Tuesday, May 05, 2015

Bagaimanapun, Ketemu Langsung Lebih Seru.

Ini bukan tentang pencarian jodoh ala Tinderella lho, tapi soal belanja online. Udah tau kan kalo dalam rangka ngisi perabotan sarang baru ada sederet daftar barang yang masuk must-buy-items macam pasangan penganten baru. Butuh rogohan kocek lebih dalam kalau saya harus beli baru... *meringis lihat saldo*

Dengan kebutuhan segambreng dan pertimbangan finansial, saya emang lebih memilih beli seken ketimbang harus baru. Nggak selalu yang bekas itu jelek kok. Jauh sebelum tren online shop merajalela, saya beberapa kali belanja barang seken dari milis. Nah, kemudahan bernama tempat belanja online macam OLX inilah yang kemudian jadi pilihan saya. Kenapa? Udah deh baca lagi ulasannya di sini ya ...

Nah, demi memenuhi hasrat dan keinginan melengkapi perabot dapur (biar ngirit pleus lebih sehat urusan masak-memasak!) itu lewat aplikasi OLX yang terinstal manis di gawai saya, perburuan dimulai. Jeng jeng! Dapet deh kulkas murah yang saya mau. (Beberapa hari sebelumnya survey di toko elektronik menunjukkan kenaikan harga lemari es yang signifikan T__T) . Gak nyangka ternyata lewat apps lebih gampang. Tinggal pilih kategori dan target yang diincar, trus manfaatin fasilitas telepon, e-mail, atau SMS yang ada di info jenis barang. Selanjutnya? Janjian deh sama penjualnya.

Kenapa saya lebih suka ketemuan langsung lewat sistem COD ketimbang full transaksi online?

Banyak pertimbangannya, salah satunya faktor keamanan transaksi. Dengan COD baik saya sebagai pembeli maupun penjual sama-sama terhindar dari rasa curiga. Tsaaah. Sekalian lah buka networking baru, siapa yang tau kalo ternyata penjual yang saya hubungi ini bisa jadi pembuka jalan menuju jodoh? *ngarep mode on* 

Eh pengalaman transaksi ketemuan langsung ala COD ini ternyata sama kayak mbak cantik di video ini ya..



Bedanya sih, saya belum nyoba jual barang. Mungkin lain kali harus bongkar gudang buat cari barang mantan yang bisa di-OLX-kan hehehe... 

Monday, April 27, 2015

Dolce Gusto dan Quality Minutes


Buat saya, secangkir kopi lebih dari sekedar penyegar. Seperti pacar, kopi (seharusnya) adalah sumber inspirasi tanpa dibatasi sekat bernama jarak. Maka, ketika begitu banyak deadline kerjaan yang menekan sehingga membatasi gerak saya untuk bisa menghampiri coffee shop agar dapat menikmati kopi. Kehadiran mesin mungil Nescafe Dolce Gusto yang serba bisa membuat beragam minuman selayaknya menu di kafe-kafe merupakan sebuah penyelamat. Tsaaaaah......


Berterimakasih dengan Kehadiran Nescafe Dolce Gusto yang Imut


Iya, karena sebelumnya sudah gemes duluan ngeliat penampakan dari mesin kopi ini, akhirnya saya memutuskan memboyong Nescafe Dolce Gusto Genio. Varian mesin kopi ini memiliki bentuk menyerupai pinguin, pas dan menggemaskan untuk teman ngopi di kantor.


Centil, imut, dan gak makan tempat. It's sooo me! 
Nescafe Dolce Gusto menawarkan berbagai variasi rasa dalam kapsul-kapsul mungil, mulai dari black coffee, aneka rasa latte hingga teh segar buat yang tak begitu suka kopi. Rasanya saya bisa buka kedai kopi sendiri di kantor dengan keragaman rasa dari kapsul Nescafe Dolce Gusto. Selama menggunakan mesin kopi ini, saya sempat beberapa kali bereksperimen rasa. Perlu kepercayaan diri dan kenekatan mencampur beragam rasa serta mengatur takaran air, tadaaaaa...minuman baru kreasi saya pun jadi. Ya, semudah itu sih. Salah satu yang pernah saya coba itu, mencampurkan kapsul peach tea (nestea) dengan kapsul espresso. Rasanya unik mirip bir segar kata teman saya.

Pertama kali saya membawa Nescafe Dolce Gusto Genio ke kantor, keberadaannya langsung menarik perhatian rekan kantor! Setelah menerangkan bagaimana singkat dan sederhana menggunakan mesin kopi ini, serta merta semua orang langsung pengen jadi barista dadakan. Maklumlah, gedung kantornya gak ada coffee shop cynt!

Setelah beberapa minggu ditemani Nescafe Dolce Gusto, kerasa banget si Genio ini membantu saya sebagai anak ahensi yang fakir kafein pas badai deadline mendera. Di sela-sela padatnya jadwal kerjaan, saya bisa melenggang dengan cantik membuat segelas mochacinno atau cappuccino. Praktis, itu yang selalu terngiang ketika melihat Nescafe Dolce Gusto Genio. Saya sengaja tempatkan di meja kerja, karena dia begitu ringkas dan cocok buat jadi pemanis ruangan. Cuma memasukkan kapsul pilihan, menunggu 30 detik hingga mesin siap (lampu power jadi hijau), lalu atur air, tekan dan tadaaaaaa secangkir Chococino bisa saya buat dengan cepat. Kapanpun saya mau segelas minuman favorit bisa segera tersaji, menyenangkan!


Pilih varian Nescafe Dolce Gusto favorit kamu
Eh gak sampe semenit chococinno-nya udah jadi! 
Dengan kemudahan membuat secangkir kopi, saya jadi kepikiran untuk mewujudkan rencana housewarming party yang udah lama pengen diadakan. Seru kan, bisa kumpul seru bareng teman dengan minuman ala kafe di rumah sendiri, sambil masak dan nonton film favorit. Saya mau iseng coba bikin kopi kreasi Latte Art dari Nescafe Dolce Gusto, biar keren aja nanti housewarming party-nya. Ya minimal kaya ini lah ya: 


Bikinan saya? Tentu bukan! Ini mas barista di kelas latte art kok

Gak berat ya nenteng mesin kopi? Jawabnya: sama sekali nggak. Kalo saya yang ceking begini aja kuat nenteng-nenteng dengan naik kendaraan umum, kebayang dong betapa ringannya si Genio ini. 

Kamu mau juga? Nih, ada bocoran dari Nescafe Dolce Gusto yang di 2015 ini genap memasuki tahun kedua (ibarat bayik lagi lucuk-lucuknya):




Wednesday, April 22, 2015

Jajan Enak di Jakfoodies

Seperti gula dan semut, begitulah hubungan baik antara foodies dengan keriaan bernama pesta jajanan. Gak peduli lokasinya yang lumayan jauh, di Puri Orchard (wilayah yang baru saya kenal hahaha!) sekalipun para pecinta makan berduyun-duyun menyambangi.

FYI, Puri Orchard ini bukan di Singapura ya. Tapi di Jakarta Barat, nggak jauh dari stasiun Rawa Buaya kok. 

Awalnya saya sempat skeptis, mengingat kegarangan matahari yang lagi semangat bekerja. PR banget kan kalo kesenangan jajan harus terhalang cuaca panas yang potensial menimbulkan heat stroke. Untungnya, bocoran dari temen yang dateng ke Jakarta Foodies Meet alias JakFoodies di pekan pertama TKP jajan ini terlindungi tenda dan berpendingin, Huwaaa... lengkap sudah gelar surga jajanan ini buat didatengin! 

Bersama rombongan AkberPiknik (grup relawan Akademi Berbagi yang mencari keriaan lewat halan-halan, makan enak atau nonton), berburu makanan enak sekaligus demi kesuksesan #MenujuLangsing dimulai! 




Warning pertama: break your diet! OK sip, sejalan dengan program #MenujuLangsing saya. Yes....

Estimasi saya, ada seratus lebih penyedia jajanan yang berpartisipasi di JakFoodies. Lumayan banyak ya? Tapi dengan penataan yang teratur, saya terbebas dari kekhawatiran nyasar hahaha... Konsep JakFoodies ini jajan menggunakan kupon makan dengan nominal mulai seribu rupiah sampai 20ribu. Hal pertama yang dilakukan adalah memetakan gerai mana yang menjadi sasaran jajan. Ternyata susah, karena makanan yang tersaji enak-enak semua huhuhu...



Pemberhentian pertama: sushi box. Pertimbangannya, sebagai pemilik perut lokal saya butuh nasi. Tapi dengan porsi yang nggak terlalu gede (modus biar muat banyak karena jajanan di JakFoodies begitu menggoda iman). Lupa nama gerainya, tapi menurut saya rasa sushi-nya so so pleus shoyu yang kadar garamnya terlalu tinggi. 



Kelar menganjal dengan tiga potong sushi, baked potato ini langsung memikat mata (dan lidah saya). Selain lokasinya strategis, penataan yang cantik plus kokoh ganteng harga yang ramah kantong membuat saya menjadikan kentang panggang ini sebagai salah satu camilan layak beli. Ada dua varian yang dijual yaitu spicy tuna dan beef bolognaise. Rasanya enak banget dan porsinya memungkinkan buat memberi ruang cukup lega di lambung saya yang bergigi itu hahaha... Oh ya, kamu bisa cari di instagram baked by Atta untuk pesan antar lho! 



Camilan berikutnya, sungguh kekinian: kue cubit genit dengan rasa green tea, ovomaltine,  nutella, dan milo. Enak meski gak seotentik kue cubit abang-abang yang legendaris itu. Varian green tea rasanya sedikit pahit, jadi nggak neg. Kalo kamu ogah gendut, ada baiknya share dengan gengs. Satu boks isi enam pasti terlalu banyak buat disantap sendirian kan? Oh ya, cari di social media dengan nama @cubite_ID ya buat ngintip lebih banyak soal kue cubit kekinian ini.



Karena masih lapar, sate Padang seporsi reramean jadi pilihan. Berhubung mulut lagi sariawan, kurang bisa menikmati. Ya namanya juga sate Padang udah jelas spicy kan? =D 



Biar paripurna, semangkuk sop buah cukuplah ya buat memadamkan "kebakaran" akibat sate Padang. FYI, sop buah ini termasuk yang laris banget. Cepet habisnya, mungkin karena udara di luar panas ya? Biar nyess tentu aja sop buah langsung jadi idola.

Namanya juga lambung bergigi, di luar menu pilihan saya masih ada comot sana-sini yang lumayan bikin lidah bahagia. Ada es krim Turki yang penjualnya jahil nyebelin (cukup mintak karena saya gak suka atraksi main-mainnya), kue cubit macem-macem rasa, fish cake (yang ternyata pempek hahaha), lumpia Semarang (ini enak dan otentik), tapopong (kirain makanan Korea ternyata tahu pong yang diiris kecil-kecil dan dikemas dalam boks praktis ala street food, kece!), kue beras ala Korea (gak suka, lengket di gigi dan nyusahin buat pemilik gigi bertagar) .... wah banyak ya! 

Karena masih laper *WOOT* dan kupon jajan masih banyak (aduh ternyata harga makanan di JakFoodies ini gak mahal!) thawaf dilanjut dengan jajanan yakitori ini...



Satu porsi yakitori ini harganya 40ribu. Gak mengecewakan sih, karena rasanya enak. Tambahan irisan cabe rawit sebagai taburan menyatu dengan pas bersama nori dan wijen. 

Berhubung senja bakal segera tiba *tsaaaah* kami memutuskan untuk menyudahi petualangan perut hari ini. Selesai? Belum dong, ada pizza cone buat oleh-oleh hahaha... Maaf, lupa difoto. Tapi dengan rate 15-25ribu dan rasa yang beragam pizza cone ini termasuk salah satu jajanan layak beli di Jakfoodies. 

Puas? Sebetulnya nggak hahaha... karena ada beberapa camilan yang sold out! Hiks, salah sendiri pake nunda-nunda beli sih ^__^ 

Monday, April 13, 2015

Benda Yang Harus Ada Ketika Pindah Hunian

Bulan keempat tahun 2015, ada yang baru dalam hidup saya yaitu migrasi demi mobilitas. Dari Citayam kembali ke Depok... hehehe. Iya, saya masih warga Depok kok dari sisi legalitas alias KTP.

Menjatuhkan pilihan pada apartemen, bukan tanpa alasan. Privasi adalah hal penting buat saya, selain tentu saja kemudahan untuk bisa mengutak-atik dapur demi #MenujuLangsing ^^.  Tinggal di apartemen juga lebih simpel karena nggak perlu menggotong banyak barang dari rumah (termasuk lemari pakaian ituh!). Tapi, tetep lah ya ada beberapa benda wajib yang saya butuhkan buat hidup di apartemen yaitu lemari es untuk menjamin keberlangsungan hidup yang terbebas dari kelaparan! 

Jadi ceritanya lemari es saya terlalu besar untuk ikutan pindahan ke kamar tipe studio yang saya tempati. Beli baru? Mahal bowk... Tapi beli seken juga bukan perkara gampang. Pekerja commuter macam saya mana punya waktu buat keliling nyari kulkas bekas? Sementara kebanyakan online shop yang ada hanya menyediakan lemari es baru. 
Inget postingan saya sebelumnya tentang OLX kan? Pilihan saya akhirnya jatuh kepada tiga huruf ini. Gampang sih buat transaksi di sini


  • Niat 
  • Buka URL OLX dengan benar di peramban kamu, kalo males ngetik pake aja aplikasinya yang bisa diunduh gratis di playstore atau app store sesuai smartphone kamu
  • Daftar, kalo males ribet (karena harus ngapalin password lagi!) pake aja facebook account
  • Pilih jenis barang dan lokasi, saya memilih lemari es karena lagi butuh!
  • Udah nemu barang dan lokasi? Silakan sesuaikan dengan bujet kamu alias kategori “baru” atau “bekas” (bekas artinya lebih murah, tapi bukan berarti gak layak pakai lho!) 
  • Belum nemu yang sesuai bujet, silakan kerucutkan lagi ke kategori “rumah tangga”
  • Voila! Dapet juga yang dicari! Nah sekarang tinggal ngecek data penjual, ada nomor handphone yang bisa dihubungi di bawah keterangan produk
  • Selanjutnya, hubungi aja langsung si penjual buat transaksi



Ketipu transaksi? Jangan sampe deh sist! Makanya OLX selalu mencantumkan warning di halaman produk pilihan mengenai Tips Aman Bertransaksi seperti larangan transfer di depan. Karena pada prinsipnya OLX ini mirip iklan baris jaman koran cetak dulu, di mana kamu bisa mencari dan melihat data penjual. Selanjutnya transaksi sendiri deh.  Kalau ternyata masih ada kejadian penjual nakal? Ya laporin aja dengan fasilitas “Laporkan Penjual”




Gampang ya? 

Nah sekarang saya mau janjian dulu sama tukang kulkasnya ya, biar prohram #MenujuLangsing saya berhasil.

Monday, March 30, 2015

Belanja Yang Membahagiakan

Produk fashion seperti tas salah satu favorit kalo belanja online

Jujur ya, awalnya saya nggak suka (dan nggak berani) belanja online. Ada banyak alasan sih kalau kamu Tanya kenapa. Yang pertama tentu saja urusan keamanan dan trust. Siapa yang bisa menjamin keamanan transaksi di dunia maya? Apalagi kalau bertransaksi di online shop yang bukan pada tempatnya. Misalnya mengggunakan platform social media. If you know what I mean. Ini paranoidnya saya aja sih, karena sering denger kasak-kusuk. Gitu….

Kedua, masalah klasik sih yaitu pembayaran hahaha.  Pasca menggunting kartu kredit jadi potongan kecil-kecil, saya menghindari yang namanya jajan apa pun secara online karena umumnya minta nomor kartu kredit. Jalan tengahnya sih, buat kemudahan ya mustinya pake transfer. Bersyukurlah internet banking saya terbatas Cuma buat ngecek saldo (sehingga untuk mengetahui apakah gaji atau pencairan invoice udah masuk lebih mudah hahahaha). 

Cuma itu? Yap, sejauh ini. Sampe akhirnya saya menyadari bahwa di balik segala hal-menyebalkan-seputar-online-shop masih ada hal bahagia. Yaitu fakta efisiensi waktu. Ya namanya juga orang kantoran (pleus anak ahensi) yang waktunya 80% buat mengembara di jalan raya-meeting di klien-kerja di kantor. Maka akhirnya belanja online pun jadi pilihan. 

Dan ternyata setelah coba-coba (kalo bukan buat anak boleh ya hehehe) maka saya pun keranjingan belanja online. Tentu saja, untuk meniti hobi baru ini ada serangkaian perlindungan yang diterapkan:


  • Belanja cuma di tempat yang terpercaya. Udah paling bener sih emang memanfaatkan media yang dikhususkan buat online shop sih. Kenapa? Karena biasanya penyedia platform melakukan verifikasi terhadap para tenant. Plus ada testimoni dari pembeli. OLX (dulu namanya tokobagus) adalah salah satu ”pasar” online yang menurut saya bisa dijadikan referensi belanja oke. 
  • Jenis barang, saya membatasi daftar belanjaan pada items yang nggak membutuhkan nyoba sana-sini seperti baju. Kalopun ada pakaian yang beneran menarik, cara amannya ya pilih yang all size. Sepatu? Sekali saja beli, sebab ternyata ukuran kaki yang kelewat kurus ini kurang fit dengan sepatu hasil jajan online sehingga saya terpaksa merelakannya pindah kepemilikan. Hiks...
  • Harga. Jangan sungkan buat membandingkan beberapa seller sekaligus demi mengirit bujet. Beli barang bekas juga bisa jadi solusi penghematan kok. Saya sering melakukan ini untuk items seperti gadget. Banyak lho orang yang menjual gadgetnya (nggak terbatas pada handphone, piranti seperti external HD juga bisa kamu beli bekas kok) dengan alasan mau upgrade atau warnanya gak cocok. Alasan terakhir ini nyebelin ya hahaha.... 
  • Jika membeli barang bekas, yang perlu kamu perhatikan adalah tanyakan dengan rinci kondisi barang. Kalau perlu minta foto produk (nggak perlu selfie sama penjualnya). Biasanya seller akan menginfokan persentase kondisi barang dan rinciannya kok. Kalau beruntung mungkin kamu akan mendapatkan barang bagus yang dijual lagi karena hadiah kuis. Tanya juga apa alasan jual. Seller yang baik nggak akan menjebak pembeli, jadi sekali lagi rekomendasi penting. 
  • Pembayaran. Saya menghindari online payment dengan kartu kredit. Selain nggak punya, keamanan transaksi dengan duit plastik juga masih rentan. Pilihan terbaik buat saya selama ini sih COD. Uang kamu (dan barang yang dijual) sama-sama dalam kondisi aman. COD juga memungkinkan peluang networking baru dan ehm.... we never know selain membuka jalan menuju bisnis bisa aja lho kamu dapat kerjaan baru atau bahkan jodoh dari COD hihihi..


Tau nggak sih opsi terakhir ini juga merupakan green lifestyle? Jual beli barang bekas juga memenuhi satu dari tiga unsur R gaya hidup hijau yaitu reuse. Lumayanlah ngurangin jumlah sampah yang beredar di muka bumi.  Sekalian juga sih ngurangi kepadatan isi rumah karena tumpukan barang gak kepake yang mendingan diduitin. Termasuk barang dari mantan ya? Hehehe...

Monday, March 23, 2015

Bicara Gizi Anak di #NutriTalk

Yeah, am not a mom yet...

Tapi, boleh dong kalo saya punya kepedulian tersendiri tentang gizi anak? Karena setiap orang pada dasarnya adalah future parents, kalo nggak buat anak sendiri ya minimal keponakan atau anak didik atau siapalah. Karena anak adalah mereka yang bakal meneruskan kita di masa depan saat sudah renta. Uh, jadi serius...

Jadi gini *benerin kerah*

Jum'at lalu saya bisa dibilang beruntung bisa hadir di obrolan eksklusif bertajuk #NutriTalk yang digagas Sari Husada. Judulnya rada berat sih: "Sinergi Pengetahuan Lokal dan Keahlian Global Untuk  Perbaikan Gizi Anak Bangsa". Intinya sih, gimana memadukan kearifan lokal kita dengan expertise yang dipunya para peneliti gizi anak di dunia. Kenapa dunia ya? Emangnya kita nggak punya ahli gizi lokal gituh? Nah ini masalahnya... kayaknya hal-hal terkait penelitian apalagi seputar sains emang masih minim di Indonesia ya? Huhuhu.... baiklah, mari kita menyerap ilmu dari mereka.

