Tuesday, December 30, 2014

Santa Rahasia

Saya yakin, kamu semua pasti suka kalo nerima kado. Apalagi, kalau kado yang kamu terima itu sesuatu yang kamu butuh atau suka. Dobel hepi! 

Sama kayak kamu, saya juga seneng banget kalo ada yang ngasih kado. Nah di year-end party kantor (baca: makan-makan bareng orang sekantor) kemarin, kami diwajibkan buat membawa satu kado buat temen kantor secara acak lewat undian ambil-nama-dengan-kondisi-mata-ditutup. Dengan jumlah penduduk lebih dari enam lusin, tentunya bukan hal mudah buat mencari kado yang pas sesuai kepribadian si penerima. Ceritanya ala ala Secret Santa gitu deh.... 

Dan inilah kado yang saya terima... 

Menerka-nerka apa isinya... f(^^,)
Tau nggak apa isinya? Nih, it's so me! Hahaha...

Tadaaaa... kalung kece! Yay \o/
Entah siapa Santa Rahasia yang membungkus kalung cantik ini buat saya *batuk kecil*. Yang pasti, diam-diam sebetulnya branding saya yang suka pake aksesoris bisa dikenali oleh satu dari enam lusin manusia di kantor. Huwow!

Tiba-tiba saya inget, dulu di sebuah acara ngaji-ngaji pernah didoktrin kalau tukeran kado itu haram karena dianggap meniru suatu kaum. Entahlah, yang pasti saya merasa tukeran kado ala Secret Santa ini sebetulnya ada poin bagusnya sih. Minimal, setelah saya nerima nama yang gak saya kenal sebagai calon penerima kado, saya akan cari tau siapa orang itu lengkap dengan segala hal terkait personal brandingnya (untuk memudahkan membeli kado tentu saja). Buat sebuah company cara ini tentunya bisa membantu mengenali temen sekerja yang seabrek (yeah, kita nggak pernah tau bakal kerja bareng tim yang mana kan?).  

Mbak mentor, maafkan saya ya kalo saya "melanggar" doktrinmu, sebab saya tidak melihat keburukan di balik kado-kadoan ini. Nggak apa kan? 

Selamat merayakan tahun baru semua \o/  


Monday, December 29, 2014

@GajahYellow

Bukan, ini bukan tentang mbak seleb baru instahram yang sensasional delusional itu. Ini adalah kisah tentang mainan baru saya yang unyu-unyu nan fungsional dan kayaknya sih cucok dikasih nama @GajahYellow kalo penampakannya kayak gini...

@GajahYellow
Sebagai penggila foldable items, kedatangan @GajahYellow dalam lemari tas saya tentu disambut dengan penuh suka cita dan syukur tak terhingga. Melengkapi koleksi benda-benda lipat saya sebelumnya, gajah-tanpa-mata ini sebetulnya bukan gajah biasa lho. Tapi tas belanja (buat nge-gym atau naro oleh-oleh halan-halan juga bisa sih, bebas! Asal jangan buat gendong bayik!) yang bisa dilipat-lipat dan voila! Disulap jadi boneka....

Si @GajahYellow punya banyak teman, begini wujud para gajah kalo dibukaLucu banget kan? Yakan? Yakan?

@GajahYellow yang tergabung dalam manajemen Eleph ini bukan tanpa maksud diciptakan. Sebagai ikon Thailand, Eleph memang memboyong gajah-gajah centil ini ke Indonesia untuk mengampanyekan green lifestyle berupa #dietkantongplastik seperti yang diworo-woro oleh @IDDKP (itu lhoo akun twitter yang sering mengedukasi tentang bahaya plastik, follow gih!). Selain bikin tampilan tambah chic, Eleph yang semua produknya bernuansa gajah ini juga bisa dipake buat mainan dedek-dedek kecilmu kalo lagi halan-halan. 
Menyelundup di antara fashion blogger, boleh ya ^^
Eleph memang ekslusif cuma ada di Central Departmenet Store, tempat belanja premium di East Mall Grand Indonesia (Lumayanlah daripada bela-belain terbang ke Thailand kan... hehehehe =D). Selain memboyong gajah, Central Dept. Store juga mengalokasikan area belanjanya untuk produk lokal juga sih. Sebut aja Ardistia New York, Iwan Tirta, dan Stella Rissa. 

