Monday, March 30, 2015

Belanja Yang Membahagiakan

Produk fashion seperti tas salah satu favorit kalo belanja online

Jujur ya, awalnya saya nggak suka (dan nggak berani) belanja online. Ada banyak alasan sih kalau kamu Tanya kenapa. Yang pertama tentu saja urusan keamanan dan trust. Siapa yang bisa menjamin keamanan transaksi di dunia maya? Apalagi kalau bertransaksi di online shop yang bukan pada tempatnya. Misalnya mengggunakan platform social media. If you know what I mean. Ini paranoidnya saya aja sih, karena sering denger kasak-kusuk. Gitu….

Kedua, masalah klasik sih yaitu pembayaran hahaha.  Pasca menggunting kartu kredit jadi potongan kecil-kecil, saya menghindari yang namanya jajan apa pun secara online karena umumnya minta nomor kartu kredit. Jalan tengahnya sih, buat kemudahan ya mustinya pake transfer. Bersyukurlah internet banking saya terbatas Cuma buat ngecek saldo (sehingga untuk mengetahui apakah gaji atau pencairan invoice udah masuk lebih mudah hahahaha). 

Cuma itu? Yap, sejauh ini. Sampe akhirnya saya menyadari bahwa di balik segala hal-menyebalkan-seputar-online-shop masih ada hal bahagia. Yaitu fakta efisiensi waktu. Ya namanya juga orang kantoran (pleus anak ahensi) yang waktunya 80% buat mengembara di jalan raya-meeting di klien-kerja di kantor. Maka akhirnya belanja online pun jadi pilihan. 

Dan ternyata setelah coba-coba (kalo bukan buat anak boleh ya hehehe) maka saya pun keranjingan belanja online. Tentu saja, untuk meniti hobi baru ini ada serangkaian perlindungan yang diterapkan:


  • Belanja cuma di tempat yang terpercaya. Udah paling bener sih emang memanfaatkan media yang dikhususkan buat online shop sih. Kenapa? Karena biasanya penyedia platform melakukan verifikasi terhadap para tenant. Plus ada testimoni dari pembeli. OLX (dulu namanya tokobagus) adalah salah satu ”pasar” online yang menurut saya bisa dijadikan referensi belanja oke. 
  • Jenis barang, saya membatasi daftar belanjaan pada items yang nggak membutuhkan nyoba sana-sini seperti baju. Kalopun ada pakaian yang beneran menarik, cara amannya ya pilih yang all size. Sepatu? Sekali saja beli, sebab ternyata ukuran kaki yang kelewat kurus ini kurang fit dengan sepatu hasil jajan online sehingga saya terpaksa merelakannya pindah kepemilikan. Hiks...
  • Harga. Jangan sungkan buat membandingkan beberapa seller sekaligus demi mengirit bujet. Beli barang bekas juga bisa jadi solusi penghematan kok. Saya sering melakukan ini untuk items seperti gadget. Banyak lho orang yang menjual gadgetnya (nggak terbatas pada handphone, piranti seperti external HD juga bisa kamu beli bekas kok) dengan alasan mau upgrade atau warnanya gak cocok. Alasan terakhir ini nyebelin ya hahaha.... 
  • Jika membeli barang bekas, yang perlu kamu perhatikan adalah tanyakan dengan rinci kondisi barang. Kalau perlu minta foto produk (nggak perlu selfie sama penjualnya). Biasanya seller akan menginfokan persentase kondisi barang dan rinciannya kok. Kalau beruntung mungkin kamu akan mendapatkan barang bagus yang dijual lagi karena hadiah kuis. Tanya juga apa alasan jual. Seller yang baik nggak akan menjebak pembeli, jadi sekali lagi rekomendasi penting. 
  • Pembayaran. Saya menghindari online payment dengan kartu kredit. Selain nggak punya, keamanan transaksi dengan duit plastik juga masih rentan. Pilihan terbaik buat saya selama ini sih COD. Uang kamu (dan barang yang dijual) sama-sama dalam kondisi aman. COD juga memungkinkan peluang networking baru dan ehm.... we never know selain membuka jalan menuju bisnis bisa aja lho kamu dapat kerjaan baru atau bahkan jodoh dari COD hihihi..


Tau nggak sih opsi terakhir ini juga merupakan green lifestyle? Jual beli barang bekas juga memenuhi satu dari tiga unsur R gaya hidup hijau yaitu reuse. Lumayanlah ngurangin jumlah sampah yang beredar di muka bumi.  Sekalian juga sih ngurangi kepadatan isi rumah karena tumpukan barang gak kepake yang mendingan diduitin. Termasuk barang dari mantan ya? Hehehe...

Monday, March 23, 2015

Bicara Gizi Anak di #NutriTalk

Yeah, am not a mom yet...

Tapi, boleh dong kalo saya punya kepedulian tersendiri tentang gizi anak? Karena setiap orang pada dasarnya adalah future parents, kalo nggak buat anak sendiri ya minimal keponakan atau anak didik atau siapalah. Karena anak adalah mereka yang bakal meneruskan kita di masa depan saat sudah renta. Uh, jadi serius...

Jadi gini *benerin kerah*

Jum'at lalu saya bisa dibilang beruntung bisa hadir di obrolan eksklusif bertajuk #NutriTalk yang digagas Sari Husada. Judulnya rada berat sih: "Sinergi Pengetahuan Lokal dan Keahlian Global Untuk  Perbaikan Gizi Anak Bangsa". Intinya sih, gimana memadukan kearifan lokal kita dengan expertise yang dipunya para peneliti gizi anak di dunia. Kenapa dunia ya? Emangnya kita nggak punya ahli gizi lokal gituh? Nah ini masalahnya... kayaknya hal-hal terkait penelitian apalagi seputar sains emang masih minim di Indonesia ya? Huhuhu.... baiklah, mari kita menyerap ilmu dari mereka.

Ngobrol eksklusif ini mendatangkan pemateri Dr. Martine Alles, ibu cantik asal Belanda yang berprofesi sebagai direktur fisiologi dan nutrisi anak. Lewat paparannya, Martine membagikan fakta-fakta menarik di negeri kincir angin. Termasuk kenyataan bahwa terjadi perubahan tinggi badan yang cukup signifikan di Belanda pada tahun 1800an dibandingkan sekarang. Katanya, cowok Belanda masa kini lebih tinggi daripada masa itu. Kenapa? Ini nggak lain disebabkan oleh kecukupan gizi yang baik dan memadai. Terlepas dari faktor genetis, bisa jadi sih. Katanya orang Jepang jaman sekarang juga lebih jangkung ketimbang pendahulunya ya? 

Sementara di Indonesia gimana? 

Nah, faktanya di negara kita masih ada salah kaprah soal gizi baik lho! Too bad, anggapan bahwa gemuk berarti sehat masih melekat di sebagian besar kalangan. Ah jadi inget masa kecil saya yang ceking banget, sering dianggap kurang gizi padahal kalo ditilik dari sisi prestasi sungguh saya termasuk anak pintar yang menduduki peringkat teratas juara kelas lho! *bingkai raport jaman SD*. Anggapan ini yang bikin ortu berlomba-lomba mempergemuk anaknya dengan makan banyak dan ketidakseimbangan nutrisi yang berujung pada obesitas. Duh...

Kenyataan itu diamini Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, M.Sc yang guru besar FEMA IPB yang juga ikut memaparkan gimana caranya memperbaiki gizi anak. Menurut profesor yang juga aktif di twitter ini, kalau kita melulu berpatokan bahwa pola makan bernutrisi bagus itu = mahal dan impor jelas salah lho!  Sebagai negeri tropis yang nyaris sepanjang tahun ditaburi sinar matahari, ini jelas keuntungan tersendiri. Kenapa? Karena kebutuhan vitamin D kita bisa dipenuhi lewat berjemur. Susu dan produk makanan yang dikonsumsi cuma menyediakan pro-vitamin D. Sinar mataharilah yang membantu mengubah jadi vitamin D sehingga tulang kita lebih bagus dan.... ehm, tinggi badan ideal bisa dicapai. 

Sayangnya, anak sekarang banyak yang takut item jadi menghindar berjemur ya Pak? *nyengir*

Lewat games seputar zat gizi, semua peserta juga diajak mengenali aneka zat gizi yang penting bagi pertumbuhan anak. Nggak susah karena ada mbah Google hehehe... Dalam permainan ini, yang ditekankan adalah gimana memperoleh asupan gizi bagus dari produk pangan lokal yang relatif mudah dan murah. Misalnya, buat zat besi nggak melulu harus dari daging merah kok. Ada bayam dan sayuran hijau lain yang lebih murah kan? 

Seru ya? 

Eh ini sedikit masukan dari pak Hardin buat perbaikan gizi yang mungkin bisa kamu terapkan lho... 


Gambar dari akun @nutrisi_bangsa 

Monday, March 16, 2015

Tari Kecak Yang Mengundang Decak

Bali adalah alam luar biasa cantik dan budaya yang kental dengan nafas tradisional. Eksotisme perempuan dan lelaki Bali yang kuat menggenggam adat menjadi daya tarik yang sulit dipungkiri. Entah butuh kali ke berapa untuk bisa menelusuri setiap lekuk pulau dewata. Menyoal kulturnya yang masih lestari, barangkali setiap yang terlahir dengan darah Bali memiliki DNA berkesenian: entah berupa tarian atau ukiran. 

Menunggu senja di Uluwatu
Kunjungan kedua di pulau seribu pura, menikmati senja dan matahari yang beranjak turun adalah keharusan. Jika sebelumnya saya hanya memandangi senja yang pelan-pelan tiba, kali ini keindahannya kian semarak dengan pertunjukan tari kecak. Tarian yang selama ini hanya saya saksikan di layar gelas atau buku pelajaran seni. Adalah Uluwatu, kompleks pura kesekian yang menjadi destinasi wajib wisata, lokasi pertunjukan tarian tanpa musik ini. Berbekal selembar tiket dengan nominal seratus ribu rupiah, pelataran pura mendadak sesak oleh wisatawan yang penasaran dengan tarian semi kolosal ini.




Puluhan pria berkain poleng membentuk formasi lingkaran, menyenandungkan nyanyian dengan pembagian nada paripurna. Sebagian konsisten melantunkan akapela dalam satu kata "cak... cak... cak..." berulang, lainnya menyuarakan tembang dalam bahasa Bali. Tari kecak menampilkan pelakon Rahwana, Shinta, Rama, Hanoman, dan Sugriwa. Familiar dengan nama-nama ini? Mereka adalah nama-nama dalam penggalan kisah Ramayana. Cerita tentang penculikan Shinta oleh Rahwana dan upaya pembuktian kesucian diri sang dewi pada kekasihnya. Dengan sedikit modifikasi, tari Kecak di Uluwatu tampil interaktif dan komunikatif. Beberapa kali pemeran Hanoman mencuri pekik penonton lewat aksi nakalnya. Si monyet putih terlihat melompat dan tiba-tiba berada di tengah penonton. Buat yang fobia kera, ada baiknya hati-hati ya...




Ragam atraksi tambahan juga menjadi improvisasi yang sepertinya merupakan cara mereka supaya pertunjukan tetap menarik. Sedikit berisiko sih, misalnya saja aksi tendang bola-bola jerami yang terbakar. Lumayan riskan kalau tiba-tiba menimpa penonton kan? Apa pun, yang membuat saya kagum adalah komposisi penari Kecak ini beragam: yang muda maupun berumur tampak kompak. Mungkin inilah gambaran Indonesia yang seharusnya ya?



Wednesday, March 04, 2015

Si Naga yang Bikin Perkasa

Familiar dengan gambar ini? Yap, most of us are like this pic ^^

Pernah punya pengalaman nggak enak seputar pemakaian smartphone? Pasti adalah ya. Selain kendala koneksi yang minta dimaklumi, sebetulnya tingkat mumpuni-nggaknya gawai kamu juga ngaruh terhadap performa lho. Jelas sih ya, ibarat komputer beda prosesor tentunya akan memberikan efek yang nggak sama juga kan? Makin canggih “daleman” sebuah gawai, bisa dibilang bakal kian sempurna juga kinerjanya.
Tau nggak sih apa yang bikin smartphone kamu bisa terlihat (dan terasa) hebat? 

Di dalam ponsel pintarmu, ada yang namanya chipset, yaitu serangkaian komponen dengan fungsi menyerupai otak manusia. Seperti halnya otak, meski mungil tapi anatominya nggak sesederhana yang kita duga. Kusut macam lipatan otak hahaha... Tapi justru itulah dengan segala kekusutannya, chipset memiliki “kesaktian” dalam menjalankan ponsel pintarmu. Termasuk urusan efisiensi baterai juga.  Hal yang wajib kamu tahu nih, seperti apa otak dari ponsel pintar yang bisa diandalkan? 

Ngomongin soal chipset, Qualcomm yang udah lama banget mengggeluti bidang ini merilis Snapdragon, prosesor cerdas yang banyak dibenamkan di berbagai merk ponsel terbaik dunia. Salah satunya dalam Oppo N3 yang dikenal teratas dalam hal kinerja: ya konektivitasnya, multimedia, kamera, dan tentu aja  ketahanan baterai. Ibarat pacar sempurna banget ya kombinasinya *merenung*. 

Apa aja yang sanggup dikerjakan Qualcomm Snapdragon?


  • Support koneksi 4G/LTE yang udah mulai populer di tanah air
  • Partner pas buat yang suka jepret-jepret dengan kamera ponsel teknologi terkini. Hayo, kamu pasti hepi banget kan sama kamera autofokus lebih cepet pleus bisa diandalkan di kondisi remang-remang (baca: cahaya minim)?
  • Buat yang hobi videografi, ponsel yang dilengkapi Qualcomm Snapdragon juga punya kapasitas sampe 4K video *pingsan*
  • Mendukung suara yang OKs binggo buat video dan musik yang diputar. Jadi gak butuh home theatre lagi ya kalo pakek ponsel dengan prosesor kece ini


Nah, udah ngecek ponsel kamu apa prosesor yang dipake? Karena bisa jadi yang nggak kelihatan itulah yang musti kamu perhatikan. Kalau belum, mungkin sekarang nih waktunya kamu melirik ponsel pintar yang udah ditanamkan prosesor Snapdragon kayak Oppo N3. 



Tuesday, March 03, 2015

Focus yang Mengalahkan Grey

Menyambung keriaan #SbuxFunMobile yang udah pernah saya tulis sebelumnya, di ujung malam kami semua beroleh kesempatan nobar film Focus. Sungguh, saya nggak tau film apa ini. Am not a movie freak hehehe maaf! 

Nyesel? Nggak dong. Nonton film tanpa tau review ternyata seru lho! Selain clue bahwa film ini dibintangi oleh Will Smith si Pangeran Segar (cuma anak 90an yang tau kayaknya ^^) selebihnya I have no idea what kinda movie it is! Ya sudahlah ya, masuk aja studio dan nikmati tontonan dengan perut kenyang sate kambing dan kopi. Nyam!



Berdurasi 105 menit, Focus berkisah tentang Nicky (diperankan Will Smith) yang tergabung dalam grup pencopet kelas wahid dan pertemuannya dengan si cantik Jess (tadinya saya kira Olivia Wilde, ternyata Margot Robbie) di sebuah lounge hotel. Awalnya Jess memanfaatkan Nicky buat menghindar dari godaan om-om menyebalkan, ujung-ujungnya Jess kemudian bergabung dengan kompolotan copet yang digawangi Nicky.  Meski di awal Jess menyatakan gak akan ada cinta di antara mereka, nyatanya susah untuk nggak melibatkan hati ya. Romansa antara Jess dan Nicky terselip di tengah rutinitas kerja mereka. 

