LO (┎'o')┎GUE (┌','┐) —> ┐(˘▽˘)┌ END

Agak telat yah postingnya?

Mustinya tulisan ini dirilis segera setelah saya menamatkan sesi Gala Premiere bareng BlogDetik beberapa hari sebelum film besutan Awi Suryadi ini dilepas resmi ke pasaran. Tapi demi menghindari efek spoiler, biarlah saya menuliskannya sekarang. Selain, tentunya musti ngumpulin bahan berupa foto yang terserak di kamera temen (pleus melawan hawa malas hihihi...)


Adalah Zara Zettira, Gadis Sampul 1987 yang kemudian memilih menjadi penulis novel dan telah banyak menelurkan buku-buku bernuansa remaja di tahun 80an, nama di balik transformasi novel berjudul sama ini ke layar lebar.   Anak sekarang (ciyeeee yang anak jadul) mungkin lebih kenal Zara sebagai brand fashion ketimbang nama besar seorang pencetak best seller di era Lupus ini. Saya sendiri, yang di masa jaya Zara Zettira sebetulnya belum boleh baca majalah remaja terpaksa ngumpet-ngumpet nyuri baca koleksi Anita Cemerlang atau Hai punya kakak. Aih Anita Cemerlang, kemana ya majalah khusus fiksi itu sekarang?

Lo_Gue_End (disingkat LGE aja ya!) adalah cerita tentang lingkaran sahabat (?)  dengan belitan problema khas kosmopolitan: punya segalanya: rupa menawan, sumber uang yang gak habis, popularitas, tapi minim kasih sayang. Klise ya? Tapi itulah fakta Jakarta.  Nadine Alexandra, Manohara, Kelly Tandiono, Dimas Beck, Dion Wiyoko adalah beberapa selebrita penyaji pemandangan indah di film ini.  

Terlahir sebagai putri seorang ahli bedah plastik ternama di Jakarta, Alana (Nadine Alexandra) menemukan kebahagiaan palsu lewat asupan drugs dan alkohol di tengah gelimang pesta bersama para sobatnya yang masing-masing juga bermasalah.  Dibuka dengan adegan hedonis khas Jakarta, selanjutnya slot diisi dengan penjelasan setiap karakter.  Keasyikan saya menikmati gemerlap kehidupan di Jakarta ini terputus karena di sepertiga film tiba-tiba muncul adegan yang bikin bertanya-tanya. Tewasnya satu per satu para tokoh di lingkaran kehidupan Alana dan selalu dibarengi SMS misterius, serta kemunculan bayangan perempuan di tempat-tempat tertentu adalah titik-titik di mana saya mulai bingung ini film horor apaaaa.... 

Kalau mengingat reputasi Zara  Zettira tentulah nggak mungkin penulis yang masih cantik di usia 40an ini terjebak dengan cerita misteri murahan bertaburan setan urban dan adegan seks, rasanya nggak mungkin banget LGE masuk genre kayak gitu. Dan saya juga gak rela hahaha! Syukurlah pertanyaan dan permainan debar jantung terjawab dengan kemunculan Santika, sosok misterius yang hobi banget ngirim SMS peringatan pada Alana menjelang kematian teman-temannya.  

Saya memang bukan pengulas film yang baik jadi maaf banget kalau tulisan ini nggak akan banyak kritisi ya.... 

Mengusung misi mulia kampanye anti narkoba, LGE sebetulnya punya alur yang keren. Unik, karena di sini tokoh Zara muncul sebagai diri sendiri (diperankan Amanda Sukasah, kenapa nggak Zara langsung aja ya yang main hihihi...): penulis novel yang kembali ke Indonesia dan memutuskan kembali menulis setelah menerima kiriman e-mail dari Alana. Adegan komikal saat belanja drugs serta penjelasan mengenai jenis-jenis narkoba juga lucu banget. Like it! Sentra film ini sendiri tentulah Alana yang seksi tanpa banyak harus mengumbar tubuh indahnya. Lha wong mukanya si Nadine aja udah seksi booow *lap iler* #eh

Yang mengganggu menurut saya adalah kemunculan Claudia Hidayat (ini adeknya Ryan Hidayat sih katanya) secara tiba-tiba menyingkap tabir siapa dirinya sebenarnya, sekaligus memberi kejutan buat Alana tentang sebuah rahasia. Plot sejak awal yang sudah manis tiba-tiba jadi kayak drama remaja TVRI (hastagaaaah jadul sekali saya!) yang kurang soft. Dan misteri kenapa mata Claudia Hidayat ini terlihat aneh juga gak diungkapkan hehehe (sekilas mirip Darryl Hannah di musuhnya Uma Thurman di Kill Bill!). Entahlah, ini menurut saya aja siiih.... maaf lho kalo gak sepaham.

Harapannya sih, LGE bisa menjadi semacam film kampanye anti narkoba yang dikemas cantik dan nggak ngeguruin. Meski sepertinya penjualan LGE kurang begitu bagus (kalo gak salah momennya barengan Skyfall atau apa sih gitu? Lupa deh, bukan movie freaks sih...) sehingga (lagi-lagi) tenggelam di tengah serbuan film Hollywood. Tapi siapa tau ya, LGE nantinya dijadikan salah satu film wajib tonton di roadshow anti narkoba gitu. Semoga...

Oh ya, saya suka banget sama goodie bag-nya: butiran permen PapaBubbles dalam bungkus mirip obat. Unik aja...
Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

2 comments:

Ceritaeka said...

Aku kurang dapat gregetnya pilem ini.
Kalau memang mau mengusung kampanye anti narkoba koq ya gaya hidup hedonnya ditonjolin banget di pilem sementara kampanye anti narkobanya malah kayak selintas gituh..

Eh kalau ada premiere, mbok ajak-ajak gueee :D

bangnes said...

Iya bner sperti yg dibilang kak eka,
Kalo emang kampaye ya ttg narkoba nya dong yg ditonjolin,terutama sebab dan akibat obat terlarang tsb.
Dgn harapan penonton tau dan sadar bgt bhw narkoba itu sangat berbahaya.

Ho Ahu End.
"̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮
Say no to drugs.