Al Rifdah Menyapa Kita

Pernah ngerasa jadi orang paling sengsara sedunia?
Sering berpikir fisik kita jauh dari sempurna dan sama sekali nggak menarik? 
Minder gegara gak ikutan trend teranyar yang tak terbeli uang saku nan minim?


Sebelum mengeluhkan pada Tuhan, yakin kamu layak melakukan hal itu? Tengok deh kabar terakhir yang saya terima dari rekan saya Dayat (@muslimax) tentang adik-adik dari panti tunas ganda Al Rifdah. Beberapa gambar yang sempat terekam saya kutipkan di sini ya:


Bayi manis ini mengidap hydrocephalus  


Mereka tidak bisa bergerak leluasa karena polio yang diderita 8'(

Hidayat (@muslimax) bersama salah satu penghuni panti yang autis-hiperaktif 

Ada belasan anak lain yang bernasib kurang lebih sama. Mereka tinggal di Al Rifdah, rumah kecil penuh kasih sayang yang didirikan ibu Rahma di kawasan Tlogomulyo, Semarang. 


Dinamakan panti asuhan cacat ganda (saya lebih suka menyebutnya tuna ganda) karena penghuninya--selain pengurus tentu saja--sebagian besar mengidap kelainan fisik dan mental 8'( Hiks, saya jadi terkenang panti sejenis yang pernah saya kunjungi bareng temen-temen di  kawasan Cimanggis dulu *srot sroot*

Sebagaimana panti lain, tentu saja selain cinta mereka juga membutuhkan guyuran dana untuk kelangsungan kehidupan sehari-harinya. Khususon Al Rifdah kebutuhan uang bulanan mereka tentunya berganda pula: selain makan, penghuni yang rata-rata masih sangat belia ini rentan terserang penyakit sehingga sedikit banyak tergantung pada jasa medis. Demikian pula, karena kekhususan yang mereka miliki asupan nutrisinya pun beda dengan orang kebanyakan. Misalnya saja bayi mungil pengidap hydrocephalus yang terlahir prematur ini hanya bisa mengonsumsi susu khusus dengan harga di atas rata-rata (infonya mencapai 170rb/kaleng!). Ini belum termasuk susu khusus untuk beberapa anak penyandang epilepsi lho. Ditotal per minggu kebutuhan susu mencapai enam kaleng atau 37 dus!

Kenyataan bahwa kondisi beberapa anak yang hiperaktif, sementara sebagian lainnya justru nyaris immobile karena gangguan polio yang diidap, memengaruhi furnitur yang digunakan di panti ini.  Boks bayi tentu saja pilihan ideal bagi mereka, hanya harganya tidak bisa dibilang murah. Satu boks musti ditebus dengan angka 2,5juta rupiah dan hingga investigasi dilakukan bu Rahma yang sehari-hari berprofesi sebagai guru ini baru membeli lima dan masih perlu sembilan boks lagi.

Ibu Rahma mengaku, setiap bulan dana yang dihabiskan untuk menjaga kecukupan nutrisi anak-anak yang dirawatnya ini mencapai empat juta rupiah. Ini belum termasuk "honor" para pengurus panti yang jumlahnya empat orang sebesar dua juta rupiah. Ditambah lagi permasalahan ruang panti yang belum lagi sempurna. Yup, bu Rahma secara bertahap merenovasi rumah yang dibangun atas pinjaman lunak ini demi kenyamanan dan pertumbuhan sembilan belas bidadari-bidadari kecil berkebutuhan khusus yang menghuninya: pengidap epilepsi,penyandang autis, menderita polio, hydrocephalus, serta tuna netra dan tuna rungu. Untuk menebus tanah dan membangun rumah ini aja bu Rahma masih berhutang 56 juta rupiah lho! Ini belum termasuk biaya renovasi.

Sungguh, Tuhan mengirimkan anak-anak manis ini sebagai pengingat kita untuk selalu bersyukur apa pun kondisi kita. Sekaligus membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi kita untuk menjad manusia mulia yang paling bermanfaat bagi sesama. Saya mungkin tidak setangguh ibu Rahma dan pengurus Al Rifdah lain yang dengan telaten mengurusi sembilan belas nyawa yang dititipkan Tuhan pada mereka. Tapi saya, kamu, kita semua, bisa lho menjadi bagian dari amanah itu dengan meringankan beban mereka.

Baru gajian kan? Atau habis dapat transferan yang jumlahnya memadai? Nih, saya lampirkan nomor rekening buat bantu Al Rifdah:

BCA cabang Siliwangi  no rek  246 543 0492 a/n Hidayat Prasetyo

Setiap harinya, Dayat lewat akun twitter @muslimax akan terus meng-update dana yang masuk lho. Kalau kelewatan tweets-nya bisa klik tagar #SMGBerbagi kok.

Oh ya, liputan detail mengenai Panti Al Rifdah ini juga bisa kamu baca di blog milik @mbandah yang langsung terjun bareng Dayat lho. Ya kali aja info di blog ini kurang terperinci sebagai pengabar.

Pay it forward!








Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

4 comments:

@nengratna said...

:( sedih.. tp seringkali hanya sebatas sedih *pentung diri sendiri*

fairyteeth said...

:((

*bukmark postingan ini*

warm said...

smoga banyak yg tergerak hatinya ya, amin :)

e-no: si nagacentil said...

Thanks yaa buat yang udah mampir, ditunggu kirimannya hihihi *kecup satu-satu*