Nasib Anak Kos

*Bersih-bersih blog yang mulai ditumbuhi sarang laba-laba...*


Saya belum pernah jadi anak kos...
Dari SD (saya gak punya ijazah TK lhooo *bangga*) sampai kuliah dan kerja, saya setia menjadi penduduk Depok. Tinggal bareng ortu, yang dari awal 80-an udah mendiami kota penyangga Jakarta ini. Kuliah juga dapet kampus di Depok, so is there any reason to stay at rent house? Jadi ya pengalaman ngekos cuma beberapa bulan saya rasakan ketika solider nemenin sohib yang musti penelitian di sebuah daerah terkucil di Depok juga (!) demi mengamati pertumbuhan gurame dalam fase balita yang berjumlah ratusan itu.


Ketika akhirnya berpartisipasi sebagai bagian dari laron ibukota pun saya tetap memilih menyandang gelar komuter berkendara kereta, angkot, bis, sampai ojek dan masuk komunitas nebengdotcom. Jadi, tahun ini saya membuat gebrakan baru sebagai anak kos. Horeeee.... *nyalain petasan*. Iya, dengan migrasinya saya ke kota sentra kegiatan di Jawa Tengah mau nggak mau saya melamar jadi anak kos. Nggak gampang karena Semarang bukan tanah air kedua ortu saya, meski secara Ius Sanguin mengalir darah etnis Jawa di arteri dan vena. Lewat jaringan milis komunitas lah saya mendapatkan hunian yang sekarang ini saya tempati ini.


Minim pengalaman, jelas bikin saya linglung mo ngapain ya? Apalagi kosan yang saya pilih ini dihuni lebih dari dua lusin manusia! Apalagi, 99% penghuni kos dipastikan berstatus mahasiswa dengan usia nyaris separuh usia saya yang lebih pantas jadi dosen mereka ini *ngecek KTP, betulin konde*.  Hohoho... kesenjangan generasi macam apa yang bakal menimpa hamba-Mu ini ya Tuhan


Tantangan pertama tinggal serumah dengan mahasiswa yang umurnya separuh saya adalah soal selera hiburan. Sungguh sebagai anggota sekte anti-inbox dan tayangan tipi sejenis saya musti tahan mendengar anak-anak muda itu memuja penyanyi-penyanyi bermodal lipsync dan postur menjual setiap paginya.  Huhuhu.... Meski bukan pecinta tipi, tapi tentu saja saya kehilangan momen menutrisi jiwa dengan tayangan berkualitas macam Just Alvin dan tentu saja Kick Andy favorit. Jadilah saya memilih puasa tipi selama menghuni. Toh, sebetulnya tayangan bagus itu masih bisa saya nikmati lewat alur streaming kan? 


Tantangan berikutnya adalah bagaimana saya membiasakan diri dari mahluk soliter yang biasa mengatur rumah segalanya sendirian menjadi anggota koloni yang penuh toleransi. Misalnya aja nih ya, betapa tersiksanya saya ketika melihat anak-anak muda ini penuh suka cita menghamburkan air (yang memang alhamdulillaah berlimpah) pas nyuci pakaian. Soal kebiasaan cuci pakaian ini, ada yang lebih aneh. Bisa lowh mereka melakukan soaking di satu tabung sekaligus pengeringan baju-baju yang udah bersih di tabung satunya lagi. Huwaaaa saya sampe terkagum-kagum pada ide multitasking mereka yang brilian itu (--").


Di kosan pula, dengan berat hati dan terpaksa saya mengubur kebiasaan mulia pemisahan sampah basah dan sampah kering untuk area dapur. Dengan dua lusin manusia di dalamnya yang setiap hari belum tentu ketemu, jelas bukan hal mudah menularkan green lifestyle ini. Lah mereka ini ya jangankan misahin sampah, masuk rumah pun dengan sewenang-wenang menginjakkan kaki bersepatu yang berlumur lumpur ke lantai yang baru beberapa menit dipel. Howaaaaah... rasanya mau deh guyur si oknum pakek kuah pel yang baru dipake buat bersihin sisa-sisa pembunuhan kambing korban (alias penuh darah).


Mengenang pertama kali jadi anak kos juga rasanya norak banget deh. Iya, kalian pasti gak percaya dan menganggap hoax kan kalo penyakit lama saya yaitu pendiam kambuh. Jadi, setiap keluar kamar dan beradu tampang dengan pemilik pintu kamar lain saya cuma pamer lesung pipi alias nyengir tapi diam-diam ngamatin kelakuan mereka dari dalam kamar.  Sebenernya sih otak lagi nyusun strategi gimana kenalan dan bisa akrab sama mereka hahahaha...  FYI dengan volume suara mencapai 120 desibel gak susah kan melakukan observasi kelakuan mereka dari balik jendela yang cuma berlapis kaca tipis? 