Gerai Iwan Tirta, sang Maestro Batik di Central
Favorit saya selain area fashion adalah printilan dapur yang salah satunya memajang tumbler dengan es batu abadi ini... kece banget! "Jantung" tumbler berupa rangkaian kubus putih berisi cairan yang berfungsi sebagai pendingin jika dibekukan dalam freezer. Kalo mau dipake, tinggal masukkan lagi ke tumbler dan tuang minuman favorit kamu. Minuman bakal tetap dingin tanpa berubah jadi anyep. 

Tumbler dengan es batu ajaib yang nggak mengubah rasa minuman
Masih banyak printilan unik lainnya sih yang bisa kamu bawa pulang dari Central. Kalau bingung nyari kado mampir ke sini deh dan siap-siap lapar mata hahahaha

Friday, December 05, 2014

Tiga Ksatria ZTE



ZTE unjuk gigi lagi. Diluncurkan pekan lalu, gak tanggung-tanggung tiga ponsel cerdas diusung ZTE ke tanah air, ketiganya dari Blade series. ZTE yang memilih tema “I Think In Blade” percaya setiap orang pasti bisa menemukan satu smartphone dari seri ini yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Selain Blade Vec Pro, dua seri lain yaitu Blade G Lux dan Blade G juga tidak kalah menjanjikan dari segi fitur dan desain. 

Tadaaaa.....

Cool, Green, dan Open: tiga kata kunci yang menggambarkan hal tersebut. Dengan pengalaman lebih dari 16 tahun sebagai produsen ponsel, bukan hal sulit buat ZTE menelurkan produk-produk berkualitas. Salah satunya yang sudah dilepas Ramadhan lalu ada Nubia, si cantik yang pernah saya bahas sebelumnya di sini.

Melirik fitur-fitur yang ditawarkan, terutama Blade Vec Pro, rasanya gak mungkin untuk gak tergiur, Prosesor True Octa Core yang ditanamkan dalam tubuh setipis 7,5 mm ini menjamin kinerja yang mumpuni. Mengakomodir kebutuhan merekam gambar, Blade Vec Pro juga dipersenjatai dengan kamera 13 MP + kamera depan 5MP. Kece….
ZTE Blade Vec Pro, the Flagship
Dua seri lainnya yaitu ZTE Blade G Lux dan Blade G juga gak kalah bikin ngeces. Blade G Lux dengan desain ringkas ini sudah mengantongi sistem operasi Android Kitkat dan diklaim sebagai ponsel dengan prosesor 1,3 GHz dual core termurah. Layar anti gores selebar 4,5 inci yang dimiliki kayaknya pas banget buat yang rada sembrono atau hobi ngantongin ponsel di saku kayak saya hahaha…   Buat mahasiswa dan early jobber, seri ini bisa jadi rekomendasi.
ZTE Blade G Lux, tampilannya wah yah...
Sementara si bungsu, ZTE Blade G yang menyasar segmen low end menawarkan user interface dan OS yang mudah dioperasikan. Dibandrol di kisaran 700ribu rupiah, ponsel android kitkat ini pas buat pengguna pemula yang ogah ketinggalan gaya. Lagi-lagi, desainnya juga tipis dan manis.

ZTE Blade G, gaji pertama beli ini aja!

Nggak sabar kan nunggu ketiganya masuk Indonesia? Tunggu aja, kabarnya dalam rentang sepekan dari tanggal peluncurannya Blade Series terbaru ini bakal segera menyambangi tanah air kok. Saya juga nggak sabar sih hehehe...
  

Tuesday, November 25, 2014

SL Lounge: Beranda Di Jantung Jakarta

Jakarta, punya banyak pilihan tempat jajan: kakilima sampai fine dining resto. Mungkin jumlahnya mencapai jutaan, jika warung makan sekelas warteg masuk hitungan. Saya belum menemukan surveinya =D Yang jelas, sebagai penikmat makanan (meminjam istilah Laksmi Pamuntjak dalam Arunda dan Lidahnya: gourmet, bukan gourmand) petualangan kuliner selalu menjadi wisata tersendiri yang menyenangkan.

Adalah SL Lounge, tujuan petualangan jajan saya yang kali ini disambangi. Rejuvenasi dari resto St. Louis di Plaza Indonesia, selain bermigrasi resto ini juga bersalin nama menjadi SL Lounge yang bernuansa rumahan (bahasa kerennya homey!) ini menyasar warga kelas AB sebagai tamu tetap. Lokasinya di Jalan Teluk Betung memang bukan kawasan murah. Hanya berjarak sekian puluh langkah dari mall mewah di dekat Bunderan HI. 




Saya datang tak jauh dari tanggal buka resmi resto ini sehingga karangan bunga dan ucapan selamat masih menjadi penghias pintu masuk hehehe =D

Senada dengan banyak sekali resto sejenis di selatan Jakarta, SL Lounge memilih desain yang bernuansa sangat rumah: kursi yang tidak seragam salah satunya. Sehingga, saya bisa memilih mau duduk di sofa yang rileks atau meja makan ala aristokrat. Penataan ini nampaknya disengaja supaya siapa pun yang datang: keluarga atau pasangan, tetap bisa menikmati kebersamaan sambil menyantap beragam sajian.





Pencahayaan yang tak terlalu melimpah juga menambah kesyahduan, apalagi buat yang butuh menyepi ... 

Sajian di SL Lounge sendiri tidak terlalu spesifik, masih berkutat di Eropa dan Asia dengan pembagian sarapan, makan utama, dan penutup. Termasuk makanan khas Indonesia seperti soto mi yang digadang-gadang sebagai unggulan. Sayang perut saya keburu penuh sehingga nggak sempat menyicipi soto berkuah bening ini. 

Untuk "pemanasan" pasca hujan yang menyiram Jakarta, saya memilih mushroom soup. Tersaji dalam roti bulat, mushroom soup gurih dan hangat dalam sekejap memenuhi rongga abdomen saya. Lumayan mengenyangkan! Oya, untuk main course yang saya pesan malam itu adalah pasta aglio olio dengan campuran seafood dan bumbu pedas.



Dengan porsi, yang seperti biasa terlalu banyak buat lambung mungil saya hahaha, pasta dari kelompok penne ini mirip samudera Indonesia: biota laut dari jenis udang, cumi, serta ikan dan kerang yang melimpah ditambah cabai kering. Enak meski menurut saya masih kurang pedas. Mungkin menyesuaikan lidah ekspatriat yang sering mampir ya... 

Menutup santap malam, Crème brûlée tertata cantik dalam gelas kaca. Lembut-gurih campuran kuning telur dan susu dalam dessert asal Perancis ini terlindungi secara paripurna oleh lapisan tipis karamel yang legit dan garing pada permukaannya. Crème brûlée sendiri mengandung arti "krim gosong". 

  



Kenikmatan perut dengan komposisi mushroom soup-iced lychee tea-penne aglio olio-
Crème brûlée ini kurang lebih setara dengan dua lembar pecahan rupiah bernilai nominal tertinggi.  Ya bolehlah kalau buat meeting dengan klien (bisa di-reimburse hahaha!) atau kencan istimewa.





Thursday, November 06, 2014

Go Walk Pink Ribbon: Care and Action!

Late is better than never, tapi ya jangan sampe telat untuk mengetahui tentang kanker payudara lho! Sebagai cewek, kesehatan organ tubuh itu penting, termasuk payudara. Dengan rasio 100:1 kasus kanker pada wanita versus pria, perlu banget untuk waspada dan peduli pada penyakit mematikan ini lho. Makanya, Oktober lalu pun disepakati menjadi bulan kepedulian kanker payudara.

Biar makin banyak yang aware, beragam event digelar. Salah satunya jalan santai #GoWalkPinkRibbon di pelataran fX Sudirman bulan lalu. Mall yang identik dengan tempat nongkrong para pelari itu di Minggu pagi mendadak penuh warna merah jambu: simbol kepedulian kanker payudara. 

Pasukan Merah Jambu
Serunya jalan kaki mengitari fX-Semanggi ini bukan cuma diikuti kaum Hawa. Beberapa cowok juga ikutan meramaikan sebagai bentuk kepedulian. Acara jalan santai ini dibuka oleh bu Linda Agum Gumelar, salah satu survivor kanker payudara. Beberapa pejalan kaki juga ternyata survivors lho! Ah, sayang saya nggak sempet ngobrol bareng sama mereka. Bisa diulang nggak ya?

Sebagai brand yang punya lini produk kecantikan, Panasonic dengan rangkaian Panasonic Beauty-nya yang ciamik (kapan terakhir kali denger kosa kata ini?) juga ambil bagian jadi co-sponsor.  Apa hubungannya dengan kanker payudara? Nah, kamu ingat Dinda Nawang Wulan (@dindashimmerinc) yang survivor kanker payudara itu kan? Kemudian ada Talia Castellano, gadis cantik pengidap kanker neuroblastoma yang akhirnya menyerah di usia sangat belia. Dua nama tersebut adalah contoh survivor yang berjuang dan berkiprah lewat make up tutorial untuk tetap tampil cantik. So, dengan dukungan produk Panasonic Beauty para survivors ini pun bisa tampil secantik Dinda dan Talia. 

Menyelingi hiburan dari para penampil pesohor, di sini juga diserahkan bantuan dana dari para sponsor termasuk Panasonic untuk Yayasan Kanker Indonesia. Tahu sendiri, dana pengobatan kanker kan nggak murah. Harapannya, donasi ini bisa membantu mengurangi beban penderita kanker yang kurang mampu secara finansial juga. 

Hair Dryer girlie dari Panasonic Beauty Series


Salah satu produk Panasonic Beauty, bisa nebak nggak ini apa? =D
 Ada banyak sekali produk Panasonic Beauty yang dipajang dan bisa dicoba langsung oleh peserta fun walk. Selain hair kit, saya menemukan manicure toolkit dan eyelash curler elektrik. Wah! Bisa memangkas waktu buat ke salon nih hahahahaha.... 

Oh ya, beberapa peserta juga memanfaatkan event ini buat menata ulang rambutnya dengan bantuan hairdresser dan Panasonic Beauty hairkit. Biar abis olahraga, gak harus lecek kan hahaha...


Dandanin rambut dulu...
Saya sih berharap ada aktivitas lanjutan dari Panasonic sebagai dukungan pada survivor kanker payudara khususnya. Misalnya lewat pelatihan dengan fokus keahlian sebagai beauty expert atau hair stylist selain pastinya terus melakukan edukasi tentang kanker payudara dan kanker-kanker lainnya. Supaya kita-kita yang --alhamdulillaah-- masih bugar ini bisa menghindar.


Monday, October 27, 2014

Falling In Love At First Touch

Cinta pada pandangan pertama itu biasa, tapi pernah nggak kamu jatuh cinta pada sentuhan pertama?

Bukan, yang saya maksud bukan sentuhan fisik antar kulit dua insan beda jenis. Tapi bagaimana kamu bisa merasakan cinta ketika menemukan "pasangan cantik"-mu dalam sentuhan pertama. I did it! Dan inilah yang membuat saya jatuh cinta... 






Betul banget! Rangkaian Pond's Flawless White Dewy Rose Gel inilah yang sudah berhasil bikin saya jatuh cinta. 

Penuh kesadaran sebagai perempuan asli Indonesia yang berkulit sawo matang, tidak membuat saya ingin mengurangi jumlah sel-sel melanin pada epidermis kulit. Tapi setidaknya, dengan rangkaian Pond's Flawless White Dewy Rose Gel ini kulit saya jadi semakin terlindungi.Tahu sendiri kan, tinggal di negeri tropis dengan paparan sinar matahari bukan cuma bikin kulit menggelap tapi juga ancaman kusam dan kasar yang bikin jelek. Ada ceritanya sih kenapa bisa sedemikian sukanya sama varian terbaru Pond's ini.

Minggu lalu, saya bareng teman-teman geng menghabiskan waktu di salah satu surga Indonesia yang bernama Bali. Merayakan hari bahagia sahabat baik saya yang melepas masa lajang bersama lelaki impiannya. Empat hari di pulau dewata, kesempatan ini tentu aja sayang banget kalau dilewatkan dengan main-main ke pantai dan menelusuri tempat-tempat indah lainnya. 


At the wedding, like "nyai"

Selfie on the beach
Pantai... pantai... dan pantai... Nggak takut gosong? 

Berbekal Pond's Flawless White Dewy Rose Gel, kenapa musti menghindari matahari? Rangkaian perawatan yang terdiri atas Gel Pencerah Wajah dan cream inilah yang menjaga kulit wajah saya dari serangan sinar matahari Bali yang terik. 



Jadi, sebelum mengepak koper saya sudah menyisipkan Pond's Flawless White Dewy Rose ini dalam travel kit. Buat beraktivitas luar ruang, day creamnya yang dilengkapi SPF 30 bener-bener nyaman melindungi. Kalau biasanya krim ber-SPF cenderung identik dengan rasa lengket, gak demikian halnya dengan Pond's Flawless White Dewy Rose ini. Wajah tetap bebas kilap sehingga hasil jepret-jepret pun gak perlu retouch hohoho...Malamnya, di dalam kamar berpendingin giliran versi gelnya menjaga kelembaban kulit sekaligus memulihkan setelah seharian mandi matahari.  Satu lagi nih, sesuai namanya Pond's Flawless White Dewy Rose dibuat dengan Alpiene rose yang memberi manfaat ganda menghaluskan sekaligus keharuman mewah.

Kolaborasi sempurna inilah yang bikin saya jatuh cinta pada sentuhan pertama: kulit tetap kenyal dan halus tanpa belang-belang akibat penyinaran gak merata (sebagian tertutup kerudung kan?). Memang sih karena gak ada sisa-sisa gosong di muka, banyak yang gak percaya saya baru dari Bali hihihi... Tapi kalo banyak gambar gini gak dianggap hoax kan?

Thursday, August 28, 2014

Mencicipi Kopi di Red Cherry Blossom

Sudah lama saya mendegar nama Red Cherry Blossom, semacam tempat ngopi kecil di kawasan Cipete yang memang terkenal sebagai salah satu wilayah jelajah kuliner di selatan Jakarta itu. Tapi ya gitu deh. Berbulan-bulan usai hengkang dari kantor terdahulu di Fatmawati (yang hanya berjarak seribu langkah dari Red Cherry Blossom) baru minggu lalu saya berhasil menyambangi.

Coffee Cupping, membedakan berbagai varian kopi nusantara
Letaknya memang agak tersembunyi dari keramaian jalan raya. Tapi nggak susah kok untuk menuju Red Cherry Blossom ini. Buat yang berkendara, telusuri aja sepanjang jalan Cipete Raya, kalau sudah nemu plang “Toko Sebelas” atau “Dojo Aikido” tepikan kendaraanmu di sana dan masuklah. Pengguna angkutan umum pun dipermudah oleh keberadaan mobil berwarna merah dengan nomor S11 yang wara-wiri di sepanjang jalan Cipete Raya. Aroma kopi yang tercium hingga ke tepi jalan raya, nampaknya sudah cukup menyirikan keberadaan Red Cherry Blossom.

Proses coffee roasting 
Red Cherry Blossom bukan coffee shop. Setidaknya itu tertulis pada tagline yang terpajang: A Coffee Roaster Company. Statement itu semakin jelas saat saya memasuki ruang mungil berkapasitas tak lebih dua meja kecil. Alat pemanggang berdiri gagah di sudut, menghamburkan harum segar ribuan biji kopi yang sedang mengalami proses roasting. Wadah berisi roasted coffee beans beragam varian berbaris di meja bar yang juga difungsikan sebagai laboratorium barista mengolah biji kopi menjadi secangkir minuman teman bercakap-cakap.

Timer untuk mengingatkan bahwa kopi siap disantap
Pour over dengan coffee filter
Bagi penikmat kopi sesungguhnya, barangkali Red Cherry Blossom adalah surga. Meski tidak mentahbiskan diri sebagai coffee shop, kita bisa menikmati berbagai kopi yang benar-benar segar: digiling sesaat sebelum membaur bersama air panas seduhan. Beda perlakuan dan alat saat penyeduhan juga ternyata menghasilkan rasa yang beda. Saya sempat menyesap kopi hasil seduhan French Press dan pour over. Ada sih bedanya, tapi karena saya juga tak sepiawai connoisseur (kalo di dunia wine) untuk urusan kopi tentu saja detailnya agak sulit saya deskripsikan :”)

Buat yang betul-betul suka kopi dan punya curiosity tinggi terhadap butiran yang bikin nagih ini, Red Cherry Blossom adalah tempat yang tepat. Tiga punggawa di balik Red Cherry Blossom yang stand by di TKP akan dengan senang hati berbagi pengetahuan seputar kopi lho. Saya pun akhirnya tahu kalau suhu optimum menyeduh kopi itu nggak lebih dari 90 derajat celcius (atau setara suhu pada hot dispenser yang biasa ada di perkantoran). Sementara empat menit adalah waktu yang paling pas untuk membiarkan bubuk kopi terendam air panas dalam French Press. Wah, padahal selama ini saya tahunya kalo nyeduh kopi harus betul-betul dengan guyuran air mendidih!

Voila! Secangkir espresso dengan crema siap disesap

Ke depannya, Red Cherry Blossom berencana melengkapi diri menjadi coffee shop. Sekarang sih masih tahap renovasi, tunggu aja kapan ready dan kita ngopi bareng di sana ya ^^


Tuesday, August 19, 2014

Empat Hari Di Camp TNI

Apa sih kesan yang kamu rasakan saat melihat profil personil TNI? Gagah, keren, atau malah serem?

Yang pasti, disiplin dan tegas adalah dua citra yang melekat di tubuh berpostur tegap abdi negara itu. Nilai ini pula yang ingin ditanamkan PSF pada para siswa di Leadership Camp & Solo Camp 2014 pekan lalu. Selama empat hari, 7 hingga 10 Agustus, siswa binaan Yayasan Putra Sampoerna digembleng ala TNI langsung di Pusdik Ajen Lembang yang selama ini menjadi kawah candradimuka para tentara negara.

Menyusup di antara mereka, sebagai pengamat tentu saja (karena saya pantesnya jadi dosennya hahaha), ternyata seru juga lho ikutan camp ala tentara. Segala kemudahan duniawi tentu saja harus dilepaskan, berganti atribut ketentaraan berwarna hijau gelap. Siapa pun, selama berada dan mengikuti rangkaian kegiatan LCSC2014 ini wajib berseragam. Tidak terkecuali para managers yang sehari-hari terlihat necis. But they enjoy it and look so fun!

