Wednesday, January 11, 2012

Semangat Semut

Banyak semut di rumahku. gara-gara kamu malas bersih-bersih...


Itu kata Enno Lerian semasa masih anak-anak (kalo sekarang udah menghasilkan anak lagi ya hihihi).  Dan lirik itu kayaknya dianggap jadi semacam "rumus baku" kebersihan rumah atau kamar. Kalo ada semut ngariung pastilah tuduhan malas bersih-bersih langsung dialamatkan ke empunya rumah/kamar. 
Betulkah semut indikator seseorang malas bersih-bersih?


Tentu saya akan menyangkal. Meski kamar saya nggak bersih-bersih amat, tapi setidaknya saya selalu berusaha mensterilkan kamar dari sampah organik yang mengundang serangga buat berkunjung. Tapi, kenapa saya masih menjumpai pasukan semut berbaris rapi di dinding dan lantai? *ngomong sama sapu*


Adalah tweet seorang Fira Basuki yang membuat saya jadi memerhatikan serangga berkaki enam itu (bukannya semua serangga kakinya enam ya?). Saya lupa persisnya, tapi novelis cantik itu pernah menulis bahwa semut itu nggak perlu dibunuh. Mereka berkeliaran karena udah diprogram Tuhan untuk menjalankan hidupnya: mencari makan buat kelangsungan kelestarian populasi dan spesies mereka. 8')


Sejak itu, meski aplikasi games Ant Smasher ter-installed di ponsel cerdas tapi jangan pernah minta saya untuk melakukan smashing the ants di dunia nyata. Seringnya saya lebih memilih meniup si semut yang kepergok nangkring manis di permukaan kulit tubuh saya sampe dia terbang. Meski kadang sebel kalau ada semut yang bertahan tiarap menghindari hembusan angin yang saya tiupkan ituh. Mungkin udah waktunya melicinkan kulit supaya semut dan nyamuk yang hinggap di permukaannya kepeleset hehehe *BRB luluran*


Dalam salah satu edisinya, Prevention menulis artikel tentang "Belajar Dari Alam" di mana semut adalah salah satu guru yang disediakan Tuhan untuk kita tiru bagaimana mereka dengan semangat berkolaborasi untuk kepentingan bersama. Artikel ini sungguh menggelitik semangat observasi saya pada sekumpulan semut yang belakangan sering mondar-mandir di salah satu dinding kamar. Semut-semut memang seringkali menjadikan kamar saya sebagai transit untuk menghantar kiriman makanan yang mereka temukan hari itu buat sang Ratu. Barang bukti berupa mayat laron (yang dipungut dari luar kamar segera setelah hujan mereda) atau jenazah hewan lain dalam bentuk potongan tentu saja. Dan belum pernah saya menemukan para semut itu mengusung sisa cemilan yang tercecer di lantai kamar. Mungkin gak doyan karena cemilan saya cabe kering hihihi


Adalah satu malam, barisan semut itu mengerumun sesuatu-entah-apa dengan diameter 1 cm dalam posisi vertikal.  Menakjubkan karena dilihat dari morfologinya, hasil temuan itu pastilah lumayan berat. Posisi semut dan sesuatu-entah-apa itu berjarang satu meter lebih dari permukaan lantai! Dan beberapa menit kemudian saya mendengar suara "pluk" yang gak lain adalah benda itu terjatuh di lantai. Bayangin, kerja keras para semut memanjat dinding (yang pastinya gak gampang macam atlit panjat tebing) sia-sia dong. Tapi, apa yang terjadi sodara-sodara alih-alih berhenti barisan semut di belakangnya dengan sigap mengambil alih tugas mengerumun obyek buruan mereka itu untuk kemudian diangkut lagi sebagai persembahan makan bersama. Apakah semut yang mem-back up tugas angkut-mengangkut itu misuh pada semut di depannya (yang dengan suksesnya menggagalkan kerja keras mereka karena makanan yang jatuh itu)? Enggak! 


Semut berbagi porsi pekerjaan dengan timnya sesuai kapasitas. Kalau satu semut menemukan makanan, ia akan mengabarkan pada koloninya. Itulah sebabnya semut kalau ketemu selalu salaman dengan sesamanya.  Semangat semut yang ogah menyerah sampai makanan terangkut sampai ke sarang meski mungkin aja di tengah perjalanan terhadang resiko mati diinjek manusia yang menganggap semut cuma ngotorin ruangan, adalah spirit yang mustinya kita punyai dalam setiap penggapaian keinginan.


Semangat semut yang mengedepankan kolaborasi untuk hasil akhir kepentingan bersama itu mungkin terdengar usang tapi jadi barang langka yang makin susah ditemukan sekarang. Seringkali justru sebaliknya: kalo di tim udah ada yang ngerjain buat apa susah-susah. Tinggal metik hasilnya aja lah, dan kalau perlu klaim itu pekerjaan kita ketika datang pujian bertubi-tubi. 


Masa sama semut aja kalah.... 











Thursday, December 29, 2011

Buka Mata Ubah Dunia di RF Goes To Jogja

Jogja...


Bukan buat mengenang seseorang atau menikmati nostalgi sih.  Sebagai tukang RoTI yang baik saya nunut aja ketika RoTIFreSh mendapat kehormatan buat bikin event (lagi) di kota penuh legenda ini. Yuk mariii...


Menunggangi JogloSemar, di seputar angka tiga jam perjalanan dari kota loenpia menuju kota gudeg, tentu saja sasaran tuju begitu mendaratkan kaki di tanah monarki *pinjem istilah Lynxluna* adalah tempat makan!  Di sebuah warung makan pinggir jalan, saya menemukan kuliner eksotik yang saya akrabi di masa lalu: lodeh jantung pisang! Kalap banget ngeliat aneka sayuran bertebaran di meja saji: ada tumis daun pepaya dan lodeh terong yang sempet saya kira lompong. Sungguh makan siang ternikmat yang pernah saya coba! :9


Didera hujan, yang namanya keliling kota sementara dimasukkan dalam kotak cita-cita dulu. Tugas negara bikin event RF jadi prioritas utama. Maka setelah kenyang makan dan cukup tidur, saya dan Didut --salah satu chef RoTIFreSh-- mengecek TKP: Dixie. Resto yang cukup nge-hits ini ternyata punya pilihan menu beragam dengan tambahan Warung Pasta dan Kedai Kopi Sruput.  Meski batal icip-icip kopinya, tapi kerinduan saya pada jamur kancing terpenuhi juga d Warung Pasta. Horeeeeee... saking asiknya sampe lupa motret si jamur hihihi ^__^


Kenyang makan, dapet pengetahuan baru juga, Di RF Goes To Jogja yang tercipta hasil kolaborasi sama Lenovo ini hadir @mbakdiskon dan @YogYes. Yang disebut pertama ini adalah semacam groupon yang melokalisasi layanan dengan target market mahasiswa. Gak heran kalau merchants yang digandeng pun sangat akrab dengan para mahasiswa. Pssst... hosipnya MbakDiskon mau merambah kota tetangga seperti Semarang lho! *siap-siap borong*.  Sementara YogYes yang dikenal sebagai portal wisata Jogja nomor wahid ini ternyata membangun usahanya dengan modal enam ribu rupiah saja! Bowk, itu kan sama kayak seporsi makan siang ala anak kos yes?  Dengan baik hatinya YogYes yang digawangi oleh pasangan suwamik-istrik ini membocorkan banyak kiat membangun usaha.  Termasuk menyulap kamar kos jadi kantor! *langsung nyatet*


Oh ya, RF Goes to Jogja kali ini juga mendatangkan pasukan Lenovo, yang lagi punya gawean seru bertajuk DoNetwork! itu. Selentingan tentang DoNetworkID ini sih udah pernah saya denger, tapi tetep aja lebih utuh dan terintegrasi kalo denger langsung dari narasumbernya kan? Nah, di RF Goes To Jogja ini dari pihak Lenovo juga memaparkan lengkap infonya. Saya bocorin dikit yah...


