Thursday, April 17, 2014

Belajar Bikin Pitsa di L'Osteria

Kamu suka pitsa?

Saya juga. Dan kalau ditanya, pitsa yang saya suka tentu saja saya lebih suka pitsa tipis ketimbang pitsa tebal itu. Bukan sok diyet, tapi emang perut saya yang picky gak mau menerima konsumsi tepung terlalu banyak. Bicara soal pitsa, awal bulan ini saya diajak mencicipi sebuah resto Italia di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kawasan yang tentu saja terkenal dengan makanan enak-enak dan tempat nongkrong ini menyimpan satu kekayaan kuliner ala barat seru. Namanya L'Osteria dan berada di jalan Ciranjang. 

Relatif mudah dijangkau dengan kendaraan umum, butuh usaha sedikit jalan kaki memang untuk mencapai restoran bernuansa homey ini. Gak jadi soal, karena kawasan Ciranjang yang masih dinaungi pohon cukup nyaman untuk dijajaki dengan jalan kaki. Dengan catatan, hindari high heels macam stilletto ya XD 

Kalau selama ini saya hanya jadi penikmat si roti bundar, kali ini saya dipersilakan menjelajah hingga ke "area pribadi" mereka alias dapur. Sebetulnya sih nggak private-private amat kok, ada jendela kaca yang memungkinkan tamu untuk ngintip proses pembuatan aneka sajian lezatnya. Saya kebagian bikin pitsa, penasaran juga sih gimana caranya menghasilkan pitsa enak ini. Dan ternyata...

Menciptakan landasan pitsa itu gak gampang sodara-sodara!
Pengalaman bantuin ibuk bikin pastel dan nastar dulu, nggak cukup untuk menghasilkan dough dengan ketebalan pas. Apalagi di L'Osteria ini pitsanya dipipihkan secara manual. Butuh teknik tersendiri dan perhitungan matematis yang stratehis demi menciptakan bundaran pitsa tsakep... Di tahap ini saya menyerah dan mengembalikan dough pada mas chef



Memulas permukaan dough.

Lebih mudah ketimbang memulas eyeliner di mata sih, setidaknya menurut saya yang gak pernah kelilipan eyeliner cair sampai mata jadi item-item.  Cukup oleskan saus tomat (yang sudah disisipi rempah-rempah Italia dan beraroma lezat itu) secukupnya pada dough. Berhubung saya termasuk yang meyakini mazhab khasiat-likopen-pada-tomat-akan-lebih-mantab-kalau-dimasak maka saya pun tanpa ragu memulaskan saos sampai permukaan dough memerah macam blood moon yang baru saja kejadian kemarin. Hasilnya? Saya dipelototin mas chef hahahaa.... 

Topping.. 
Pitsa yang dibuat di cooking class kali ini adalah Formagi. Menggunakan empat jenis keju sebagai topping: ementhal, parmesan, gorgonzola, dan mozarella yang boleh ditaburkan sesuka hati. Karena sifat keju yang mudah meleleh pada suhu tinggi, tentu saja semakin banyak keju semakin yummy pitsa yang dihasilkan. Hail lemak membuat pitsa makin gurih! Bonus berupa smoked beef (atau pepperoni ya? Saya gak ngambil ini sih) dan jamur juga sah ditambah supaya pitsa gak monoton. Karena saya penyuka jamur, populasi saprofit ini tentu saya bikin berlebih.

Membakar pitsa!
Ini saat yang mendebarkan. Pitsa yang sudah rapi dan lengkap dengan polesan dibakar di tungku dengan kayu rambutan sebagai bahan bakarnya. Dikabar ya, bukan dipanggang. Katanya sih pitsa yang dihasilkan dari metode ini lebih otentik rasanya (and proven then!). Cukup lima belas menit untuk menghasilkan pitsa yang krispi dengan kematangan pas. Problem terbesar adalah menyerok pitsa yang lembek dari meja untuk dipindahkan ke tungku. 

Dan inilah pitsa formagi ala ala nagacentil...



Selain pitsa, L'Osteria juga punya menu lain yang nggak kalah seru, salah satunya spaghetti aglio olio berwarna hitam dari tinta cumi. Rasanya? Enak pake banget! Saya sendiri termasuk golongan penyuka pasta tumisan ketimbang guyur, Asia banget ya? Sayangnya pas kelas bikin spaghetti ini saya nggak kebagian space (padahal cukup kecil buat nyempil-nyempil) hiks...

Foto oleh Goenrock


Wednesday, April 16, 2014

Film Jalanan Yang Sarat Pelajaran

Kalau kamu Jakartans, dan mengandalkan kendaraan umum serta gak sungkan jalan kaki menyusuri kepadatan metropolitan, bisa jadi kamu akan sangat dekat dengan kehidupan yang dilukiskan di film Jalanan ini.


Dan saya beruntung, punya kesempatan menonton film yang jadi jawara di festival Busan ini hanya berselang dua hari penayangan perdananya bareng temen-temen relawan Akber Jakarta. Dengan kondisi bukan penggila film yang hobi memenuhi kursi bioskop ketika film terbaru ditayangkan (tipe yang males nonton sendirian!) tentunya ketika ajakan nobar ini dilemparkan saya langsung mengiyakan tanpa pikir panjang.



Jalanan, merekam kehidupan tiga pengamen jalanan: Ho si gimbal, Boni penikmat hidup dan Titi, ibu tiga anak yang berjuang sendirian. Meski berlabel film dokumenter, Jalanan jauh dari membosankan. Entah karena film ini bermuatan musikal, atau akting natural pemainnya yang kerap melontarkan quotes satir dan mengundang penonton terbahak atau bahkan spontan bertepuk tangan memberi applaus (dikiranya live show hahaha).

"Gue sih cinta Indonesia, tapi gak tau deh Indonesia cinta sama gue apa nggak", kata Ho yang punya nama asli Bambang, punya prinsip nikmati hari ini sehingga gak pernah ambil pusing dengan penghasilannya cukup atau nggak buat besok. Dan akhirnya melabuhkan hatinya pada Lela, janda cantik beranak tiga yang ditemui saat turun dari bajaj. Don't judge a book by its cover kayaknya pas buat Ho ini. Di balik tampang sangar dan slengean, Ho juga punya naluri kebapakan yang mudah tersentuh senum polos Tegar, bungsu dari Lela. Bandingin deh sama kasus "bayi lucu" yang dibuang calon bapak tirinya karena dianggap ngeganggu waktu berpacaran sama si ibuk... hih!

Boni, yang tinggal di kolong jembatan di kawasan Sudirman (kalo sering naik CommuterLine pasti tau lokasinya deh) menyulap "sarang"-nya menjadi istana senyaman Grand Hyatt. Meski pada akhirnya Boni harus terusir dari istananya karena pembenahan kolong jembatan untuk mengurangi banjir, Boni nggak lantas merasa dizalimi macam PKL atau warga penghuni tanah pemerintah yang ogah hengkang. Iyalah, Boni nyadar kalau yang dia tempati bukan haknya. Mustinya semangat Boni ini ditulari ke para PKL yang suka protes pas digusur ya hahaha... 

Titi, punya suara bagus dan terobsesi sama musik. Diceraikan suami karena kerjaannya membuat perempuan berdarah Jawa ini kerap malam, kebangetan juga sih suaminya (yang kerjanya masih serabutan itu). Lha selama ini duit ngamen istri 25% dialokasikan ke dia buat beli rokok dan makanan ikan, terus karena si istri nggak bisa jadi full time housewife lantas dipegat gitu? Ckckck...  Untungnya kisah Titi yang pantang menyerah ini berakhir dengan happy ending. Sempat putus sekolah, akhirnya Titi beres menggondol ijazah lewat Kejar Paket C demi pekerjaan yang lebih baik. Nggak mau ambil ijazah "nembak" karena haram (alhamdulillaah). 

Titi memang bukan ibu sempurna yang 100% waktunya ada di rumah, dekat sama anak. Tapi pengorbanannya mengumpulkan receh dengan segala risiko ngamen di Jakarta yang rawan pelecehan musti saya kasih dua jempol. Bandingin deh sama ibu-ibu lain yang tega "ngejual" anaknya buat menangguk uang lebih banyak, baik lewat persewaan maupun ngamen bareng. 

Mumpung Jalanan masih tayang, boleh kok kamu sempatkan luang sepulang kantor nanti. Dengan layar terbatas (setau saya cuma di Blok M Square, Senayan dan Grand Indonesia) rugi kalau akhirnya film bagus ini kelewat. Mudah-mudahan sih kelak Jalanan ini dibikin DVD-nya, untuk kemudian jadi tontonan bareng buat mengingatkan kita supaya selalu bersyukur dan tetap sensitif :)

#AkberNobar
foto by @dbrahmantyo




 

Tuesday, April 01, 2014

Science Is Fun!

Apa yang kepikiran di kepala mendengar kata "sains"?

Kebanyakan dari kita mungkin langsung tergambar: lab dengan harum zat kimia, komponen logam untuk merakit robot, hingga tubuh beku berbau formalin lengkap dengan figur oara saintis berkacamata dan culun tentu saja. Setidaknya itulah yang biasa terpampang di banyak media, termasuk film cheesy :) Sebagai alumni fakultas yang melahirkan banyak saintis (seharusnya sih), stereotipe itu nggak sepenuhnya salah. Meski gak seratus persen bener! Coba deh main-main ke kampus biru hitam dan temukan figur berpenampilan menarik di sana, termasuk para pengajarnya hehehe... 

Sains itu mumet? Coba lihat video ini deh.. 


Seru kan?

Sebagai salah satu cabang ilmu yang (seharusnya) lekat dengan keseharian kita, mustinya sains bisa disampaikan dengan cara yang menyenangkan.  Sayangnya, waktu saya sekolah dulu praktikum sains secara langsung bisa dibilang mahal. Masa SD dan SMP saya cukup puas membayangkan anatomi perut marmut cuma lewat serangkaian gambar berwarna.  Syukurlah di SMA guru biologi saya cukup rajin menggiring kami ke laboratorium untuk mengintip bagaimana tampilan mikroskopis dari akar bawang merah sebagai simbol fase pertumbuhan sel. Dan mengenal sifat-sifat unsur kimia dilalui dengan ledakan manis dari bongkahan natrium yang dilempar dalam genangan air. Seru! 

Seandainya ya, pengajaran sains bisa menyenangkan seperti dalam video tadi, mungkin ungkapan: "gue kan anak fisika ngapain sih belajar biologi" yang pernah terlontar dari teman kuliah saya dulu nggak perlu ada. Minimal dia tau, bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya sehari-hari berbasis sains.  

Sama kayak matematika yang juga dibuat njelimet, dulu banget di TVRI pernah meraja serial impor dengan tema matematika. Salah satu ciri khasnya adalah menampilkan rumus-rumus matematika dalam bentuk lagu yang tentu aja gampang diingat kayak gini: 


Ada banyak banget sih sebetulnya yang bisa dilakukan untuk membuktikan kalo sains juga fun. Jalan-jalan langsung ke alam terbuka tentunya akan lebih mengena ketimbang menghapalkan banyak sekali nama latin tanaman dari lembaran buku literatur. Mudah-mudahan sih lahan bebasnya gak segera kegusur dan berubah jadi mall baru ya :)



Wednesday, March 26, 2014

Chat Messenger Kamu, Secepat Apa?

Aplikasi apa yang paling banyak ditanamkan di ponsel pintarmu?

Kalau saya sih, selain social media tentu saja messenger. Ketauan kan kalo saya ini tukang ngobrol--online maupun offline, hehehe...  Berhubung lingkaran pertemanan saya juga banyak, maka aplikasi messenger yang dipakai pun ikutan beragam menyesuaikan dengan siapa saya berinteraksi (baca: tergantung pada tipe ponsel yang dipunyai temen/grup chat). Parameter jenis ponsel kemudian bertambah lagi dengan kecepatan loading dari aplikasi yang digunakan. Nggak seru kan kalau sampe ada yang leave grup karena aplikasinya gak menunjang buat jadi yang ter-updated saking leletnya. Yang ada malah jadi kudet. 

Dari sejibun aplikasi ngobrol yang dibenamkan dalam ponsel pintar saya, ada satu yang menurut saya sih cukup representatif untuk dijadikan andalan hehehe.... Sebetulnya, ini aplikasi lawas. Saya kenal dari tahun 2011, waktu itu ponsel pintar bersistem operasi android baru aja dalam proses cicip-cicip dan belum se-heits sekarang (setidaknya di lingkungan saya sih!).  Cuma, popularitas si KakaoTalk--nama aplikasinya--memang masih kalah digdaya dibanding messenger besutan ponsel buah berry hitam yang di masa itu masih berjaya. 

Dalam kurun waktu dua tahun, gak disangka aplikasi dari negeri ginseng ini langsung bikin gebrakan macem-macem: mulai stiker karakter yang unyu-unyu sampe perbaikan fitur yang bikin pengguna makin nyaman. Yang terbaru ini, KakaoTalk memperbarui kecepatan loadingnya sehingga buat warga pinggiran macam saya ini nggak lagi musti bete karena telat respon di grup chat. Dengan status internet E dan H+ rasanya mustahil bisa berinteraksi via chat begitu sampai di kasur. Tapi, suatu hari saya dikejutkan oleh notifikasi KakaoTalk saya yang berbunyi nyaring (dan indah!) tepat ketika saya sudah sampai di kamar. Wooo hooo! Makin seru deh ktukeran hosip sambil tentunya disisipi stiker karakter yang nambah banyak jumlahnya itu. Sayangnya nih ya, untuk Windows Phone fitur yang bisa dinikmati nggak selengkap OS lain. Utamanya sih Plus Friends yang sering ngasih gratisan itu. Huh! *banting Lumiya* 

Kalo pengen tau di KakaoTalk bisa ngapain aja, cek di sini ya karena nggak akan cukup satu postingan untuk menjabarkannya. Tsaaaaah... 

Eh ya, berkat fitur speed booster dari KakaoTalk janjian bareng temen-temen buat rame-rame nyambangi kantornya yang kewl itu juga lebih lancar sih. Meskipun chat-nya sambil uji kecepatan koneksi sepanjang jalur CommuterLine Citayam-Jakarta yang 3G-nya sering blank hahaha.  Makanya kemudian sakseus deh foto bareng di lobby sambil nyomotin boneka karakternya *teteup*. 

foto: by Mullie

Monday, March 17, 2014

Duit Digital


Setuju kan kalo ketinggalan ponsel lebih menyebalkan daripada ketinggalan dompet? Alasannya simple, kalau ketinggalan dompet dan kita harus bayar ongkos pulang pake taksi tinggal telepon ke orang rumah supaya disiapin uang tunai untuk bayar tunai. Sementara kalau ketinggalan ponsel, udahlah ya mending pulang dulu daripada banyak janjian terlantar hahaha..

Saya termasuk golongan yang lebih rela ketinggalan ponsel daripada dompet sih.  Bukan semata karena kerjaan yang memang mengharuskan berhubungan dengan banyak orang (dan semua contact info ada di ponsel tentu saja) tapi juga fitur-fitur yang mulai dibenamkan dalam ponsel saya. Sebut aja salah satunya adalah e-cash alias duitdigital besutan Bank Mandiri itu. Udah pernah denger?

Kalau pernah menggunakan duit digital seperti yang dimiliki oleh beberapa operator telco, e-cash punya kemiripan. Bahkan, pendaftarannya lebih mudah karena bisa dilakukan lewat USSD alias kode-kode tertentu pada ponsel tanpa perlu daftar ke bank.  Tinggal ketik *141*6# trus ikuti aja perintahnya.  Simple banget kan?  Kalau mau upgrade jadi registered user, baru deh kita hubungi orang Bank Mandiri atau cukup lewat e-banking. Juga nggak perlu punya rekening Mandiri untuk bikin e-cash kok karena proses top up bisa dilakukan via ATM non Mandiri atau agen. Mirip-miriplah sama e-money gitu.  Oh ya, kalo males atau gak sempet ke bank untuk upgrade jadi registered member juga gak apa sih, karena privilege buat registered member juga nggak jauh dengan unregistered. Buat saya yang kebutuhan utamanya sekedar transaksi tanpa pusing nyari uang receh (kemudian diminta sama mbak kasir hahahaha) cukuplah. Tapi kalau memang kamu butuh Tarik tunai atau transfer sebaiknya upgrade jadi registered member sih.


Satu pertanyaan besar ketika layanan duit digital yang dibenamkan dalam ponsel diluncurkan adalah resiko keamanan. Nah, Mandiri sendiri sebagai bank yang udah pengalaman banget udah mempersiapkan sekuriti dari e-Cash kok. Selama PIN kamu nggak disimpan dalam ponsel yang sama maka simpanan dalam rekening e-Cash bakal aman. Ke depannya, saya sih berharap bisa belanja aplikasi ponsel atau perangkat lunak lewat e-Cash juga.  Kenapa nggak? 

Thursday, March 13, 2014

Lope Lope Di_udara

Dua tahun lalu saya absen di #LLD, sebuah kopdar raksasa untuk para relawan Akber senusantara. Maka tahun ini saya membulatkan diri (meski gagal jadi bulat) untuk ikutan. Dan label sebagai panitia mau nggak mau mengharuskan saya hadir di kegiatan dua tahunan ini yang ternyata amat sangat menyenangkan \o/

Meski perjalanan berangkat dan pulang lumayan menyiksa area lumbal dan sekitarnya, kebersamaan para relawan yang berasal dari beberapa kota membuat jarak tempuh menciut jadi hitungan sentimeter karena fun.  Bayangin aja, take off jam 8 malam dari stasiun Pasar Senen, hitungan matematis mustinya nyampe St. Tawang menjelang jam 3 dinihari.  Teorinya sih bakal bobok manis dalam kereta yang adem. Prakteknya: ngikik-ngikik gak jelas sampai lewat tengah malam. Dan akhirnya menyerah pasrah pada energi yang mulai merendah menjelang kedatangan. Sampai di Tawang kriyep-kriyep mode macam pengungsi kehabisan bekal. Sambil nunggu subuh bergeletakan di serambi mushola. Bersyukurlah sampai saat ini mushola (dan masjid) masih jadi tempat gratisan buat para musafir rehat. 


Saya sih nggak akan menulis tentang materi di #LLD2014 yang bagus-bagus semuanya itu.  Yang pasti, euforia pasca LLD sampai hari ini masih terendus di linimasa berbagai media sosial: twitter, facebook, path.  Persis seperti dua tahun lalu (di mana saya sempet "sebel" lihat linimasa dan akhirnya merasakan sendiri kenapa sampe sedemikiannya).  Entahlah, mungkin karena dalam nukleus para relawan sudah tercetak DNA dengan kode #berbagi maka kebersamaan itu sedemikian kuat.  Meski berasal dari beragam strata usia dan latar belakang, nyatanya pengacakan relawan menjadi grup diskusi maupun kamar nggak mengurangi lekatnya persaudaraan.  Ini bukan event camp pertama saya, tapi di sinilah rasanya kami begitu menempel macam lem tikus cap Gajah itu.

Di #LLD2014 memang nggak ada sesi pengumpulan tanda tangan macam anak kuliahan di ospek, cuma sekali relawan memperkenalkan diri. Itu pun dengan resiko bakal lupa karena ada 200 kepala dengan nama yang berbeda-beda, gimana ngingetnya cobak.  Tapi, ya begitulah kami, mingle yang terjadi secara natural justru memberikan reaksi positif yang melekat di sel kelabu otak.  Saat rehat kopi atau makan menjadi peluang yang luas untuk berbaur. Inilah alasan kenapa saya bergerak dari satu meja ke meja lain dan menghindari bergabung dengan relawan satu kota.  Yap, supaya lebih banyak lagi yang bisa saya kenal.


Akber adalah kumpulan relawan yang digerakkan oleh satu kesamaan: berbagi dan disulut oleh "orang gila" bernama Ainun Chomsun alias @pasarsapi (dan baru tau ini adalah nama sebuah area di Salatiga).  Di sini, kami tak lagi membedakan rupa, keyakinan, maupun orientasi.  Semua lebur seperti pasir larut dalam ombak air asin yang menghampiri dan menyeretnya ke samudra.  

Sebutir pasir mungkin tak akan punya arti, tapi seperti halnya kumpulan batang lidi, pasir-pasir itu bisa menjadi bangunan bersama dengan komponen lain.  Begitu juga langkah kecil para relawan, akan menjadi pondasi ketika penguasa bangsa tak lagi peduli dan sibuk menambah volume pundi-pundi pribadi. 



Wednesday, March 05, 2014

Mbok Lemon

Ini bukan varian atau merk sabun cuci piring baru lho, melainkan kejadian betulan waktu saya jalan-jalan ke Solo akhir Januari lalu.

Kelar mengelilingi Museum Keraton, tertambatlah kami (iya, jalan-jalan kali ini barengan dengan tiga teman) pada sesosok penjual jamu yang lebih layak disebut simbah. Udah sepuh gitu lho. Selain memang lagi butuh penyegaran (ngarepnya nemu beras kencur sih), itung-itung sekalian bantu perekonomian wong cilik lah. Tsaaaaah...

Sayangnya, stok beras kencur habis dan yang tersedia cuma kunir asem yang dibandrol dua ribu segelas. Lumayanlah buat menenangkan uterus yang lagi kejang-kejang akibat jadwal periodik bulanan.  Sambil jongkok sok akrab, saya mengamati "perabotan lenong" simbah jamu. Sama aja kayak penjual jamu di Jakarta sih (meski belakangan mulai banyak yang mengganti setelan kebaya+kain dengan rok dan mengendarai sepeda). Yang menarik, dalam ember kecil cucian gelas simbah saya menemukan irisan jeruk nipis.  


