Bikin e-KTP Demi Menjadi Warga Negara Yang Baik

Ngurus KTP adalah hal yang paling malesin buat saya. Sejak memiliki KTP pertama (berapa tahun yang lalu ya? Jangan dihitung plis!), sesungguhnya saya selalu mengandalkan orang rumah buat ngurusin identitas sah sebagai warga negara Indonesia. Jangann ditiru ya ehe ehe ehe...

Kamu pasti tau alasannya kan?

KTP pertama saya, jelas bokap yang mengurus: dari proses persiapan berupa surat keterangan dari level RT sampai jadi dan tinggal dilaminasi. Demikian pula proses perpanjangan, dengan seratus ribu alasan kesibukan (baca: rasa malas berurusan sama birokrat tingkat kelurahan) tentu saja lagi-lagi bapak atau kakak laki-laki sebagai wali yang ambil alih. Bahkan waktu undangan untuk rekam data e-KTP datang beberapa tahun lalu, saya termasuk orang yang abai. Ya gimana? Waktu itu saya berada di luar propinsi, kan usaha banget kalo balik ke Depok cuma buat pemotretan hahaha... ahlesyan!

Sampai akhirnya paksaan itu tiba...

Kamu pasti tau kenapa.

Iya, 30 September bukan cuma jadi judul film wajib di era orba hari bersejarah buat negeri ini tapi juga batas akhir bagi yang belum punya KTP elektronik alias e-KTP. Kalo nggak karena ancaman kehilangan banyak hak sebagai warga negara pasti saya lagi-lagi abai pada kewajiban ini. Duh maafkan saya mendagri....

Menyelipkan waktu sehari di antara garis mati kerjaan, bukan hal gampang. Janji dalam hati mengurus e-KTP (setelah dimarahin sana-sini plus usaha berselancar di mesin pencari tentang prosedur dan persyaratan yang diharuskan), lagi-lagi harus diingkari karena alasan klise status anak ahensi. Lyfe! Ketika akhirnya saya maksain diri kabur dari kenyataan (dengan risiko dipelototin satu tim, hiks!) mengurus KTP secara swadaya adalah pencapaian yang harus saya rayakan... cheers!

Gambar dari situs kemendagri

Dengan menjinjing map berisi kelengkapan wajib yang ternyata cuma salinan KK dan KTP, sambil membelah konsentrasi nanganin beberapa kerjaan secara LDR remote, bersyukurlah ada teknologi ojek berbasis aplikasi hahaha. Bukan apa-apa, saya nggak tau di mana lokasi kantor kelurahan yang musti didatangin. Sampai di kelurahan pun lagi-lagi bingung harus ngapain. Seperti gambaran di kepala saya tentang sebuah kantor layanan publik pada umumnya: jauh dari mahluk-mahluk menarik macam customer service bank. Seadanya, gelap, dan nggak ada yang namanya penyejuk ruangan. 

Trus saya harus gimanaaa?

Beruntunglah meski nggak seramah CS bank (meskipun SOP, yakin!) ada juga yang memberikan penjelasan tentang cara-membuat-eKTP-dengan-benar-seperti-di-brosur. Ketar-ketir karena KTP saya udah kadaluarsa lebih dari setahun, dan persiapan nomor call center yang bisa dihubungi kalau tiba-tiba dipersulit (alias suruh bayar macem-macem) juga sempat menghantui. Ketakutan akan kehabisan blanko e-KTP (dengan waktu yang makin mepet deadline, gimana cobak kalo saya gak bisa bikin hari itu juga?), tergusur oleh kemudahan mendapatkan formulir.

Sebetulnya yaaaaa bikin e-KTP itu gak susah lho, suwer!
  • Siapin KTP lama (fotokopiannya aja kalo KTP lama kamu masih berlaku tapi belum elektronik)
  • Siapin juga fotokopi KK yang ada nama kamunya dan valid ya
  • Tahan dulu hasrat menggunakan lensa kontak demi pencatatan data iris mata.
  • Ambil formulir, isi dengan data yang sesuai
  • Tunggu nama kamu dipanggil dan voila! Masuk ke ruangan rekam data ikuti aba-aba: pemotretan (boleh take beberapa kali kalo kurang puas sama hasilnya), rekam sidik jari kiri-kanan (kaki nggak termasuk ya!) dan pengambilan data mata. 
  • Selesai!
  • Ambil tanda bukti pembuatan KTP, simpan baik-baik kalo perlu di-scanned buat jaga-jaga
Dan ternyata lebih cepet daripada nungguin antriannya!

Dibandingkan proses pembuatan paspor, bikin e-KTP di kelurahan kecil Depok ini masih butuh banyak pembenahan sih. Ruangan yang seadanya dan panas, bikin dandanan koyak begitu giliran pemotretan. Kasian lah yang nggak fotojenik macam saya ini...

Selain itu, mengingat kebiasaan masyarakat Indonesia yang masih belum biasa antri, rasanya perlu ditata ulang: meja CS buat ambil formulir dan tanya-tanya persyaratan, nomor antrian, serta pemisahan antara layanan pembuatan KK dan KTP. Kalo walimahan nikahan aja wilayah tamu bisa dipisah, masa ini nggak? Oh ya, sistem unggah semua data melalui website kayak bikin paspor dan NPWP juga akan membantu banget bagi buruh kantoran macam saya (yang sebetulnya males antri). Jadi, data udah kerekam dan begitu dateng ke kelurahan (or even make it simple by conputerized, bikin di mana aja) tinggal foto-foto plus ambil data iris sama sidik jari. Dan yang terpenting tentunyaaaa.... tolonglah siapin unit AC biar hasil pemotretan paripurna. 

Gimana pak walkot Depok kira-kira usulan terakhir diterima kaaaan?


Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

1 comments:

cK said...

Ntar diupload ya hasil foto KTPnya...