Belajar Bikin Pitsa di L'Osteria

Kamu suka pitsa?

Saya juga. Dan kalau ditanya, pitsa yang saya suka tentu saja saya lebih suka pitsa tipis ketimbang pitsa tebal itu. Bukan sok diyet, tapi emang perut saya yang picky gak mau menerima konsumsi tepung terlalu banyak. Bicara soal pitsa, awal bulan ini saya diajak mencicipi sebuah resto Italia di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kawasan yang tentu saja terkenal dengan makanan enak-enak dan tempat nongkrong ini menyimpan satu kekayaan kuliner ala barat seru. Namanya L'Osteria dan berada di jalan Ciranjang. 

Relatif mudah dijangkau dengan kendaraan umum, butuh usaha sedikit jalan kaki memang untuk mencapai restoran bernuansa homey ini. Gak jadi soal, karena kawasan Ciranjang yang masih dinaungi pohon cukup nyaman untuk dijajaki dengan jalan kaki. Dengan catatan, hindari high heels macam stilletto ya XD 

Kalau selama ini saya hanya jadi penikmat si roti bundar, kali ini saya dipersilakan menjelajah hingga ke "area pribadi" mereka alias dapur. Sebetulnya sih nggak private-private amat kok, ada jendela kaca yang memungkinkan tamu untuk ngintip proses pembuatan aneka sajian lezatnya. Saya kebagian bikin pitsa, penasaran juga sih gimana caranya menghasilkan pitsa enak ini. Dan ternyata...

Menciptakan landasan pitsa itu gak gampang sodara-sodara!
Pengalaman bantuin ibuk bikin pastel dan nastar dulu, nggak cukup untuk menghasilkan dough dengan ketebalan pas. Apalagi di L'Osteria ini pitsanya dipipihkan secara manual. Butuh teknik tersendiri dan perhitungan matematis yang stratehis demi menciptakan bundaran pitsa tsakep... Di tahap ini saya menyerah dan mengembalikan dough pada mas chef



Memulas permukaan dough.

Lebih mudah ketimbang memulas eyeliner di mata sih, setidaknya menurut saya yang gak pernah kelilipan eyeliner cair sampai mata jadi item-item.  Cukup oleskan saus tomat (yang sudah disisipi rempah-rempah Italia dan beraroma lezat itu) secukupnya pada dough. Berhubung saya termasuk yang meyakini mazhab khasiat-likopen-pada-tomat-akan-lebih-mantab-kalau-dimasak maka saya pun tanpa ragu memulaskan saos sampai permukaan dough memerah macam blood moon yang baru saja kejadian kemarin. Hasilnya? Saya dipelototin mas chef hahahaa.... 

Topping.. 
Pitsa yang dibuat di cooking class kali ini adalah Formagi. Menggunakan empat jenis keju sebagai topping: ementhal, parmesan, gorgonzola, dan mozarella yang boleh ditaburkan sesuka hati. Karena sifat keju yang mudah meleleh pada suhu tinggi, tentu saja semakin banyak keju semakin yummy pitsa yang dihasilkan. Hail lemak membuat pitsa makin gurih! Bonus berupa smoked beef (atau pepperoni ya? Saya gak ngambil ini sih) dan jamur juga sah ditambah supaya pitsa gak monoton. Karena saya penyuka jamur, populasi saprofit ini tentu saya bikin berlebih.

Membakar pitsa!
Ini saat yang mendebarkan. Pitsa yang sudah rapi dan lengkap dengan polesan dibakar di tungku dengan kayu rambutan sebagai bahan bakarnya. Dikabar ya, bukan dipanggang. Katanya sih pitsa yang dihasilkan dari metode ini lebih otentik rasanya (and proven then!). Cukup lima belas menit untuk menghasilkan pitsa yang krispi dengan kematangan pas. Problem terbesar adalah menyerok pitsa yang lembek dari meja untuk dipindahkan ke tungku. 

Dan inilah pitsa formagi ala ala nagacentil...



Selain pitsa, L'Osteria juga punya menu lain yang nggak kalah seru, salah satunya spaghetti aglio olio berwarna hitam dari tinta cumi. Rasanya? Enak pake banget! Saya sendiri termasuk golongan penyuka pasta tumisan ketimbang guyur, Asia banget ya? Sayangnya pas kelas bikin spaghetti ini saya nggak kebagian space (padahal cukup kecil buat nyempil-nyempil) hiks...

Foto oleh Goenrock


Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

0 comments: