Memandang Dengan Mata Yang Berbeda

Hari ini di grup whatsapp SMP saya, bergelimangan ucapan duka dan serapah gara-gara salah satu di antara kami mengunggah foto anak berseragam SD yang jadi korban "tabrak lari". Saya beri tanda kutip karena nyatanya belum ada konfirmasi atas kesahihan berita itu. Doa dan emoticon cry langsung menyembur dari nyari separuh anggota grup. Siapa yang nggak terpancing ngeliat foto anak kecil tertelungkup bersimbah darah di atas aspal? (beberapa menit setelah gambar itu diunggah saya langsung hapus!) 

Benar juga, karena kemudian menyusul konfirmasi bahwa si anak SD ini masih hidup dan dalam penanganan di rumah sakit. Sementara pelaku "tabrak lari" nyatanya bertanggungjawab membiayai pengobatan korban.

Belum puas sampai di situ, beberapa menit yang lalu si pengunggah foto korban kembali mengirimkan foto yang menurut saya sih kurang etis ya buat konsumsi publik yaitu identitas si penabrak. Tentu aja tanpa bumbu gak akan ada daya tarik sama sekali, caption berbunga-bunga bahwa pelaku tabrak-lari-yang-sebetulnya-nggak-lari itu adalah oknum aparat sehingga terbebas dari status tertahan.

Semua mengamini, mengiyakan. 

Sampai satu orang berkomentar "Jangan-jangan anak itu lagi lari-larian di jalan trus gak sengaja ketabrak"

Iya juga sih ya...



Kita kan cuma menduga-duga, menginterpretasikan sebuah kejadian menggunakan pola pikir kita. Pernah coba yang sebaliknya?

Beberapa tahun lalu, saya selalu sebel kalo ngeliat berita pengusiran PKL. Kayaknya nggak manusiawi banget, orang nyari nafkah halal kok dilarang? Tapi itu asumsi saya, yang ternyata berubah arah.

Teman saya, anggota Satpol PP menyanggah pikiran saya kala itu. Menurutnya, PKL emang menjempur rejekinya dengan cara halal tapi belum tentu thoyyib baik. Mereka memakai area yang bukan diperuntukkan untuk berjualan, mengambil hak orang lain yang juga seharusnya. Dalam hal ini, pejalan kaki.

Pada akhirnya saya mengamini argumentasi teman saya yang Satpol PP itu. Apalagi, setelah kemudian saya mengalami sendiri harus ekstra hati-hati berjalan kaki di trotoar Margonda yang sangat berpihak pada "perekonomian rakyat". 



Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

0 comments: