Belajar Bisnis Online Bareng Indoestri di Brightspot Market

*Bersih-bersih debu di blog*

Setelah cukup lama cuti dari dunia keriaan, seneng banget akhirnya weekend kemarin berhasil mengisinya dengan kegiatan yang sungguh berfaedah. Berbarengan dengan Brightspot Market yang diadakan tiga hari berurut, gelaran dengan slogan Modern Culture Market ini gak hanya berisi beragam jenama lokal. Serangkaian workshop juga menjadi daya tarik acara tahunan buat generasi langgas ini. Tema yang diusung beragam: dari sharing session seputar pemasaran daring sampai crafting seru yang selama ini tak pernah terbayangkan seperti bikin keychain leather dan tas serut dari kulit. Yang sempat mampir ke Brightspot kemarin pasti paham kenapa kedengaran suara palu beradu dengan batu ya? ☺ 

Nah, saya sendiri memilih buat mengikuti kelas bareng Kevin Osmond mas-mas lucu founder Printerous itu. 



Kenapa harus online?

Hari ini saya baru saja menerima sebaran data mengenai kecenderungan generasi langgas mengakses internet berdasarkan data dari CSIS. Sebanyak 54,3% dari generasi ini mengakses berita lewat online media setiap harinya, dan dengan penetrasi di media sosial yang tinggi (facebook masih ada di posisi terkuat dengan jumlah pemilik akun sebanyak 81,7% dari kaum penguasa masa depan ini!) tentu saja online business jadi pilihan buat berwirausaha. Selain itu, karena gak butuh toko fisik online business bisa memangkas biaya operasional. 

Sedikit sharing dari Kevin yang juga punya pengalaman membidani beberapa media seperti FIMELA buat menjalankan online business kamu akan saya paparkan di sini.

Dulu mungkin kita ketakutan buat ngobrolin ide bisnis karena kekhawatiran dicuri atau ditiru, tapi dengan sumber ide yang makin bertaburan macam sampah habis demo kayaknya yang lebih penting adalah action dan eksekusi. Supaya gak membabi-buta, perhatikan hal-hal penting ini ya:

Validasi Ide

Riset itu perlu, dan ketika kamu mendapatkan sebuah ide cemerlang bagai bintang di langit kelam jangan terlalu bahagia dan merasa secerdas Archimedes dulu. Lakukan analisis kompetitor, udah banyak belum yang bikin bisnis serupa. Kalau ada duitnya, bisa aja kamu membayar perusahaan riset tapi buat sebuah start up kan sayang yeee... jadi manfaatin aja media gratis macam similarweb.com deh.

Pahami Pasar

Seringkali ketika sebuah ide dilahirkan, pebisnis pemula terlalu berkosentrasi pada yang disukai oleh dirinya sendiri. Padahal yang namanya produk atau layanan itu ujung-ujungnya bakal dibeli oleh konsumen, jadi cari tau deh apa yang mereka mau dan butuh. Lagi-lagi, kamu bisa menggunakan tools gratisan macam Google Trends.

Survey Target Market

Inget acara Famili 100 tahun 90an yang terkenal dengan jargon "survei membuktikan"? Karena asumsi saja seringkali gagal, bikin survei terhadap pasar yang dituju. Kamu bisa menggunakan Google Doc atau Survey Monkey dan TypeForm untuk menggali data ini. Sebarkan lewat media sosial atau grup, biar menarik kamu bisa menambahkan iming-iming hadiah seperti pulsa buat pengisi jajak pendapat beruntung. 

Market Testing

Setelah semua riset beres dan kamu mantap menjalankannya, bikin tes pasar dengan mengikuti pop up bazaar macam Brightspot Market. Lihat gimana respon publik yang jadi sasaran tuju bisnis kamu. Bagusnya sih kamu sebagai owner sekaligus founder yang stand by menjaga booth ya, selain ngirit biaya SPG kamu bisa berinteraksi langsung dengan pelanggan. Mereka juga lebih senang kalau dilayani langsung pemilik lho! 

Bicara soal target market, Kevin menyarankan untuk membidik segmen niche atau bulls eye. Pasar dari kalangan niche ini memang gak banyak, tapi mereka lebih loyal dan memiliki daya beli tinggi. Ini saya setuju banget sih, percaya deh jualan barang ke pasar yang price sensitive itu capek lho! Kecuali kalo kamu cukup tabah seperti hujan di bulan Juni. 

Pilih segmen pasar dengan ceruk sempit tapi nilainya tinggi macam target dart game ini

Udah siap? Nah sekarang kita masuk ke pemasaran dan penjualan secara online yuk! 



User Journey

Di tahap ini, kenali dengan baik user experience saat berbelanja di toko online, dimulai dari pemesanan sampai produk/layanan digunakan oleh mereka. Ini menentukan user interface atau tampilan website jualanmu lho, gimana caranya supaya pengguna merasa nyaman saat menelusuri katalog hingga akhirnya memutuskan buat belanja. Ini pula sebabnya kenapa di marketplace desain untuk tombol "beli" dibuat se-eye catchy mungkin. 

Products

Kekuatan online business terletak pada images yang gak lain merupakan etalase produk. Buat foto semenarik mungkin, gak perlu menggunakan kamera mahal kok. Dengan smartphone kamu udah bisa menghasilkan foto indah sepanjang teknik pengambilannya tepat. Ada banyak fotografer yang bersedia berbagi pengetahuan tentang foto produk, belajarlah dari mereka. Dan karena sifatnya digital jangan pelit bereksperimen. Toh kamu juga gak perlu buang biaya afdruk (astaga istilah apa ini!) dan beli film kan?

Lengkapi juga katalogmu dengan copywriting supaya pengguna mendapatkan rincian produk. Storytelling yang kuat juga akan menambah value pada produk, terutama jika kamu menjajakan premium items seperti handmade apparel dari wastra nusantara atau kosmetik fairtrade

Inventory

Ketika sebuah produk dilempar ke pasar dan mendapatkan sambutan positif, pastikan mereka selalu ter-updated dengan ketersediaan barang. Jangan sampe yah pas mau beli, tau-tau barang yang dicari gak ada. Sungguh bikin ilfeel. Selain memasang tanda "SOLD OUT', sediakan form "remind me" sehingga ketika produk tersedia mereka bisa menjadi yang pertama tau. 

Shipping

Bicara online business gak bisa dipisahkan dari pengiriman. Kasih kebebasan pada pembeli kamu buat memilih same day service (risiko biaya lebih mahal dengan jasa ojek online) atau kurir biasa. Untuk pengiriman ke luar negeri, kamu bisa memanfaatkan EMS dari Pos Indonesia. Oh ya, yang masih PR sih kalau kamu harus mengirim barang berupa cairan ke luar kota. Cari tau jasa kurir mana yang menyediakan, pasti ada sih tapi biasanya ongkosnya lumayan mahal karena perlakuannya khusus. Bicarakan secara transaparan dengan pembeli ya.

Promotion

Jangan pelit bikin promosi, voucher diskon belanja bisa jadi trigger yang menggoda buat bertransaksi. Kamu bisa membagikannya di pop up market, atau lewat influencers dan endorser. Dari redeem kode voucher akan kelihatan seberapa banyak dan efektif sih pelanggan memanfaatkannya.

Payment & Currency

Satu hal yang jadi perhatian ketika bertransaksi online adalah pembayaran. Di Indonesia, metode transfer antar bank (baik lewat ATM maupun e-banking) masih jadi pilihan utama. Penyebabnya, selain trust tentu saja karena jumlah pemilik kartu kredit memang belum banyak juga sih. Urusan transfer ini lumayan ribet karena lagi-lagi biaya administrasi antar bank itu angkanya lumayan. Dua kali belanja online beda bank, bisa banget untuk jajan semangkok mi ayam kayaknya hahaha...

Buat penjual, enaknya sih pake virtual account yah. Uhm apaaaaaah harus ngurus ke bank gitu? Gak harus kok, Kevin menyebut Xendit dan Midtrans sebagai payment gateway yang cukup populer dan mudah digunakan. Silakan kamu googling mengenai mereka yah!

Customer Service

Namanya juga jualan yah, biarpun transaksi terjadi di dunia maya jangan abaikan layanan pelanggan alias customer service. Siapkan line telpon chat buat berinteraksi, gak harus 24 jam tapi pastikan kamu cukup responsif (dan ekstra sabar!) meladeni. Selain lewat messenger, optimalkan juga live chat seperti Zopim dan Zendesk.

Terakhir, di mana kamu akan menempatkan tokomu? Ada banyak pilihan sesuai anggaran. Marketplace adalah rumah yang pas untuk pemula, karena kamu gak perlu repot memasarkan lagi. Cukup bikin akun dan pajang daganganmu di sana, kalau beruntung kamu bisa di-featured di halaman depan.

Kalau bisnismu udah lumayan established, boleh juga membuat web dengan nama domain yang spesifik (jangan kepanjangan ya, bikin se-catchy mungkiin) dan hosting sendiri. Untuk e-commerce, Wordpress sebagai salah satu platform ngeblog populer punya banyak template yang bisa kamu pakai. Minta bantuan temen yang jago utak-atik atau kamu bisa mengulik sendiri di waktu senggangmu. 

Pilih sendiri mau bikin toko di mana

Di ujung workshop, Kevin sempat berbagi mengenai pemasaran lewat media sosial. Instagram Stories ternyata menjadi lahan subur buat promosi, mungkin karena kepo adalah fitrah manusia ya? 

Kunci untuk memasarkan (bukan menjual ya!) produk lewat media sosial sendiri ada tiga:
  • Penggunaan hashtag alias tagar, gak heran kalau di IG post itu banyak banget tagarnya macam persiapan perang ya. Selain yang relevan, kamu juga bisa "menumpang" tagar populer supaya dicari orang. 
  • Endorsement, Menggunakan endorser atau influencers dari kalangan selebgram adalah cara yang lazim dipilih pebisnis online. Pastikan kamu memilih orang yang tepat sebagai influencer ya, gak lucu kan kalo kamu jualan serum antibotak tapi memilih seleb yang rambutnya panjang nan lebat seperti hutan Kalimantan (di tahun 1920an). Produk low end, menurut Kevin akan cukup efektif menangguk penjualan jika dipromosikan oleh selebriti. Sementara endorsement untuk kalangan high end kebanyakan memang lebih untuk menciptakan awareness
  • Ads alias iklan
Sebelum mengupas soal ads, riset CSIS ini bisa kamu jadikan pegangan media mana yang harus dipilih:


Udah jelas kan kalo media milik babang Zuckerberg ini masih digdaya di kalangan kawula muda? 

Untuk beriklan facebook dan instagram (mari memperkaya babang Zuckerberg!) bisa jadi pilihan, selain Google Ads tentunya. Terdapat perbedaan algoritma antara keduanya. Di facebook, iklan terpampang berdasarkan kebiasaan dan demografi pengguna. Sementara Google Ads menitikberatkan pada kata kunci. Pilih mana? Dua-duanya aja karena ketika butuh sesuatu warganet cenderung bertanya ke mbah Google. 

FYI, baik facebook maupun Google sama-sama menerapkan prinsip pake-dulu-baru-bayar alias hanya akan mengenakan biaya ketika iklan diklik. Istilahnya PPC atau Pay Per Click dan CPC (Cost per Click). Meski bisa dilakukan sendiri, tapi untuk bisa memasang iklan di kerajaan babang Mark dan mas Sergei-Page ini kamu membutuhkan kartu kredit. Yah!

Saya sarankan sih ya kalo kamu males berurusan sama kartu kredit (same like me yehey!) kenapa gak pake Jenius aja. Meski pada dasarnya berupa kartu debit, tapi Jenius bisa dipakai buat transaksi online dengan fitur e-Card yang dimiliki. Enaknya lagi sih, kamu bisa mengendalikan jumlah uang di e-Card Jenius-mu lewat smartphone. Kayak gini nih tampilannya:


Saya sendiri udah memanfaatkan e-Card Jenius buat urusan jajan online macam iTunes. Bebas dari utang dan aman karena saldo di e-Card bisa saya atur sendiri jumlahnya. Top up e-Card ini juga langsung dari aplikasinya. Gampang banget! Seneng deh akhirnya bisa jadi bagian dari pengguna Jenius (setelah nyaris setahun cuma bisa iri lihat temen-temen dengan bangganya ber-Jenius ria karena e-KTP saya tak kunjung jadi hiks). Belum punya Jenius? Bikin sekarang deh, gampang banget kok. Cukup download aplikasinya di sini trus siapin KTP dan NPWP (opsional) kamu dan... ikutin langkah-langkah registrasinya. Kalau e-KTP belum jadi, siapin aja resi dan dateng ke Jenius Center nanti akan dibantu verifikasi oleh Jenius Crew yang helpful dan cakep-cakep ituh! Jangan lupa masukin kode $RETNOW sebagai referral pas bikin Jenius yah ehe ehe 👀

BTW kalo toko online kamu udah jadi share ke saya ya, siapa tau ada yang menarik buat dibeli. Mumpung transfer antar bank pake Jenius gratis sampe 25x transaksi per bulan \o/ 
Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

1 comments:

Dita @fairyteeth said...

*bookmark postingan ini*

Wah seru banget ya materinya!! Pengen banget bisa ikutan workshop yg ini, cuma sayang harinya Jumat.. aku praktek... T__T