Day 6: Kucing-kucingku

Berita duka mampir ke meja saya..


             Telah meninggal karena kecelakaan, salah satu koleksi anak kucing gw
             Julia Rossi -- temen sekaligus klien


Berita singkat yang lantas berlanjut pada obrolan tentang mahluk berbulu nan manja itu.


Saya jadi teringat, masa di mana rumah kami pernah menjadi panti asuhan bagi para kucing.  Entah gimana awalnya, tiba-tiba saja rumah kami yang gak seberapa besar dipenuhi kucing yang kebanyakan berasal dari jalanan, dipungut oleh ibu saya yang gak tega melihat anak kucing telantar di jalan.  Akibatnya, banyak yang kemudian membuang menitipkan bayi-bayi kucing ke seputaran rumah kami dengan harapan akan dipelihara.  Betul saja, kami gak pernah bisa tidur sebelum tangisan bayi kucing itu pindah ke dalam rumah...


Terkenang para kucing, saya jadi teringat kelakuan lucu dan aneh mereka.  Ada satu kucing betina belang tiga *kombinasi warna hitam, coklat dan putih* yang seumur hidupnya gak bisa punya anak.  Ada aja masalah ketika melahirkan: keguguran, lahir prematur sehingga bayi kucing tersebut terlahir tanpa bulu macam anak tikus atau cindil abang dalam bahasa Jawa.  Sekali, akhirnya si Trinil --nama si kucing-- berhasil memiliki satu bayi berbulu sama dengannya.  Si bayi, agaknya gak bisa lama menjadi penghuni dunia juga karena dimangsa secara keji oleh kucing jantan yang diasumsikan sebagai ayah si bayi kucing T,T  Jadilan si Trinil single lady yang gak pernah punya keturunan, tapi tetap memikat para kucing pria.  Terbukti, gak ada kapoknya hamil dan dihamili meski abortus terus-terusan.


Mengamati polah kucing-kucing yang pernah singgah di rumah saya, membuat saya hapal beberapa kebiasaan para kucing yang bikin kepala saya geleng-geleng.  Waktu SMP, kucing saya yang berbulu burik punya kebiasaan membangunkan saya setiap pagi dengan mencakar memijat kulit kepala saya menggunakan ujung kukunya sampai saya terbangun (ketauan deh males bangun paginya hahaha...).  Yang membanggakan, adalah salah satu kucing kami yang lulus toilet training dengan sukses.  Si kucing ini, gak pernah pup sembarangan.  Setiap kali hasrat biologisnya muncul, dia akan lari ke toilet dan melaksanakan hajatnya di sana.  Tinggallah kami yang menyiram bekas pup-nya sambil menutup hidung rapat-rapat.  Biar pup di WC tetep aja bau... 


Ribetnya menjadi panti asuhan kucing, adalah ketika mengadopsi bayi yang ditinggalkan tanpa ibunya.  Kami musti bangun dan memberikan asupan susu formula dalam pipet sebagai ganti breastfeeding sang mommy yang pastinya sedang menangis sesenggukan karena terpisah dari anak-anaknya.  Sementara, untuk bayi yang orang tuanya lengkap dan lahir di rumah kami, kerepotan justru timbul karena kami musti ekstra ketat menjaga para bayi dari ancaman pemangsa yang gak lain adalah "ayah"nya sendiri alias kucing jantan.  Bukan untuk dimakan, cuma untuk dibunuh dengan cara digigit dan dilukai pada lehernya sehingga bayi kucing yang tak berdosa itu meninggal dengan cara mengenaskan... hiks


Entah berapa generasi yang sempat menjadi penghuni panti kami.  Yang pasti, setiap ada satu anggotanya yang menghantar nyawa, kami selalu memperlakukannya selaiknya manusia: "dikafani" dan dikuburkan dengan layak lengkap dengan nisan dan taburan bunga.  Bukan kafan betulan tentunya, tapi secarik kain pembungkus tubuh jenazah si kucing yang menghantarnya ke alam baka.

Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

4 comments:

Julia Rossi said...

that's me that's me *numpang beken :D

e-no: si nagacentil said...

akhirnya beken juga lo JUL hahaha

miz tia said...

jadi keinget kucing gw yang mati .. sempet curcol juga di blog :) .

Misteri Pantai Parangtritits said...


Awesome information..
Keep writing and giving us an amazing information like this..

BW gan kunjungi nyapnyap.com