Kalimat "Auto Response" Gak Penting Yang Harus Segera Dihapus



Sudah lama saya menghapus kosa kata "oleh-olehnya yaaa" dalam kamus travelling. Selain jarang banget jalan-jalan, kamu pasti udah paham kenapa kalimat ini sebaiknya gak digunakan sebagai "auto response" ketika mengetahui ada temen yang mau melancong. 

Padahal dulu saya termasuk yang cukup rajin menambah tentengan dengan oleh-oleh, selain makanan khas tentunya souvenir masuk dalam daftar. Pokoknya kalo ke luar kota harus banget bawa! Sampai suatu ketika, di kereta saya ketemu temen lama. Waktu saya bilang mau ke Bali, spontan dia bilang "oleh-oleh yaaa". Tentu saja sebagai teman yang baik hati dan tidak sombong, pas nge-trip saya sempatkan mampir ke toko oleh-oleh. Ini PR karena dia temen SMP saya (artinya udah berapa ratus purnama kita gak ketemu? Seleranya tentu banyak berubah) sehingga saya gak tau oleh-oleh apa yang paling pas. Dan karena jadwal kami yang beda (dia ibu rumah tangga dengan kantor yang sangat teratur jamnya, sedangkan saya sebagai anak ahensi tentu punya ritme yang fluktuatif), saya harus memilih oleh-oleh bukan makanan biar gak basi pas ketemu.

Yang terjadi adalah, oleh-oleh buat temen SMP saya itu teronggok tanpa sempat diantarkan karena si temen susah banget dihubungi. Kesel kan? Udah nyarinya susah (karena mikirnya, bukan harganya) kok harus saya yang jungkir balik ngontak dia ya? Padahal yang minta kan dia. 

Sejak saat itu, hapus  kata "oleh-oleh" dalam daftar belanjaan ketika jalan-jalan. 

Nah, belakangan saya merasa perlu menambah perbendaharaan kata tersebut dengan"Titip yaa". Ini lebih pelik, karena ada beban tambahan berupa "Eh gue kan bayar, gak minta sama lo!" 

Masalahnya adalah....

Lagi-lagi, sebagai teman yang baik, ketika saya berbagi info tentang produk layak koleksi di medsos dan kemudian disamber dengan "Mauuu! Nitip dong!" di kolom komentar, saya menganggap itu serius. Seperti hutang, pontang-pantinglah saya nyari waktu untuk beli titipan temen tadi dengan pertimbangan embel-embel limited edition. Hamdalah produknya ketemu. Sampai di sini, urusan belum selesai karena masih ada status delivery yang belum tertunaikan. Nah, yang menyebalkan adalah sebagai orang yang dititipi (artinya ada amanah berupa barang orang, dan sebagian uang saya kepake ehe ehe) tentu saya berkewajiban ngingetin si penitip dong. 

"Barang lo dah ada nih kapan diambil?"

Kemudian jadi wacana, karena jawabannya adalah "Eh kapan ya?"

Jadilah saya kemana-mana harus menggondol barang titipan tersebut, sekadar berjaga-jaga kalau tiba-tiba diajak ketemuan buat transaksi yekan? Kalau barangnya berukuran kecil, masih acceptable lah. Tapi coba bayangin kalo titipannya itu berupa rice cooker 5 liter misalnya yang gak memungkinkan buat ditenteng ke sana ke mari. 

Meski pun sebetulnya barang kecil nan selip-able itu masih juga merepotkan karena kekhawatiran berupa hilang atau rusak sebelum dikasih ke pemiliknya. Barangnya gak mahal, tapi tetep ada kemungkinan kedua berupa gangguan pada cash flow orang yang dititip-beli-kan. Kalo tau gini mending sekalian jualan dengan narik margin aja apa ya? (Kemudian inget kalo ada Airfrov, udah install? Oke masukin referral code saya yah PM95F),

Kalimat berikutnya yang saya sedang ingin hapus adalah "Traktir dooong!" untuk setiap perayaan baik ulang tahun, naik gaji, atau bonus sebagai orang kantoran. 

Daripada nodong traktiran ke yang ultah, mending ingetin dia merchant mana aja yang ngasih promo diskon, gratisan, atau apa pun kalau kamu gak ngasih kado. Minta traktiran ke yang baru naik gaji? Dih, emangnya kamu tiap malem yang mijitin dan ngirimin makan malam buat dia? 

Perkara "traktir dong!" ini membuat saya jadi dituduh kikir, pelit, dsb dsb. Saya pribadi sih sebetulnya gak keberatan ngebayarin atau traktir orang kalau gak diminta. Dan, ketimbang mentraktir orang yang minta (malak tepatnya ihik) rasanya lebih rela kalo dana traktiran itu dipake buat mbayarin makan mereka yang lebih berhak alias jarang makan enak. Kalo urusan ini, gak perlu di-posting di medsos kan biar gak dibilang riya'? 

Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

0 comments: