Monday, March 02, 2015

Nyetarbak Everywhere

Malam minggu kemana?

The ideas of hanging out with friends: chit chat while sipping coffee, taking a culinary journey and watching movies are always cool way to do on weekend. Ngopi-ngopi hepi, biasanya dilakukan di warung kopi. Tapi, kali ini bersama Starbucks, kami (saya dan beberapa blogger lain) ditraktir malem mingguan bareng yang seru banget karena kami berkesempatan icip-icip varian baru Starbuck Via di #SbuxFunMobile yaitu Vanilla Latte. Buat yang belum tau, Starbucks Via adalah varian kopi instan dari kedai berlogo hijau ini. Tinggal seduh air panas dan voila! Sedapnya kopi Starbucks bisa kamu nikmatin di mana aja. 

But, first af all before the party Iced Caramel Chestnut Latte is my choice. 





Foto ini diambil di seputaran Starbucks Fun Mobile yang malam itu mangkal di pelataran Skyline Building Thamrin. Udah pernah lihat mobil ini? Jadi, Starbucks juga punya mobil berisi barisan barista dan perangkat ngopi yang siap menyeduhkan kopi enak buat kamu di mana aja lho. Coba tanya @SbuxIndonesia gimana deh gimana caranya supaya van kece ini bisa tau-tau njedul di lapangan parkir deket kantor kamu. 

Oh ya, ini dia penampakan Starbucks Via Vanilla Latte sedap ituh...



Untuk membuat secangkir vanilla latte enak ini juga gak susah. Yang kamu butuhkan adalah sebungkus Starbucks Via, cangkir tahan panas, dan tentu saja air panas. Bocoran dari mas barista, biar rasanya gak "cemplang" kamu bisa menuangkan maksimum 180ml aja. Kalau mau bikin yang iced, cukup isi cangkir kopi dengan separuh porsi sebelum ditambahkan es batu ya....


Entah kenapa mas Bagus ini kok berwajah sedih ya... f(",) 

Keriaan nggak berhenti di situ aja sih, sebab kami juga dibikin kenyang dengan traktiran sate enak di Sabang yang femeus itu. Namanya Jaya Agung (kayak toko emas ya hahahaa....) dan beneran satenya enak! Meskipun butuh usaha ekstra buat saya yang baru aja menagari gigi-gigi dengan behel hahahaa.... Pilihan saya tentulah sate kambing \o/



Satenya gendut-gendut, dalam keadaan normal enak buat dikunyah. Biasanya setiap order sate kambing saya akan request sambal kecap. Tapi, meski default-nya adalah sambal kacang kok ya tetep enak ya hahaha... apalagi acar timunnya itu. Asem segernya pas banget! Nggak percuma deh Rhesya yang ngundang kami itu emang founder @kopdarjajan yang tau betul makanan enak... Nyam!

Udahan? Belum. Pasca makan enak dan ngopi-ngopi kami masih dimanjakan dengan tontonan bagus film Focus yang baru rilis. 

Makasih banyaaaak Starbucks Indonesia \o/ 

Wednesday, February 25, 2015

The Winning Teen-Team: Oleh-oleh dari #SMWJakarta

Bertahan lebih dari empat dekade buat sebuah majalah remaja tentunya bukan hal gampang ya. Coba hitung, berapa banyak media cetak yang akhirnya tumbang di masa digital ini. Majalah Gadis adalah salah satunya yang tetap berkilau di usia empat puluhan. Beruntung, saya berhasil nyempil untuk mendengarkan sharing dari majalah remaja besutan Femina Group ini di Social Media Week Jakarta kemarin ^^ 

Bertajuk "winning teen market, engage the most dynamic audience" sesi ini adalah salah satu yang banyak peminatnya.  Terbukti dari status SOLD OUT di web SMW Jakarta dan penuhnya kursi saat acara. Selama tak kurang dari dua jam penuturan tim redaksi Majalah Gadis yang insightful betul-betul sarat manfaat buat pemasar yang menyasar remaja. 


Majalah Gadis eksis di banyak platform
Know your audience, adalah kunci dari keberhasilan Majalah Gadis menguasai segmen remaja. Kelewat dinamis alias susah dipegang, early adopter, serta kurang loyal dan gampang pindah ke lain hati adalah karakter umum pasar remaja. Dengan mengetahui dasar-dasar karakter ini, akan lebih mudah buat pemasar menyusun taktik memenangkan hati mereka. 

Dengan pengalaman puluhan tahun menangani pasar ini, apa yang dipaparkan tim Gadis pastinya bisa jadi masukan berharga bagi pemasar. Rumusan pertama, tentu saja Know-The-Toys: cari tahu platform mana aja yang lagi digandrungi remaja. FYI, menurut riset tim Gadis sekarang ini Line jadi kanal yang disukai remaja lho! 

Aturan kedua, setelah mengetahui "mainan" yang lagi tren tentu aja kita harus tahu karakter dari setiap social media platform. Instagram users dengan twitter atau Line pastinya beda-beda karakter kan? Cari tahu juga peak time dari setiap platform untuk meramu aktivasi apa yang paling pas buat diluncurkan.

Udah tahu platform dan karakternya, rule number three: let's play the game! Lewat riset Gadis bisa merumuskan aktivasi yang pas untuk digulirkan ke audiens sesuai dengan karakteristik serta jam-jam sibuk remaja di setiap platform. 

Selanjutnya memelihara hubungan baik lewat engagement adalah aturan keempatnya, caranya tentu lewat konten interaktif yang melibatkan audiens. Untuk bisa menciptakan engagement dengan audiens cari tau juga apa yang mereka suka. Gadis pernah membuat lomba blog fashion, dan di luar dugaan pesertanya membludak melebihi target! Karakter narsis anak muda juga kayaknya jadi hal yang krusial buat dipertimbangkan. Dengan pertimbangan ini juga, instagram bisa jadi platform yang pas bagi brand yang menargetkan remaja buat aktivasi. Tapi hati-hati ya karena peer pressure juga bisa jadi bumerang.

Peer pressure ini dirasakan majalah Gadis ketika mereka memajang Suri, salah satu Gadis Sampul (beauty pageant yang banyak mengorbitkan bintang macam Anindya si Putri Indonesia sampe Dian Sastro mahmud dambaan sepanjang masa) dengan Greyson Chance di sampul majalah. Selain jadi trending (tentu saja gara-gara Greyson nge-tweet dan mention edisi bergambar dirinya!) Suri sempat jadi makian barisan remaja yang patah hati karena foto barengnya dengan sang idola. Peer pressure juga membuat Gadis membuka dua kanal untuk lomba foto busana yang agak terbuka karena menerima aduan dari calon peserta yang ogah di-bully kalau posting foto yang menampilkan bahu indahnya: instagram dan website

Kreativitas dan inovasi yang ditelurkan tim majalah Gadis agaknya menjadi strategi jitu buat melenggang sebagai majalah remaja.  Selain bikin banyak kompetisi berhadiah gadget (yang pasti disuka), Gadis juga berbagi gimmick berupa keterlibatan audiens dalam menentukan edisi tahunan. Lewat serangkaian jajak pendapat dan "audisi" menjaring reporter, lahirlah edisi tahunan bertema "100% made by you" yang perencanaan sampai liputannya dilakoni talenta muda dari pembaca Gadis. Di babak ini saya iri dan nyesel lahir duluan hahaha... T___T

Menguasai semua kanal social media juga strategi Majalah Gadis bertahan. Ini menarik karena nggak mudah melakukan sinkronisasi antar kanal lho. Pertanyaan besar saya soal transformasi dari konvensional ke digital juga terjawab dengan pengayaan individu yang terlibat dalam tim. Gimana mengubah kebiasaan memilih judul dan menulis artikel panjang lebar di majalah ke website juga tantangan tersendiri yang gak gampang lho! Mungkin karena digawangi oleh tim yang selalu berjiwa muda (meski umur terus nambah hahaha) dan haus belajar hal baru majalah Gadis berhasil melalui trial and error dengan buah yang manis. 

Anyway, congratulations to Gadis yang tetap muda di usia empat puluh. Semoga bisa bertahan terus ya.... 


Parenting in Social Media, Oleh-oleh dari #SMWJakarta

Parenting dan social media, dua topik yang saling berkait buat diulik. Kekhawatiran akan banyaknya "korban" internet agaknya membuat topik ini menjadi salah satu yang wajib tersaji di pekan media sosial alias Social Media Week yang baru hadir buat pertama kalinya di Jakarta. 

Di tulisan sebelumnya, saya pernah share tentang betapa (makin) nggak mudahnya jadi ortu di jaman dihital. Bukan mengulang, hanya menajamkan, Amalia Sari atau dikenal sebagai @absolutraia yang adalah ibu tunggal dari seorang remaja putri kemarin berbagi lagi soal parenting di social media. Di talkshow kolaborasi dengan Mommies Daily ini, sekali lagi menegaskan perlunya orang tua melek media. Moms, are you?

Sadar atau tidak, menurut Amalia social media platform pertama yang dikenalkan ortu pada anak adalah YouTube. Video-video yang dianggap edukatif adalah alasan ortu mengenalkan pada balita mereka. Bertambah usia, anak bakal semakin terkepung dengan banyak social media platform. Meski para pencipta menetapkan batasan usia untuk bergabung di platform buatan mereka, seringnya sih ortu cuek dan membiarkan anak berinteraksi di dunia maya lewat pemalsuan umur. Waduh...

Padahal, seperti sering ditegaskan Ainun Chomsun (dan ditegaskan ulang Amalia) bahwa social media tidak ubahnya macam pasar: banyak orang nggak dikenal yang bisa jadi membahayakan si anak. Trus, ortu musti gimana?

Pertama, tentu saja hindari menjadi ortu gaptek. Usia boleh nambah tapi kemauan buat belajar hal baru jangan sampai luntur. Anak-anak yang terlahir di jaman milenium adalah digital native yang cepat sekali mengadopsi teknologi terkini. Wajib buat ortu tau social media apa aja yang lagi digandrungi mereka. 

Platform paling populer di kalangan anak
Kedua, jangan biarkan anak menjelajahi dunia maya sendirian. Selalu pantau dan temani, ibarat ke pasar pastinya kita nggak mau anak keluyuran sendirian di tempat asing kan? Pilihkan social media platform yang pas buat mereka, tapi jangan beri akses penuh buat mereka. Add akun mereka dan pegang password-nya. Rambu-rambu seperti tidak mengijinkan orang asing menambah teman juga harus dikibarkan dengan tegas ya.

Oh ya, di bawah ini ada beberapa slides yang sempet terekam lewat bidikan kamera ponsel saya. Mudah-mudahan cukup jelas ya ...





Sebagai ortu, sebaiknya memang bangun jejaring dengan anak dan teman-temannya atau sebaliknya anak dari teman-teman kita. Stalking is allowed, jika menemukan kejanggalan yang terpampang di status media sosial anak jangan ragu lapor ke ortunya. Percaya nggak, mbak Amalia pernah mergokin status path anak temennya yang begini: "now reading fifty shades of Grey" >,< 

Lepas dari berbagai rambu dan aturan ber-social media yang terpatri, komunikasi yang baik dengan anak jangan sampai terabaikan. 

Well, lepas dari semua tips dan pengetahuan yang dibagikan agaknya PR panjang juga nih buat para praktisi social media melebarkan sayap menyadarkan para ortu untuk segera tanggap media. Saya berharap, ada yang bersedia menyediakan waktunya berbagi secara langsung ke para ortu lewat obrolan seperti ini di banyak lagi wilayah supaya cyber crime atau cyber bullying bisa dicegah...

Friday, February 13, 2015

Semalam Di Ibis Styles

Efek imlek, entah kenapa akhir-akhir ini saya jadi sering banget beredar di seputaran Pecinan. Jika Sabtu lalu Petak Sembilan jadi tujuan jalan-jalan, maka minggu ini kesempatan menikmati malam di kawasan Mangga Dua menghampiri.

Familiar kan sama Mangga Dua Square? Pusat belanja yang letaknya di jalan Gunung Sahari ini memang makin padat dengan aktivitas bisnis. Dengan pertimbangan inilah, jaringan Accor Hotels membuka Ibis Styles. Hunian dengan 211 kamar berdesain modern dan warna-warni, tanpa melupakan kenyamanan sesuai kebutuhan pebisnis. Desain interior dan pernik-pernik di kamarnya memanjakan mata banget.

Kamarnya lucu yaaaa ^^
Sandal secentil ini, sayang buat diinjek-injek ya?
Kebiasaan saya, kalau ke hotel pasti langsung ngamatin printilan kamar mandi. Ketika melangkahkan kaki, seperangkat toilettries dengan desain colorful memikat mata. Selain centil, printilan tersebut ternyata udah dapat sertifikasi sebagai produk yang ramah lingkungan lho!


Tau nggak, kamu juga bisa berpartisipasi mendukung gerakan cinta lingkungan saat menginap di hotel dengan memanfaatkan secara maksimal fasilitas yang tersedia di hotel. Di kamar mandi misalnya, gunakan sabun cair isi ulang yang udah disediakan dan bukan sabun batangan supaya nggak kebuang-buang. Kemudian, sebisa mungkin kalau udah niatan nginap lebih enak sih bawa peralatan mandi (termasuk sikat dan pasta gigi) sendiri. Kalau terpaksa, sebaiknya kamu bawa pulang perlengkapan bekas pakai kamu deh. Mematikan lampu kamar saat kamu tidur juga nggak boleh diabaikan ya. Selain menghemat listrik, tidur dalam keadaan gelap kan lebih bagus buat kesehatan.

Demikian juga handuk, kalau nggak penting-penting amat dan kamu juga memutuskan untuk tinggal berhari-hari rasanya nggak perlu minta cuci handuk deh. Cukup dijembreng sampai kering. Di Ibis Styles, kalau kamu berkomitmen menggunakan ulang handukmu maka akan dikonversi menjadi program penanaman pohon sebagai kontribusi mereka pada lingkungan. Seru ya?

Handuk di Ibis Styles bisa buat "nanam pohon" 

Yuk berpartisipasi mengurangi pencemaran air dengan pakai ulang handukmu
Sejalan dengan konsep modern dan stylish yang diusung, Ibis Styles juga melengkapi dengan mural ala street art di lobby dan ruang makan.

Maaf kak.... fokusnya di mural ^^

Colorful abis! Kecuali modelnya hahaha 
Oh ya, sebagai tamu kamu menikmati wifi dengan kemampuan mumpuni di seluruh area hotel. Buat yang muslim, tersedia juga mushola kok. Jadi nggak perlu khawatir ya.
Oh ya, buat booking dan tanya-tanya bisa klik di sini sih. 

Gimana? Tertarik buat menjadikan Ibis Styles sebagai sasaran tempat menginap kamu kalau kemaleman pulang nonton Java Jazz nanti? 

Tuesday, February 10, 2015

Jajanan Pasar Petak Sembilan

Glodok bukan cuma beken dengan elektronik atau grosir. Melipir sedikit ke Jalan Pancoran, kamu akan menemukan surga budaya Tionghoa di Pasar Petak Sembilan. Karena banyak sekali yang bisa dieksplorasi di kawasan Pecinan ini, maka untuk tulisan pertama saya hanya akan mengupas jajanan hasil blusukan pasar bareng ACMI dan BCA. Oh ya, buat yang belum tahu, ACMI ini komunitas pecinta masakan Indonesia yang digawangi antara lain pakar kuliner William Wongso dan Pak Bondan dengan misi food diplomacy alias menduniakan masakan Indonesia. 

Dimulai dari Kedai Es Tak Kie yang legendaris itu, petualangan kuliner dimulai. Pasca menyantap kopi dan nasi campur sebagai pasokan energi kami menjelajahi pasar Petak Sembilan sambil sesekali norak memotret dagangan "ajaib" yang ditemukan. Ajaib? Iyalah... kalau selama ini ke pasar becek paling nemunya congor sapi lha ini variatif banget: dari avertebrata sampe reptilia =))

Pemberhentian pertama yang menyita mata: teripang basah siap masak. Entah kayak apa rasanya jenis Echinodermata (hewan berkulit duri, masih sodaralah sama bintang laut dan bulu babi) ini. Kata Pak William Wongso sih enak dibumbu ala woku hmmm...

Teripang alias timun laut
Selain teripang, katak juga komoditi yang laris di pasar basah ini. Kalau di Semarang cuma tahu swike dalam bentuk siap santap, di Petak Sembilan saya menyaksikan sendiri barisan mayat katak dan yang masih hidup siap menanti ajal. Lengkap dengan atraksi penjagalan Amphibia berkaki panjang ini.... hiks keinget waktu praktikum bedah anatomi vertebrata ='(
Katak segar
Rebung alias bambu muda segar
Namanya juga pasar, meski nggak becek tapi di slot yang penuh mahluk laut ini tentu aja bau amisnya nggak bisa dihindari ya? 

Selain bahan "segar" di pasar Petak Sembilan juga banyak jajanan bernama unik. Sebut aja pi-oh yang ternyata bulus (masih sodaraan sama kura-kura). Bulus di pasar Petak Sembilan ini hasil penangkaran, bukan nangkap di alam sih. Kemudian ada sekba, yang setelah dicari-cari artinya adalah empat komponen jerohan babi. Dan, yang agak normal buat saya tentu saja bebek tim alias bektim. Buat kamu yang muslim, perlu guide yang paham betul istilah kuliner ini supaya nggak terjebak ya...

Bektim dan sekba
Selain bahan mentah, Pasar Petak Sembilan juga menyimpan puluhan kedai makan yang sudah diwariskan turun temurun. Dengan desain interior yang masih sangat klasik, tentu aja kedai-kedai ini seharusnya jadi spot bagus buat foto-foto kalau terjaga kebersihannya. Salah satu kedai yang relatif aman, Mie Belitong ini. Sajiannya ada dua macam yaitu laksa dan mie Belitong andalannya. Mie Belitong ini minya kayak udon, gede-gede, dengan taburan udang goreng berbalut tepung dan kuah yang kental. Kalau laksanya, buat saya terlalu manis sih. Sajian lainnya ada gorengan seperti combro dan cempedak goreng. 

Kedai Mie Belitong
Mostly jajanan di Pasar Petak Sembilan ini memang statusnya nggak halal sih. Ngohiang misalnya, sajian mirip otak-otak ini memang berbahan udang tapi dibalut lemak babi. Yang populer konon ham Bali, semacam daging asap dari babi yang dijual di Toko Kawi. Buat kamu penyuka babi, silakan mampir deh... 

Ngohiang
Toko ham Bali
Satu lagi toko kelontong yang menjadi penutup blusukan pasar kali ini, konon umurnya sudah mencapai empat generasi. Satu prestasi mengingat kebanyakan bisnis keluarga Tionghoa berujung di generasi ketiga. Tertulis dalam aksara kanji, artinya kurang lebih "abadi-jaya" menurut Dwika. Di toko ini, barang-barang yang dijual kebanyakan bumbu kering dan produk impor. Lumayan aman karena nggak bercampur antara yang mengandung babi dan halal. Pelayannya juga ramah-ramah menjelaskan items yang dijual di sana. Penting banget karena banyak produk-produk yang aneh hihihi... 

Kalo nemu toko kelontong ini, masuk aja...

Nah gimana? Seru kan jalan-jalannya? Di post berikutnya saya bakal nulis perjalanan budaya ke Petak Sembilan. Tunggu aja =)

Monday, February 09, 2015

#EasyMonday Like Sunday Morning

Who loves Monday? I do!
Ada banyak alasan kenapa hari Senin layak dicintai, seperti kamu menantikan akhir pekan.
Dan lebih banyak lagi cara membuat Seninmu lebih mudah dan indah.

Make your weekend colorful!
Manfaatkan akhir pekanmu secara maksimal untuk melakukan kegilaan dan menghadiri keriaan, sebagai penyegaran. Nggak perlu tamasya ke Eropa, ngobrol dengan keluarga atau sahabat juga bisa membuat kamu lebih fresh menemui Senin lho. I did it last nite, having a chit chat session with family is much fun!

Piknik
Nah, ini juga cara asyik buat menyegarkan akhir pekanmu. Piknik nggak harus jauh, coba eksplorasi seputar kotamu. Sabtu lalu saya melewatkan setengah hari dengan blusukan di kawasan pecinan Petak Sembilan dan ternyata luar biasa sekali! Tunggu cerita serunya di sini ya *BRB impor foto dari kamera*


Jalan-jalan ke Petak Sembilan, gak jauh tapi cukup buat penyegaran

What-To-Wear on Monday?
Nah ini bagian yang paling saya suka, nge-mix and match pakaian jadi stylish itu menantang lho. Coba bongkar lemari kamu dan temukan harta karun yang bisa menjadi modal kamu bergaya. Inspirasi buat tampil fashionable nggak cuma dari majalah mode, tapi juga pinterest. Maximize your smartphone guys! Rainy day? Kesempatan buat mamerin winter collection kamu dan upload di instagram dengan hashtag #OOTD nih =D Get the benefits by uploading your stylish Monday


Be stylish to refresh your Monday
Sarapan!
Jangan sampe lupa. Apalagi buat saya yang menghabiskan setidaknya 30 menit buat berdiri di CommuterLine. Sarapan akan memasok energi buat beraktivitas pleus menghindari kamu dari obesitas. 

Musik
Macet udah santapan sehari-hari banget kan? Nah, biar nggak bosan putar musik sepanjang perjalanan. Sebelum berangkat, pastikan baterai pemutar musikmu terisi penuh. Biar nggak bosan, coba dengerin siaran pagi via aplikasi radio streaming. Penyiar pagi selalu punya sejuta ide dan kreativitas yang bikin jalanan macet nggak ngebosenin *menjura*

Smart Device for Easy Work

Udah nggak jaman lagi work hard lho, sekarang trennya work easy, play hard. Buat yang mobilitasnya tinggi kayak saya, membopong laptop berukuran 14 inch pastinya akan merepotkan. Selain menambah beban hidup yang udah berat *sigh*, seringkali terbentur pada masalah umur baterai yang terbatas. Kebayang nggak, ketika saya terpaksa kerja remote sementara nggak nemu tempat kerja kafe yang dilengkapi colokan? (Jangan kaget, masih ada kok tempat makan yang nggak menyediakan colokan memadai). So, kalau saya sih memilihi perangkat yang bisa mendukung remote working. Udah pasti buat seorang commuter perangkat tersebut haruslah berbodi tipis dan ringan sehingga cukup untuk dijejalkan bersama isi ransel saya yang lain.

Selain langsing, perangkat impian untuk memudahkan Senin tentu saja harus mumpuni dari sisi spesifikasi. Dan, sebagai pengguna OS Windows kesesuaian sistem operasi pastinya jadi keharusan. Nggak mau banget kan repot musti konversi file dari rekan kerja karena beda OS? Cinta beda keyakinan (kamu yakin dianya nggak) aja bikin susah, apalagi kerjaan beda OS... >,< 

Ada yang memenuhi syarat-syarat itu? Ada dong, nih Acer One 10. Tablet hybrid berukuran 10 inci yang sudah dibenamkan Windows 8.1 dan Office 365 (nggak perlu ribet lagi beli lisensinya!) yang dilengkapi kemampuan bertransformasi menjadi empat mode: notebook, tent, display, dan tablet. Fungsi-fungsi lain selayaknya notebook seperti USB port dan micro HDMI juga dibenamkan dalam tubuh tablet hybrid seberat 0,6kg (sama dock-nya cuma 1,25kg) yang tahan 7 jam ini. Jangan khawatir bakal lemot karena si langsing ini juga dipersenjatai dengan prosesor QuadCore! Tsakep ya? 


Display Mode, cocok buat anak ahensi presentasi =D 

Nah, itu tips saya untuk membuat Senin jadi lebih mudah (dan indah).
Kalau kamu?


Tuesday, February 03, 2015

Bring The Food, Share The Joy

Sabtu malam lalu, dalam perjalanan menuju Bogor Citayam saya tergugah membaca timeline @malarea yang membahas tentang #foodwaste alias sampah basah berupa makanan sisa. Topik ini memang selalu menggoda buat saya ....


Percakapan tentang #foodwaste ini kemudian berujung pada perkenalan dengan sebuah akun social movement @bring_the_food 


Akun berbasis Italia ini ternyata juga dilengkapi website lho!

Di situsnya dijelaskan maksud kampanye ini adalah mengurangi sampah makanan sekaligus menurunkan tingkat kelaparan. Gimana caranya? Sederhana saja, setiap kali kita makan di resto dan kemudian menyerah karena porsinya terlalu banyak kita bisa memboyong makanan tersebut untuk kemudian dibagikan pada yang kelaparan.

Hal simpel yang sebetulnya sudah lama saya praktekkan. Let's flash back!

Waktu kecil, Ibu saya selalu memaksa anak-anaknya makan sampai habis tanpa menyisakan sebutirpun dengan alasan nasinya bakal nangis kalau gak dimakan. Kalian juga mengalami hal yang sama kan? Meskipun saya nggak pernah mendengar tangisan nasi, ada perasaan bersalah melihat tumpukan makanan sisa di tempat sampah.  Makanya, mohon maaf kalo saya seringkali memboyong makanan yang nggak habis itu dalam lunch box lipat atau meminta pelayan buat dibungkus. Tujuannya selain untuk dikonsumsi sendiri juga siapa tahu ada yang bisa saya bagi-bagi di jalan. 

Kamu juga bisa melakukan kebaikan kecil seperti #BringTheFood ini lho...

Biasakan untuk makan secara "bersih" dalam arti nggak mencampur-campur semua makananmu secara acak sehingga terlihat kayak buntelan sampah. Tujuannya, kalau kamu memang nggak bisa menuntaskan makananmu maka kamu bisa membawanya pulang untuk diberikan kepada yang butuh. 

Keinginan terdalam saya, resto-resto dan toko makanan yang seringkali menyingkirkan makanan yang nggak habis dalam hari itu ke pembuangan terakhir, melabuhkannya buat gelandangan atau siapa aja yang sering kelaparan di jalanan.  Selain Igor's Pastry kayaknya belum ada yang punya program ini ya? Pernah iseng tanya ke BMK, jawabannya semua makanan yang nggak habis hari itu harus dibuang. Bahkan dibawa pulang pegawai pun nggak diijinkan... sedih mendengarnya T__T

Well, kalau saya ajak kamu menjalankan program #bringthefood ini apakah kamu bersedia?




Tuesday, December 30, 2014

Santa Rahasia

Saya yakin, kamu semua pasti suka kalo nerima kado. Apalagi, kalau kado yang kamu terima itu sesuatu yang kamu butuh atau suka. Dobel hepi! 

Sama kayak kamu, saya juga seneng banget kalo ada yang ngasih kado. Nah di year-end party kantor (baca: makan-makan bareng orang sekantor) kemarin, kami diwajibkan buat membawa satu kado buat temen kantor secara acak lewat undian ambil-nama-dengan-kondisi-mata-ditutup. Dengan jumlah penduduk lebih dari enam lusin, tentunya bukan hal mudah buat mencari kado yang pas sesuai kepribadian si penerima. Ceritanya ala ala Secret Santa gitu deh.... 

Dan inilah kado yang saya terima... 

Menerka-nerka apa isinya... f(^^,)
Tau nggak apa isinya? Nih, it's so me! Hahaha...

Tadaaaa... kalung kece! Yay \o/
Entah siapa Santa Rahasia yang membungkus kalung cantik ini buat saya *batuk kecil*. Yang pasti, diam-diam sebetulnya branding saya yang suka pake aksesoris bisa dikenali oleh satu dari enam lusin manusia di kantor. Huwow!

Tiba-tiba saya inget, dulu di sebuah acara ngaji-ngaji pernah didoktrin kalau tukeran kado itu haram karena dianggap meniru suatu kaum. Entahlah, yang pasti saya merasa tukeran kado ala Secret Santa ini sebetulnya ada poin bagusnya sih. Minimal, setelah saya nerima nama yang gak saya kenal sebagai calon penerima kado, saya akan cari tau siapa orang itu lengkap dengan segala hal terkait personal brandingnya (untuk memudahkan membeli kado tentu saja). Buat sebuah company cara ini tentunya bisa membantu mengenali temen sekerja yang seabrek (yeah, kita nggak pernah tau bakal kerja bareng tim yang mana kan?).  

Mbak mentor, maafkan saya ya kalo saya "melanggar" doktrinmu, sebab saya tidak melihat keburukan di balik kado-kadoan ini. Nggak apa kan? 

Selamat merayakan tahun baru semua \o/  


Monday, December 29, 2014

@GajahYellow

Bukan, ini bukan tentang mbak seleb baru instahram yang sensasional delusional itu. Ini adalah kisah tentang mainan baru saya yang unyu-unyu nan fungsional dan kayaknya sih cucok dikasih nama @GajahYellow kalo penampakannya kayak gini...

@GajahYellow
Sebagai penggila foldable items, kedatangan @GajahYellow dalam lemari tas saya tentu disambut dengan penuh suka cita dan syukur tak terhingga. Melengkapi koleksi benda-benda lipat saya sebelumnya, gajah-tanpa-mata ini sebetulnya bukan gajah biasa lho. Tapi tas belanja (buat nge-gym atau naro oleh-oleh halan-halan juga bisa sih, bebas! Asal jangan buat gendong bayik!) yang bisa dilipat-lipat dan voila! Disulap jadi boneka....

Si @GajahYellow punya banyak teman, begini wujud para gajah kalo dibukaLucu banget kan? Yakan? Yakan?

@GajahYellow yang tergabung dalam manajemen Eleph ini bukan tanpa maksud diciptakan. Sebagai ikon Thailand, Eleph memang memboyong gajah-gajah centil ini ke Indonesia untuk mengampanyekan green lifestyle berupa #dietkantongplastik seperti yang diworo-woro oleh @IDDKP (itu lhoo akun twitter yang sering mengedukasi tentang bahaya plastik, follow gih!). Selain bikin tampilan tambah chic, Eleph yang semua produknya bernuansa gajah ini juga bisa dipake buat mainan dedek-dedek kecilmu kalo lagi halan-halan. 
Menyelundup di antara fashion blogger, boleh ya ^^
Eleph memang ekslusif cuma ada di Central Departmenet Store, tempat belanja premium di East Mall Grand Indonesia (Lumayanlah daripada bela-belain terbang ke Thailand kan... hehehehe =D). Selain memboyong gajah, Central Dept. Store juga mengalokasikan area belanjanya untuk produk lokal juga sih. Sebut aja Ardistia New York, Iwan Tirta, dan Stella Rissa. 

Gerai Iwan Tirta, sang Maestro Batik di Central
Favorit saya selain area fashion adalah printilan dapur yang salah satunya memajang tumbler dengan es batu abadi ini... kece banget! "Jantung" tumbler berupa rangkaian kubus putih berisi cairan yang berfungsi sebagai pendingin jika dibekukan dalam freezer. Kalo mau dipake, tinggal masukkan lagi ke tumbler dan tuang minuman favorit kamu. Minuman bakal tetap dingin tanpa berubah jadi anyep. 

Tumbler dengan es batu ajaib yang nggak mengubah rasa minuman
Masih banyak printilan unik lainnya sih yang bisa kamu bawa pulang dari Central. Kalau bingung nyari kado mampir ke sini deh dan siap-siap lapar mata hahahaha

 

Popular Posts