Lenovo DoNetworkID Program ini, adalah program teranyar dari pemasok piranti teknologi informasi mumpuni ini yang memfasilitasi kaum muda buat mewujudkan impiannya. Mimpi adalah kunci, kata Nidji di OST Laskar Pelangi.  Maka, jangan takut mewujudkan mimpimu dalam berinovasi.  Kalau di jaman baheula kita kenal yang namanya Thomas Alva Edison si penemu bola lampu, Indonesia di awal tahun 80-an juga punya Tirto Utomo yang punya inovasi membotolkan air putih dalam kemasan sehingga lebih praktis.  Di jaman sosmed, sebut aja nama Satya Witoelar yang membidani lahirnya microblogging berbasis lokasi pertama Koprol. Nah, kamu juga bisa jadi salah satu dari mereka lho!


Lenovo DoNetworkID ini terbuka buat siapa aja yang punya ide ciamik dan visi mengubah peradaban dunia jadi lebih baik.  Kalo kamu sering ngeluhin kemacetan atau kerusakan lingkungan dan bingung menyalurkan ide brilianmu, langsung aja lah siapin konsepnya yang matang buat di-submit di Lenovo DoNetworkID ini.  Submission date akan ditutup pada 25 Januari 2012, untuk selanjutnya masuk ke meja penilaian sebelum ditahbiskan sebagai finalis pada 26 Januari sampe 29 Februari 2012.  Pengumuman pemenangnya sendiri akan disebar pada 1 Maret 2012.  Masih cukup waktu yes?


Di balik perhelatan ini, ada nama besar seperti Budi P (konsultan teknologi), Nurdiansyah (peneliti dan pemerhati pendidikan) pleus pak Onno W. Purbo sebagai mentor.  Jangan bilang gak kenal sama nama yang terakhir disebut ini ya! *pasang tampang galak*. 


Kalau kamu dan tim terpilih sebagai finalis, siap-siap dihujani dengan produk Lenovo senilai USD 2000.  Sementara pemenangnya akan digelontorkan dana segar sebesar USD 25,000 *ngeces sampe banjir*.  Good news-nya nih, Indonesia adalah negara dengan jumlah peserta terbanyak! Tuh kan, anak muda Indonesia emang kreatif dan inovatif.  Jangan melongo terus ah, langsung aja klik di sini buat ikutan.  Siapa tahu kamu dan tim yang jadi jawara lho! 


Saya tadinya udah siap bertapa buat cari ide dan konsep, tapi berhubung panitia membatasi usia peserta sampe maksimum 25 tahun ya udah deh jadi penggembira aja.  Simpel sih, selain ngomporin yang mudak-mudak buat ikutan saya juga udah mengubah avatar twitter saya dengan twibbon dukungan Do Network ID ini.  Kamu mau? Nih saya kasih link buat bikin twibbon yang merah-merah lucuk ituh


Ada bagusnya juga kamu lihat dulu komen tiga mentor kamu (kalau lolos) di Do Network ini: Pak Onno di sini, untuk pak Nurdiansyah bisa klik ini, sedangkan kata mas Budi P bisa disimak di link ini.  Siapa tau bisa jadi masukan buat kamu sebelum kirim ide.


Good luck yah, saya mo bakar KTP dulu *kesel gak bisa ikutan*

Friday, December 16, 2011

Banci Kuis is Back!

Sejak kapan saya berjuluk "Banci Kuis"?


Entahlah. Yang pasti, beberapa orang mengenali saya sebagai pemburu haratisan di facebook dan twitter. Sah-sah aja kan, selama nggak ngeganggu kalian? Makanya saya berusaha menghindari kuis yang memaksa peserta buat nge-RT karena saya sendiri termasuk golongan yang alergi dengan RT abuser.  Pun ajakan ikutan yang kerap sembarangan dialamatkan ke tweep lain, itu enggak banget deh. Annoying banget. Kadang heran juga, kok bisa-bisanya si quiz hunter itu ngajak brand buat ikutan kuis berhadiah yang diadakan brand lain.  Tsk... (--!)


Sebenernya saya gak ngototan juga sih buat berburu hadiah seru di sosmed-sosmed ini.  Selain hadiahnya asik atau enggak, aturan ikutan juga memengaruhi ketertarikan buat berpartisipasi.  Kalo caranya ribet ya males juga sih hahahaha.... teteup yah!


Prestasi tertinggi saya di dunia per-kuis-an adalah membawa pulang satu iPad 2 cuma lewat nge-twit \(^___^)/. Hamdallah banget, meski sejak itu membatasi diri buat ikutan kuis-kuis berhadiah wah lagi.  Banyak yang protes sik huhuhuhu *pilin ujung kebaya*


Tapi, yang namanya "iman" boleh dong tergoyahkan dikit.  Belakangan ini linimasa saya dibanjiri tagar #LombaDPD yang mengiming-imingi seabrek gadget teranyar macam iPhone 4S, BB Bellagio (ini bener gak sik nulisnya?) dan GTab.  Woo hoooo sungguh menggoda *ngeces-ngeces*.


Cara ikutannya juga gak ribet ternyata, cuma dengan mengirim aspirasi buat DPD kita (masih inget nggak apa itu DPD?) lewat twitter atau blog kalo mo lebih puas dan lega menuangkan uneg-uneg.  Sebelum nge-blog-in aspirasi kamu, ada baiknya browsing tentang DPD yang mungkin sekilas lintas pernah dibahas di pelajaran PMP atau PPKN dulu.  Itu juga kalo merhatiin penjelasan bu guru sih, kalo lupa mintalah bantuan pada Ustad Google tercinta kita.  Sekalian dapet gambaran gimana kinerja mereka selama ini, jadi aspirasi yang dikirim gak asal gitu.


Di microsite-nya sih selain bisa cari tau soal aturan lomba dan submission form buat ngirim tulisan di blog kamu juga ada sedikit info mengenai DPD-nya sendiri.  Lumayan lah buat masukan.  Kalo pengen respon lebih cepet ya bisa juga tanya via facebook, twitter, atau e-mail langsung ke panitia.  Lombanya sampai akhir tahun ini, masih ada waktu dua minggu buat ngejar gadget-gadget impian nih.  Ingetin saya ya kalo udah menjelang tenggat, soalnya suka lupa gitu hihihi


Image dari Ustad Google

Friday, December 09, 2011

Lorong Waktu Lawang Sewu

Lawang Sewu adalah landmark-nya Semarang.

Tegak menantang di jantung Jawa Tengah, dan menjadi bagian dari seratus dua bagunan bersejarah yang diproteksi, siapa yang menyangkal gedung dengan julukan seribu pintu (meski jumlah pintunya nggak sampe seribu juga sih) ini punya daya pikat yang memesona?

Belum ke Semarang kalau belum ke Lawang Sewu, sama derajatnya kalau pulang dari Semarang tanpa menjinjing sekotak loenpia khas kota multikultur ini. Nyatanya, setelah bolak-balik Semarang sekian kali dan sekarang ikut menuh-menuhin sebagai imigran saya baru berhasil mengeksplorasi kawasan yang katanya paling mistis di gedung bekas kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) ini: bawah tanah yang basah dan penuh catatan sejarah. 

Baiklah, saya nggak akan membahas sisi mistis gedung cantik ini karena percuma juga sebagai manusia yang tumpul indra keenam-nya, buat saya sejarah yang terekam di dinding Lawang Sewu lebih menarik buat dikulik.  Sama menariknya dengan menelusuri Djakarta tempo doeloe ketika nama Njai Dasima bersinar sebagai bintang. Seperti memasuki mesin waktu Dr. Emmet Brown dan Marty McFly , jejak-jejak muram seperti diputar ulang menggali imaji saya (tanpa penampakan tentunya).

Bawah tanah di Lawang Sewu adalah penjara bagi penentang penjajah Belanda. Selain fungsinya sebagai penampungan air hujan yang merupakan bagian dari arsitektur eco-friendly karya insinyur Londo. Sebetulnya sih keren ya, sayang fungsi gandanya itu bikin ngeri. Seperti cerita duka tahanan sependeritaan di Batavia (buka sejarah Museum Fatahillah deh), maka para narapidana yang dipenjarakan di bawah tanah Lawang Sewu ini nasibnya juga sama memilukan dan bikin miris. Namanya juga penampungan air hujan, kebayang dong gimana tahanan-tahanan itu tersiksa karena lantai dan lorong yang penuh air ini bisa aja sewaktu-waktu naik dan bikin menggigil. Liat aja deh gimana wujud penjaranya:

