Laut Bercerita Dan Luka Yang Tak Bisa Pulih Seutuhnya

Novel sejarah selalu punya pikat buat saya. Membayangkan diri berada di jaman itu, jika ada open trip mesin waktu memasuki masa itu pastilah saya akan ikutan mendaftarkan diri. Sembari menunggu kesempatan itu datang, kumpulan lembaran karya fiksi yang dilatari histori adalah mesin waktu yang mengajak pikiran saya bertamasya ke jamannya. Sebut saja Memang Jodoh, karya terakhir Marah Rusli yang sarat suasana adat Minang dan lahir dari pengalaman pribadi penulisnya. Atau Bajak Laut Dan Purnama Terakhir dari Adhitya Mulya, meski dibalut humor tapi digarap secara serius lewat serangkaian riset.

Bicara soal riset sebelum penulisan buku, buat saya Amba dari Laskmi Pamuntjak dan Pulang-nya Leila S. Chudori adalah contoh dua novel yang superserius mengumpulkan literatur sebelum dirilis. Bagian belakang buku Pulang sendiri, mirip skripsi sarjana: penuh daftar acuan penulisan. Maklum, yang dikupas adalah kelamnya potongan sejarah Indonesia di tahun 1965 dan mendekati masa reformasi 98. Saya larut, ikut hanyut dan membayangkan visual Segara Alam adalah seorang Ario Bayu jika diejawantahkan dalam layar lebar. 




Menyusul sesudahnya, Laut Bercerita dari penulis yang sama juga mendatangkan keingintahuan. Dengan ketebalan 389 halaman, seperti pendahulunya tak ada lelah berarti melahap lembar demi lembar penuturan Leila. Meski adegan dalam Laut Bercerita berkali-kali melompat dari masa sebelum kehangatan keluarga Wibisana tercerabut hingga kebrutalan dalam camp penyiksaan Laut dan teman-temannya.  Ada liur yang berdesak mengeja penggambaran tengkleng kesukaan yang selalu dihadirkan setiap akhir pekan. Mengingatkan saya pada memori ketika Minggu adalah kemewahan: bapak ada di rumah dan hidangan istimewa mengepul dari dapur untuk disantap bersama. Seperti keluarga Indonesia pada umumnya, di masa itu, meja makan adalah samudera bagi beragam cerita dari setiap penghuni rumah.

Kehangatan yang akhirnya koyak dan mengubah rumah jadi kuburan, sejak Laut menetapkan pilihan menjadi oposan dari pemerintahan "penak jamanku tho" dan kemudian menjalani hidup sebagai tahanan penculikan. Seperti namanya, Laut kemudian berakhir di laut. Membuat rumah keluarga Wibisana yang bercahaya menjadi redup dan dingin. Hanya Asmara Jati yang masih punya jiwa dan menggandeng dua perempuan kehilangan Laut: Anjani dan ibu, menghadang fakta bahwa orang terkasih mereka bisa jadi tinggal nama. 

Laut Bercerita, seperti judulnya adalah kisah Biru Laut yang menarik-narik otot kelopak mata saya berkali mengerjap menahan butiran air tanpa sengaja bergulir. Bahkan beberapa lembar terakhir buku ini, belum saya jamah lagi sampai kekuatan bernama tega itu terkumpul. 

Saya nggak tahu, apakah visual novel ini juga akan menguras air mata dan emosi tapi saya ingin sekali berkesempatan jadi penikmat akting Reza Rahadian sang Biru Laut, Ayushita si Asmara Jati dan Dian Sastro sebagai Anjani (dua nama ini dikabarkan pemakan segala tapi sama sekali tak menyisakan jejak bernama penebalan lemak di badan, sounds familiar huh? LOL) dalam film pendek seperti pada penggalan video di balik layar Laut Bercerita:  Short Movie ini.



Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

2 comments:

simbok said...

kok aku takut nonton/baca yang beginian ya :(

Retno Wulandari said...

Aku aja gak sampe habis, di bagian kamisan gak dilanjutin. Sedih...