Rak Sepatu Musala Yang Jobless




Dibanding era 90an, muslim Indonesia sekarang kayaknya hidupnya jauh lebih enak ya: bisa lebih bebas mengekspresikan keseimbangan dunia dan akhirat. Jilbaber nggak lagi dicurigai dan bisa dengan gampangnya dapat kerjaan (termasuk di dunia hiburan, malah makin laris bukan?). Dan yang terpenting tentu aja fasilitas ibadah bernama musala di mal dan perkantoran.

Dulu, jumlah musala mal yang memadai (catatan: gak di basement yang pengap plus sempit, karpetnya gak bau jempol, plus udah ber-AC) bisa diitung jari. Sekarang nyaris semua mal menyediakan musala luas, adem ber-AC, wangi, dan dilengkapi penjaga yang siap sedia mengamankan sepatu anda. Bulan Ramadan, biasanya malah ada bonus takjil lho! Yang di kantoran? Sama juga. Salat di tangga darurat tinggal kenangan. Udah asyik banget lah pokoknya!

indonesia itu bangsa yang relijius, kalau parameternya adalah musala yang selalu padat  ketika masuk waktu maghrib (maaf saya belum pernah ke mal waktu subuh karena belum dibuka). Dan pemandangan yang sangat lazim adalah.... bercecerannya sepatu/sandal jamaah di sepanjang pintu masuk musala. Padahal udah disediakan rak penitipan lengkap dengan petugas macam di pintu masuk supermarket: pake nomer dan gak dikenakan biaya apa pun alias gratis. Kalo beruntung, bonus senyum manis memikat dari mas-mas ganteng rak penitipan (dan bikin pengen nitipin hati sekalian, ahzeg ahzeg... eh istigfar!)

"Biar cepet mbak"
"Males ribet"
"Eh anuh... emmmm"


Adalah sebagian jawaban ketika saya menanyakan hal ini. Secara statistik jelas lemah, lha wong datanya gak mewakili kriteria analisis secara ilmiah kok. Tapi apa susahnya sih meluangkan waktu sebentar aja untuk ikut prosedur: menaruh sepatu di tempat yang seharusnya. Jangan-jangann karena gak ada bab khusus dalam kitab agama untuk hal remeh-temen macam ini (dan kebiasaan kecil lain yang kalau diremehkan berdampak besar semisal nyerobot antrian). 

Dulu (lagi), jaman Aa Gym masih jadi ustaz yang menyenangkan, salah satu materi yang sering ditanamkan di kalangan jamaahnya adalah meletakkan sepatu/sandal dengan benar, selain menyimpan sampah di tempatnya. Rak sepatu pasti sedang tersenyum manis mengingat masa-masa indah itu. Meski cuma terlahir sebagai tempat menyimpan sepatu yang berdiri di pojokan, senggaknya sebagai rak dia berfaedah dalam kehidupan manusia. Bukankah sebaik-baik mahluk adalah yang punya manfaat bagi sesama?








Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

0 comments: