Tuesday, July 15, 2014

Mini, Mumpuni dan Masa Kini

Apa yang kamu cari dalam sebuah gadget?

Buat saya, selain harga (menyesuaikan bujet pastinya!) tentu saja spesifikasi teknis jadi pertimbangan tersendiri sebelum akhirnya memutuskan membawa pulang piranti impian. Selain itu, sama kayak milih pasangan, tampilan juga penting. Hihihi...

Dan inilah salah satu pilihan smartphone yang menurut saya memenuhi tiga kriteria itu: 

Unboxing the Prince ^^


Dikemas dalam boks minimalis, ponsel besutan ZTE ini terkesan elegan. Keluar dari boks, seri Z5 mini yang punya nama populer Nubia ini makin menguatkan kesan mewah. Bodi tipis berbalut casing hitam yang matte (sehingga nggak akan licin kalau digenggam tangan yang basah sekalipun) ditambah layar kinclong dengan resolusi 720p dan ukuran layar 4.7" saya langsung terpikat. Stylish banget! Ukurannya juga nggak terlalu besar sih, masih bisa masuk saku celana belakang... 

Membedah isinya, hal pertama yang tentu saja bikin saya makin cinta adalah kemampuan menangkap gambar yang paripurna.  Kemampuan kamera belakang sebesar 13MP dan kamera depan 5MP cukup memadai buat eksistensi di social media. Apalagi Nubia memanjakan penggunanya dengan kemudahan edit gambar sesuai selera: auto (buat yang ogah ribet), pro (bagi yang profesional), dan fun (yang beneran fun!). Di antara tiga fitur ini saya paling sering menggunakan fitur fun. Ini beberapa hasil jepretanya:

Fish Eye, modus buat ngintip mas-mas di gerbong sebelah
Hasil Jepretan Kue Lebaran, mirip di majalah yah ^^


Fitur "Nature" cukup tajam untuk mengabadikan kebersamaan
Oh ya, buat cewek atau kaum narsistis Nubia juga musti masuk daftar must-have-item deh. Ada fitur "beauty" yang bikin tampilan kita lebih kece lho hihihi... 

Iseng-iseng saya (yang sama sekali nggak fotogenik) mencoba fitur ini dan inilah hasilnya: warna kulit lebih merata, bekas jerawat memudar, pleus... bola mata jadi lebih besar! 


Semua foto ini diunggah tanpa editan lho ya! 

Dibidani oleh ZTE yang selama ini banyak menyuplai kebutuhan hardware untuk infrastruktur telko dan memproduksi gadget untuk bundling vendor, secara teknis tentu saja Nubia dipersenjatai spesifikasi yang mumpuni di kelasnya. Prosesor quad-core 1,5 GHz Qualcom Snapdragon 600 dan OS Android 4.2.2 Jellybean, sementara untuk kapasitas penyimpanan tersedia memori internal sebesar 16GB! Buat yang gila foto-foto masih dimungkinkan untuk menambah ruang simpan hingga 32GB dalam bentuk microSD. 

Kabarnya, Nubia sudah menyambangi tanah air pertengahan bulan ini. Pilihan tepat buat yang butuh eksistensi atau mengabadikan serunya lebaran! Oh ya, untuk pilihan warna saat ini baru tersedia hitam dan putih. Tapi, di negri asalnya Nubia lebih centil dengan balutan casing yang colorful lho! 





 

Tuesday, May 13, 2014

Ortu (Melek) Dihital


Am not a mom yet, but I do concern about parenting in digital era.

Membaca banyak kasus kejahatan anak yang terjadi gara-gara di social media beneran bikin miris ya? Diperparah dengan minimnya pengetahuan para ortu (dan sebagian guru!) tentang social media, jatuhnya korban mustinya bisa diantisipasi kalau kita tau gimana rambu-rambu ber-social media. Jangankan anak, orang dewasa aja bisa kepeleset. 

