Monday, October 27, 2014

Falling In Love At First Touch

Cinta pada pandangan pertama itu biasa, tapi pernah nggak kamu jatuh cinta pada sentuhan pertama?

Bukan, yang saya maksud bukan sentuhan fisik antar kulit dua insan beda jenis. Tapi bagaimana kamu bisa merasakan cinta ketika menemukan "pasangan cantik"-mu dalam sentuhan pertama. I did it! Dan inilah yang membuat saya jatuh cinta... 






Betul banget! Rangkaian Pond's Flawless White Dewy Rose Gel inilah yang sudah berhasil bikin saya jatuh cinta. 

Penuh kesadaran sebagai perempuan asli Indonesia yang berkulit sawo matang, tidak membuat saya ingin mengurangi jumlah sel-sel melanin pada epidermis kulit. Tapi setidaknya, dengan rangkaian Pond's Flawless White Dewy Rose Gel ini kulit saya jadi semakin terlindungi.Tahu sendiri kan, tinggal di negeri tropis dengan paparan sinar matahari bukan cuma bikin kulit menggelap tapi juga ancaman kusam dan kasar yang bikin jelek. Ada ceritanya sih kenapa bisa sedemikian sukanya sama varian terbaru Pond's ini.

Minggu lalu, saya bareng teman-teman geng menghabiskan waktu di salah satu surga Indonesia yang bernama Bali. Merayakan hari bahagia sahabat baik saya yang melepas masa lajang bersama lelaki impiannya. Empat hari di pulau dewata, kesempatan ini tentu aja sayang banget kalau dilewatkan dengan main-main ke pantai dan menelusuri tempat-tempat indah lainnya. 


At the wedding, like "nyai"

Selfie on the beach
Pantai... pantai... dan pantai... Nggak takut gosong? 

Berbekal Pond's Flawless White Dewy Rose Gel, kenapa musti menghindari matahari? Rangkaian perawatan yang terdiri atas Gel Pencerah Wajah dan cream inilah yang menjaga kulit wajah saya dari serangan sinar matahari Bali yang terik. 



Jadi, sebelum mengepak koper saya sudah menyisipkan Pond's Flawless White Dewy Rose ini dalam travel kit. Buat beraktivitas luar ruang, day creamnya yang dilengkapi SPF 30 bener-bener nyaman melindungi. Kalau biasanya krim ber-SPF cenderung identik dengan rasa lengket, gak demikian halnya dengan Pond's Flawless White Dewy Rose ini. Wajah tetap bebas kilap sehingga hasil jepret-jepret pun gak perlu retouch hohoho...Malamnya, di dalam kamar berpendingin giliran versi gelnya menjaga kelembaban kulit sekaligus memulihkan setelah seharian mandi matahari.  Satu lagi nih, sesuai namanya Pond's Flawless White Dewy Rose dibuat dengan Alpiene rose yang memberi manfaat ganda menghaluskan sekaligus keharuman mewah.

Kolaborasi sempurna inilah yang bikin saya jatuh cinta pada sentuhan pertama: kulit tetap kenyal dan halus tanpa belang-belang akibat penyinaran gak merata (sebagian tertutup kerudung kan?). Memang sih karena gak ada sisa-sisa gosong di muka, banyak yang gak percaya saya baru dari Bali hihihi... Tapi kalo banyak gambar gini gak dianggap hoax kan?

Thursday, August 28, 2014

Mencicipi Kopi di Red Cherry Blossom

Sudah lama saya mendegar nama Red Cherry Blossom, semacam tempat ngopi kecil di kawasan Cipete yang memang terkenal sebagai salah satu wilayah jelajah kuliner di selatan Jakarta itu. Tapi ya gitu deh. Berbulan-bulan usai hengkang dari kantor terdahulu di Fatmawati (yang hanya berjarak seribu langkah dari Red Cherry Blossom) baru minggu lalu saya berhasil menyambangi.

Coffee Cupping, membedakan berbagai varian kopi nusantara
Letaknya memang agak tersembunyi dari keramaian jalan raya. Tapi nggak susah kok untuk menuju Red Cherry Blossom ini. Buat yang berkendara, telusuri aja sepanjang jalan Cipete Raya, kalau sudah nemu plang “Toko Sebelas” atau “Dojo Aikido” tepikan kendaraanmu di sana dan masuklah. Pengguna angkutan umum pun dipermudah oleh keberadaan mobil berwarna merah dengan nomor S11 yang wara-wiri di sepanjang jalan Cipete Raya. Aroma kopi yang tercium hingga ke tepi jalan raya, nampaknya sudah cukup menyirikan keberadaan Red Cherry Blossom.

Proses coffee roasting 
Red Cherry Blossom bukan coffee shop. Setidaknya itu tertulis pada tagline yang terpajang: A Coffee Roaster Company. Statement itu semakin jelas saat saya memasuki ruang mungil berkapasitas tak lebih dua meja kecil. Alat pemanggang berdiri gagah di sudut, menghamburkan harum segar ribuan biji kopi yang sedang mengalami proses roasting. Wadah berisi roasted coffee beans beragam varian berbaris di meja bar yang juga difungsikan sebagai laboratorium barista mengolah biji kopi menjadi secangkir minuman teman bercakap-cakap.

Timer untuk mengingatkan bahwa kopi siap disantap
Pour over dengan coffee filter
Bagi penikmat kopi sesungguhnya, barangkali Red Cherry Blossom adalah surga. Meski tidak mentahbiskan diri sebagai coffee shop, kita bisa menikmati berbagai kopi yang benar-benar segar: digiling sesaat sebelum membaur bersama air panas seduhan. Beda perlakuan dan alat saat penyeduhan juga ternyata menghasilkan rasa yang beda. Saya sempat menyesap kopi hasil seduhan French Press dan pour over. Ada sih bedanya, tapi karena saya juga tak sepiawai connoisseur (kalo di dunia wine) untuk urusan kopi tentu saja detailnya agak sulit saya deskripsikan :”)

Buat yang betul-betul suka kopi dan punya curiosity tinggi terhadap butiran yang bikin nagih ini, Red Cherry Blossom adalah tempat yang tepat. Tiga punggawa di balik Red Cherry Blossom yang stand by di TKP akan dengan senang hati berbagi pengetahuan seputar kopi lho. Saya pun akhirnya tahu kalau suhu optimum menyeduh kopi itu nggak lebih dari 90 derajat celcius (atau setara suhu pada hot dispenser yang biasa ada di perkantoran). Sementara empat menit adalah waktu yang paling pas untuk membiarkan bubuk kopi terendam air panas dalam French Press. Wah, padahal selama ini saya tahunya kalo nyeduh kopi harus betul-betul dengan guyuran air mendidih!

Voila! Secangkir espresso dengan crema siap disesap

Ke depannya, Red Cherry Blossom berencana melengkapi diri menjadi coffee shop. Sekarang sih masih tahap renovasi, tunggu aja kapan ready dan kita ngopi bareng di sana ya ^^


Tuesday, August 19, 2014

Empat Hari Di Camp TNI

Apa sih kesan yang kamu rasakan saat melihat profil personil TNI? Gagah, keren, atau malah serem?

Yang pasti, disiplin dan tegas adalah dua citra yang melekat di tubuh berpostur tegap abdi negara itu. Nilai ini pula yang ingin ditanamkan PSF pada para siswa di Leadership Camp & Solo Camp 2014 pekan lalu. Selama empat hari, 7 hingga 10 Agustus, siswa binaan Yayasan Putra Sampoerna digembleng ala TNI langsung di Pusdik Ajen Lembang yang selama ini menjadi kawah candradimuka para tentara negara.

Menyusup di antara mereka, sebagai pengamat tentu saja (karena saya pantesnya jadi dosennya hahaha), ternyata seru juga lho ikutan camp ala tentara. Segala kemudahan duniawi tentu saja harus dilepaskan, berganti atribut ketentaraan berwarna hijau gelap. Siapa pun, selama berada dan mengikuti rangkaian kegiatan LCSC2014 ini wajib berseragam. Tidak terkecuali para managers yang sehari-hari terlihat necis. But they enjoy it and look so fun!

Yang mana TNI asli dan mana manajer PSF hayoo? 

Tidur di barak dengan fasilitas bersama, termasuk kamar mandi sharing. Urusan makan pun nggak dibeda-bedakan. Menunya pun serupa! Empat hari di sana membuat saya kangen sama sambel, karena dari dua belas kali penyajian makanan tak satu pun yang menyertakan side dish berbahan cabai itu di meja makan maupun nasi bungkus. Kebayang hampanya ya hihihi… Wajar sih kalau cabai dihindari selama camp, karena aktivitas para siswa ini padat banget kayak jalanan Jakarta di jam berangkat ngantor: subuh-subuh sudah harus baris-berbaris di lapangan, diteruskan dengan sarapan yang waktunya super mepet, latihan fisik, upacara, dan akhirnya masuk aula untuk pengayaan materi. 

Barak cowok, udah mirip TNI beneran kan?

Selesai? Belum. Kelar makan siang masih ada serentet kegiatan penempa fisik macam outbound di hutan Cikole, hiking sejauh 3km dengan rute tanjakan bersudut kemiringan 45 derajat, latihan lempar pisau sembunyi tangan dan kapak, circuit training (gabungan berbagai latihan fisik meliputi lari, push up, scout rush… seru!). Apa jadinya kalau di tengah kegiatan musti break ke toilet akibat efek capcaisin cobak?

Lucky me joined this event!

Di camp ini saya jadi tahu bahwa beasiswa di PSF itu beda. Kalau institusi lain mungkin lebih memilih membiayai banyak siswa/mahasiswa, PSF memberikanya hanya pada siswa terpilih dengan jumlah yang relatif lebih sedikit. Mereka bukan hanya dibayari sekolah, tapi juga dipantau dan digembleng dengan pembekalan macam LCSC ini. Tujuannya, apalagi kalau bukan meluluskan para future leaders yang lebih dari sekadar pintar. Future leaders jebolan PSF ini nantinya tidak hanya piawai memimpin tapi juga peduli sekitar. Makanya di penghujung camp diikutkan juga bakti sosial berupa pengecatan ulang dinding sekolah dan penanaman pohon di lereng bukit sebuah desa sekitar camp.

Ngecatnya yang rapi ya. Iya.

Teteup sadar kamera walopun lagi bersiap nanam pohon... 

They’re really chosen! Siswa-siswa PSF ini sama sekali nggak menampakkan wajah mengeluh meski secara fisik (dan mental pastinya, karena digalakin coach!) tercabik-cabik. Jalan kaki dalam barisan sejauh 5 kilometer aja masih bisa enjoy nyanyi mars tampa jeda! Gilak!

Gerak jalan sejauh 5km sambil nyanyik, sakti!
PSF students ini juga udah kayak punya keluarga baru. Lulus dari kampus, mereka masih berinteraksi dengan para donatur lewat PSF. Tentang isu “pemerasan” alumni PSF yang katanya musti nyumbangin sekian persen gaji ke yayasan juga terbantahkan. Nyatanya, PSF menerapkan system “loan” atau pinjaman kuliah (yang barangkali belum umum di sini) di kampus manapun. Setelah lulus dan bekerja (asiknya sih PSF students ini seringkali dapat penyaluran kerja dan Nampak tidak akan lama nganggur karena kualitasnya terasah) barulah mereka bisa nyicil sekian persen dari gaji yang diperoleh. Ini pun masih bisa dinegosiasikan dengan pihak yayasan kok, bukan harga mati. Uang yang mereka kembalikan itulah yang nantinya akan digunakan untuk membiayai PSF students generasi berikutnya. Berputar seperti sebuah siklus hidup!

Pengayaan materi, kesempatan buat ngelemesin otot hihihi
Kalo udah ikutan acara macam beginian jadi nyesel lahir duluan ya?             

Tuesday, July 15, 2014

Mini, Mumpuni dan Masa Kini

Apa yang kamu cari dalam sebuah gadget?

Buat saya, selain harga (menyesuaikan bujet pastinya!) tentu saja spesifikasi teknis jadi pertimbangan tersendiri sebelum akhirnya memutuskan membawa pulang piranti impian. Selain itu, sama kayak milih pasangan, tampilan juga penting. Hihihi...

Dan inilah salah satu pilihan smartphone yang menurut saya memenuhi tiga kriteria itu: 

Unboxing the Prince ^^


Dikemas dalam boks minimalis, ponsel besutan ZTE ini terkesan elegan. Keluar dari boks, seri Z5 mini yang punya nama populer Nubia ini makin menguatkan kesan mewah. Bodi tipis berbalut casing hitam yang matte (sehingga nggak akan licin kalau digenggam tangan yang basah sekalipun) ditambah layar kinclong dengan resolusi 720p dan ukuran layar 4.7" saya langsung terpikat. Stylish banget! Ukurannya juga nggak terlalu besar sih, masih bisa masuk saku celana belakang... 

Membedah isinya, hal pertama yang tentu saja bikin saya makin cinta adalah kemampuan menangkap gambar yang paripurna.  Kemampuan kamera belakang sebesar 13MP dan kamera depan 5MP cukup memadai buat eksistensi di social media. Apalagi Nubia memanjakan penggunanya dengan kemudahan edit gambar sesuai selera: auto (buat yang ogah ribet), pro (bagi yang profesional), dan fun (yang beneran fun!). Di antara tiga fitur ini saya paling sering menggunakan fitur fun. Ini beberapa hasil jepretanya:

Fish Eye, modus buat ngintip mas-mas di gerbong sebelah
Hasil Jepretan Kue Lebaran, mirip di majalah yah ^^


Fitur "Nature" cukup tajam untuk mengabadikan kebersamaan
Oh ya, buat cewek atau kaum narsistis Nubia juga musti masuk daftar must-have-item deh. Ada fitur "beauty" yang bikin tampilan kita lebih kece lho hihihi... 

Iseng-iseng saya (yang sama sekali nggak fotogenik) mencoba fitur ini dan inilah hasilnya: warna kulit lebih merata, bekas jerawat memudar, pleus... bola mata jadi lebih besar! 


Semua foto ini diunggah tanpa editan lho ya! 

Dibidani oleh ZTE yang selama ini banyak menyuplai kebutuhan hardware untuk infrastruktur telko dan memproduksi gadget untuk bundling vendor, secara teknis tentu saja Nubia dipersenjatai spesifikasi yang mumpuni di kelasnya. Prosesor quad-core 1,5 GHz Qualcom Snapdragon 600 dan OS Android 4.2.2 Jellybean, sementara untuk kapasitas penyimpanan tersedia memori internal sebesar 16GB! Buat yang gila foto-foto masih dimungkinkan untuk menambah ruang simpan hingga 32GB dalam bentuk microSD. 

Kabarnya, Nubia sudah menyambangi tanah air pertengahan bulan ini. Pilihan tepat buat yang butuh eksistensi atau mengabadikan serunya lebaran! Oh ya, untuk pilihan warna saat ini baru tersedia hitam dan putih. Tapi, di negri asalnya Nubia lebih centil dengan balutan casing yang colorful lho! 





 

Tuesday, May 13, 2014

Ortu (Melek) Dihital


Am not a mom yet, but I do concern about parenting in digital era.

Membaca banyak kasus kejahatan anak yang terjadi gara-gara di social media beneran bikin miris ya? Diperparah dengan minimnya pengetahuan para ortu (dan sebagian guru!) tentang social media, jatuhnya korban mustinya bisa diantisipasi kalau kita tau gimana rambu-rambu ber-social media. Jangankan anak, orang dewasa aja bisa kepeleset. 

Beruntungnya saya, bisa ikutan #ArisanLivina bareng Nissan Grand Livina dan Polimolidotcom Sabtu lalu karena tema arisan (yang sebetulnya lebih sebagai ajang kumpul-kumpul perempuan, bukan kocok-kocok hehehe) yang diambil seputar Pola Asuh Anak di Era Social Media, pembicaranya Ainun Chomsun founder Akber dan ibu dari putri yang beranjak remaja. Lewat akun twitternya @pasarsapi mbak Ai--sapaan akrabnya--kerap mengeluhkan bagaimana mengerikannya kejahatan anak di jaman dihital. Kondisi ini diperparah dengan minimnya aksi dari penguasa selain blokir dan blokir. Ketahuilah bahwa blokir bisa diakali dengan kepintaran para heker dan kreker pak! Tapi modal dasar berupa imunitas seorang pengguna internet yang dibekali pengetahuan cukup akan lebih bermanfaat untuk mencegah maraknya kejahatan di dunia dihital!



Kejahatan apa aja yang mengincar anak di dunia maya? Predator pedofil yang menyamar sebagai dokter untuk mendapatkan foto-foto yang mengeksplorasi organ genital (primer dan sekunder) korbannya mungkin cuma puncak gunung es dari sekian kasus. Yang juga perlu perhatian khusus adalah cyber bullying, jenis kejahatan dengan teror psikologis nggak kalah mengerikan dengan bullying secara fisik. Hebatnya, pelaku cyber bullying cukup pintar dengan menghapus semua jejak digitalnya ketika aksinya terendus dan nggak ragu membuat akun (dengan identitas baru) untuk kembali melakukan cyber bullying. Kemunculan die hard fans juga bisa memicu perselisihan yang berujung pada cyber bullying lho, jadi pantau apakah anak kita mengintil akun selebriti idolanya.

Menguasai tools bukan jaminan ortu untuk bisa mengendalikan kriminal dihital. Komunikasi dengan anak lebih penting ketimbang membentengi diri dengan berbagai piranti lunak pemblokir (meski tetep perlu untuk anak pada level usia tertentu).Beberapa tips untuk mengawal anak ber-social media ini bisa diterapkan:

Jaga privacy!
  • Bikin aturan bersama: apa aja DOs & DON'Ts di dunia maya untuk anak, gunakan analogi untuk memudahkan nalar dan logika anak dalam mencerna
  • Buat batasan: yang boleh dan nggak boleh dilakukan di dunia maya, misalnya hanya boleh mengakses dari piranti milik ortu (biar bisa dilacak), ijin sebelum instalasi games di gadget
  • Bikin kesepakatan: kalau anak melanggar aturan yang sudah disepakati bersama, jangan segan memberikan hukuman misalnya nggak boleh online dalam waktu tertentu
  • Atur setting di social media, ini agak teknis tapi percayalah nggak akan serumit memecahkan kode-kode dari gebetan! Atur privacy setting di social media account untuk melindungi anak dari paparan identitasnya
Tips teknis seputar mengawal anak di social media saya cantumkan gambarnya ya di sini mudah-mudahan cukup jelas:
 

Sementara hal-hal yang tabu di social media saya berikan di sini:


 
Sebetulnya, aktivitas anak di dunia maya bisa diarahkan ke hal positif kok. Cari tau deh kecenderungan bidang yang disukai anak: foto/videografi, menulis, atau bahkan memecahkan solusi di games? Dari situ kita bisa pilihkan media yang pas untuk penyaluran interests-nya: kalau suka nulis bikinin blog, yang hobi fotografi kenapa ngga tantang untuk bikin foto bagus menggunakan kamera ponsel untuk diunggah ke instagram/youtube/vimeo atau vine. Trus kalo anak hobinya main games gimana? Cek apakah games yang dia mainkan aman, ikut main bareng, dan arahkan dia untuk berkreasi membuat games sendiri dengan mengikutkan kursus. Sekarang udah ada lho kelas coding buat anak!  Mendingan anak sibuk beginian kan daripada nonton sinetron gak jelas?

Sifat social media yang pamerable ini sebetulnya pas banget untuk membuat anak lebih pede berkarya. Apresiasi berupa sedekah jempol yang diterima anak lewat peer society pastinya akan lebih mengena ketimbang pujian ortu (yang katanya sih udah default gak gak obyektif karena setiap ortu pasti hobi muji anaknya sendiri hahaha...)

Nah, gimana? Sudah siap menjadi ortu yang melek dihital?



Friday, May 09, 2014

Masak Asik Bareng Panasonic

Sesungguhnya gathering yang disertai cooking class itu selalu menyenangkan!

Kalau sebelumnya saya udah belajar membuat pitsa di L'Osteria sambil menikmati sajian Italia yang delicioso nan extravaganza itu, maka sehari selepas hari Kartini saya bareng temen-temen blogger diundang Panasonic Indonesia untuk pengenalan produk-produk barunya sekaligus ... cooking class! Yeay! \o/ 

Bersama saya, hadir blogger-spesialis-hore-hore: Swastika @SabaiX, Nyonya Saiful Muhajir alias @icit_ , @Adiitoo, mak @Chicme, Bumil cantik @_dita, @aralle,  serta tentu aja emak blogger nan femeus @indahjuli ituh serta duo alumni ACI @ipimaripi dan @umenumen yang juga pehobi masak. Tadinya saya sempet bingung, mau masak apa di event yang lebih mirip galeri masa depan produk Panasonic itu *menebar pandangan ke seluruh penjuru aula hotel Shangrila*.  Ternyata eh ternyata, di gathering yang juga jadi ajang kopdar para dealer itu kami digiring menuju "dapur" mungil nan cantik (dan pastinya penuh piranti elektrik canggih dari Panasonic). 

Di dapur yang tertata manis, kami disambut dua chef seksi lengkap dengan peralatan "perang"-nya mendemokan cara membuat cupcake kukus.

 






Ternyata, bikin cupcake gampang sekali sodara-sodara! Kita hanya membutuhkan telur ayam, gula pasir (silakan pilih lokal atau impor, tapi jangan pasir pantai ya!), terigu serbaguna + baking soda, mentega (boleh diganti margarin) cair, serta keju cheddar. Semua bahan-bahan ini gampang diperoleh di warung kan? 

Tahap pertama adalah memisahkan putih telur dari kuningnya, nggak tau kenapa harus dipisah. Mungkin karena bukan muhrim *benerin kerudung*. Telur-telur ini kemudian dikocok menggunakan mixer bersama gula hingga mengembang sebelum dicampur lagi bersama terigu + baking soda. Setelah tercampur rata, matikan mixer dan masukkan keju cheddar yang sudah diparut lalu biarkan komponen cupcake ini menyatu dengan bantuan spatula kayu. Setelah itu baru deh kita tuang adonan setengah kental ini ke dalam paper cup menggunakan sendok makan dengan ketinggian hanya separuh paper cup untuk kemudian dikukus menggunakan rice cooker selama 15 menit saja.  

Ini penampakan rice cooker yang digunakan untuk mengukus cupcakes:

Gambar diambil dari website Panasonic
Rice cooker ini selain memiliki desain yang futuristik, juga dilengkapi dengan tombol pengaturan untuk jenis masakan berbeda: bubur, nasi putih, nasi merah.  Pas lah buat penyuka nasi merah yang kadang sering nggak pas kematangannya kalau menggunakan rice cooker biasa *masukin wishlist belanja isi rumah*. 

Setelah menonton mbak chef cantik mendemokan, giliran kami para blogger yang ditantang untuk membuat cupcakes berdasarkan pengamatan yang hanya beberapa menit saja. Mengandalkan ingatan fotografis *tsaaah* kami mengulangi langkah-langkah membuat cupcakes untuk dilombakan. Dan.... hasilnya ternyata cukup membanggakan karena cupcakes yang dihasilkan matang sempurna selayaknya pria dewasa yang siap menikah bikinan toko kue.  Pekerjaan selanjutnya tinggal mempercantik cupcakes dengan icing sugar warna-warni menggunakan spuit, inilah hasil karya grup kami:


Sambil menunggu hasil penjurian (dan grup dua yang juga ditantang bikin cupcakes), rugi banget rasanya kalo nggak keliling area yang malam itu disulap menjadi galeri produk Panasonic. Lengkap banget memanjakan mata (dan bikin ngiler karena bagus-bagus huhuhu...): dari home appliance, entertainment sampai ke beauty products. Yang pertama memikat mata saya tentu saja deretan lemari es Neo Glam. Sesuai dengan namanya, lemari es ini tentu saja berpenampilan glamor macam diva. Warna-warni cantiknya pas banget buat keluarga urban yang ogah terikat dengan desain interior penuh kekakuan. 

Sementara dari keluarga home entertainment ada saja Viera Smart TV yang beneran smart, selangsing saya *kabur sebelum ditimpuk* dan tentu saja memanjakan audiovisual dengan gambar jernih pleus kualitas suara menggelegar. Ngebayangin leyeh-leyeh di rumah sambil nonton marathon pake Viera ini pasti bikin lupa beratnya beban hidup 8').  

Gambar diambil dari website IDPanasonic
Masih dari keluarga penghibur, seperangkat headphone XH333 buat penikmat musik. Bersanding dengan pemutar musik digital favorit, rasanya XH333 ini layak jadi koleksi untuk membuat saraf sedikit lebih rileks pasca disemprot bos *curcol detected*. Tidak disarankan menggunakan XH 333 ini ketika menyetir ya, karena bisa bikin TMCPoldametro murka... 

Gambar minjem punya SabaiX
Rasanya mau borong semuanya ya? *menatap nanar saldo rekening*

Di akhir gathering, akhirnya keluar juga putusan juri siapa pemenang lomba bikin cupcakes malam itu. Meski gagal menjadi juara pertama, semua peserta gathering adalah pemenang karena semuanya mendapatkan hadiah berupa voucher belanja (yang cukup buat nambahin beli sepatu favorit!) dan LED torchlight manis pelengkap night run ini:

Gambar dari situs IDPanasonic

Sayang sekali, gelar livetweet expert yang biasa saya sandang malam itu dengan senang hati saya serahkan pada Icit, karena ponsel saya sedang bermasalah. Makanya di postingan ini banyak foto yang nyomot dari situs lain kan? Seandainya yaaaa.... malam itu saya membawa kamera saku dari rangkaian compact & stylish ini mungkin kualitas gambar yang terpampang di sini lebih cantik lagi ya...
 

Tuesday, May 06, 2014

Mewarnai (Rumah) Itu Mudah!

Saya bukan orang yang suka memilah-milah pekerjaan domestik berdasarkan gender. Artinya, meskipun terlahir (dan sampe sekarang masih) cewek bisa aja saya yang naik tangga masang lampu bolam atau mengurus listrik yang tiba-tiba mati tanpa pesan (gara-gara sekring turun). Demikian juga, kakak laki-laki saya nggak keberatan nyuci piring, baju, sampe bikin menu lebaran lengkap dari ketupat sampe lauk pauk sebanyak tujuh macam. Maunya sih sekalian masang genteng tapi apadaya rumah kami nggak dilengkapi oleh genteng sebagai pelindung atap hahaha...

Satu hal yang kurang saya kuasai dalam hal urusan printilan rumah adalah mengecat. Iya, aktivitas membuat dinding lebih berwarna ini ternyata bukan hal gampang lho. Sama kayak mengecat rambutlah. Bedanya, kalau mengecat rambut bisa dilakukan di salon sementara ngecat rumah mau nggak mau musti dikerjain sendiri, atau sekalian satu paket bareng tukang waktu renovasi.  Dan biasanya, urusan mewarnai dinding rumah ini jadi tanggung jawab bokap. Tapi kan nggak mungkin dong selamanya menyerahkan urusan ngecat ini ke bokap, atau tukang. Syukur-syukur bisa ngecat berdua orang yang udah membuat hidup saya lebih berwarna. Ihiiiiy.... /o/ 

Weekend lalu, saya beruntung termasuk salah seorang yang berkesempatan mengikuti workshop singkat tentang teknik pengecatan dari ahlinya yaitu Kansai Paint: brand yang sudah lebih dari tiga dekade eksis di bidangnya.  Dan, saya baru tau kalau ternyata Kansai Paint ini nggak cuma punya cat tembok melainkan banyak banget variasi produknya: dekoratif, pelindung gedung, pelapis kayu untuk produk alat musik, industri alat berat, sampe otomotif juga. Lengkap yak? 





Dari workshop ini juga saya mendapatkan ilmu baru tentang gimana mengecat yang benar supaya awet. Iya, ternyata bukan cuma urusan percintaan aja yang perlu tips dan trik biar awet ya... Begini caranya (cara mengecat, bukan tips percintaan!):





Sama seperti memoles wajah dengan make up, dalam mendandani dinding yang perlu dilakukan pertama kali adalah membersihkan permukaannya dari segala kotoran dan noda. Setelah itu, baru deh lakukan pemolesan dengan cat dasar yang fungsinya mirip BB cream atau foundation itu sebelum dipercantik dengan cat pilihan sesuai keinginan kita. Gampang ya?

Oh ya, yang saya gak suka dari urusan cat-mengecat ini adalah bau cat yang melekat sampai berhari-hari sungguh bikin mual. Mirip kenangan buruk sama mantan berkelakuan menyebalkan gitu deh. Menyiasati hal ini, Kansai Paint mengeluarkan produk dengan keharuman apel. Karena wangi jeruk terlalu mainstream hahaha.. untunglah tim litbang Kansai Paint nggak pernah punya pemikiran bikin cat wangi durian! *sujud syukur* Menariknya lagi, Kansai Paint juga merilis cat anti bakteri. Lho kok bukan antijamur sih? Iya, karena jamur bukan musuh melainkan makanan. Eh nganu, maksudnya karena di negara tropis ini bakteri juga ikutan tumbuh subur kan? We never know, kapan dia bisa hinggap di dinding dan kemudian menularkan pada penghuni rumah. Karena wujudnya yang nggak kasat mata, tentu saja si bakteri ini lebih membahayakan daripada jamur. Iya, kalau dinding kita berjamur jejaknya akan segera tampak dan kita bisa memberantasnya. 

Satu inovasi yang diluncurkan Kansai Paint adalah menggunakan wadah cat food grade. Hal yang mungkin belum terpikirkan produsen produk sejenis. Menggunakan bahan food grade sebagai kemasan cat memang gak lazim, tapi ternyata cukup penting lho. Pernah lihat tukang gorengan menggunakan ember buat wadah adonan tepungnya? Nah, kalau aja ember yang dipake tukang gorengan tersebut food grade pastilah kita lebih nyaman dan aman. Perkara bahwa itu adalah bekas kaleng cat sih urusan mindset ya.. kalau perlu kemasannya dipercantik supaya hilang identitas catnya. Mengurangi lagi satu masalah sampah di muka bumi.

Iseng-iseng saya ngintip "pantat" kaleng cat Kansai Paint dan menemukan logo ini sebagai bukti:




Buat yang mau mengubah warna rumahnya jadi lebih cantik dan centil, bisa nih mempertimbangkan Kansai Paint sebagai pilihan. Kalau bingung mau pilih-pilih warna, Kansai Paint juga menyediakan konsultasi lho di facebook fanpage-nya. Asik kan?

Thursday, April 17, 2014

Belajar Bikin Pitsa di L'Osteria

Kamu suka pitsa?

Saya juga. Dan kalau ditanya, pitsa yang saya suka tentu saja saya lebih suka pitsa tipis ketimbang pitsa tebal itu. Bukan sok diyet, tapi emang perut saya yang picky gak mau menerima konsumsi tepung terlalu banyak. Bicara soal pitsa, awal bulan ini saya diajak mencicipi sebuah resto Italia di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kawasan yang tentu saja terkenal dengan makanan enak-enak dan tempat nongkrong ini menyimpan satu kekayaan kuliner ala barat seru. Namanya L'Osteria dan berada di jalan Ciranjang. 

Relatif mudah dijangkau dengan kendaraan umum, butuh usaha sedikit jalan kaki memang untuk mencapai restoran bernuansa homey ini. Gak jadi soal, karena kawasan Ciranjang yang masih dinaungi pohon cukup nyaman untuk dijajaki dengan jalan kaki. Dengan catatan, hindari high heels macam stilletto ya XD 

Kalau selama ini saya hanya jadi penikmat si roti bundar, kali ini saya dipersilakan menjelajah hingga ke "area pribadi" mereka alias dapur. Sebetulnya sih nggak private-private amat kok, ada jendela kaca yang memungkinkan tamu untuk ngintip proses pembuatan aneka sajian lezatnya. Saya kebagian bikin pitsa, penasaran juga sih gimana caranya menghasilkan pitsa enak ini. Dan ternyata...

Menciptakan landasan pitsa itu gak gampang sodara-sodara!
Pengalaman bantuin ibuk bikin pastel dan nastar dulu, nggak cukup untuk menghasilkan dough dengan ketebalan pas. Apalagi di L'Osteria ini pitsanya dipipihkan secara manual. Butuh teknik tersendiri dan perhitungan matematis yang stratehis demi menciptakan bundaran pitsa tsakep... Di tahap ini saya menyerah dan mengembalikan dough pada mas chef



Memulas permukaan dough.

Lebih mudah ketimbang memulas eyeliner di mata sih, setidaknya menurut saya yang gak pernah kelilipan eyeliner cair sampai mata jadi item-item.  Cukup oleskan saus tomat (yang sudah disisipi rempah-rempah Italia dan beraroma lezat itu) secukupnya pada dough. Berhubung saya termasuk yang meyakini mazhab khasiat-likopen-pada-tomat-akan-lebih-mantab-kalau-dimasak maka saya pun tanpa ragu memulaskan saos sampai permukaan dough memerah macam blood moon yang baru saja kejadian kemarin. Hasilnya? Saya dipelototin mas chef hahahaa.... 

Topping.. 
Pitsa yang dibuat di cooking class kali ini adalah Formagi. Menggunakan empat jenis keju sebagai topping: ementhal, parmesan, gorgonzola, dan mozarella yang boleh ditaburkan sesuka hati. Karena sifat keju yang mudah meleleh pada suhu tinggi, tentu saja semakin banyak keju semakin yummy pitsa yang dihasilkan. Hail lemak membuat pitsa makin gurih! Bonus berupa smoked beef (atau pepperoni ya? Saya gak ngambil ini sih) dan jamur juga sah ditambah supaya pitsa gak monoton. Karena saya penyuka jamur, populasi saprofit ini tentu saya bikin berlebih.

Membakar pitsa!
Ini saat yang mendebarkan. Pitsa yang sudah rapi dan lengkap dengan polesan dibakar di tungku dengan kayu rambutan sebagai bahan bakarnya. Dikabar ya, bukan dipanggang. Katanya sih pitsa yang dihasilkan dari metode ini lebih otentik rasanya (and proven then!). Cukup lima belas menit untuk menghasilkan pitsa yang krispi dengan kematangan pas. Problem terbesar adalah menyerok pitsa yang lembek dari meja untuk dipindahkan ke tungku. 

Dan inilah pitsa formagi ala ala nagacentil...



Selain pitsa, L'Osteria juga punya menu lain yang nggak kalah seru, salah satunya spaghetti aglio olio berwarna hitam dari tinta cumi. Rasanya? Enak pake banget! Saya sendiri termasuk golongan penyuka pasta tumisan ketimbang guyur, Asia banget ya? Sayangnya pas kelas bikin spaghetti ini saya nggak kebagian space (padahal cukup kecil buat nyempil-nyempil) hiks...

Foto oleh Goenrock


 

Popular Posts