Cemburu (Tak Perlu) Menguras Hati


Saya terbakar cemburu*...


Membuka laman Facebook dan mendapati status wall-nya menempati Top News, yang artinya banyak dikomentari.  Hati saya memanas karena komentarnya banyak berasal dari facebookers berkelamin sejenis dengan saya.  Bahkan ada satu jempol tertanam tepat di bawah statusnya dari seorang perempuan: like this! Ini bukan kali pertama wall FB-nya dipenuhi komentar dari para perempuan. Tambahan lagi, dia juga senang merespon ajakan kopdar... >,<


Saya kembali cemburu, ketika thread-nya di Plurk juga ramai oleh perempuan.  Sementara, sejak kami sedekat ini, amat jarang dia merespon thread saya seperti masa pedekate dulu *ehm*.  Maka, entah diperkaya oleh racun PMS yang selalu jadi kambing hitam, saya pun merajuk.


Kami, saya dan dia, memang terpisah kota.  Saya di barat pulau Jawa, sementara dia menghuni tengah-tengahnya.  Tak heran jika komunikasi kami sangat mengandalkan jaringan telepon dan keramahan koneksi internet.  Meski, gak menjamin juga bakal ketemu. Pekerjaannya bersifat mobile, sedangkan saya cukup sering ngendon di kantor.  Belum lagi schedule yang berbeda, saya seringkali baru menginjakkan kaki di pintu rumah selepas jam 9 malam.  Sementara dia gak jarang sudah terlelap jam 9 malam.  kapan ketemunya?


Sampai suatu hari, saya dititipi sebuah buku berwarna ungu dengan judul sampul: Karenamu Aku Cemburu, by Asma Nadia dkk.  Sepenggal puisi tak puitis tapi romantis menghias cover-nya:


cinta
aku ingin tua bersamamu
menatap anak-anak
yang meneruskan jejak kita
tanpa perlu sesaat pun khawatir
hatimu pergi meninggalkanku


Manisnyaa...


Membaca chapter demi chapter dalam buku tipis itu, saya seperti tertampar diingatkan untuk me-manage kadar pengukur cinta bernama cemburu itu.   Iya, seperti kata orang cemburu itu tanda cinta.  Tapi seperti garam, kalau kebanyakan bikin pasangan jadi mual lhooo.... Setidaknya itulah yang dituturkan lebih dari tujuh kontributor dalam buku ini.


Dari sekian tulisan dalam buku ini, cuma dua kasus cemburu yang layak dibenarkan dan cukup beralasan: si suami menyimpan nama perempuan lain di hatinya.  Selebihnya, justru menganggap perempuan kadang berlebihan dalam mencemburui pasangan.  Eh, penuturnya perempuan juga lhooo jadi jangan ngamuk-ngamuk dulu bacanya.  Kalau dipikir, iya juga sih.   Buka FB, yang muncul duluan wall-nya dia yang dikomen banyak pereu, saya cemburu.  Dia jarang telpon, saya cemburu.  SMS gak dibalas, saya cemburu.  YM jarang dijawab, saya cemburu... waduuh alangkah capeknya hati saya. Masih bagus, kerjaan gak terganggu.


Kata Vidi Aldiano, cemburu menguras hati dan itu saya amini.  Capek misah-misuh.    Bawaannya jadi pengen nangis, mau makan es krim dan coklat sebanyak-banyaknya huhuhu... *kalau begini judulnya cemburu menguras isi kantong juga hahaha*


Alhamdulillah, bersyukurlah saya sering "dicubit" lewat teguran halus untuk kesalahan-kesalahan yang tanpa sengaja *tapi berulang, hahaha --dikeplak* saya lakukan.  Antara lain cemburuan ini. Usai melahap buku yang diselipi ekspresi cemburu dalam bentuk puisi ini, saya seperti dibawakan obor lampu pijar penerang mata yang digelapkan oleh kabut cemburu.  Bahwa perempuan dan laki-laki itu berbeda komposisi emosi, klise tapi bener.  


Sebagai perempuan, saya ingin pengakuan: "eh ini lhoo yayang gw," atau sesekali mendapat SMS cinta dari pasangan. Sementara lelaki itu, gak semuanya ekspresif dalam mengungkapkan cintanya secara verbal.  Justru, kayaknya, lebih banyak yang sungkan bilang I love you! sama pasangannya.  Padahal, itu requirement kaum perempuan. Nah, jadi gak matching kan? 


Pasca membaca, dan mengungkapkan sebagian isi hati saya lewat kabel, redam sudah amuk saya yang dikipasi cemburu itu.  Lagipula, cemburu itu kan salah satu manifestasi ketidakpercayadirian kita juga.  Alih-alih cemburu membuta, kan jauh lebih bagus kalau saya terus memperbaiki diri supaya mendekati sempurna *di matanya* dan makin disayang dia (#^_^#)).   Terlepas dari urusan jodoh di tangan Tuhan, dan kalau jodoh gak bakal kemana-mana, dia memang bukan tipikal lelaki yang suka mengumbar gombal.  Action speaks louder than words, itu prinsipnya.  Meski kalau LDR gak kelihatan juga action-nya ya ^_^.  Malah, dipikir-pikir saya harus bersyukur dapat pasangan yang tukang obral rayuan.  Sebab, katanya niiiiiih, tukang obral rayuan itu juga suka ngobral cinta. 


Yang gak setuju silakan komen hehehe ...

notes:
*) = single terbaru Padi yang klip-nya bakar-bakaran dan ada Dwi Sasono-nya itu lhooo


 








     
Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

10 comments:

Ade said...

PERTAMAX!!!

Cieee...cieee...uhuy..bukan terbakar cemburu tapi terbakar cintaaaaaaaaa!!! LOL.

tikapinkhana said...

cemburu ama siapa sih ini *uhuk2*, yang dicemburuin disuruh baca juga biar tahu kalau lagi dicemburuin :D

nekudotayim said...

suitt suwiitttt

e-no: si nagacentil said...

@Ade cinta sama cemburu kan satu paket =P

e-no: si nagacentil said...

@tikapinkhana tersangkanya udah baca dooong *kedip-kedip*

e-no: si nagacentil said...

@nekudotayim dilarang siyul2 sembarangan pada perempuan *keplak*

wied mau kenal said...

^___^v kapan yaaa???

::: aku bisa jatuh cinta lagi?

::: bisa ngerasa cemburu lagi?

::: bisa berbunga dan termehek dalam waktu bersamaan lagi?

xixi, jadi curhat oioioi...

Paijo said...

Ingin Kubunuh pacaramu *cemburu Dewa19*
Cemburu kok di pelihara

e-no: si nagacentil said...

@wied mumpung masih gratis, silakan curcol *gelar tiker*

e-no: si nagacentil said...

@paijo mas Pay, daripada saya miara kutu kan brabe =P