^ Penjara Jongkok
Hush, ini bukan bak mandi buat nampung air hujan lho.  Baki raksasa dari semen ini adalah penjara jongkok. Sesuai dengan namanya, tahanan yang kebagian jatah mendekam di sini akan tersiksa karena musti jongkok terus-terusan. Bagian atas penjara ini nantinya ditutup dengan teralis. Bisa napas sih tapi apa nggak sakit badan membungkuk terus-terusan? Sayangnya, saya lupa memberikan pembanding pada saat gambar ini diambil jadi agak susah memberikan gambaran ukurannya. 

^ Penjara Berdiri
Ini penjara berdiri, keliatannya lebih nyaman ya daripada penjara jongkok. Jangan salah, meski penjara ini memungkinkan penghuninya berpose normal dalam keadaan berdiri, penjara yang pintu teralisnya sudah dicopot ini kapasitasnya adalah empat orang. Duh.... gak kebayang sempitnya (--")

^ Ruang Jagal 
Nah yang di atas ini adalah ruangan buat mengeksekusi para tahanan. Gak pake berlama-lama meregang nyawa karena para jagal handal memisahkan kepala dari badan tahanan yang kebagian jatah meninggalkan dunia hari itu. Kepala mereka kemudian diletakkan di bak panjang berisi pasir buat menyerap darah (bakal bikin banjir lorong kalau gak ditampung dalam bak pasir). Tumpukan kepala ini kemudian nantinya dibuang lewat jendela kecil di sebelah kanan pada gambar. Hiiiiy... kebayang ih sungai di masa itu penuh mayat manusia O___o

Menurut guide yang menemani kami tur keliling basement, di kawasan ini memang sering muncul penampakan. Tapi saya nggak ngerti kenapa penampakan yang muncul hantu perempuan berambut pirang ya?  Padahal kan yang dibantai di sini adalah penduduk lokal alias suku Jawa (dan mungkin tahanan pindahan dari daerah lain). Ada yang tau jawabnya?

Thursday, November 17, 2011

Lerak for All!

Maaf ini bukan kampanye partai, sungguh! Walopun banyak politikus yang nyuri-nyuri start kampanye lewat aneka media dan pencitraan yang kental. Saya cuma mo cerita betapa bahagianya ketika berhasil menemukan formula baru mencuci yang lebih eco-friendly! Horeee...


Kenal lerak kan?  Tanaman yang masih sodara sama kakak beradik rambutan, leci dan kelengkeng ini memang nasibnya gak seberuntung tiga sodara kandungnya karena bukan termasuk jenis buah buat disantap. Tapi, penyandang nama ilmiah Sapindus rarak ini ikut terangkat kembali popularitasnya pasca batik nge-hits (lagi). Iya, kalau mau koleksi batikmu tetep cantik tentu harus dicuci dengan sabun khusus bukan deterjen. Resiko mencuci batik pake deterjen adalah warna cantiknya akan luruh beserta air bilasan yang penuh pencemar itu #eaaa


Sama kayak lidah buaya, lerak secara alami punya kandungan kimia senyawa saponin yang bersifat basa. Tuh, dari namanya udah ketauan dong kalo saponin ini berhubungan sama sabun alias bersih-bersih. Malah lerak sebagai pembersih batik lebih unggul dari sisi lingkungan hidup karena berasal dari alam dan tentu aja lebih mudah diurai oleh bumi kita tercintah baik ketika larut dalam air atau pun meresap ke tanah. Sayangnya, selain kurang praktis (iya kebayang kalo musti ngucek2 cucian pakek biji-biji lerak yang mulai langka ituh) warna dan bau lerak yang "batik banget" membuat produk ini kurang populer sebagai pembersih. Dan, celakanya peluang pasar lerak menjaga kebersihan batik lalu disalip produk luar sabun cair khusus batik. Hiks...  meski di toko batik atau pasar tradisional bisa kita temukan lerak cair yang lebih praktis, teteup aja yah warnanya yang coklat dan baunya yang kurang nikmat (meski menurut saya eksotis banget!) diendus lobus olfactorius* bikin ruang gerak lerak menyempit macam gang senggol.


Lalu suatu hari saya dikenalkan pada sebentuk lerak generasi baru, sebut saja lerak 2.0 karena betul-betul mencerahkan *kerlip bintang bertaburan*


Adalah seorang teman di komunitas Loenpia si penyalur lerak 2.0 ini, tadinya sih saya niat beli karena emang males blusukan ke pasar becek nyari lerak (takut nyasar dan gagap bahasa sodara-sodara!) jadi cari praktis belanja online lah. Padahal cuma punya batik sebiji hihihi... (biar sebiji tapi desainnya ala-ala EDBE** lowh). Ternyata eh ternyata si lerak 2.0 yang ditawarkan temen ituh bener-bener pencerahan bagi dunia sabun cuci pada umumnya.


Yap, lerak 2.0 kemasan cair dengan warna kuning keemasan dan berbau harum dalam botol plastik adalah tampilan yang menggoda saya untuk mencoba.  Terkenang busa deterjen yang seringkali menutupi permukaan parit atau sungai (dan bikin plankton*** megap-megap karena DO**** menipis) maka eksperimen mengeksplorasi lerak sebagai sabun cuci pun dimulai! Iya, menurut literatur sana-sini orang Jawa jaman duluk itu kalo nyuci ya pakek lerak. Mungkin karena pakean mereka rata-rata emang batik yah... 


Sesuai takaran pakai, lerak 2.0 yang sedikit kental ini (setelah dicek di labelnya ternyata mengandung rumput laut, entah seaweed atau seagrass deh...) saya campurkan pada air cucian yang mengandung kaos dan pakaian non batik saya. Voila! Hasilnya ternyata sama aja kayak pake deterjen biasa kok: bersih dan wangi dengan tambahan semriwing khas lerak. Dosis yang sama saya terapkan pada underwear dan kerudung yang pencuciannya butuh sentuhan tangan, menghasilkan kualitas cucian yang setara dengan sabun cuci lembut atau shampo. Noted!


Secara iseng pula (dan males belik deterjen tambahan) koleksi jins dan handuk saya ikut merasakan sentuhan lerak 2.0 menggunakan mesin cuci. Gak ada bedanya tuh sama deterjen biasa. Malah, buat saya ini lebih menyenangkan karena green lifestyle banget:

  • Lerak 2.0 bersifat organik, jadi ketika terbuang di alam sebagai limbah lebih cepat terurai gak menimbulkan tumpukan busa
  • Lerak 2.0 lebih hemat air, cukup satu kali bilas 
  • Lerak 2.0 gak bikin tangan kering, abis nyuci pake deterjen biasanya tangan kita terasa kering dan musti dibasuh pake sabun cuci tangan lagi yang berarti boros air dan menyumbang pencemar 
  • Limbah lerak 2.0 bisa dipakai buat pupuk organik, ini menurut Respect Magazine yang concern pada isu go green serta kearifan lokal. Saya belum mencoba benefit yang satu ini dengan alasan: gak punya tanaman buat disiram, masa mo nyira tumbuhan cinta sik? *krik krik*





Dilihat dari kemasannya sih, lerak 2.0 ini masih industri rumahan ya. Saya berharap lerak 2.0 bisa diproduksi massal dan dikemas dalam ukuran besar sehingga gak perlu membuang banyak botol plastik (walopun bisa dimanfaatkan ulang). Syukur-syukur menyediakan refill service. Jadi misalnya saya kehabisan lerak 2.0 maka saya bisa membelinya lagi dengan sistem isi ulang, tanpa perlu beli kemasan. Tapi kalau merasa bersalah dengan kemasan botol plastiknya, sisihkan bersama sampah anorganik lain buat disumbangkan ke pemulung yah! 


Sekedar info:
* Lobus olfactorius merupakan bagian otak yang bertanggung jawab terhadap penciuman
** EDBE adalah brand dari desainer Eddy Betty
*** plankton didefinisikan sebagai organsme renik tak kasat mata (baru keliatan kalo diliat pakek mikroskop) hidup melayang-layang di zona perairan yang masih terkena cahaya matahari
**** DO itu singkatan dari Dissolved Oxygen alias oksigen terlarut yang dibutuhkan banyak mahluk hidup di suatu perairan
Gambar diambil dari Google andalan kita semua! 