Masih banyak kerlap-kerlip derita anak kos baru yang sempet bikin shocked dan mecucu (kosa kata baru nih, sounds cozy banget ternyata). Tapi, tentu saja every cloud has silver lining lah kata perihbahasa impor. Satu hal yang perlu banget disyukuri adalah penyamaran saya berhasil hahahaha! Iya, jadi di antara dua lusin penghuni masih ada aja yang nyangka saya ini mahasiswa. Kasian banget kamu dek, coba sini cek minus mata kamu ya....  Atau ada juga yang bingung kok saya hampir tiap menit ada di rumah. Ya udah dengan senang hati saya mengulang pemaparan apa-sih-yang-saya-kerjain-di-rumah pada setiap kesempatan ketemu salah satu dari penghuni di area cuci mencuci atau dapur umum (yang kerap jadi sarana pedekate saya ke anak-anak muda ituh). 


Masuk bulan ketujuh jadi anak kos (tanpa perayaan, maap yeee ini bukan hamil) tentu saja tantangan-tantangan itu bisa saya lewatin dong. Ya lumayanlah, meski butuh waktu lama dan asupan nutrisi otak lebih banyak buat menghapal dua lusin anak muda itu saya udah mulai bisa mengakrabi dan mengenali karakter mereka. Dan, jadi anak kos ada hepinya juga kok. Lebaran haji kemarin, yang merupakan lebaran haji pertama saya jauh dari keluarga, dihabiskan bersama selusin (karena lima puluh persen penghuni kos memilih mudik) anak kos berpestapora di atap rumah bersama. Inisiatif siapa yang menjadi mula, pastinya kami sepakat urunan rupiah buat belanja bahan makanan untuk pesta dua malam hahaha...


Dan ketika daging ayam yang lembut membara kecoklatan (karena kecap sik, trus dibakar juga jadi item deh) kami kunyah bersama rasanya segala sekat dan batas usia itu lumer dalam kekeluargaan ... 8') 





Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

17 comments:

Oom Yahya said...

*Iya, jadi di antara dua lusin penghuni masih ada aja yang nyangka saya ini mahasiswa*

Mahasiswa S3 maksudnya

Billy said...

jadi, berapakah usia eno sesungguhnya?
*ambil kalkulator*

Novi Saluntara said...

no, kapan pulang? kangen niy :p

alat pengukur cuaca said...

aku malah mau jadi anak kos karena kuliah

harga timbangan digital said...

enak gak enak jadi anak kos

Iman said...

Eh saya malah nggak pernah sekalipun ngekost kakak. Enak nggak sih ngekost? #ditabok

Jadi usia Eno 2x usia mahasiswa. Kalau usia mahasiswa itu sekitar xxx artinya usia Eno sekarang... #ambilsempoa #dikeplak #ngilang

Blog Ayu said...

ngga sekalian ikut-ikut nyanyi2 bareng tetangga separuh usia kaka? bisa bikin awet muda loo.. :) #mintadibakar

Anonymous said...

pengalaman seru ya ngekos,,, :)
dulu saya sempat kesusahan sama transportasi di semarang, mengalami juga kah mbak?

e-no: si nagacentil said...

@Oom Yahya *makan tesis*

e-no: si nagacentil said...

@Billy *sodorin katepe*

e-no: si nagacentil said...

@Novi Saluntara silakan sodara menatap sayah di laman fesbuk jika rindu *benerin konde*

e-no: si nagacentil said...

@alat pengukur cuaca dan @harga timbangan digital apakah kalian baru mengungsi dari ace hardware?

e-no: si nagacentil said...

@Iman separuh umurmu lah hahaha *kipas kipas kerah baju*

e-no: si nagacentil said...

@Blog Ayu huhuhu terbentuk jurang yang dalam antara selera musik dengann mereka T____T

e-no: si nagacentil said...

@anestaputra kalo untuk transportasi sih ngandelin nebengdotcom atau teksyong hahahaha itu untuk jam keluyuran di luar jam operasional angkot sik

brencia said...

waduh baru ngerasain kos diusia yang bukan mahasiswa itu sesuatu ya.. hihihi

*ditiban

harry said...

yah sama mbak, akujuga kos2an tapi bedanya aku udah 2,5 tahun ngekos :D