Jajanan Pasar Petak Sembilan

Glodok bukan cuma beken dengan elektronik atau grosir. Melipir sedikit ke Jalan Pancoran, kamu akan menemukan surga budaya Tionghoa di Pasar Petak Sembilan. Karena banyak sekali yang bisa dieksplorasi di kawasan Pecinan ini, maka untuk tulisan pertama saya hanya akan mengupas jajanan hasil blusukan pasar bareng ACMI dan BCA. Oh ya, buat yang belum tahu, ACMI ini komunitas pecinta masakan Indonesia yang digawangi antara lain pakar kuliner William Wongso dan Pak Bondan dengan misi food diplomacy alias menduniakan masakan Indonesia. 

Dimulai dari Kedai Es Tak Kie yang legendaris itu, petualangan kuliner dimulai. Pasca menyantap kopi dan nasi campur sebagai pasokan energi kami menjelajahi pasar Petak Sembilan sambil sesekali norak memotret dagangan "ajaib" yang ditemukan. Ajaib? Iyalah... kalau selama ini ke pasar becek paling nemunya congor sapi lha ini variatif banget: dari avertebrata sampe reptilia =))

Pemberhentian pertama yang menyita mata: teripang basah siap masak. Entah kayak apa rasanya jenis Echinodermata (hewan berkulit duri, masih sodaralah sama bintang laut dan bulu babi) ini. Kata Pak William Wongso sih enak dibumbu ala woku hmmm...

Teripang alias timun laut
Selain teripang, katak juga komoditi yang laris di pasar basah ini. Kalau di Semarang cuma tahu swike dalam bentuk siap santap, di Petak Sembilan saya menyaksikan sendiri barisan mayat katak dan yang masih hidup siap menanti ajal. Lengkap dengan atraksi penjagalan Amphibia berkaki panjang ini.... hiks keinget waktu praktikum bedah anatomi vertebrata ='(
Katak segar
Rebung alias bambu muda segar
Namanya juga pasar, meski nggak becek tapi di slot yang penuh mahluk laut ini tentu aja bau amisnya nggak bisa dihindari ya? 

Selain bahan "segar" di pasar Petak Sembilan juga banyak jajanan bernama unik. Sebut aja pi-oh yang ternyata bulus (masih sodaraan sama kura-kura). Bulus di pasar Petak Sembilan ini hasil penangkaran, bukan nangkap di alam sih. Kemudian ada sekba, yang setelah dicari-cari artinya adalah empat komponen jerohan babi. Dan, yang agak normal buat saya tentu saja bebek tim alias bektim. Buat kamu yang muslim, perlu guide yang paham betul istilah kuliner ini supaya nggak terjebak ya...

Bektim dan sekba
Selain bahan mentah, Pasar Petak Sembilan juga menyimpan puluhan kedai makan yang sudah diwariskan turun temurun. Dengan desain interior yang masih sangat klasik, tentu aja kedai-kedai ini seharusnya jadi spot bagus buat foto-foto kalau terjaga kebersihannya. Salah satu kedai yang relatif aman, Mie Belitong ini. Sajiannya ada dua macam yaitu laksa dan mie Belitong andalannya. Mie Belitong ini minya kayak udon, gede-gede, dengan taburan udang goreng berbalut tepung dan kuah yang kental. Kalau laksanya, buat saya terlalu manis sih. Sajian lainnya ada gorengan seperti combro dan cempedak goreng. 

Kedai Mie Belitong
Mostly jajanan di Pasar Petak Sembilan ini memang statusnya nggak halal sih. Ngohiang misalnya, sajian mirip otak-otak ini memang berbahan udang tapi dibalut lemak babi. Yang populer konon ham Bali, semacam daging asap dari babi yang dijual di Toko Kawi. Buat kamu penyuka babi, silakan mampir deh... 

Ngohiang
Toko ham Bali
Satu lagi toko kelontong yang menjadi penutup blusukan pasar kali ini, konon umurnya sudah mencapai empat generasi. Satu prestasi mengingat kebanyakan bisnis keluarga Tionghoa berujung di generasi ketiga. Tertulis dalam aksara kanji, artinya kurang lebih "abadi-jaya" menurut Dwika. Di toko ini, barang-barang yang dijual kebanyakan bumbu kering dan produk impor. Lumayan aman karena nggak bercampur antara yang mengandung babi dan halal. Pelayannya juga ramah-ramah menjelaskan items yang dijual di sana. Penting banget karena banyak produk-produk yang aneh hihihi... 

Kalo nemu toko kelontong ini, masuk aja...

Nah gimana? Seru kan jalan-jalannya? Di post berikutnya saya bakal nulis perjalanan budaya ke Petak Sembilan. Tunggu aja =)
Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

2 comments:

Christin said...

waaaaaaa. pengen ke petak sembilan dari dua abad yang lalu belom jadi. surganya makanan haraaaammmm :)))))

minta rute dong no, kalau dari stesen kota

e-no: si nagacentil said...

Dari St. Kota kamu naik angkot turun di Glodok. Kalo gak salah M12 atau 08 deh. Trrus nyebrang jembatan, ada jalan Pancoran masuk aja situ. Karena mau imlek, banyak lampion2 jadi gampanng nyarinya. Selamat berburu ham Bali ^^