Focus sendiri tampaknya mengusung genre drama-romantis-komedi-dengan-bumbu-sedikit-sekali-action tapi tetap nyaman dinikmati.  Just follow the flow and eat the popcorn. Beberapa scene lucu disisipkan di antara trik-trik pencopetan super-mahir dari gerombolan Nicky.  Terorganisir dengan baik dan rapi, jangan kaget kalau benda curian yang ditadah udah kayak dagangan di Galeries Lafayette atau Central dan Debenhams. Branded items semua! Gals, you might wanna grab the items

Overall, Focus yang dikabarkan berhasil menggeser 50 Shades of Grey sebagai pencetak duit terbanyak di Amerika ini emang pantas sih bertengger di posisi puncak. Sebagai film dengan ending mengejutkan dan ala-ala mindblowing, Focus lebih ringan daripada Now You See Me yang memaksa kita buat terus fokus. Tapi tetep aja ending-nya bikin pengen nonjok siapa pun yang ada di dekat kamu hahaha...

Anyway, saya suka lho dengan outfit Margot Robbie di Focus ini yang ditangani Dayna Pink. Klasik, cantik, dan simpel. Trus, saya jadi penasaran apakah penata gayanya ngikutin aktivitas twitter di Indonesia ya? Soalnya, batu akik jadi salah satu aksesoris pelengkap gaya mafia ganteng Rodrigo Santoro alias Garriga hahaha




Monday, March 02, 2015

Nyetarbak Everywhere

Malam minggu kemana?

The ideas of hanging out with friends: chit chat while sipping coffee, taking a culinary journey and watching movies are always cool way to do on weekend. Ngopi-ngopi hepi, biasanya dilakukan di warung kopi. Tapi, kali ini bersama Starbucks, kami (saya dan beberapa blogger lain) ditraktir malem mingguan bareng yang seru banget karena kami berkesempatan icip-icip varian baru Starbuck Via di #SbuxFunMobile yaitu Vanilla Latte. Buat yang belum tau, Starbucks Via adalah varian kopi instan dari kedai berlogo hijau ini. Tinggal seduh air panas dan voila! Sedapnya kopi Starbucks bisa kamu nikmatin di mana aja. 

But, first af all before the party Iced Caramel Chestnut Latte is my choice. 





Foto ini diambil di seputaran Starbucks Fun Mobile yang malam itu mangkal di pelataran Skyline Building Thamrin. Udah pernah lihat mobil ini? Jadi, Starbucks juga punya mobil berisi barisan barista dan perangkat ngopi yang siap menyeduhkan kopi enak buat kamu di mana aja lho. Coba tanya @SbuxIndonesia gimana deh gimana caranya supaya van kece ini bisa tau-tau njedul di lapangan parkir deket kantor kamu. 

Oh ya, ini dia penampakan Starbucks Via Vanilla Latte sedap ituh...



Untuk membuat secangkir vanilla latte enak ini juga gak susah. Yang kamu butuhkan adalah sebungkus Starbucks Via, cangkir tahan panas, dan tentu saja air panas. Bocoran dari mas barista, biar rasanya gak "cemplang" kamu bisa menuangkan maksimum 180ml aja. Kalau mau bikin yang iced, cukup isi cangkir kopi dengan separuh porsi sebelum ditambahkan es batu ya....


Entah kenapa mas Bagus ini kok berwajah sedih ya... f(",) 

Keriaan nggak berhenti di situ aja sih, sebab kami juga dibikin kenyang dengan traktiran sate enak di Sabang yang femeus itu. Namanya Jaya Agung (kayak toko emas ya hahahaa....) dan beneran satenya enak! Meskipun butuh usaha ekstra buat saya yang baru aja menagari gigi-gigi dengan behel hahahaa.... Pilihan saya tentulah sate kambing \o/



Satenya gendut-gendut, dalam keadaan normal enak buat dikunyah. Biasanya setiap order sate kambing saya akan request sambal kecap. Tapi, meski default-nya adalah sambal kacang kok ya tetep enak ya hahaha... apalagi acar timunnya itu. Asem segernya pas banget! Nggak percuma deh Rhesya yang ngundang kami itu emang founder @kopdarjajan yang tau betul makanan enak... Nyam!

Udahan? Belum. Pasca makan enak dan ngopi-ngopi kami masih dimanjakan dengan tontonan bagus film Focus yang baru rilis. 

Makasih banyaaaak Starbucks Indonesia \o/ 

Wednesday, February 25, 2015

The Winning Teen-Team: Oleh-oleh dari #SMWJakarta

Bertahan lebih dari empat dekade buat sebuah majalah remaja tentunya bukan hal gampang ya. Coba hitung, berapa banyak media cetak yang akhirnya tumbang di masa digital ini. Majalah Gadis adalah salah satunya yang tetap berkilau di usia empat puluhan. Beruntung, saya berhasil nyempil untuk mendengarkan sharing dari majalah remaja besutan Femina Group ini di Social Media Week Jakarta kemarin ^^ 

Bertajuk "winning teen market, engage the most dynamic audience" sesi ini adalah salah satu yang banyak peminatnya.  Terbukti dari status SOLD OUT di web SMW Jakarta dan penuhnya kursi saat acara. Selama tak kurang dari dua jam penuturan tim redaksi Majalah Gadis yang insightful betul-betul sarat manfaat buat pemasar yang menyasar remaja. 


Majalah Gadis eksis di banyak platform
Know your audience, adalah kunci dari keberhasilan Majalah Gadis menguasai segmen remaja. Kelewat dinamis alias susah dipegang, early adopter, serta kurang loyal dan gampang pindah ke lain hati adalah karakter umum pasar remaja. Dengan mengetahui dasar-dasar karakter ini, akan lebih mudah buat pemasar menyusun taktik memenangkan hati mereka. 

Dengan pengalaman puluhan tahun menangani pasar ini, apa yang dipaparkan tim Gadis pastinya bisa jadi masukan berharga bagi pemasar. Rumusan pertama, tentu saja Know-The-Toys: cari tahu platform mana aja yang lagi digandrungi remaja. FYI, menurut riset tim Gadis sekarang ini Line jadi kanal yang disukai remaja lho! 

Aturan kedua, setelah mengetahui "mainan" yang lagi tren tentu aja kita harus tahu karakter dari setiap social media platform. Instagram users dengan twitter atau Line pastinya beda-beda karakter kan? Cari tahu juga peak time dari setiap platform untuk meramu aktivasi apa yang paling pas buat diluncurkan.

Udah tahu platform dan karakternya, rule number three: let's play the game! Lewat riset Gadis bisa merumuskan aktivasi yang pas untuk digulirkan ke audiens sesuai dengan karakteristik serta jam-jam sibuk remaja di setiap platform. 

Selanjutnya memelihara hubungan baik lewat engagement adalah aturan keempatnya, caranya tentu lewat konten interaktif yang melibatkan audiens. Untuk bisa menciptakan engagement dengan audiens cari tau juga apa yang mereka suka. Gadis pernah membuat lomba blog fashion, dan di luar dugaan pesertanya membludak melebihi target! Karakter narsis anak muda juga kayaknya jadi hal yang krusial buat dipertimbangkan. Dengan pertimbangan ini juga, instagram bisa jadi platform yang pas bagi brand yang menargetkan remaja buat aktivasi. Tapi hati-hati ya karena peer pressure juga bisa jadi bumerang.

Peer pressure ini dirasakan majalah Gadis ketika mereka memajang Suri, salah satu Gadis Sampul (beauty pageant yang banyak mengorbitkan bintang macam Anindya si Putri Indonesia sampe Dian Sastro mahmud dambaan sepanjang masa) dengan Greyson Chance di sampul majalah. Selain jadi trending (tentu saja gara-gara Greyson nge-tweet dan mention edisi bergambar dirinya!) Suri sempat jadi makian barisan remaja yang patah hati karena foto barengnya dengan sang idola. Peer pressure juga membuat Gadis membuka dua kanal untuk lomba foto busana yang agak terbuka karena menerima aduan dari calon peserta yang ogah di-bully kalau posting foto yang menampilkan bahu indahnya: instagram dan website

