Why Him? Why Not!

Persoalan mertua dan menantu, kayaknya jadi isu utama dalam hubungan ya? Makanya ada istilah lidah mertua sebagai nama lokal buat tanaman hias dari genus Sansevieria. Konon katanya, karena lidah mertua lebih tajam daripada pisau andalan chef. Entahlah, saya belum pernah ngerasain juga sih. Yang pasti ketika ngeliat poster film "Why Him?" beredar di mana-mana langsung kebayang ini ceritanya gak akan jauh-jauh dari cerita poros mertua-(calon) menantu. 


Betul prediksi kamu, cerita "Why Him?" berkisar tentang keberatan seorang bapak melepas anaknya pada calon menantu yang dinilai gak pantas karena terlalu urakan (digambarkan lewat rajahan di nyaris seluruh badan dan kata-kata kasar) plus kerjanya gak jelas. Biar makin sempurna, mari tambahkan dengan status DO si calon menantu dan dekorasi rumahnya yang cenderung cabul. Sebagai ortu konservatif yang mengagungkan gelar akademis siapa yang rela anaknya dilamar sama mahluk beginian coba. 

Lalu di mana istimewanya?

Masalah klasik berupa pertentangan budaya antar generasi adalah nadi dari "Why Not?". Ned Flemming si bapak (diperankan oleh Bryan Cranston) adalah pemilik bisnis percetakan yang memasuki senjakala akibat gerusan gelombang digital. Familiar sama isu ini ya *menatap daftar panjang media cetak yang mulai gulung tikar*. Sebagai generasi baby boomer, kegagapan teknologi dibungkus arogansi menjadikan Ned paripurna sebagai figur bapak otoriter yang susah menerima kenyataan perubahan jaman. Kejutan bahwa putri kesayangannya Stephanie (Zoey Deutch) tinggal serumah bareng pacarnya yang jauh dari kriteria menantu idaman versi jadul, makin bikin Ned menabuh genderang perang. Semua upaya Laird Mayhew (James Franco) mencuri hati Ned kayak upaya ngelawan hoax. Berat, tapi kalo dilakukan terus-terusan bakal menuai hasil juga. Ups! 

Menonton film berdurasi 111 menit ini, kamu bakal tertawa lebar dan sesekali mengangguk mengamini apa yang dipaparkan. Netflix, semburan kata-kata kasar (embuh berapa ratus kata f*ck dihamburkan), J2EE, atau nama-nama start up founder yang ditebarkan tentu gak asing buat saya yang sehari-hari bermain dengan dunia digital dan kaum millenials. Tapi lain halnya ketika yang menghadapi hal semacam ini ortu kita. 

Generation gap itu nyata sodara-sodara! Tinggal gimana kita menyikapinya. Inovasi atau mati, itulah kunci biar gak punah. Ini yang dilupakan Ned menghadapi kenyataan lesunya bisnis percetakan yang dibesarkannya. Kejayaan masa lalu sebagai owner seakan gak ada artinya ketika Ned berkenalan dengan pasangan pendiri layanan digital greeting cards yang notabene salah satu penyebab kebangkrutannya. 

"Why Him?" juga mengajak para ortu mendengar dengan baik, bukan sekadar mengaku jadi pendengar. Karena bicara itu mudah dan menjadi pendengar itu gak gampang lho. 

Buat saya "Why Him?" mengingatkan era film komedi romantis era 2000an awal: menyegarkan tapi tetap ada nilainya. Cheesy enough but still have nutrition to be consumed. Relax and chill, while watching that-hawt-and-cool-guy-in-a-package James Franco. 

Oh ya dengan rating D+ dewasa, pastikan kamu mengajak teman yang udah cukup umur saat menyaksikannya ya. 







  
Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

3 comments:

elafiq said...

nunggu download-annya ah :D

Ceritaeka said...

Barti nggak boleh nonton ama Basti :P

cK said...

Seru ini, bikin ngakak berkali-kali :)))