Yang mana TNI asli dan mana manajer PSF hayoo? 

Tidur di barak dengan fasilitas bersama, termasuk kamar mandi sharing. Urusan makan pun nggak dibeda-bedakan. Menunya pun serupa! Empat hari di sana membuat saya kangen sama sambel, karena dari dua belas kali penyajian makanan tak satu pun yang menyertakan side dish berbahan cabai itu di meja makan maupun nasi bungkus. Kebayang hampanya ya hihihi… Wajar sih kalau cabai dihindari selama camp, karena aktivitas para siswa ini padat banget kayak jalanan Jakarta di jam berangkat ngantor: subuh-subuh sudah harus baris-berbaris di lapangan, diteruskan dengan sarapan yang waktunya super mepet, latihan fisik, upacara, dan akhirnya masuk aula untuk pengayaan materi. 

Barak cowok, udah mirip TNI beneran kan?

Selesai? Belum. Kelar makan siang masih ada serentet kegiatan penempa fisik macam outbound di hutan Cikole, hiking sejauh 3km dengan rute tanjakan bersudut kemiringan 45 derajat, latihan lempar pisau sembunyi tangan dan kapak, circuit training (gabungan berbagai latihan fisik meliputi lari, push up, scout rush… seru!). Apa jadinya kalau di tengah kegiatan musti break ke toilet akibat efek capcaisin cobak?

Lucky me joined this event!

Di camp ini saya jadi tahu bahwa beasiswa di PSF itu beda. Kalau institusi lain mungkin lebih memilih membiayai banyak siswa/mahasiswa, PSF memberikanya hanya pada siswa terpilih dengan jumlah yang relatif lebih sedikit. Mereka bukan hanya dibayari sekolah, tapi juga dipantau dan digembleng dengan pembekalan macam LCSC ini. Tujuannya, apalagi kalau bukan meluluskan para future leaders yang lebih dari sekadar pintar. Future leaders jebolan PSF ini nantinya tidak hanya piawai memimpin tapi juga peduli sekitar. Makanya di penghujung camp diikutkan juga bakti sosial berupa pengecatan ulang dinding sekolah dan penanaman pohon di lereng bukit sebuah desa sekitar camp.

Ngecatnya yang rapi ya. Iya.

Teteup sadar kamera walopun lagi bersiap nanam pohon... 

They’re really chosen! Siswa-siswa PSF ini sama sekali nggak menampakkan wajah mengeluh meski secara fisik (dan mental pastinya, karena digalakin coach!) tercabik-cabik. Jalan kaki dalam barisan sejauh 5 kilometer aja masih bisa enjoy nyanyi mars tampa jeda! Gilak!

Gerak jalan sejauh 5km sambil nyanyik, sakti!
PSF students ini juga udah kayak punya keluarga baru. Lulus dari kampus, mereka masih berinteraksi dengan para donatur lewat PSF. Tentang isu “pemerasan” alumni PSF yang katanya musti nyumbangin sekian persen gaji ke yayasan juga terbantahkan. Nyatanya, PSF menerapkan system “loan” atau pinjaman kuliah (yang barangkali belum umum di sini) di kampus manapun. Setelah lulus dan bekerja (asiknya sih PSF students ini seringkali dapat penyaluran kerja dan Nampak tidak akan lama nganggur karena kualitasnya terasah) barulah mereka bisa nyicil sekian persen dari gaji yang diperoleh. Ini pun masih bisa dinegosiasikan dengan pihak yayasan kok, bukan harga mati. Uang yang mereka kembalikan itulah yang nantinya akan digunakan untuk membiayai PSF students generasi berikutnya. Berputar seperti sebuah siklus hidup!

Pengayaan materi, kesempatan buat ngelemesin otot hihihi
Kalo udah ikutan acara macam beginian jadi nyesel lahir duluan ya?             

 

Popular Posts