Ngobrol eksklusif ini mendatangkan pemateri Dr. Martine Alles, ibu cantik asal Belanda yang berprofesi sebagai direktur fisiologi dan nutrisi anak. Lewat paparannya, Martine membagikan fakta-fakta menarik di negeri kincir angin. Termasuk kenyataan bahwa terjadi perubahan tinggi badan yang cukup signifikan di Belanda pada tahun 1800an dibandingkan sekarang. Katanya, cowok Belanda masa kini lebih tinggi daripada masa itu. Kenapa? Ini nggak lain disebabkan oleh kecukupan gizi yang baik dan memadai. Terlepas dari faktor genetis, bisa jadi sih. Katanya orang Jepang jaman sekarang juga lebih jangkung ketimbang pendahulunya ya? 

Sementara di Indonesia gimana? 

Nah, faktanya di negara kita masih ada salah kaprah soal gizi baik lho! Too bad, anggapan bahwa gemuk berarti sehat masih melekat di sebagian besar kalangan. Ah jadi inget masa kecil saya yang ceking banget, sering dianggap kurang gizi padahal kalo ditilik dari sisi prestasi sungguh saya termasuk anak pintar yang menduduki peringkat teratas juara kelas lho! *bingkai raport jaman SD*. Anggapan ini yang bikin ortu berlomba-lomba mempergemuk anaknya dengan makan banyak dan ketidakseimbangan nutrisi yang berujung pada obesitas. Duh...

Kenyataan itu diamini Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, M.Sc yang guru besar FEMA IPB yang juga ikut memaparkan gimana caranya memperbaiki gizi anak. Menurut profesor yang juga aktif di twitter ini, kalau kita melulu berpatokan bahwa pola makan bernutrisi bagus itu = mahal dan impor jelas salah lho!  Sebagai negeri tropis yang nyaris sepanjang tahun ditaburi sinar matahari, ini jelas keuntungan tersendiri. Kenapa? Karena kebutuhan vitamin D kita bisa dipenuhi lewat berjemur. Susu dan produk makanan yang dikonsumsi cuma menyediakan pro-vitamin D. Sinar mataharilah yang membantu mengubah jadi vitamin D sehingga tulang kita lebih bagus dan.... ehm, tinggi badan ideal bisa dicapai. 

Sayangnya, anak sekarang banyak yang takut item jadi menghindar berjemur ya Pak? *nyengir*

Lewat games seputar zat gizi, semua peserta juga diajak mengenali aneka zat gizi yang penting bagi pertumbuhan anak. Nggak susah karena ada mbah Google hehehe... Dalam permainan ini, yang ditekankan adalah gimana memperoleh asupan gizi bagus dari produk pangan lokal yang relatif mudah dan murah. Misalnya, buat zat besi nggak melulu harus dari daging merah kok. Ada bayam dan sayuran hijau lain yang lebih murah kan? 

Seru ya? 

Eh ini sedikit masukan dari pak Hardin buat perbaikan gizi yang mungkin bisa kamu terapkan lho... 


Gambar dari akun @nutrisi_bangsa 

Monday, March 16, 2015

Tari Kecak Yang Mengundang Decak

Bali adalah alam luar biasa cantik dan budaya yang kental dengan nafas tradisional. Eksotisme perempuan dan lelaki Bali yang kuat menggenggam adat menjadi daya tarik yang sulit dipungkiri. Entah butuh kali ke berapa untuk bisa menelusuri setiap lekuk pulau dewata. Menyoal kulturnya yang masih lestari, barangkali setiap yang terlahir dengan darah Bali memiliki DNA berkesenian: entah berupa tarian atau ukiran. 

Menunggu senja di Uluwatu
Kunjungan kedua di pulau seribu pura, menikmati senja dan matahari yang beranjak turun adalah keharusan. Jika sebelumnya saya hanya memandangi senja yang pelan-pelan tiba, kali ini keindahannya kian semarak dengan pertunjukan tari kecak. Tarian yang selama ini hanya saya saksikan di layar gelas atau buku pelajaran seni. Adalah Uluwatu, kompleks pura kesekian yang menjadi destinasi wajib wisata, lokasi pertunjukan tarian tanpa musik ini. Berbekal selembar tiket dengan nominal seratus ribu rupiah, pelataran pura mendadak sesak oleh wisatawan yang penasaran dengan tarian semi kolosal ini.