Bukan, irisan jeruk itu bukan sebagai pengharum atau penghilang lemak seperti disebutkan di iklan sabun cuci piring. Melainkan, sebagai pencuci gelas jamu. Simbah sama sekali nggak menggunakan sabun kimiawi buat membersihkan gelas-gelasnya.  Satu kearifan lokal yang saya pelajari dari jalan-jalan kali ini. 

Tiba-tiba jadi ingat adegan Malena "mandi" (yang pasti bikin para cowok nahan napas sambil ngelap iler). Bedanya, Malena menggunakan jeruk lemon untuk mengusir kotoran di kulitnya yang mulus itu. So, sebetulnya kita bisa mengurangi limbah sabun (yang busanya bikin DO berkurang dan para fitoplankton susah berfotosintesis) beralih dari sabun kimiawi ke jeruk ya? Masalahnya, dengan makin minimnya tanah dan masa produksi jeruk yang nggak singkat harga buah jeruk pun lumayan mahal dibanding sabun... 

Tuesday, February 25, 2014

Kopi Sachet vs Kopi Racik

Saya bukan penggila kopi, dan membatasi konsumsi minuman berkafein ini secangkir saja dalam satu hari. Itu pun bukan dalam wujud “kopi sejati” melainkan mixed dengan creamer dan gula yang sering saya sebut sebagai “kopi-kopian” (thanks Rhesya untuk koreksinya mengganti kata "banci" jadi kopi-kopian). Awalnya, keberadaan kopi sachet sungguh membantu karena praktis. Gimana nggak, dalam satu kali tuang saya sudah mendapatkan secangkir kopi yang dimaui. Tinggal seduh dengan air panas dispenser, sungguh orang-kantoran-Jakarta banget ya?

Belakangan, menatap timbunan bungkus kopi yang terkumpul membuat saya ternganga sekaligus merasa berdosa pada bumi. Sebanyak itukah sampah yang saya hasilkan dari kenikmatan yang nggak seberapa? Tak usahlah menguliahi saya tentang “bahaya” kopi sachet (yang katanya nggak pernah dirubung semut itu dan dibuat dari biji kopi kualitas rendahan plus lebih banyak kadar gula serta bahan tambahan lain ketimbang kopinya). Menyaksikan helai demi helai bungkus kopi (yang entah dibuat dari bahan apa sehingga butuh ribuan tahun untuk membuatnya bisa diurai tanah) menumpuk di tempat sampah cukuplah jadi alasan untuk mengurangi kopi sachet.

Perlengkapan ngopi di kantor

Saya memang belum bisa seperti penikmat kopi sejati yang menyeruput bubuk dari biji kopi yang digiling langsung (eh, nganu rasanya biji kopi lebih enak buat dikremus begitu saja hehehe). Tapi, saya mencoba untuk konsisten lagi meramu dan meracik kopi sendiri. Bubuk kopi dalam botol kaca jadi pilihan, meski bobotnya lebih berat ketimbang sachet tentu saja. Hal yang sama saya berlakukan pada creamer: kemasan botol kaca. Pertimbangannya selain lebih cantik, botol kaca bisa dipakai berulang-ulang.

So, sekarang setiap keinginan menyeduh kopi datang, yang saya lakukan adalah menakar dengan sendok mungil: bubuk kopi, creamer, dan gula (duh maafkan saya belum bisa minum kopi tanpa gula). Karena takaran sendiri, tentu saja saya bisa suka-suka mengatur banyaknya. Nggak didikte oleh pabrikan kopi sachet yang notabene membuat secangkir kopi jadi supermanis atau aromanya terlalu wangi. Sssst.. mengganti gula putih dengan brown sugar juga bikin kopi susu (creamer) lebih enak lho!

Keuntungan lain ngopi dengan sistem takar sendiri ini, saya bisa mengkreasikan minuman lain seperti teh susu dengan bahan-bahan yang ada. Oh ya, saya juga kurang suka teh hitam dengan label seperti merk kebanyakan di kantoran itu. Maka, menaburkan sedikit creamer dalam teh hitam seduhan cukup membantu menyenangkan lidah hahaha….


Kebiasaan ini, mulai saya tulari pada office boy di kantor yang juga punya tugas belanja bulanan kebutuhan domestik sebagai salah satu bagian dari job desc-nya. Syukurlah, si OB mengikuti saran saya dengan membelanjakan kopi-creamer secara terpisah.  Dan, kotak penampungan bungkus kopi sachet saya jadi nggak cepat penuh. Horeee….
 

Popular Posts