Kreativitas dan inovasi yang ditelurkan tim majalah Gadis agaknya menjadi strategi jitu buat melenggang sebagai majalah remaja.  Selain bikin banyak kompetisi berhadiah gadget (yang pasti disuka), Gadis juga berbagi gimmick berupa keterlibatan audiens dalam menentukan edisi tahunan. Lewat serangkaian jajak pendapat dan "audisi" menjaring reporter, lahirlah edisi tahunan bertema "100% made by you" yang perencanaan sampai liputannya dilakoni talenta muda dari pembaca Gadis. Di babak ini saya iri dan nyesel lahir duluan hahaha... T___T

Menguasai semua kanal social media juga strategi Majalah Gadis bertahan. Ini menarik karena nggak mudah melakukan sinkronisasi antar kanal lho. Pertanyaan besar saya soal transformasi dari konvensional ke digital juga terjawab dengan pengayaan individu yang terlibat dalam tim. Gimana mengubah kebiasaan memilih judul dan menulis artikel panjang lebar di majalah ke website juga tantangan tersendiri yang gak gampang lho! Mungkin karena digawangi oleh tim yang selalu berjiwa muda (meski umur terus nambah hahaha) dan haus belajar hal baru majalah Gadis berhasil melalui trial and error dengan buah yang manis. 

Anyway, congratulations to Gadis yang tetap muda di usia empat puluh. Semoga bisa bertahan terus ya.... 


Parenting in Social Media, Oleh-oleh dari #SMWJakarta

Parenting dan social media, dua topik yang saling berkait buat diulik. Kekhawatiran akan banyaknya "korban" internet agaknya membuat topik ini menjadi salah satu yang wajib tersaji di pekan media sosial alias Social Media Week yang baru hadir buat pertama kalinya di Jakarta. 

Di tulisan sebelumnya, saya pernah share tentang betapa (makin) nggak mudahnya jadi ortu di jaman dihital. Bukan mengulang, hanya menajamkan, Amalia Sari atau dikenal sebagai @absolutraia yang adalah ibu tunggal dari seorang remaja putri kemarin berbagi lagi soal parenting di social media. Di talkshow kolaborasi dengan Mommies Daily ini, sekali lagi menegaskan perlunya orang tua melek media. Moms, are you?

Sadar atau tidak, menurut Amalia social media platform pertama yang dikenalkan ortu pada anak adalah YouTube. Video-video yang dianggap edukatif adalah alasan ortu mengenalkan pada balita mereka. Bertambah usia, anak bakal semakin terkepung dengan banyak social media platform. Meski para pencipta menetapkan batasan usia untuk bergabung di platform buatan mereka, seringnya sih ortu cuek dan membiarkan anak berinteraksi di dunia maya lewat pemalsuan umur. Waduh...

Padahal, seperti sering ditegaskan Ainun Chomsun (dan ditegaskan ulang Amalia) bahwa social media tidak ubahnya macam pasar: banyak orang nggak dikenal yang bisa jadi membahayakan si anak. Trus, ortu musti gimana?

Pertama, tentu saja hindari menjadi ortu gaptek. Usia boleh nambah tapi kemauan buat belajar hal baru jangan sampai luntur. Anak-anak yang terlahir di jaman milenium adalah digital native yang cepat sekali mengadopsi teknologi terkini. Wajib buat ortu tau social media apa aja yang lagi digandrungi mereka. 

Platform paling populer di kalangan anak
Kedua, jangan biarkan anak menjelajahi dunia maya sendirian. Selalu pantau dan temani, ibarat ke pasar pastinya kita nggak mau anak keluyuran sendirian di tempat asing kan? Pilihkan social media platform yang pas buat mereka, tapi jangan beri akses penuh buat mereka. Add akun mereka dan pegang password-nya. Rambu-rambu seperti tidak mengijinkan orang asing menambah teman juga harus dikibarkan dengan tegas ya.

Oh ya, di bawah ini ada beberapa slides yang sempet terekam lewat bidikan kamera ponsel saya. Mudah-mudahan cukup jelas ya ...





Sebagai ortu, sebaiknya memang bangun jejaring dengan anak dan teman-temannya atau sebaliknya anak dari teman-teman kita. Stalking is allowed, jika menemukan kejanggalan yang terpampang di status media sosial anak jangan ragu lapor ke ortunya. Percaya nggak, mbak Amalia pernah mergokin status path anak temennya yang begini: "now reading fifty shades of Grey" >,< 

Lepas dari berbagai rambu dan aturan ber-social media yang terpatri, komunikasi yang baik dengan anak jangan sampai terabaikan. 

Well, lepas dari semua tips dan pengetahuan yang dibagikan agaknya PR panjang juga nih buat para praktisi social media melebarkan sayap menyadarkan para ortu untuk segera tanggap media. Saya berharap, ada yang bersedia menyediakan waktunya berbagi secara langsung ke para ortu lewat obrolan seperti ini di banyak lagi wilayah supaya cyber crime atau cyber bullying bisa dicegah...

Friday, February 13, 2015

Semalam Di Ibis Styles

Efek imlek, entah kenapa akhir-akhir ini saya jadi sering banget beredar di seputaran Pecinan. Jika Sabtu lalu Petak Sembilan jadi tujuan jalan-jalan, maka minggu ini kesempatan menikmati malam di kawasan Mangga Dua menghampiri.

Familiar kan sama Mangga Dua Square? Pusat belanja yang letaknya di jalan Gunung Sahari ini memang makin padat dengan aktivitas bisnis. Dengan pertimbangan inilah, jaringan Accor Hotels membuka Ibis Styles. Hunian dengan 211 kamar berdesain modern dan warna-warni, tanpa melupakan kenyamanan sesuai kebutuhan pebisnis. Desain interior dan pernik-pernik di kamarnya memanjakan mata banget.

Kamarnya lucu yaaaa ^^
Sandal secentil ini, sayang buat diinjek-injek ya?
Kebiasaan saya, kalau ke hotel pasti langsung ngamatin printilan kamar mandi. Ketika melangkahkan kaki, seperangkat toilettries dengan desain colorful memikat mata. Selain centil, printilan tersebut ternyata udah dapat sertifikasi sebagai produk yang ramah lingkungan lho!


Tau nggak, kamu juga bisa berpartisipasi mendukung gerakan cinta lingkungan saat menginap di hotel dengan memanfaatkan secara maksimal fasilitas yang tersedia di hotel. Di kamar mandi misalnya, gunakan sabun cair isi ulang yang udah disediakan dan bukan sabun batangan supaya nggak kebuang-buang. Kemudian, sebisa mungkin kalau udah niatan nginap lebih enak sih bawa peralatan mandi (termasuk sikat dan pasta gigi) sendiri. Kalau terpaksa, sebaiknya kamu bawa pulang perlengkapan bekas pakai kamu deh. Mematikan lampu kamar saat kamu tidur juga nggak boleh diabaikan ya. Selain menghemat listrik, tidur dalam keadaan gelap kan lebih bagus buat kesehatan.

Demikian juga handuk, kalau nggak penting-penting amat dan kamu juga memutuskan untuk tinggal berhari-hari rasanya nggak perlu minta cuci handuk deh. Cukup dijembreng sampai kering. Di Ibis Styles, kalau kamu berkomitmen menggunakan ulang handukmu maka akan dikonversi menjadi program penanaman pohon sebagai kontribusi mereka pada lingkungan. Seru ya?

Handuk di Ibis Styles bisa buat "nanam pohon" 

Yuk berpartisipasi mengurangi pencemaran air dengan pakai ulang handukmu
Sejalan dengan konsep modern dan stylish yang diusung, Ibis Styles juga melengkapi dengan mural ala street art di lobby dan ruang makan.

Maaf kak.... fokusnya di mural ^^

Colorful abis! Kecuali modelnya hahaha 
Oh ya, sebagai tamu kamu menikmati wifi dengan kemampuan mumpuni di seluruh area hotel. Buat yang muslim, tersedia juga mushola kok. Jadi nggak perlu khawatir ya.
Oh ya, buat booking dan tanya-tanya bisa klik di sini sih. 

Gimana? Tertarik buat menjadikan Ibis Styles sebagai sasaran tempat menginap kamu kalau kemaleman pulang nonton Java Jazz nanti? 

 

Popular Posts