Puluhan pria berkain poleng membentuk formasi lingkaran, menyenandungkan nyanyian dengan pembagian nada paripurna. Sebagian konsisten melantunkan akapela dalam satu kata "cak... cak... cak..." berulang, lainnya menyuarakan tembang dalam bahasa Bali. Tari kecak menampilkan pelakon Rahwana, Shinta, Rama, Hanoman, dan Sugriwa. Familiar dengan nama-nama ini? Mereka adalah nama-nama dalam penggalan kisah Ramayana. Cerita tentang penculikan Shinta oleh Rahwana dan upaya pembuktian kesucian diri sang dewi pada kekasihnya. Dengan sedikit modifikasi, tari Kecak di Uluwatu tampil interaktif dan komunikatif. Beberapa kali pemeran Hanoman mencuri pekik penonton lewat aksi nakalnya. Si monyet putih terlihat melompat dan tiba-tiba berada di tengah penonton. Buat yang fobia kera, ada baiknya hati-hati ya...




Ragam atraksi tambahan juga menjadi improvisasi yang sepertinya merupakan cara mereka supaya pertunjukan tetap menarik. Sedikit berisiko sih, misalnya saja aksi tendang bola-bola jerami yang terbakar. Lumayan riskan kalau tiba-tiba menimpa penonton kan? Apa pun, yang membuat saya kagum adalah komposisi penari Kecak ini beragam: yang muda maupun berumur tampak kompak. Mungkin inilah gambaran Indonesia yang seharusnya ya?



Wednesday, March 04, 2015

Si Naga yang Bikin Perkasa

Familiar dengan gambar ini? Yap, most of us are like this pic ^^

Pernah punya pengalaman nggak enak seputar pemakaian smartphone? Pasti adalah ya. Selain kendala koneksi yang minta dimaklumi, sebetulnya tingkat mumpuni-nggaknya gawai kamu juga ngaruh terhadap performa lho. Jelas sih ya, ibarat komputer beda prosesor tentunya akan memberikan efek yang nggak sama juga kan? Makin canggih “daleman” sebuah gawai, bisa dibilang bakal kian sempurna juga kinerjanya.
Tau nggak sih apa yang bikin smartphone kamu bisa terlihat (dan terasa) hebat? 

Di dalam ponsel pintarmu, ada yang namanya chipset, yaitu serangkaian komponen dengan fungsi menyerupai otak manusia. Seperti halnya otak, meski mungil tapi anatominya nggak sesederhana yang kita duga. Kusut macam lipatan otak hahaha... Tapi justru itulah dengan segala kekusutannya, chipset memiliki “kesaktian” dalam menjalankan ponsel pintarmu. Termasuk urusan efisiensi baterai juga.  Hal yang wajib kamu tahu nih, seperti apa otak dari ponsel pintar yang bisa diandalkan? 

Ngomongin soal chipset, Qualcomm yang udah lama banget mengggeluti bidang ini merilis Snapdragon, prosesor cerdas yang banyak dibenamkan di berbagai merk ponsel terbaik dunia. Salah satunya dalam Oppo N3 yang dikenal teratas dalam hal kinerja: ya konektivitasnya, multimedia, kamera, dan tentu aja  ketahanan baterai. Ibarat pacar sempurna banget ya kombinasinya *merenung*. 

Apa aja yang sanggup dikerjakan Qualcomm Snapdragon?


  • Support koneksi 4G/LTE yang udah mulai populer di tanah air
  • Partner pas buat yang suka jepret-jepret dengan kamera ponsel teknologi terkini. Hayo, kamu pasti hepi banget kan sama kamera autofokus lebih cepet pleus bisa diandalkan di kondisi remang-remang (baca: cahaya minim)?
  • Buat yang hobi videografi, ponsel yang dilengkapi Qualcomm Snapdragon juga punya kapasitas sampe 4K video *pingsan*
  • Mendukung suara yang OKs binggo buat video dan musik yang diputar. Jadi gak butuh home theatre lagi ya kalo pakek ponsel dengan prosesor kece ini


Nah, udah ngecek ponsel kamu apa prosesor yang dipake? Karena bisa jadi yang nggak kelihatan itulah yang musti kamu perhatikan. Kalau belum, mungkin sekarang nih waktunya kamu melirik ponsel pintar yang udah ditanamkan prosesor Snapdragon kayak Oppo N3. 



 

Popular Posts