Petualangan Rasa Aruna, (Hati), dan Lidahnya

Laper dan baper!

Dua hal yang terbawa setelah nonton Aruna dan Lidahnya.

Laper, karena sepanjang film disuguhi (gambar-gambar) makanan enak yang mungkin selama ini kita baru denger namanya. Baper karena Oka Antara hahahaha (apa yang dilakukan bapak ini, sebaiknya kamu nonton sendiri ya).



Aruna dan Lidahnya, adalah adaptasi dari novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak: penulis dan pernah menjadi model Femina era 80an. Amba, dan Jakarta Good Food Guide adalah dua karyanya yang menjadi koleksi (dibaca kok!) di rak buku saya selain Aruna dan Lidahnya. Kalau Amba mengupas sejarah kelam isu PKI dengan bumbu romansa dan kemasan bahasa yang indah, maka Aruna dan Lidahnya membungkus penyidikan tentang flu burung dengan wisata kuliner di beberapa lokasi target yang bukan kebetulan kaya dengan rentetan jajanan enak. Buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris  menjadi The Birdwoman's Palate.


Cetakan pertama, lengkap dengan mangkok ayam yang legendaris

Versi terjemahan

Membaca Aruna dan Lidahnya pertama kali, persis setelah bukunya dirilis, saya tidak bisa berhenti berimaji mengenai kelezatan jajanan nusantara yang tersaji. Dari novel inilah pertama kalinya saya mendengar nama choipan dan dibuat penasaran (hamdalah akhirnya nyobain juga dan langsung jatuh cinta!). Ketika teaser bahwa buku ini bakal difilmkan mulai beredar, tentunya saya jadi penasaran dan sudah meniatkan diri jadi salah satu penontonnya. Dan bersyukur sekali tepat di hari pertama penayangannya, saya berhasil menjadi salah satu penikmat sajian ini.



Aruna dan Lidahnya, mengisahkan perjalanan Aruna Rai yang ditugaskan menyelidiki kasus flu burung bersama sahabatnya Bono yang berprofesi chef, Nadezhda Azhari seorang food writer dan Farish (hey hey siapa diaa?). Tentu sudah pada tau nama-nama di balik tokoh yang diperankan ya? Ketika dirilis empat tahun lalu, Laksmi sendiri sudah menyebutkan b dalam novel yang makan waktu 1,5 tahun untuk investigasi (termasuk icip-icip makanan enak-enak di dalamnya) bahwa di antara bumbu persahabatan, cinta, politik, benang merahnya adalah: makanan pemersatu bangsa. 

Gimana dengan filmnya?

Tak sepanjang dan selengkap novelnya, dengan mengedepankan kuliner lokal sebagai pembuka (sekaligus pesan utama) dan cinta yang gak terlalu rumit, saya yakin habis nonton ini makin banyak yang kemudian penasaran pengen berwisata kuliner ke Kalbar atau Jawa Timur. Meski flu burung bukan topik panas, tapi kata kunci semacam vaksin dan korupsi (yang masih relevan sampai sekarang hihihi) jadi semacam sentilan yang bikin sudut bibir tertarik ke atas. Juga di adegan kepasrahan orang tua dari anak pengidap (terduga) flu burung yang dengan entengnya bilang: sakit itu takdir, jangan dilawan dan menolak vaksin. It is sooo familiar, isn't it?

Oh ya, karena sifatnya adaptasi tentu saja gak semua isi novel plek-plekan diterjemahkan dalam bentuk audio-visual dalam film. Termasuk bagian yang hilang adalah tentang sate lalat khas Pamekasan. Padahal, pas mbaca bukunya ini juga bikin penasaran saya loh hahaha...

Selamat menonton sambil mengagumi khazanah kuliner Indonesia!

Foto oleh Choro 

Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

0 comments: