The Winning Teen-Team: Oleh-oleh dari #SMWJakarta

Bertahan lebih dari empat dekade buat sebuah majalah remaja tentunya bukan hal gampang ya. Coba hitung, berapa banyak media cetak yang akhirnya tumbang di masa digital ini. Majalah Gadis adalah salah satunya yang tetap berkilau di usia empat puluhan. Beruntung, saya berhasil nyempil untuk mendengarkan sharing dari majalah remaja besutan Femina Group ini di Social Media Week Jakarta kemarin ^^ 

Bertajuk "winning teen market, engage the most dynamic audience" sesi ini adalah salah satu yang banyak peminatnya.  Terbukti dari status SOLD OUT di web SMW Jakarta dan penuhnya kursi saat acara. Selama tak kurang dari dua jam penuturan tim redaksi Majalah Gadis yang insightful betul-betul sarat manfaat buat pemasar yang menyasar remaja. 


Majalah Gadis eksis di banyak platform
Know your audience, adalah kunci dari keberhasilan Majalah Gadis menguasai segmen remaja. Kelewat dinamis alias susah dipegang, early adopter, serta kurang loyal dan gampang pindah ke lain hati adalah karakter umum pasar remaja. Dengan mengetahui dasar-dasar karakter ini, akan lebih mudah buat pemasar menyusun taktik memenangkan hati mereka. 

Dengan pengalaman puluhan tahun menangani pasar ini, apa yang dipaparkan tim Gadis pastinya bisa jadi masukan berharga bagi pemasar. Rumusan pertama, tentu saja Know-The-Toys: cari tahu platform mana aja yang lagi digandrungi remaja. FYI, menurut riset tim Gadis sekarang ini Line jadi kanal yang disukai remaja lho! 

Aturan kedua, setelah mengetahui "mainan" yang lagi tren tentu aja kita harus tahu karakter dari setiap social media platform. Instagram users dengan twitter atau Line pastinya beda-beda karakter kan? Cari tahu juga peak time dari setiap platform untuk meramu aktivasi apa yang paling pas buat diluncurkan.

Udah tahu platform dan karakternya, rule number three: let's play the game! Lewat riset Gadis bisa merumuskan aktivasi yang pas untuk digulirkan ke audiens sesuai dengan karakteristik serta jam-jam sibuk remaja di setiap platform. 

Selanjutnya memelihara hubungan baik lewat engagement adalah aturan keempatnya, caranya tentu lewat konten interaktif yang melibatkan audiens. Untuk bisa menciptakan engagement dengan audiens cari tau juga apa yang mereka suka. Gadis pernah membuat lomba blog fashion, dan di luar dugaan pesertanya membludak melebihi target! Karakter narsis anak muda juga kayaknya jadi hal yang krusial buat dipertimbangkan. Dengan pertimbangan ini juga, instagram bisa jadi platform yang pas bagi brand yang menargetkan remaja buat aktivasi. Tapi hati-hati ya karena peer pressure juga bisa jadi bumerang.

Peer pressure ini dirasakan majalah Gadis ketika mereka memajang Suri, salah satu Gadis Sampul (beauty pageant yang banyak mengorbitkan bintang macam Anindya si Putri Indonesia sampe Dian Sastro mahmud dambaan sepanjang masa) dengan Greyson Chance di sampul majalah. Selain jadi trending (tentu saja gara-gara Greyson nge-tweet dan mention edisi bergambar dirinya!) Suri sempat jadi makian barisan remaja yang patah hati karena foto barengnya dengan sang idola. Peer pressure juga membuat Gadis membuka dua kanal untuk lomba foto busana yang agak terbuka karena menerima aduan dari calon peserta yang ogah di-bully kalau posting foto yang menampilkan bahu indahnya: instagram dan website

Kreativitas dan inovasi yang ditelurkan tim majalah Gadis agaknya menjadi strategi jitu buat melenggang sebagai majalah remaja.  Selain bikin banyak kompetisi berhadiah gadget (yang pasti disuka), Gadis juga berbagi gimmick berupa keterlibatan audiens dalam menentukan edisi tahunan. Lewat serangkaian jajak pendapat dan "audisi" menjaring reporter, lahirlah edisi tahunan bertema "100% made by you" yang perencanaan sampai liputannya dilakoni talenta muda dari pembaca Gadis. Di babak ini saya iri dan nyesel lahir duluan hahaha... T___T

Menguasai semua kanal social media juga strategi Majalah Gadis bertahan. Ini menarik karena nggak mudah melakukan sinkronisasi antar kanal lho. Pertanyaan besar saya soal transformasi dari konvensional ke digital juga terjawab dengan pengayaan individu yang terlibat dalam tim. Gimana mengubah kebiasaan memilih judul dan menulis artikel panjang lebar di majalah ke website juga tantangan tersendiri yang gak gampang lho! Mungkin karena digawangi oleh tim yang selalu berjiwa muda (meski umur terus nambah hahaha) dan haus belajar hal baru majalah Gadis berhasil melalui trial and error dengan buah yang manis. 

Anyway, congratulations to Gadis yang tetap muda di usia empat puluh. Semoga bisa bertahan terus ya.... 


Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

2 comments:

dita / @fairyteeth said...

Bookmark dulu postingan ini.

e-no: si nagacentil said...

Thanks Ditaaaa ^^