Beruntungnya saya, bisa ikutan #ArisanLivina bareng Nissan Grand Livina dan Polimolidotcom Sabtu lalu karena tema arisan (yang sebetulnya lebih sebagai ajang kumpul-kumpul perempuan, bukan kocok-kocok hehehe) yang diambil seputar Pola Asuh Anak di Era Social Media, pembicaranya Ainun Chomsun founder Akber dan ibu dari putri yang beranjak remaja. Lewat akun twitternya @pasarsapi mbak Ai--sapaan akrabnya--kerap mengeluhkan bagaimana mengerikannya kejahatan anak di jaman dihital. Kondisi ini diperparah dengan minimnya aksi dari penguasa selain blokir dan blokir. Ketahuilah bahwa blokir bisa diakali dengan kepintaran para heker dan kreker pak! Tapi modal dasar berupa imunitas seorang pengguna internet yang dibekali pengetahuan cukup akan lebih bermanfaat untuk mencegah maraknya kejahatan di dunia dihital!



Kejahatan apa aja yang mengincar anak di dunia maya? Predator pedofil yang menyamar sebagai dokter untuk mendapatkan foto-foto yang mengeksplorasi organ genital (primer dan sekunder) korbannya mungkin cuma puncak gunung es dari sekian kasus. Yang juga perlu perhatian khusus adalah cyber bullying, jenis kejahatan dengan teror psikologis nggak kalah mengerikan dengan bullying secara fisik. Hebatnya, pelaku cyber bullying cukup pintar dengan menghapus semua jejak digitalnya ketika aksinya terendus dan nggak ragu membuat akun (dengan identitas baru) untuk kembali melakukan cyber bullying. Kemunculan die hard fans juga bisa memicu perselisihan yang berujung pada cyber bullying lho, jadi pantau apakah anak kita mengintil akun selebriti idolanya.

Menguasai tools bukan jaminan ortu untuk bisa mengendalikan kriminal dihital. Komunikasi dengan anak lebih penting ketimbang membentengi diri dengan berbagai piranti lunak pemblokir (meski tetep perlu untuk anak pada level usia tertentu).Beberapa tips untuk mengawal anak ber-social media ini bisa diterapkan:

Jaga privacy!
  • Bikin aturan bersama: apa aja DOs & DON'Ts di dunia maya untuk anak, gunakan analogi untuk memudahkan nalar dan logika anak dalam mencerna
  • Buat batasan: yang boleh dan nggak boleh dilakukan di dunia maya, misalnya hanya boleh mengakses dari piranti milik ortu (biar bisa dilacak), ijin sebelum instalasi games di gadget
  • Bikin kesepakatan: kalau anak melanggar aturan yang sudah disepakati bersama, jangan segan memberikan hukuman misalnya nggak boleh online dalam waktu tertentu
  • Atur setting di social media, ini agak teknis tapi percayalah nggak akan serumit memecahkan kode-kode dari gebetan! Atur privacy setting di social media account untuk melindungi anak dari paparan identitasnya
Tips teknis seputar mengawal anak di social media saya cantumkan gambarnya ya di sini mudah-mudahan cukup jelas:
 

Sementara hal-hal yang tabu di social media saya berikan di sini:


 
Sebetulnya, aktivitas anak di dunia maya bisa diarahkan ke hal positif kok. Cari tau deh kecenderungan bidang yang disukai anak: foto/videografi, menulis, atau bahkan memecahkan solusi di games? Dari situ kita bisa pilihkan media yang pas untuk penyaluran interests-nya: kalau suka nulis bikinin blog, yang hobi fotografi kenapa ngga tantang untuk bikin foto bagus menggunakan kamera ponsel untuk diunggah ke instagram/youtube/vimeo atau vine. Trus kalo anak hobinya main games gimana? Cek apakah games yang dia mainkan aman, ikut main bareng, dan arahkan dia untuk berkreasi membuat games sendiri dengan mengikutkan kursus. Sekarang udah ada lho kelas coding buat anak!  Mendingan anak sibuk beginian kan daripada nonton sinetron gak jelas?

Sifat social media yang pamerable ini sebetulnya pas banget untuk membuat anak lebih pede berkarya. Apresiasi berupa sedekah jempol yang diterima anak lewat peer society pastinya akan lebih mengena ketimbang pujian ortu (yang katanya sih udah default gak gak obyektif karena setiap ortu pasti hobi muji anaknya sendiri hahaha...)

Nah, gimana? Sudah siap menjadi ortu yang melek dihital?



Friday, May 09, 2014

Masak Asik Bareng Panasonic

Sesungguhnya gathering yang disertai cooking class itu selalu menyenangkan!

Kalau sebelumnya saya udah belajar membuat pitsa di L'Osteria sambil menikmati sajian Italia yang delicioso nan extravaganza itu, maka sehari selepas hari Kartini saya bareng temen-temen blogger diundang Panasonic Indonesia untuk pengenalan produk-produk barunya sekaligus ... cooking class! Yeay! \o/ 

Bersama saya, hadir blogger-spesialis-hore-hore: Swastika @SabaiX, Nyonya Saiful Muhajir alias @icit_ , @Adiitoo, mak @Chicme, Bumil cantik @_dita, @aralle,  serta tentu aja emak blogger nan femeus @indahjuli ituh serta duo alumni ACI @ipimaripi dan @umenumen yang juga pehobi masak. Tadinya saya sempet bingung, mau masak apa di event yang lebih mirip galeri masa depan produk Panasonic itu *menebar pandangan ke seluruh penjuru aula hotel Shangrila*.  Ternyata eh ternyata, di gathering yang juga jadi ajang kopdar para dealer itu kami digiring menuju "dapur" mungil nan cantik (dan pastinya penuh piranti elektrik canggih dari Panasonic). 

Di dapur yang tertata manis, kami disambut dua chef seksi lengkap dengan peralatan "perang"-nya mendemokan cara membuat cupcake kukus.

 






Ternyata, bikin cupcake gampang sekali sodara-sodara! Kita hanya membutuhkan telur ayam, gula pasir (silakan pilih lokal atau impor, tapi jangan pasir pantai ya!), terigu serbaguna + baking soda, mentega (boleh diganti margarin) cair, serta keju cheddar. Semua bahan-bahan ini gampang diperoleh di warung kan? 

Tahap pertama adalah memisahkan putih telur dari kuningnya, nggak tau kenapa harus dipisah. Mungkin karena bukan muhrim *benerin kerudung*. Telur-telur ini kemudian dikocok menggunakan mixer bersama gula hingga mengembang sebelum dicampur lagi bersama terigu + baking soda. Setelah tercampur rata, matikan mixer dan masukkan keju cheddar yang sudah diparut lalu biarkan komponen cupcake ini menyatu dengan bantuan spatula kayu. Setelah itu baru deh kita tuang adonan setengah kental ini ke dalam paper cup menggunakan sendok makan dengan ketinggian hanya separuh paper cup untuk kemudian dikukus menggunakan rice cooker selama 15 menit saja.  

Ini penampakan rice cooker yang digunakan untuk mengukus cupcakes:

Gambar diambil dari website Panasonic
Rice cooker ini selain memiliki desain yang futuristik, juga dilengkapi dengan tombol pengaturan untuk jenis masakan berbeda: bubur, nasi putih, nasi merah.  Pas lah buat penyuka nasi merah yang kadang sering nggak pas kematangannya kalau menggunakan rice cooker biasa *masukin wishlist belanja isi rumah*. 

Setelah menonton mbak chef cantik mendemokan, giliran kami para blogger yang ditantang untuk membuat cupcakes berdasarkan pengamatan yang hanya beberapa menit saja. Mengandalkan ingatan fotografis *tsaaah* kami mengulangi langkah-langkah membuat cupcakes untuk dilombakan. Dan.... hasilnya ternyata cukup membanggakan karena cupcakes yang dihasilkan matang sempurna selayaknya pria dewasa yang siap menikah bikinan toko kue.  Pekerjaan selanjutnya tinggal mempercantik cupcakes dengan icing sugar warna-warni menggunakan spuit, inilah hasil karya grup kami:


Sambil menunggu hasil penjurian (dan grup dua yang juga ditantang bikin cupcakes), rugi banget rasanya kalo nggak keliling area yang malam itu disulap menjadi galeri produk Panasonic. Lengkap banget memanjakan mata (dan bikin ngiler karena bagus-bagus huhuhu...): dari home appliance, entertainment sampai ke beauty products. Yang pertama memikat mata saya tentu saja deretan lemari es Neo Glam. Sesuai dengan namanya, lemari es ini tentu saja berpenampilan glamor macam diva. Warna-warni cantiknya pas banget buat keluarga urban yang ogah terikat dengan desain interior penuh kekakuan. 

Sementara dari keluarga home entertainment ada saja Viera Smart TV yang beneran smart, selangsing saya *kabur sebelum ditimpuk* dan tentu saja memanjakan audiovisual dengan gambar jernih pleus kualitas suara menggelegar. Ngebayangin leyeh-leyeh di rumah sambil nonton marathon pake Viera ini pasti bikin lupa beratnya beban hidup 8').  

Gambar diambil dari website IDPanasonic
Masih dari keluarga penghibur, seperangkat headphone XH333 buat penikmat musik. Bersanding dengan pemutar musik digital favorit, rasanya XH333 ini layak jadi koleksi untuk membuat saraf sedikit lebih rileks pasca disemprot bos *curcol detected*. Tidak disarankan menggunakan XH 333 ini ketika menyetir ya, karena bisa bikin TMCPoldametro murka... 

Gambar minjem punya SabaiX
Rasanya mau borong semuanya ya? *menatap nanar saldo rekening*

Di akhir gathering, akhirnya keluar juga putusan juri siapa pemenang lomba bikin cupcakes malam itu. Meski gagal menjadi juara pertama, semua peserta gathering adalah pemenang karena semuanya mendapatkan hadiah berupa voucher belanja (yang cukup buat nambahin beli sepatu favorit!) dan LED torchlight manis pelengkap night run ini:

Gambar dari situs IDPanasonic

Sayang sekali, gelar livetweet expert yang biasa saya sandang malam itu dengan senang hati saya serahkan pada Icit, karena ponsel saya sedang bermasalah. Makanya di postingan ini banyak foto yang nyomot dari situs lain kan? Seandainya yaaaa.... malam itu saya membawa kamera saku dari rangkaian compact & stylish ini mungkin kualitas gambar yang terpampang di sini lebih cantik lagi ya...
 

Tuesday, May 06, 2014

Mewarnai (Rumah) Itu Mudah!

Saya bukan orang yang suka memilah-milah pekerjaan domestik berdasarkan gender. Artinya, meskipun terlahir (dan sampe sekarang masih) cewek bisa aja saya yang naik tangga masang lampu bolam atau mengurus listrik yang tiba-tiba mati tanpa pesan (gara-gara sekring turun). Demikian juga, kakak laki-laki saya nggak keberatan nyuci piring, baju, sampe bikin menu lebaran lengkap dari ketupat sampe lauk pauk sebanyak tujuh macam. Maunya sih sekalian masang genteng tapi apadaya rumah kami nggak dilengkapi oleh genteng sebagai pelindung atap hahaha...

Satu hal yang kurang saya kuasai dalam hal urusan printilan rumah adalah mengecat. Iya, aktivitas membuat dinding lebih berwarna ini ternyata bukan hal gampang lho. Sama kayak mengecat rambutlah. Bedanya, kalau mengecat rambut bisa dilakukan di salon sementara ngecat rumah mau nggak mau musti dikerjain sendiri, atau sekalian satu paket bareng tukang waktu renovasi.  Dan biasanya, urusan mewarnai dinding rumah ini jadi tanggung jawab bokap. Tapi kan nggak mungkin dong selamanya menyerahkan urusan ngecat ini ke bokap, atau tukang. Syukur-syukur bisa ngecat berdua orang yang udah membuat hidup saya lebih berwarna. Ihiiiiy.... /o/ 

Weekend lalu, saya beruntung termasuk salah seorang yang berkesempatan mengikuti workshop singkat tentang teknik pengecatan dari ahlinya yaitu Kansai Paint: brand yang sudah lebih dari tiga dekade eksis di bidangnya.  Dan, saya baru tau kalau ternyata Kansai Paint ini nggak cuma punya cat tembok melainkan banyak banget variasi produknya: dekoratif, pelindung gedung, pelapis kayu untuk produk alat musik, industri alat berat, sampe otomotif juga. Lengkap yak? 





Dari workshop ini juga saya mendapatkan ilmu baru tentang gimana mengecat yang benar supaya awet. Iya, ternyata bukan cuma urusan percintaan aja yang perlu tips dan trik biar awet ya... Begini caranya (cara mengecat, bukan tips percintaan!):





Sama seperti memoles wajah dengan make up, dalam mendandani dinding yang perlu dilakukan pertama kali adalah membersihkan permukaannya dari segala kotoran dan noda. Setelah itu, baru deh lakukan pemolesan dengan cat dasar yang fungsinya mirip BB cream atau foundation itu sebelum dipercantik dengan cat pilihan sesuai keinginan kita. Gampang ya?

Oh ya, yang saya gak suka dari urusan cat-mengecat ini adalah bau cat yang melekat sampai berhari-hari sungguh bikin mual. Mirip kenangan buruk sama mantan berkelakuan menyebalkan gitu deh. Menyiasati hal ini, Kansai Paint mengeluarkan produk dengan keharuman apel. Karena wangi jeruk terlalu mainstream hahaha.. untunglah tim litbang Kansai Paint nggak pernah punya pemikiran bikin cat wangi durian! *sujud syukur* Menariknya lagi, Kansai Paint juga merilis cat anti bakteri. Lho kok bukan antijamur sih? Iya, karena jamur bukan musuh melainkan makanan. Eh nganu, maksudnya karena di negara tropis ini bakteri juga ikutan tumbuh subur kan? We never know, kapan dia bisa hinggap di dinding dan kemudian menularkan pada penghuni rumah. Karena wujudnya yang nggak kasat mata, tentu saja si bakteri ini lebih membahayakan daripada jamur. Iya, kalau dinding kita berjamur jejaknya akan segera tampak dan kita bisa memberantasnya. 

Satu inovasi yang diluncurkan Kansai Paint adalah menggunakan wadah cat food grade. Hal yang mungkin belum terpikirkan produsen produk sejenis. Menggunakan bahan food grade sebagai kemasan cat memang gak lazim, tapi ternyata cukup penting lho. Pernah lihat tukang gorengan menggunakan ember buat wadah adonan tepungnya? Nah, kalau aja ember yang dipake tukang gorengan tersebut food grade pastilah kita lebih nyaman dan aman. Perkara bahwa itu adalah bekas kaleng cat sih urusan mindset ya.. kalau perlu kemasannya dipercantik supaya hilang identitas catnya. Mengurangi lagi satu masalah sampah di muka bumi.

Iseng-iseng saya ngintip "pantat" kaleng cat Kansai Paint dan menemukan logo ini sebagai bukti:




Buat yang mau mengubah warna rumahnya jadi lebih cantik dan centil, bisa nih mempertimbangkan Kansai Paint sebagai pilihan. Kalau bingung mau pilih-pilih warna, Kansai Paint juga menyediakan konsultasi lho di facebook fanpage-nya. Asik kan?

Thursday, April 17, 2014

Belajar Bikin Pitsa di L'Osteria

Kamu suka pitsa?

Saya juga. Dan kalau ditanya, pitsa yang saya suka tentu saja saya lebih suka pitsa tipis ketimbang pitsa tebal itu. Bukan sok diyet, tapi emang perut saya yang picky gak mau menerima konsumsi tepung terlalu banyak. Bicara soal pitsa, awal bulan ini saya diajak mencicipi sebuah resto Italia di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kawasan yang tentu saja terkenal dengan makanan enak-enak dan tempat nongkrong ini menyimpan satu kekayaan kuliner ala barat seru. Namanya L'Osteria dan berada di jalan Ciranjang. 

Relatif mudah dijangkau dengan kendaraan umum, butuh usaha sedikit jalan kaki memang untuk mencapai restoran bernuansa homey ini. Gak jadi soal, karena kawasan Ciranjang yang masih dinaungi pohon cukup nyaman untuk dijajaki dengan jalan kaki. Dengan catatan, hindari high heels macam stilletto ya XD 

Kalau selama ini saya hanya jadi penikmat si roti bundar, kali ini saya dipersilakan menjelajah hingga ke "area pribadi" mereka alias dapur. Sebetulnya sih nggak private-private amat kok, ada jendela kaca yang memungkinkan tamu untuk ngintip proses pembuatan aneka sajian lezatnya. Saya kebagian bikin pitsa, penasaran juga sih gimana caranya menghasilkan pitsa enak ini. Dan ternyata...

Menciptakan landasan pitsa itu gak gampang sodara-sodara!
Pengalaman bantuin ibuk bikin pastel dan nastar dulu, nggak cukup untuk menghasilkan dough dengan ketebalan pas. Apalagi di L'Osteria ini pitsanya dipipihkan secara manual. Butuh teknik tersendiri dan perhitungan matematis yang stratehis demi menciptakan bundaran pitsa tsakep... Di tahap ini saya menyerah dan mengembalikan dough pada mas chef



Memulas permukaan dough.

Lebih mudah ketimbang memulas eyeliner di mata sih, setidaknya menurut saya yang gak pernah kelilipan eyeliner cair sampai mata jadi item-item.  Cukup oleskan saus tomat (yang sudah disisipi rempah-rempah Italia dan beraroma lezat itu) secukupnya pada dough. Berhubung saya termasuk yang meyakini mazhab khasiat-likopen-pada-tomat-akan-lebih-mantab-kalau-dimasak maka saya pun tanpa ragu memulaskan saos sampai permukaan dough memerah macam blood moon yang baru saja kejadian kemarin. Hasilnya? Saya dipelototin mas chef hahahaa.... 

Topping.. 
Pitsa yang dibuat di cooking class kali ini adalah Formagi. Menggunakan empat jenis keju sebagai topping: ementhal, parmesan, gorgonzola, dan mozarella yang boleh ditaburkan sesuka hati. Karena sifat keju yang mudah meleleh pada suhu tinggi, tentu saja semakin banyak keju semakin yummy pitsa yang dihasilkan. Hail lemak membuat pitsa makin gurih! Bonus berupa smoked beef (atau pepperoni ya? Saya gak ngambil ini sih) dan jamur juga sah ditambah supaya pitsa gak monoton. Karena saya penyuka jamur, populasi saprofit ini tentu saya bikin berlebih.

Membakar pitsa!
Ini saat yang mendebarkan. Pitsa yang sudah rapi dan lengkap dengan polesan dibakar di tungku dengan kayu rambutan sebagai bahan bakarnya. Dikabar ya, bukan dipanggang. Katanya sih pitsa yang dihasilkan dari metode ini lebih otentik rasanya (and proven then!). Cukup lima belas menit untuk menghasilkan pitsa yang krispi dengan kematangan pas. Problem terbesar adalah menyerok pitsa yang lembek dari meja untuk dipindahkan ke tungku. 

Dan inilah pitsa formagi ala ala nagacentil...



Selain pitsa, L'Osteria juga punya menu lain yang nggak kalah seru, salah satunya spaghetti aglio olio berwarna hitam dari tinta cumi. Rasanya? Enak pake banget! Saya sendiri termasuk golongan penyuka pasta tumisan ketimbang guyur, Asia banget ya? Sayangnya pas kelas bikin spaghetti ini saya nggak kebagian space (padahal cukup kecil buat nyempil-nyempil) hiks...

Foto oleh Goenrock


Wednesday, April 16, 2014

Film Jalanan Yang Sarat Pelajaran

Kalau kamu Jakartans, dan mengandalkan kendaraan umum serta gak sungkan jalan kaki menyusuri kepadatan metropolitan, bisa jadi kamu akan sangat dekat dengan kehidupan yang dilukiskan di film Jalanan ini.


Dan saya beruntung, punya kesempatan menonton film yang jadi jawara di festival Busan ini hanya berselang dua hari penayangan perdananya bareng temen-temen relawan Akber Jakarta. Dengan kondisi bukan penggila film yang hobi memenuhi kursi bioskop ketika film terbaru ditayangkan (tipe yang males nonton sendirian!) tentunya ketika ajakan nobar ini dilemparkan saya langsung mengiyakan tanpa pikir panjang.



Jalanan, merekam kehidupan tiga pengamen jalanan: Ho si gimbal, Boni penikmat hidup dan Titi, ibu tiga anak yang berjuang sendirian. Meski berlabel film dokumenter, Jalanan jauh dari membosankan. Entah karena film ini bermuatan musikal, atau akting natural pemainnya yang kerap melontarkan quotes satir dan mengundang penonton terbahak atau bahkan spontan bertepuk tangan memberi applaus (dikiranya live show hahaha).

"Gue sih cinta Indonesia, tapi gak tau deh Indonesia cinta sama gue apa nggak", kata Ho yang punya nama asli Bambang, punya prinsip nikmati hari ini sehingga gak pernah ambil pusing dengan penghasilannya cukup atau nggak buat besok. Dan akhirnya melabuhkan hatinya pada Lela, janda cantik beranak tiga yang ditemui saat turun dari bajaj. Don't judge a book by its cover kayaknya pas buat Ho ini. Di balik tampang sangar dan slengean, Ho juga punya naluri kebapakan yang mudah tersentuh senum polos Tegar, bungsu dari Lela. Bandingin deh sama kasus "bayi lucu" yang dibuang calon bapak tirinya karena dianggap ngeganggu waktu berpacaran sama si ibuk... hih!

Boni, yang tinggal di kolong jembatan di kawasan Sudirman (kalo sering naik CommuterLine pasti tau lokasinya deh) menyulap "sarang"-nya menjadi istana senyaman Grand Hyatt. Meski pada akhirnya Boni harus terusir dari istananya karena pembenahan kolong jembatan untuk mengurangi banjir, Boni nggak lantas merasa dizalimi macam PKL atau warga penghuni tanah pemerintah yang ogah hengkang. Iyalah, Boni nyadar kalau yang dia tempati bukan haknya. Mustinya semangat Boni ini ditulari ke para PKL yang suka protes pas digusur ya hahaha... 

Titi, punya suara bagus dan terobsesi sama musik. Diceraikan suami karena kerjaannya membuat perempuan berdarah Jawa ini kerap malam, kebangetan juga sih suaminya (yang kerjanya masih serabutan itu). Lha selama ini duit ngamen istri 25% dialokasikan ke dia buat beli rokok dan makanan ikan, terus karena si istri nggak bisa jadi full time housewife lantas dipegat gitu? Ckckck...  Untungnya kisah Titi yang pantang menyerah ini berakhir dengan happy ending. Sempat putus sekolah, akhirnya Titi beres menggondol ijazah lewat Kejar Paket C demi pekerjaan yang lebih baik. Nggak mau ambil ijazah "nembak" karena haram (alhamdulillaah). 

Titi memang bukan ibu sempurna yang 100% waktunya ada di rumah, dekat sama anak. Tapi pengorbanannya mengumpulkan receh dengan segala risiko ngamen di Jakarta yang rawan pelecehan musti saya kasih dua jempol. Bandingin deh sama ibu-ibu lain yang tega "ngejual" anaknya buat menangguk uang lebih banyak, baik lewat persewaan maupun ngamen bareng. 

Mumpung Jalanan masih tayang, boleh kok kamu sempatkan luang sepulang kantor nanti. Dengan layar terbatas (setau saya cuma di Blok M Square, Senayan dan Grand Indonesia) rugi kalau akhirnya film bagus ini kelewat. Mudah-mudahan sih kelak Jalanan ini dibikin DVD-nya, untuk kemudian jadi tontonan bareng buat mengingatkan kita supaya selalu bersyukur dan tetap sensitif :)

#AkberNobar
foto by @dbrahmantyo




 

Tuesday, April 01, 2014

Science Is Fun!

Apa yang kepikiran di kepala mendengar kata "sains"?

Kebanyakan dari kita mungkin langsung tergambar: lab dengan harum zat kimia, komponen logam untuk merakit robot, hingga tubuh beku berbau formalin lengkap dengan figur oara saintis berkacamata dan culun tentu saja. Setidaknya itulah yang biasa terpampang di banyak media, termasuk film cheesy :) Sebagai alumni fakultas yang melahirkan banyak saintis (seharusnya sih), stereotipe itu nggak sepenuhnya salah. Meski gak seratus persen bener! Coba deh main-main ke kampus biru hitam dan temukan figur berpenampilan menarik di sana, termasuk para pengajarnya hehehe... 

Sains itu mumet? Coba lihat video ini deh.. 


Seru kan?

Sebagai salah satu cabang ilmu yang (seharusnya) lekat dengan keseharian kita, mustinya sains bisa disampaikan dengan cara yang menyenangkan.  Sayangnya, waktu saya sekolah dulu praktikum sains secara langsung bisa dibilang mahal. Masa SD dan SMP saya cukup puas membayangkan anatomi perut marmut cuma lewat serangkaian gambar berwarna.  Syukurlah di SMA guru biologi saya cukup rajin menggiring kami ke laboratorium untuk mengintip bagaimana tampilan mikroskopis dari akar bawang merah sebagai simbol fase pertumbuhan sel. Dan mengenal sifat-sifat unsur kimia dilalui dengan ledakan manis dari bongkahan natrium yang dilempar dalam genangan air. Seru! 

Seandainya ya, pengajaran sains bisa menyenangkan seperti dalam video tadi, mungkin ungkapan: "gue kan anak fisika ngapain sih belajar biologi" yang pernah terlontar dari teman kuliah saya dulu nggak perlu ada. Minimal dia tau, bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya sehari-hari berbasis sains.  

Sama kayak matematika yang juga dibuat njelimet, dulu banget di TVRI pernah meraja serial impor dengan tema matematika. Salah satu ciri khasnya adalah menampilkan rumus-rumus matematika dalam bentuk lagu yang tentu aja gampang diingat kayak gini: 


Ada banyak banget sih sebetulnya yang bisa dilakukan untuk membuktikan kalo sains juga fun. Jalan-jalan langsung ke alam terbuka tentunya akan lebih mengena ketimbang menghapalkan banyak sekali nama latin tanaman dari lembaran buku literatur. Mudah-mudahan sih lahan bebasnya gak segera kegusur dan berubah jadi mall baru ya :)



Wednesday, March 26, 2014

Chat Messenger Kamu, Secepat Apa?

Aplikasi apa yang paling banyak ditanamkan di ponsel pintarmu?

Kalau saya sih, selain social media tentu saja messenger. Ketauan kan kalo saya ini tukang ngobrol--online maupun offline, hehehe...  Berhubung lingkaran pertemanan saya juga banyak, maka aplikasi messenger yang dipakai pun ikutan beragam menyesuaikan dengan siapa saya berinteraksi (baca: tergantung pada tipe ponsel yang dipunyai temen/grup chat). Parameter jenis ponsel kemudian bertambah lagi dengan kecepatan loading dari aplikasi yang digunakan. Nggak seru kan kalau sampe ada yang leave grup karena aplikasinya gak menunjang buat jadi yang ter-updated saking leletnya. Yang ada malah jadi kudet. 

Dari sejibun aplikasi ngobrol yang dibenamkan dalam ponsel pintar saya, ada satu yang menurut saya sih cukup representatif untuk dijadikan andalan hehehe.... Sebetulnya, ini aplikasi lawas. Saya kenal dari tahun 2011, waktu itu ponsel pintar bersistem operasi android baru aja dalam proses cicip-cicip dan belum se-heits sekarang (setidaknya di lingkungan saya sih!).  Cuma, popularitas si KakaoTalk--nama aplikasinya--memang masih kalah digdaya dibanding messenger besutan ponsel buah berry hitam yang di masa itu masih berjaya. 

Dalam kurun waktu dua tahun, gak disangka aplikasi dari negeri ginseng ini langsung bikin gebrakan macem-macem: mulai stiker karakter yang unyu-unyu sampe perbaikan fitur yang bikin pengguna makin nyaman. Yang terbaru ini, KakaoTalk memperbarui kecepatan loadingnya sehingga buat warga pinggiran macam saya ini nggak lagi musti bete karena telat respon di grup chat. Dengan status internet E dan H+ rasanya mustahil bisa berinteraksi via chat begitu sampai di kasur. Tapi, suatu hari saya dikejutkan oleh notifikasi KakaoTalk saya yang berbunyi nyaring (dan indah!) tepat ketika saya sudah sampai di kamar. Wooo hooo! Makin seru deh ktukeran hosip sambil tentunya disisipi stiker karakter yang nambah banyak jumlahnya itu. Sayangnya nih ya, untuk Windows Phone fitur yang bisa dinikmati nggak selengkap OS lain. Utamanya sih Plus Friends yang sering ngasih gratisan itu. Huh! *banting Lumiya* 

Kalo pengen tau di KakaoTalk bisa ngapain aja, cek di sini ya karena nggak akan cukup satu postingan untuk menjabarkannya. Tsaaaaah... 

Eh ya, berkat fitur speed booster dari KakaoTalk janjian bareng temen-temen buat rame-rame nyambangi kantornya yang kewl itu juga lebih lancar sih. Meskipun chat-nya sambil uji kecepatan koneksi sepanjang jalur CommuterLine Citayam-Jakarta yang 3G-nya sering blank hahaha.  Makanya kemudian sakseus deh foto bareng di lobby sambil nyomotin boneka karakternya *teteup*. 

foto: by Mullie

 

Popular Posts