Memangnya Kenapa Kalau Saya Pancasila?




Menutup Mei, membuka Juni. Linimasa di ketiga kanal media sosial: twitter, facebook, dan instagram (apakah Path juga? Entahlah karena saya membatasi lingkaran pertemanan di platform yang satu ini) riuh oleh unggahan foto bernuansa merah dengan caption serupa "Saya Indonesia, Saya Pancasila" Beberapa jam sesudahnya posting tandingan bernada sindiran ikut membanjiri, terutama di laman facebook. Disusul oleh beragam meme dan jokes yang merujuk pada satu eh dua kampus di kawasan Depok. 

Apa yang salah dengan kampanye "Saya Indonesia, Saya Pancasila" sih sampai banyak yang kebakaran jenggot (atau ujung baju?) dan merasa perlu bikin status tandingan?

Ada yang mempermasalahkan tata bahasa, harusnya "Saya orang Indonesia, saya Pancasilais"

Oke, semoga mereka yang termasuk golongan ini sudah sempurna bisa membedakan penulisan dilanggar dan di langgar yang benar dan gak lagi menggunakan kata "merubah" alih-alih mengubah. Meski Ivan Lanin sang pewaris Yus Badudu kemudian menyudahi polemik dengan tanggapan bahwa makna di baliknya lebih penting ketimbang gramatikal.

Golongan lain menganggap kemana aja selama ini? Emangnya bukan Pancasila ya kalo baru sekarang kasih statement kayak gitu? Oke, mungkin mereka lupa dan gak mengamati betapa banyak generasi Y dan Z (wait, kalian yang mempermasalahkan kampanye Pekan Pancasila ini paham kan apa bedanya dua generasi tersebut?) yang gak hapal kelima dasar negara sejak kewajiban penataran gak lagi jadi ritual tahunan. 

Triawan Munaf, dari Bekraf yang juga penggagas kampanye ini sampai menjelaskan kenapa dia menggunakan slogan ini ketimbang kalimat sesuai KEBI yang baku.



Semoga kebaca ya, kalo kurang jelas kamu bisa klik tautan ini

Jauh dari kaku ya perayaan Pancasila tahun ini? Menautkan lagi keberagaman yang sempat rapuh gegara pertarungan Pilkada, adalah salah satu pesan yang saya tangkap dari video yang diunggah Jokowi tentang ini. Ada satu scene yang sangat kekinian (oh actually I tried to avoid using this word!) yaitu tiga tukang ojek online nongkrong bareng dan mereka akrab-akrab aja. Lihat videonya di sini ya. Kekurangannya sih karena gak ada saya di situ hahahaha (hey kamu siapa?).

Dengan kacamata sebagai insan dunia iklan, kampanye ini memang menyasar kaum milenial yang banyak dikeluhkan udah lupa sama isi dasar negara dan tata kramanya makin mengkhawatirkan. Bukan buat generasi penikmat slogan "Dengan peringatan hari lahir Pancasila kita tingkatkan kesadaran bernegara yang adil , makmur, berkesejahteraan merata di seluruh jengkal nusantara tanpa kecuali" itu. Seperti kata om Triawan, bisa kaburlah anak-anak yang gak sempat mengecap rasanya penataran dan segala kewajiban era Orba itu kalau dikasih treatment yang sama kayak generasi ortunya. 

Jangan samakan dengan generasi pendahulunya yang dipaksa menelan semua doktrin Pancasila (yang banyak hanya sebatas menghapal kemudian jadi mual). Seperti kata Mahfud MD di sebuah tayangan televisi, angkatan yang mengalami pemaksaan buat jadi manusia Pancasila sejati ini gak mendapatkan panutan sehingga kemudian memuntahkan lagi semua ajaran yang diterima. Jadi, meski hapal semua butir-butir yang dilemparkan (uhm... sebetulnya saya sih nggak, maafkan!) belum tentu mereka jadi pengamal yang menerapkan nilai-nilai dalam keseharian. Begitu...

Lantas salahkah kampanye ini?

Sejauh ini, saya nggak tau apakah KPI yang ditetapkan saat membuat strategi udah tercapai ya. Kalo istilah anak ahensi mah udah acvhieved gitu. Tapi, kampanye ini jelas akan salah jika hanya selewatan tanpa adanya teladan dari penggagas dan petinggi yang jadi panutan generasi langgas. 

Saya sendiri, mengapresiasi kampanye ini sebagai ajakan buat kembali ke dasar negara tanpa menjadi kaku dan menggurui. Tinggal implementasinya kelak. Dan, karena kalender negeri ini punya banyak sekali peringatan hari besar nasional ada baiknya tanggal-tanggal itu disegarkan lagi dengan kemasan yang lebih menarik kaum muda yang lebih fasih bersentuhan dengan dunia maya. Ketimbang mengotori dengan makian di status medsos yang berujung pada mandeknya karir kan?
Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

0 comments: