Parenting in Social Media, Oleh-oleh dari #SMWJakarta

Parenting dan social media, dua topik yang saling berkait buat diulik. Kekhawatiran akan banyaknya "korban" internet agaknya membuat topik ini menjadi salah satu yang wajib tersaji di pekan media sosial alias Social Media Week yang baru hadir buat pertama kalinya di Jakarta. 

Di tulisan sebelumnya, saya pernah share tentang betapa (makin) nggak mudahnya jadi ortu di jaman dihital. Bukan mengulang, hanya menajamkan, Amalia Sari atau dikenal sebagai @absolutraia yang adalah ibu tunggal dari seorang remaja putri kemarin berbagi lagi soal parenting di social media. Di talkshow kolaborasi dengan Mommies Daily ini, sekali lagi menegaskan perlunya orang tua melek media. Moms, are you?

Sadar atau tidak, menurut Amalia social media platform pertama yang dikenalkan ortu pada anak adalah YouTube. Video-video yang dianggap edukatif adalah alasan ortu mengenalkan pada balita mereka. Bertambah usia, anak bakal semakin terkepung dengan banyak social media platform. Meski para pencipta menetapkan batasan usia untuk bergabung di platform buatan mereka, seringnya sih ortu cuek dan membiarkan anak berinteraksi di dunia maya lewat pemalsuan umur. Waduh...

Padahal, seperti sering ditegaskan Ainun Chomsun (dan ditegaskan ulang Amalia) bahwa social media tidak ubahnya macam pasar: banyak orang nggak dikenal yang bisa jadi membahayakan si anak. Trus, ortu musti gimana?

Pertama, tentu saja hindari menjadi ortu gaptek. Usia boleh nambah tapi kemauan buat belajar hal baru jangan sampai luntur. Anak-anak yang terlahir di jaman milenium adalah digital native yang cepat sekali mengadopsi teknologi terkini. Wajib buat ortu tau social media apa aja yang lagi digandrungi mereka. 

Platform paling populer di kalangan anak
Kedua, jangan biarkan anak menjelajahi dunia maya sendirian. Selalu pantau dan temani, ibarat ke pasar pastinya kita nggak mau anak keluyuran sendirian di tempat asing kan? Pilihkan social media platform yang pas buat mereka, tapi jangan beri akses penuh buat mereka. Add akun mereka dan pegang password-nya. Rambu-rambu seperti tidak mengijinkan orang asing menambah teman juga harus dikibarkan dengan tegas ya.

Oh ya, di bawah ini ada beberapa slides yang sempet terekam lewat bidikan kamera ponsel saya. Mudah-mudahan cukup jelas ya ...





Sebagai ortu, sebaiknya memang bangun jejaring dengan anak dan teman-temannya atau sebaliknya anak dari teman-teman kita. Stalking is allowed, jika menemukan kejanggalan yang terpampang di status media sosial anak jangan ragu lapor ke ortunya. Percaya nggak, mbak Amalia pernah mergokin status path anak temennya yang begini: "now reading fifty shades of Grey" >,< 

Lepas dari berbagai rambu dan aturan ber-social media yang terpatri, komunikasi yang baik dengan anak jangan sampai terabaikan. 

Well, lepas dari semua tips dan pengetahuan yang dibagikan agaknya PR panjang juga nih buat para praktisi social media melebarkan sayap menyadarkan para ortu untuk segera tanggap media. Saya berharap, ada yang bersedia menyediakan waktunya berbagi secara langsung ke para ortu lewat obrolan seperti ini di banyak lagi wilayah supaya cyber crime atau cyber bullying bisa dicegah...

Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

2 comments:

Amalia Sari said...

Terima kasih sudah datang & kembali share supaya makin luas orang tua yang melek ya :)

e-no: si nagacentil said...

Sama-sama mbak Lia, thanks juga buat sharingnya. Mudah-mudahan bisa disebarkan lebih luas lagi yaa