Day 7: Mengapa Menyapa


Di event Coaching Class bareng Vaseline dan Femina kemarin, salah satu sesi favorit adalah foot/hand treatment gratisan yang disediakan oleh vaseline sebagai salah satu strategi pemasaran jemput bola.  Di booth yang didominasi perempuan cantik itu, kita bisa menikmati hand/foot massage atau bahkan manicure/pedicure hohohoho... jelas saya gak mau ketinggalan treatment ini *bertanduk*.

Memang siiih bukan dilayani oleh kapster betulan alias SPG yang disulap menjadi kapster dadakan, tapi buat saya lumayan lah hahaha..

Dari obrolan kecil saya dan SPG cantik yang sayangnya-lupa-siapa-namanya itu, dia bilang awalnya memang sempet shocked musti melayani orang, apalagi ritual mijitin, mencuci, sampai mengasah kuku si pelanggan.  Tapi, dengann santainya dia bilang: dengan begini saya jadi tahu dan menghargai profesi kapster salon lho mbak! Dia juga bilang, katanya dengan "penyamaran"nya sebagai kapster, akan membuat dia lebih memahami tipe-tipe orang.  Dan salah satu orang yang ngehargain itu, dia mau negor kita-kita ini mbak.  Nyess... 

Saya jadi ingat, kebiasaan salah satu kenalan saya yang punya kebiasaan unik menyebut nama penjaga karcis tol setiap selesai transaksi.  Jadi, sambil menyerahkan karcis plus ngambil uang kembalian dia akan bilang: makasih yaa mbak Sasi *misalnya kalau namanya Sasi*.  Alasannya: biar mereka seneng, kan seharian capek jagain pintu tol. Gak ada salahnya kan? 


Memang gak perlu alasan untuk menyenangkan hati orang.  Meski orang itu mungkin gak kita kenal, atau bahkan cuma penjaga pintu tol atau petugas parkir dengan menyebut nama mereka selain melemparkan seulas senyum tulus nan manis.  Sewaktu masih jadi nasabah Bank Niaga *sebelum merger dan melahirkan nama aneh yang susah diinget*, saya ingat betul.  Setiap kali bertranksaksi di meja teller, barisan teller yang cakep-cakep itu selalu menyebut nama setiap nasabah.  Tau dari mana nama kita? Ya dari buku tabungan yang saya tenteng-tenteng dong hehehe... Saking seringnya,  kunjungan saya ke Bank Niaga yang lokasinya di Falatehan Blok M itu jadi dikenali dan tanpa menjinjing buku tabungan, barisan teller akan menyapa: selamat siang mbak Retno..  Hohoho, berasa nasabah tabungan prioritas *ketawa jumawa*.

Nah, kalau saya yang "bayar" aja senang diperlakukan seperti itu oleh si bank, apalagi mereka yang melayani?  Hal kecil sih, tapi sekecil apa pun menyenangkan orang lain itu ada balasannya kan? Minimal, bikin langkah kita terasa ringan karena perbuatan baik yang, percaya deh, bikin ketagihan untuk melakukannya lagi... lagi... dan lagi!  
 
Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

4 comments:

Anonymous said...

Saya sering sekali melihat orang mengucapkan terima kasih kepada pelayan restoran, tapi mata mereka tidak memancarkan rasa itu. 'Terima Kasih' hanya sekadar kata yang telah kehilangan maknanya. Padahal, kalau mereka mau mengucapkannya dengan sungguh-sungguh dan sambil tersenyum, mungkin mereka akan terkejut melihat reaksi dari pelayan itu. Yang tadinya melayani dengan wajah masam, setelah diberi senyuman dan ucapan terima kasih yg tulus, wajahnya berubah cerah seketika. :)

e-no: si nagacentil said...

@mirnarizka mungkin say thanks-nya diprogram oleh mesin :-)

merahitam said...

Bahkan tanpa menyebut nama si petugas yang melayani kita, hanya dengan tersenyum, mengangguk kecil, dan sembari mengucapkan terimakasih, bisa membuat orang yang melayani senang. Saya sedang berusaha untuk membiasakan diri tidak lupa mengucapkan terimakasih dengan tulus, dengan dibarengi senyum dan anggukan kepala. :D

e-no: si nagacentil said...

jeng @merahitam makasi yaa udah mampiiir, ditunggu undangan bebek gorengnya *ngeces-ngeces*