gak setuju kalo selama ada wanita buat apa pria turun tangan...


Ngepel, nyuci, nyeterika mah... masih bisalah.. heheheh

amri said...

punya istri aja hampir

drw said...

gue belum nikah . . . jadii ya terserah deh.

eh ya ni perdana gue kunjungin blog ini . . . salam kenal

e-no: si nagacentil said...

@amri hampir punya istri?
@drw sekedar masukan jika sudah menikah hehehe :-D

soulharmony said...

berkunjung

ando said...

weh weh weh...
klo ada laki2 yg males ato jijik nyuci piring,,,justru itu yg kolot..
hari gini suami ataupun istri harus multitasking,,,dah g jaman singletasking...
jd smua sama...

lam kenal yah...

e-no: si nagacentil said...

@soulharmony makasih kunjungannya :-)

e-no: si nagacentil said...

@ando betuuuul banget, lagian itu kan aturan manusia yang bikin bahwa ada pekerjaan laki dan perempuan