Wednesday, April 17, 2013

Pinter Dalam 140 Karakter

imgsrc: wikipedia
Belakangan ini saya merasa "gerah". Bukan, bukan karena suhu Jakarta di siang hari yang mostly di atas 30 derajat Celcius. Tapi, karena melihat info-info "ilmiah" bersliweran di twitter ditebarkan tanpa dasar dan serba separuh. 

Berawal dari kampanye susu kalengan, yang dikabarkan bagus banget buat kesehatan. Nggak, saya nggak antisusu kok walaupun perut saya menolak minuman yang buat sebagian orang itu enak banget. Hanya saja, ketika informasi yang bersifat ilmiah, apalagi mengusung unsur medis, disampaikan setengah-setengah tentu saja ini bisa berpotensi menyesatkan. Awalnya ketiga seorang teman mempertanyakan kenapa si susu kaleng ini harganya lebih mahal daripada dus tetrapak. Jawabannya sungguh bikin saya --yang sempat setahun bermain-main dengan para bakteri termasuk penghuni susu-- nyengir miris karena dijawab bahwa si susu kaleng itu "lebih steril" ketimbang merk lain dalam dus tetrapak. Sayang, argumen tersebut cuma meneruskan pesan dari bagian marketing si produk yang tentunya punya strategi beda-beda untuk tiap brand yang dipasarkan.

Argumen yang tentu saja lemah. Kenapa? Untuk membuat susu cair jadi steril, setau saja (tolong kasih tau ya kalau sudah ada teknologi baru) cara yang dikenal di industri adalah lewat pemanasan singkat bersuhu ultra tinggi (dikenal dengan nama UHT) atau temperatur renda- tapi-rauwisuwis alias lama banget (nama kerennya pasteurisasi) untuk mematikan bakteri beserta spora-sporanya.   Apa bedanya dengan susu dalam dus? Toh caranya sama? Atau karena kaleng adalah penghantar panas yang lebih baik sehingga asumsinya bakteri udah kepanasan jika si susu terpapar cahaya? Worse case, ada beberapa jenis bakteri yang sporanya bertahan dan justru terstimulasi untuk berkembang biak setelah dirangsang oleh panas. Jadi?

Masih tentang kampanye si susu, tema yang diangkat kali ini adalah kesaktiannya sebagai senjata detoks(ifikasi). Wait, saya perlu membuka kamus untuk mengetahui apa sih pengertian detoksifikasi ini. Dan menurut kamuskesehatan, detoksifikasi adalah pengeluaran racun dari dalam tubuh. Beberapa artikel populer (udah males baca jurnal ilmiah >,<) menyebutkan puasa sebagai salah satu metode detoks selain olahraga, sauna, dan minum air putih. Ada juga sih yang melakukan detoks dengan hanya minum jus buah tertentu selama beberapa hari. So, mari pikirkan bagaimana mekanisme susu mengeluarkan racun dalam tubuh!

Masih banyak "manfaat sehat" yang disebarkan di media, misalnya bahwa susu ini aman buat yang alergi. Gimana dengan lactose intollerance? Aman? Katanya sih iya, kata google. Nggak tau gimana caranya laktosa diurai kalau tubuh udah menolak. Oh ya, yang terbaru di majalah wanita memaparkan kalau varian lain susu ini juga merupakan antioksidan sehingga bagus untuk menjaga kesehatan kulit. Oh.. ternyata antioksidan yang dimaksud adalah vitamin E. Di banyak artikel, antioksidan sering berwujud makanan alami seperti teh hijau, buah berries, sayuran berwarna hijau pekat dan baru kali ini saya menemukan literatur (yang ternyata advertorial) dan setelah saya crosscheck di sini, ternyata susu yang mengandung antioksidan adalah susu yang diperkaya. Diperkaya berarti ditambahkan zat-zat khusus selama proses produksi sehingga mengandung elemen yang diinginkan. 

Belum cukup keheranan saya, ditambah lagi kejutan dari sebuah akun "dokter" @doktercare yang menyampaikan "bahaya" jeruk nipis bagi pengidap glaukoma dan ibu hamil karena bersifat stimulan:

WEBMD : SEBAIKNYA HINDARI KONSUMSI JERUK NIPIS SELAMA HAMIL & MENYUSUI krn ada efek STIMULAN BAGI TUBUH 

Sayang, di tweet berikutnya si dokter yang hobi banget pake caps lock ini nggak pernah menjelaskan stimulan apa yang dimaksud. Yang ada info "umum" seperti bahaya minum jeruk nipis bersama minuman berkafein karena meningkatkan tekanan darah (and everybody knows the caffein effect!). Selebihnya info jualan alat kesehatan >,<

Kita tahu, twitter hanya berkapasitas 140 karakter. Keterbatasan ini seringkali diakali denga serial tweet atau yang lebih beken dengan sebutan kultwit. Tapi, sekali lagi berapa persen tweeps yang sudi membaca tweets secara komprehensif? Ada chirpstory, tapi sekali lagi berapa orang yang mau mengklik tautan berisi rangkuman kultwit?

Menyebarkan info kesehatan lewat twitter memang beresiko. Itulah kenapa Erykar Lebang pelaku food combining sering cerewet pada followers-nya supaya mengecek di blog-nya yang tercantum di bio. Syukur-syukur kalau si follower cocok sama info yang disampaikan dan nggak ada konflik serius sama kesehatannya. Kalau fail? Terlebih, info seperti ini riskan banget jadi hoax. 

Sejatinya, kita juga bisa lebih selektif menyerap informasi (dan brief dari klien untuk agensi serta buzzer hehehe) dengan selalu cek dan ricek kebenarannya. Jadilah orang yang kritis terhadap semua info yang datang. Saya pernah dikirimi e-mail tentang bahaya es krim cone McD yang digadang-gadang hasil riset Redoxon. E-mailnya meyakinkan banget, menyebut serentetan kosa kata ilmiah yang bisa bikin ngeri! Dasar emang riwil, info ini justru saya kroscek ke pihak Redoxon dan jawabannya adalah Redoxon nggak pernah melakukan penelitian soal es krim cone. Untunglah infonya nggak pernah saya forward ke siapa pun (kecuali redoxon sebagai pihak yang diklaim bikin riset) jadi terhindar dari fitnah. Eh menyebarkan hoax juga termasuk fitnah kan?

Pertanyaannya, berani nggak nolak job kalau brief-nya gak sesuai dengan fakta hehehe...


Monday, March 11, 2013

Jajan Nyaman Di Jalanan

Suka jajan?

Murah dan enak, dua alasan utama kenapa jajanan jalanan punya banyak fans. Udah gitu, nggak perlu capek keluar rumah buat kebanyakan kita yang tinggal di Indonesia penjual makanan keliling ini sungguh membantu banget untuk mengatasi kelaparan. Sebut aja: dari bakso, nasi goreng, sate Padang, burger, roti, siomay, rujak, semua tersedia dalam bentuk delivery alias gerobakan (belakangan dimodifikasi motor). Tapi, pernah gak mikir kebersihan jajanan kamu?

Awalnya saya juga gak peduli-peduli amat pada kebersihan dengan ketelitian mendalam sampai suatu ketika pas lagi jajan di rumah teman, sang tetangga nyeletuk santai tapi makjleb. Kepikiran gak berapa kali penjual jajanan langgananmu mencuci tangannya? Mantau gak apa aja yang dilakukan si abang sebelum meracik jajananmu dengan kedua tangannya? Tarakdungces... iya juga. Selain megang-megang duit yang entah-mengandung-berapa-milyar-mikroorganisme dalam setiap sisinya, gimana dengan kebiasaan pipis si abang yang kita gak pernah tau dia pipis-di-man--dan-dengan-siapa *kemudian posesif*.

Lalu suatu hari saya dikenalkan pada spesies penjual bakso bakwan Malang yang beda...

Penampakan gerobak bakso bersih itu...
Gerobaknya sih gak jauh beda sama gerobak bakso bakwan edisi motoran lain, tapi coba kita bedah ada apa di balik gerobak ini... *BRB ambil gergaji mesin*



SI abang bakso bakwan ini menghindari kontak langsung antara makanan dengan tangannya (yang setiap hari menggenggam setang motor mendulang keringat pleus bakteri....) antara lain dengan menggunakan gunting dan jepitan pas motong-motong komponen bakwan. Eh ya, walopun cuma beredar di kompleks abang bakso bakwan juga gak lupa make helm sesuai standar berkendara yang benar lho..



Nah, kalo biasanya abang bakso lain make tangan buat menjamah --tsaaah--- helaian mi dan bihun, abang bakso yang satu ini mengemas bihun dan mi dalam kemasan plastik kecil sesuai takaran. Ehm, yang ini rada gak eco-friendly sih >,< 

Oh ya, yang khawatir soal jenis saosnya, gak pake khawatir lagi ya. Soalnya, berdasarkan hasil wawancara dengan si abang bakso bakwan ini, saos yang dipake pun bukan saos-abal-abal-dari-cabe-busuk-dan-ubi-berulat kok. Meski gak nyebut merk, tapi setelah saya icip-icip rasa saosnya mirip saos sambal (dan saos tomat) kemasan yang branded itu. Dan, dengan kemasan botol squeeze kayak di warung bakmi untuk meminimalkan kontaminasi saos yang tumpah. Doooh bahasanya XD. Dan jangan lupa, untuk aksesoris macam daun bawang+seledri sama bawang goreng, disediakan sendok masing-masing dalam mangkok tertutup. 



Seandainya ya... semua jenis jajanan jalanan menerapkan prinsip-prinsip hieginitas kayak gini mungkin para ortu nggak perlu cemas pada jajanan yang beredar di jalanan atau sekolah ya? Denger-denger sih bakso bakwan yang memasang brand "Bakso Malang Tenan" ini binaan salah satu institusi pemerintahan di kawasan Citayam. Mudah-mudahan aja segera merambah ke wilayah lain biar gak cuma warga Citayam yang bisa merasakan bakso enak, bersih, dengan harga murah ini..

Thursday, February 28, 2013

Dear Blackberry...

Jadi gini... *ter-om Ded*

Blackberry satu-satunya milik saya, warisan dari pak bos terdahulu, akhirnya wafat juga setelah bertahun-tahun menemani saya kerja--menebar jala jejaring sosial--pacaran--dan berburu haratisan sebagai kuis hunter di twitter. Meninggal di penghujung tahun naga, setelah beberapa hari koma akibat terjatuh dari ketinggian sekitar 80cm pada bagian frontal-temporal. Menurut diagnosis, blackberry tipe 9650 alias Odyn itu menghembuskan nafas terakhir dengan kerusakan pada spare part sebagai komponen internal yang vital. Dan, untuk transplantasi organ vital tersebut butuh waktu lumayan panjang karena belum tersedia donor. Hiks...  T______T Padahal, sebelumnya si Odyn ini sudah lumayan sering jatuh dengan posisi punggung lebih dahulu dan gak bermasalah lho. So, yang dicibir orang kalau BB itu lemah gak sepenuhnya benar! 

Meski si Odyn takkan pernah terganti *nyanyik gaya Marcel*, nyatanya saya tetap membutuhkan blackberry untuk menunjang aktivitas seputar gawean dan pergahulan. Banyak beberapa koleha memang masih mengandalkan BBM untuk sekedar chit-chat yang seringkali berujung pada kesempatan nyetak duit. Bayangin dong, gak sedikit peluang melayang akibat ketiadaan si BB ini. Psst... harap maklum ya, gak semua orang berduit paham dan ngerti ada aplikasi chat lain macam WhatsApp atau Line dan KakaoTalk! Makanya, saya pun mulai melirik-lirik BB mana yang layak jadi pilihan. 

Biar butuh tapi tetep picky! Layar sentuh adalah favorit saya buat interaksi di perangkat selular. Makanya, saya rada-rada telat make BB karena gak suka papan kunci qwerty dan mulai menyukai anggota keluarga buah berry hitam ini setelah kenal mas Odyn. Perburuan dan browsing pun dimulai pada beberapa jenis BB berlayar sentuh yang jumlahnya tentu aja gak banyak. Sampai akhirnya...jreng jreeeeng *cabikan gitar Yngwie Malmstein sebagai sound effect* suhu RIM Blackberry di Indonesia sodara Didit @lynxluna bilang sabar aja sampe BB10 edisi user (yang tahun lalu beredar itu huseus developer alias AlphaDev!). Jadi penasaran, apalagi tinjauan di beberapa media dihital maupun cetak tentang si bungsu besutan Blackberry ini jadi salah satu perangkat paling ditunggu (selain jodoh tentunya).

Penampakan si BBZ10 seperti dilansir oleh situs resminya 
Di mana lagi buku suci dihital buat pemake ponsel pintar yang identik dengan pebisnis BB kalau bukan di IDberry yang tentu aja udah membeberkan banyak banget bocoran tentang BBZ10. Yah, kalo soal tampang yang udah full layar sentuh dan printilan canggih penunjangnya memang udah banyak yang bahas. Tapi setelah baca di sini dan serunya si BBZ10 ini juga udah rame jadi obrolan anak tuiter sik.  Bahkan konon para anggota FPi (Fanboy Pecinta iPhone) pun termehek-mehek dibuatnya >,< Apalagi sayah yang sungguh mendambakan bisa memiliki kembali satu saja spesies Blackberry ini huhuhuhu *begging om Ded*.  

Dengan segala kerendahan hati dan hak sepatu, maaf banget ya belum bisa ngobrol banyak tentang spesifikasi teknis dan kecanggihan di balik tampilan cantik kakak kandung BBQ10 ini (FYI, BBQ10 adalah versi low end untuk BB dengan OS 10 bagi pecinta papan kunci qwerty--CMIIW) kalau belum nyoba sendiri hihihi #kode.

Kalo bandwidth kamu cukup berlebih buat sekedar tengok-tengok penampakan si BBZ10, monggo dicek video-nya deh. Sudah cukup bisa membuatmu jatuh cinta?



Sumber video: YouTube tentu saja!

Friday, February 08, 2013

Temen Baru Akuuuuh.....

Sudah lama juga saya mendambakan pengen banget menambah koleksi gadget. Bukan buat gaya-gayaan semata, tapi karena tuntutan pekerjaan yang membutuhkan mobilitas dan selalu terkoneksi dengan internet setiap detik. Faktor jarak membuat saya musti berpikir ulang untuk menggotong-gotong laptop. Kebayang gak sih kombinasi commuter line-bis-motor-jalan kaki aja udah cukup bikin kurus, apalagi kalau ditambah musti membopong benda seberat 1,3kg dalam tas? Kapan gemuknya..... >,<

Terus terang, tablet dengan ukuran layar 7" adalah pilihan yang tepat. Tapi ya, dengan status pengangguran freelancer yang income-nya masih fluktuatif tentu saja saya musti berpikir ulang sebelum memboyong produk besutan vendor beken asal negeri ginseng dong. Bisa-bisa dikeplakin para financial planner yang rajin banget ngingetin bujet dana darurat ~~~~~~/o/  Sementara untuk produk sejenis dengan pabrikan yang belum jelas juga riskan. Biar kere asal picky

Untungnya, bisik-bisik tetangga kiri-kanan-atas-bawah sampailah saya pada piranti keluaran SmartFren ini. Dari sisi tampang, produk dengan label New AndroMax Tab yang merupakan pemutakhiran perangkat sejenis ini, cukup manislah buat ditenteng-tenteng dan gak terlalu menambah berat beban tas saya.




^Ukuran si New AndroMaxTab 7" dibandingin KTP, gak menuh-menuhin tas kan?

Spesifikasi teknis New AndroMax Tab 7 ini sendiri, cukup mumpuni. Antara lain dilengkapi prosesor berkekuatan 1GHz Cortex ARM A9, internal storage 8GB, serta layar selebar 1024 x 600 TFT LED yang kinclong. Untuk OS, perangkat ini menggunakan Android Ice Cream Sandwich.  Detailnya bisa cek di sini ya. Meski bukan penyuka fotografi, iseng2 saya mengetes kejernihan kamera berkekuatan 3MP yang dibenamkan di sisi belakang (oh ya, ada dua kamera pada perangkat ini. Buat video call atau foto narsis kamera depan 2MP saja):

^Foto pertama, diambil dalam remang cahaya bioskop, pas premiere Hello Goodbye. Gimana?

^Foto kedua, dalam kondisi cukup cahaya di dalam Commuter Line yang bergerak. Lumayan clear ya?


  ^Foto ketiga: ritual wajib sebelum makan, pengambilan jarak dekat <30cm .="" font="" nbsp="">

Sesuai peruntukan sebagai piranti penunjang kerja, saya memang langsung mengoptimalkan untuk mengunggah berbagai aplikasi seperti e-mail, twitter client, dan pengolah dokumen (semuanya aplikasi haratisan hehehe). Helpful banget ketika musti meng-update content social media yang saya handle sementara saya masih keluyuran di jalan.  Jadi, ngeksis-eksis di berbagai event bisa terus berjalan tanpa ganggu kerjaan hehehe XD. Kekuatan baterai hi-capacity L-polimer 4000mAH yang dimiliki juga membebaskan saya dari kewajiban colok-mencolok jika seharian berada di luar rumah, dengan catatan sinyal operator musti lancar jaya. (Dalam keadaan sinyal yang kurang bagus, biasanya di pelosok, dalam sehari biasanya saya musti nge-charge 2-3 kali). 

Dengan bandrol 1,6juta saja menurut saya sih produk ini cukup lah buat modal kerja mobile. Satu hal yang saya rasakan kurang, adalah port untuk pengisian baterai yang super selektif alias belum bisa menerima "colokan" selain bawaan pabrikan. Lumayan merepotkan ketika kita berada di lokasi yang gak memungkinkan buat nge-charge. Padahal, dengan kemampuan gandanya melakukan wifi tethering, New AndroMax Tab 7" ini ngebantu para fakir internet dan ketergantungan wifi lho! 

Monday, February 04, 2013

Nge-Jakarta! Bareng GoodReads Indonesia

Postingan pertama 2013! *nunduk malu*

Memperlebar jaringan pertemanan dan lingkaran gahul, Minggu sore saya meluncur ke sebuah kafe mungil di kawasan Sabang. Agak nyempil memang, tapi signboard dengan warna merah membara cukup membantu mengenali kafe yang ternyata baru berumur tujuh bulan itu. Atmosfir kafe D'Marco ini langsung mengingatkan saya pada suasana di kafe-kafe sejenis yang banyak sekali bertebaran di Semarang. Mungil, dan sangat welcome pada komunitas buat beraktivitas. Well, sore itu D'Marco memang di-booking Good Reads Indonesia yang merupakan kumpulan pecinta buku dan member Good Reads untuk wilayah Indonesia. Komunitas yang sudah lama sekali saya kenal tapi baru sempet ikutan kopdar lagi pasca pengembaraan saya di Semarang hag hag hag...

Kumpul-kumpul sore bareng GRI kali ini istimewa karena tamu yang hadir jauh-jauh datang dari Eropa buat mengupas buku terbarunya bareng. OK, ini lebay. Yang betul. Christophe Thomson alias Chris yang di twitter dikenal sebagai @thomsonchris ini memang berdarah Inggris-Perancis tapi sudah lumayan lama bermukim di Indonesia dan menelurkan satu novel dengan judul Jakarta!


Gaung Jakarta! sudah lama saya dengar tapi sama sekali nggak terbayang kalau novel perdana pria berusia 30 tahun ini mengambil tema petualangan seorang pembunuh bayaran bernama Edwin. Eh, wow! Kalau biasanya para bule lebih senang menggambarkan kisah romansa atau keindahan nusantara, maka Jakarta! justru memaparkan perjalanan Edwin di berbagai kota di seluruh dunia termasuk Jakarta. Chris sendiri mengakui, sebagian besar isi novel adalah pengalaman pribadinya lho *langsung berharap profesi pembunuh bayaran bukan bagian dari Chris yang tercatat dalam novel ini*.

Terus terang saya belum baca novelnya, dan kemarin sempat mengintip sedikit dari buku setebal 376 halaman tersebut. Chris menulis novel ini dalam bahasa Inggris dan kemudian diterjemahkan oleh penerbit. Jadi, no wonder kalau kita serasa membaca novel terjemahan khas Gramedia hehehe... Apa pun, apresiasi buat Chris yang bukan berprofesi penulis hingga dapat menghasilkan sebuah karya fiksi dengan genre petualangan. Nggak gampang lho, sungguh!

Obrolan selama dua jam tersebut rasanya bukan cuma tentang buku dan diri Chris, meluas pada cara pandang seorang "bule" yang jatuh cinta pada negeri ini meski banyak label buruk disematkan pada Indonesia. Untuk kesekian kalinya, kita musti berkaca lagi gimana membangun optimisme pada negara besar bernama Indonesia. Pandangan politik serta prediksi pria Eropa ini, sedikit banyak ikut menggelitik kebangsaan kita yang lagi lucu-lucunya ini. Saya sih, optimis banget anak-anak muda Indonesia masih banyak yang care sama negerinya. 

BTW buat yang doyan baca dan ingin memperluas jejaring sambil cari jodoh, nggak ada salahnya ikutan kopdar-kopdar GRI deh. Info kopdar berikutnya update terus di twitter @bacaituseru kok, follow ya!

Foto hasil sumbangan @21pu3
 

Tuesday, December 18, 2012

Aku Mau (Anak) Cerdas

sumber: SuperkidsIndonesia.com
Sebelum jadi emak, persiapkan dirimu dengan ilmu parenting. Terutama yang menyangkut gizi buat anak di tahun-tahun emasnya. Ini serius lowh!

Yang udah jadi ortu pasti ngerasa banget kalo punya anak cerdas itu bener-bener jadi kebanggan tersendiri. Rasanya pengen dipamerin ke seluruh dunia. Piagam lomba, piala, nilai rapor kalo perlu dipajang di ruang tamu dan dipamerin ke siapa aja yang datang. Semacam punya tipi layar datar B&O aja bangganya...

Bukan nyinyir, tapi faktanya memang demikian. Ibu saya bangga banget waktu di umur 4,5 tahun saya udah fasih mengeja huruf dan menyusun aksara menjadi nama-nama orang terdekat. Ish maaf ya, saya emang bukan manusia jaman milenium yang masuk SD musti udah punya sertifikat calistung dari TK. Lha mau masuk TK aja belum ada yang buka hahahaha... *tuwak* Back to the story, meski ber-body ceking nan kecil macam Miiko (sampe kelas IV SD tinggi badan cuma 124cm dengan berat gak lebih dari 30kilo hahaha) nyatanya kedua ortu saya nggak terlalu galau tuh urusan fisik saya. Soalnya buat mereka yang penting itu adalah nilai-nilai rapor saya selalu bagus. Gak jauh-jauh dari ranking 1-2 lah. Sekalinya jeblok ke ranking 3 gara-gara sempet sakit panas seminggu lamanya dan absennya jadi jelek...

Satu hal yang selalu dibanggakan ibu saya adalah, meski jarang banget makan daging atau ayam (yang di masa itu dianggap sangat baik gizinya) nyatanya saya tetap bisa mengukir prestasi *mengepalkan jari tangan ke udara*. Nah, terkait per-gizi-an itu saya merasa perlu sekali buat para ortu mengetahui apa aja yang musti dikonsumsi anak.  Terutama di masa-masa kejayaan awal pertumbuhan yang biasa disebut golden age ituh. Apa itu golden age? Mending cek aja di sini deh ya, soalnya kalo dibahas di tulisan ini bisa berjilid-jilid *lebay*. 

Ternyata eh ternyata, banyak sekali kebiasaan ortu yang kurang tepat dalam menyediakan nutrisi untuk tumbuh kembang anak. Misalnya nih ya, ortu seringkali menyerahkan pilihan menu makan pada anak. Kalau anak maunya chicken nuggets ya udah lah demi memuaskan hasrat makan dan kebutuhan "gizi" anak chicken nuggets lantas selalu ada di piring bersanding dengan nasi. Duh 8'( 

Kalau inget masa kecil saya, sungguh beruntung ibu masih sering menyajikan beragam sayuran dalam piring makan saya. Seminggu sekali ayam jadi konsumsi, merayakan liburnya bapak sehingga setiap hari minggu adalah hari istimewa karena kami sekeluarga makan "enak". Selebihnya menu-menu seperti sayur bayam pleus ceker (yang belakangan diketahui ternyata banyak banget manfaatnya buat kesehatan antara lain bikin awet mudah), urap sayuran yang sekarang bisa dibilang "ajaib" kayak kembang turi, dan tentu saja favorit saya: tempe! Hasilnya nyata: sebelum masuk SD saya udah lancar membaca dan bisa masuk sekolah favorit karena nilai-nilai selalu bagus hahahaha *jumawa*.

Dari pengalaman tersebut, sebetulnya untuk "menciptakan" anak cerdas gak susah kok. Selain stimulus berupa kebiasaan-kebiasaan seperti mengajak ngobrol, membaca buku bersama (sekarang banyak buku untuk batita yang lucu-lucu), banyak beraktivitas luar ruang seperti main sepeda atau kalau punya hewan peliharaan ajak jalan-jalan, yang penting banget memang makanan. Nggak harus mahal, tanah air kita sendiri udah kaya raya banget berjenis-jenis sumber nutrisi. Roti gandum memang sehat, tapi kita juga punya ubi jalar dan ubi ungu yang gak kalah sehat pleus mengandung antioksidan. Tau lah yaa gunanya antioksidan buat tubuh.  Satu lagi, karena masih masa pertumbuhan nggak perlu lah membatasi anak dalam hal porsi makan secara berlebihan. Dengan catatan: anak musti aktif bergerak. Jadi inget ponakin yang makannya gila-gilaan: habis seporsi nasi+sayur+lauk trus gak lama kemudian dia asyik ngemil donat atau biskuit. Waduh... tapi ya enggak jadi gendut karena hobi main sepeda sih (atau nurun gen tanteu-nya yang langsing abadi meski makan segambreng? ^___^)

BTW sebelum lupa, ketika memilih jenis makanan buat anak musti dicek kandungan nutrisinya deh. Karena otak adalah pusat kecerdasan, pastiin ada yang namanya kolin, prebiotik FOS dan GOS, sama antioksidan.  Kolin itu perlu banget buat kelancaran komunikasi dan transfer info antar sel saraf di otak. Aaah jadi inget kuliah fisiologi lagi kan huhuhu.... Trus, ngeceknya gimana? Ya googling dong. Kan emak-emak 2.0 heuheuheu.... Kalo yang namanya antioksidan itu selain ada di sayuran dan buah-buahan yang warna-warni macam pelangi juga ada dalam susu sih. Jadi, bolehlah memasukkan susu dalam menu harian anak sebagai salah satu sumber protein hewani dalam sajian harian selain buah dan sayuran. Okesip?

Sekarang mari kita bikin anak (cerdas) #eh...

Tuesday, November 20, 2012

LO (┎'o')┎GUE (┌','┐) —> ┐(˘▽˘)┌ END

Agak telat yah postingnya?

Mustinya tulisan ini dirilis segera setelah saya menamatkan sesi Gala Premiere bareng BlogDetik beberapa hari sebelum film besutan Awi Suryadi ini dilepas resmi ke pasaran. Tapi demi menghindari efek spoiler, biarlah saya menuliskannya sekarang. Selain, tentunya musti ngumpulin bahan berupa foto yang terserak di kamera temen (pleus melawan hawa malas hihihi...)


Adalah Zara Zettira, Gadis Sampul 1987 yang kemudian memilih menjadi penulis novel dan telah banyak menelurkan buku-buku bernuansa remaja di tahun 80an, nama di balik transformasi novel berjudul sama ini ke layar lebar.   Anak sekarang (ciyeeee yang anak jadul) mungkin lebih kenal Zara sebagai brand fashion ketimbang nama besar seorang pencetak best seller di era Lupus ini. Saya sendiri, yang di masa jaya Zara Zettira sebetulnya belum boleh baca majalah remaja terpaksa ngumpet-ngumpet nyuri baca koleksi Anita Cemerlang atau Hai punya kakak. Aih Anita Cemerlang, kemana ya majalah khusus fiksi itu sekarang?

Lo_Gue_End (disingkat LGE aja ya!) adalah cerita tentang lingkaran sahabat (?)  dengan belitan problema khas kosmopolitan: punya segalanya: rupa menawan, sumber uang yang gak habis, popularitas, tapi minim kasih sayang. Klise ya? Tapi itulah fakta Jakarta.  Nadine Alexandra, Manohara, Kelly Tandiono, Dimas Beck, Dion Wiyoko adalah beberapa selebrita penyaji pemandangan indah di film ini.  

Terlahir sebagai putri seorang ahli bedah plastik ternama di Jakarta, Alana (Nadine Alexandra) menemukan kebahagiaan palsu lewat asupan drugs dan alkohol di tengah gelimang pesta bersama para sobatnya yang masing-masing juga bermasalah.  Dibuka dengan adegan hedonis khas Jakarta, selanjutnya slot diisi dengan penjelasan setiap karakter.  Keasyikan saya menikmati gemerlap kehidupan di Jakarta ini terputus karena di sepertiga film tiba-tiba muncul adegan yang bikin bertanya-tanya. Tewasnya satu per satu para tokoh di lingkaran kehidupan Alana dan selalu dibarengi SMS misterius, serta kemunculan bayangan perempuan di tempat-tempat tertentu adalah titik-titik di mana saya mulai bingung ini film horor apaaaa.... 

Kalau mengingat reputasi Zara  Zettira tentulah nggak mungkin penulis yang masih cantik di usia 40an ini terjebak dengan cerita misteri murahan bertaburan setan urban dan adegan seks, rasanya nggak mungkin banget LGE masuk genre kayak gitu. Dan saya juga gak rela hahaha! Syukurlah pertanyaan dan permainan debar jantung terjawab dengan kemunculan Santika, sosok misterius yang hobi banget ngirim SMS peringatan pada Alana menjelang kematian teman-temannya.  

Saya memang bukan pengulas film yang baik jadi maaf banget kalau tulisan ini nggak akan banyak kritisi ya.... 

Mengusung misi mulia kampanye anti narkoba, LGE sebetulnya punya alur yang keren. Unik, karena di sini tokoh Zara muncul sebagai diri sendiri (diperankan Amanda Sukasah, kenapa nggak Zara langsung aja ya yang main hihihi...): penulis novel yang kembali ke Indonesia dan memutuskan kembali menulis setelah menerima kiriman e-mail dari Alana. Adegan komikal saat belanja drugs serta penjelasan mengenai jenis-jenis narkoba juga lucu banget. Like it! Sentra film ini sendiri tentulah Alana yang seksi tanpa banyak harus mengumbar tubuh indahnya. Lha wong mukanya si Nadine aja udah seksi booow *lap iler* #eh

Yang mengganggu menurut saya adalah kemunculan Claudia Hidayat (ini adeknya Ryan Hidayat sih katanya) secara tiba-tiba menyingkap tabir siapa dirinya sebenarnya, sekaligus memberi kejutan buat Alana tentang sebuah rahasia. Plot sejak awal yang sudah manis tiba-tiba jadi kayak drama remaja TVRI (hastagaaaah jadul sekali saya!) yang kurang soft. Dan misteri kenapa mata Claudia Hidayat ini terlihat aneh juga gak diungkapkan hehehe (sekilas mirip Darryl Hannah di musuhnya Uma Thurman di Kill Bill!). Entahlah, ini menurut saya aja siiih.... maaf lho kalo gak sepaham.

Harapannya sih, LGE bisa menjadi semacam film kampanye anti narkoba yang dikemas cantik dan nggak ngeguruin. Meski sepertinya penjualan LGE kurang begitu bagus (kalo gak salah momennya barengan Skyfall atau apa sih gitu? Lupa deh, bukan movie freaks sih...) sehingga (lagi-lagi) tenggelam di tengah serbuan film Hollywood. Tapi siapa tau ya, LGE nantinya dijadikan salah satu film wajib tonton di roadshow anti narkoba gitu. Semoga...

Oh ya, saya suka banget sama goodie bag-nya: butiran permen PapaBubbles dalam bungkus mirip obat. Unik aja...

Thursday, November 08, 2012

Berani Berubah?

Tahun ini, #beranimengubah kembali!

sumber: treehugger.com
Hajatan tahunan gelaran Coca Cola Indonesia ini pada tahun lalu berhasil menyeleksi ide-ide sederhana jadi gerakan yang (seharusnya) menular semacam virus. Saya nggak hapal siapa saja pemenangnya. Yang saya ingat, salah satu ide terpilih #beranimengubah 2011 adalah Operasi Semut. Ide sederhana: menggerakkan massa untuk memungut sampah di areapublik dan menempatkannya di tong sampah. Penggagas ide tersebut adalah teman saya sendiri Yusman Firmansyah yang lebih diakrabi dengan identitas Umen

Sebagai penyinta lingkungan, tentu saja saya sangat mendukung gerakan ini. Meski belum pernah terlibat dalam aksi Operasi Semut sama sekali, menurut saya segerombolan anak muda turun ke jalan buat mungutin sampah itu keren! Jangan dulu protes apakah sampah yang terkumpul bakal dipilah berdasarkan jenisnya: organik/anorganik atau kemana sampah-sampah itu bakal diolah.  Mengurangi keberadaannya di area publik aja udah menyenangkan banget, mengingat kebiasaan sebagian besar orang Indonesia yang ogah susah: buang sampah di mana aja, termasuk jalanan. Wajar jika kemudian Coca Cola menetapkan Operasi Semut sebagai ide terpilih.

Sayangnya, dua kali mengikuti talk show tentang #beranimengubah ini membuat saya berpikir: berani mengubah aja nggak cukup, tapi juga perlu disertai dengan tekad berani berubah!

Talkshow pertama, di Social Media Festival, Umen sendiri yang berbagi inspirasi ide operasi semut ini.  Selang beberapa menit pasca obrolan, saya menemukan beberapa botol minum dan piring kertas bekas makan terkapar di lantai ruangan. Jadi selama talkshow berlangsung omongan Umen sang duta Operasi Semut nggak didenger aja gituh? 

Di kesempatan berikutnya, tepat Selasa lalu, di Obsat saya kembali mengikuti obrolan sejenis. Hanya saja, Umen berhalangan datang dan Coca Cola menghadirkan Pandji spoke person #beranimengubah dan Alanda Kariza. Ada yang belum tau siapa dia? Coba googling deh heuheuheu...

Nggak jauh beda dengan sebelumnya, bahkan menurut saya lebih parah, kondisi area pasca obrolan serupa lapangan Monas pasca kampanye pemilu: sampah di mana-mana. Okelah, barangkali demi alasan praktis panitia memilih alat makan plastik sekali pakai sebagai wadah sajian malam itu. Pun, limpahan air minum dalam kemasan yang meliputi Coca Cola serta Ades melimpah semacam tanpa batas. Alih-alih nyingkirin botol dan alat makan bekas pakai yang nggak re-usable itu, yang ada audiens malah sibuk haha-hihi sana sini meninggalkan tumpukan sampah di mana-mana.

Rejeki buat pemulung, yang sepertinya punya radar pengendus puluhan botol bekas. Tapi, apa susahnya siiih buat kalian yang kemarin datang ke Obsat merelokasi sampah-sampah itu ke tempatnya? Kalian lihat kan panitia menyediakan tempat sampah dengan lokasi yang nggak akan bikin kurus kalau didatangin, serius deh. Padahal juga, beberapa menit sebelumnya Operasi Semut dan tujuan mulianya mengurangi sampah udah diworo-woro juga oleh pihak Coca Cola lho! 

Oh well, kalian jangan menganggap saya protes dan mengandalkan prajurit Semut (sebutan buat peserta Operasi Semut) lho. I don't like to say this, tapi saat makan saya sama sekali menghindari piring dan sendok plastik dari panitia. Kebiasaan baru saya yang seringkali dikomentari temen-temen sebagai sesuatuk yang ribet yaitu membawa alat makan sendiri (cuma lunch box ukuran kecil kok, sama satu set supit+sendok logam lucu!) berguna sekali buat makan nasi ayam yang uenak ituh. Tatapan aneh juga dialamatkan waktu saya pungutin botol-botol bekas itu dan memberikannya pada pemulung yang berbinar-binar menerimanya.  Oh ya, khusus buat Ades saya tuang dulu airnya ke tanah. Save water (and still don't drink beer!) dong ah. Lebih baik airnya saya biarkan meresap ke tanah ketimbang jatuh ke tumpukan sampah.

I don't post any ideas to #beranimengubah, but then I think: berani mengubah aja nggak cukup tanpa disertai upaya mengubah diri alias berani berubah! Memang saya belum pernah ikutan terjun langsung di Operasi Semut, tapi setidaknya semangat Semut tetap ada di mana-mana meski tanpa event atau exposure dari media. Ya kaaaaan...

 

Popular Posts