Day 11: Mari Mandiri

Kemarin-kemarin, saya selalu mengelak kalau ditanya ada rencana beli rumah gak.  Buat saya, sarang itu milik bersama.  Maunya sih, beli hunian bareng sama suwamik --kelak.  Atau, kalau beruntung yaa dapat rumah beserta isinya ketika dilamar hehehe.  Meski, saya lebih suka opsi pertama karena merasa punya andil dalam menentukan mo tinggal di mana kelak.  Termasuk urusan nyicil bareng, rasanya gimanaaaa gitu... berasa milik bersama banget.

Tapi, prinsip itu agaknya terbantahkan dan patah begitu saja (lagi-lagi) oleh argumen mbak Wina yang bilang bahwa para pereu gak jaman lagi nunggu pangeran berkuda putih.  Iya kalo dapet pasangan pangeran minyak macam Nia Ramadhani atau Dian Sastro (yang hari ini sukses bikin separuh laki-laki di tanah air patah hati).  Apa kabar kalo kebagian suwamik yang pegawe kantoran ato baru merintis usaha?  Musti siap-siap berakit-rakit ke hulu sampe bisnisnya berjaya.

Saya sendiri, bukan tipe penyuka pangeran.  Selain nyadar diri *hihihi*, menyandarkan diri pada laki-laki untuk urusan finansial kok kayaknya enggak banget.  Alhamdulillah, meski finansial saya gak bagus-bagus amat *malah cenderung amburadul hihihi*, saya masih bisa menghidupi diri sendiri *dan sedikit share ke keluarga, hahaha*.  Ogah berpangku tangan di perduitan ini sudah saya lakoni sejak SMA, waktu itu sempet melakoni profesi macem-macem: dari jualan kartu lebaran sampai gelang warna-warni yang bisa dipesan dengan nama pilihan.  Kepepet karena uang jajan dari ortu sangat mini memang alasannya, tapi ketimbang curse the dark, mending light the candle *minjem istilahnya pak Bambang Cimory*.  Sadar bahwa gaji bokap yang gak seberapa itu musti dibagi tujuh kurcaci, mendingan saya mengerahkan segala kreativitas dan memanfaatkan konsumerisme temen-temen sekolah dengan jualan produk yang bisa di-personalized.  Contohnya ya gelang itu tadi.

Sementara, kesulitan pendanaan (baca: untuk kebutuhan jajan dan jalan-jalan lapangan yang menguras isi kantong ituh) yang masih terus merambat sampai saya kuliah menginspirasi saya untuk menjajakan sarung botol minum jahitan sendiri yang hanya dibuat berdasarkan pesanan.  Menjelang kelulusan, jadi reseller mukena portabel (bukannya semua mukena itu portabel ya? *pentung-pentung kepala*) yang warnanya bisa dikustomisasi sesuai keinginan pemesan. Lumayan buat bantu-bantu dana skripsi hehehe..

Kembali ke soal kemandirian, sepaham dengan mbak Wina, pereu emang semestinya mandiri secara finansial.  Sorry mory dory, bukan maksud hati menghasut para ibu rumah tangga buat berbondong-bondong menyerbu lapangan kerja.  Memanfaatkan keahlian yang dimiliki, seperti bikin kue atau menjahit, adalah sampel mudah yang bisa dilakoni para pereu menikah.  Keterampilan merajut pun, bisa dikomersialkan dengan membuka kursus merajut.  Ada tuh, temennya temen saya *panjang amat buuu runutannya* yang bikin kursus merajut di mall.  Sekali dateng, satu orang dikenain fee 125rb.  Sementara kelasnya itu minimal ada 5 orang lah. Hohoho... *ngiler* 

Mengapa kita musti mandiri?

Hidup itu selalu berputar.  Bisa jadi, saat ini suwamik-suwamik kita lagi berjaya dengan pendapatan melimpah.  Tapi, yang namanya ujian kan gak melulu berupa kesenangan.  Kehilangan suwamik karena tercerabut maut, adalah kenyataan yang gak bisa dipungkiri dan bisa aja terjadi.  Iya kalau si suwamik punya asuransi jiwa dengan nilai pertanggungan yang cukup buat ngebiayain hidup sekian tahun, atau minimal diputer dan dikelola jadi dana.  Kalau ternyata ngewarisin utang apa kabar?

Bagi si lajang, kemandirian finansial bukan gak ada gunanya.  Selain untuk menyenangkan diri sendiri, kini waktunya menunjukkan bakti pada ortu yang udah tanpa pamrih menghabiskan banyak rupiah dan dolar buat sejak kita jabang baby sampe segede gini dan bisa nge-blog.  Sesekali ajak mereka piknik dengan uang yang kita kumpulin, pasti mereka seneng.  Atau, kalau si ortu sudah-sangat-sepuh-sehingga-sangat-sulit survive alias kerja, sementara kebanyakan ortu begitu mulianya gak mo hidup dari tunjangan bulanan yang disetor para anak, kenapa gak kita percayakan mereka untuk mengelola investasi properti yang kita miliki?   Kalau pun kelak sang pangeran --dengan atau tanpa kuda putih-- datang dan memboyong kita ke istananya, kita gak akan cemas dengan kehidupan keuangan ortu yang kita tinggalkan buat sementara.

Ehm, mulai ngitung-ngitung DP buat investasi properti ah...


Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

2 comments:

merahitam said...

Aku suka postingan yang ini. Perempuan memang harus mandiri. Apapun dan gimana pun kondisinya. *makin bersemangat*

e-no: si nagacentil said...

@Merahitam trima kasih, mari bergabung dengan barisan PREMAN *prempuan mandiri*