Monday, November 14, 2011

Nasib Anak Kos

*Bersih-bersih blog yang mulai ditumbuhi sarang laba-laba...*


Saya belum pernah jadi anak kos...
Dari SD (saya gak punya ijazah TK lhooo *bangga*) sampai kuliah dan kerja, saya setia menjadi penduduk Depok. Tinggal bareng ortu, yang dari awal 80-an udah mendiami kota penyangga Jakarta ini. Kuliah juga dapet kampus di Depok, so is there any reason to stay at rent house? Jadi ya pengalaman ngekos cuma beberapa bulan saya rasakan ketika solider nemenin sohib yang musti penelitian di sebuah daerah terkucil di Depok juga (!) demi mengamati pertumbuhan gurame dalam fase balita yang berjumlah ratusan itu.


Ketika akhirnya berpartisipasi sebagai bagian dari laron ibukota pun saya tetap memilih menyandang gelar komuter berkendara kereta, angkot, bis, sampai ojek dan masuk komunitas nebengdotcom. Jadi, tahun ini saya membuat gebrakan baru sebagai anak kos. Horeeee.... *nyalain petasan*. Iya, dengan migrasinya saya ke kota sentra kegiatan di Jawa Tengah mau nggak mau saya melamar jadi anak kos. Nggak gampang karena Semarang bukan tanah air kedua ortu saya, meski secara Ius Sanguin mengalir darah etnis Jawa di arteri dan vena. Lewat jaringan milis komunitas lah saya mendapatkan hunian yang sekarang ini saya tempati ini.


Minim pengalaman, jelas bikin saya linglung mo ngapain ya? Apalagi kosan yang saya pilih ini dihuni lebih dari dua lusin manusia! Apalagi, 99% penghuni kos dipastikan berstatus mahasiswa dengan usia nyaris separuh usia saya yang lebih pantas jadi dosen mereka ini *ngecek KTP, betulin konde*.  Hohoho... kesenjangan generasi macam apa yang bakal menimpa hamba-Mu ini ya Tuhan


Tantangan pertama tinggal serumah dengan mahasiswa yang umurnya separuh saya adalah soal selera hiburan. Sungguh sebagai anggota sekte anti-inbox dan tayangan tipi sejenis saya musti tahan mendengar anak-anak muda itu memuja penyanyi-penyanyi bermodal lipsync dan postur menjual setiap paginya.  Huhuhu.... Meski bukan pecinta tipi, tapi tentu saja saya kehilangan momen menutrisi jiwa dengan tayangan berkualitas macam Just Alvin dan tentu saja Kick Andy favorit. Jadilah saya memilih puasa tipi selama menghuni. Toh, sebetulnya tayangan bagus itu masih bisa saya nikmati lewat alur streaming kan? 


Tantangan berikutnya adalah bagaimana saya membiasakan diri dari mahluk soliter yang biasa mengatur rumah segalanya sendirian menjadi anggota koloni yang penuh toleransi. Misalnya aja nih ya, betapa tersiksanya saya ketika melihat anak-anak muda ini penuh suka cita menghamburkan air (yang memang alhamdulillaah berlimpah) pas nyuci pakaian. Soal kebiasaan cuci pakaian ini, ada yang lebih aneh. Bisa lowh mereka melakukan soaking di satu tabung sekaligus pengeringan baju-baju yang udah bersih di tabung satunya lagi. Huwaaaa saya sampe terkagum-kagum pada ide multitasking mereka yang brilian itu (--").


Di kosan pula, dengan berat hati dan terpaksa saya mengubur kebiasaan mulia pemisahan sampah basah dan sampah kering untuk area dapur. Dengan dua lusin manusia di dalamnya yang setiap hari belum tentu ketemu, jelas bukan hal mudah menularkan green lifestyle ini. Lah mereka ini ya jangankan misahin sampah, masuk rumah pun dengan sewenang-wenang menginjakkan kaki bersepatu yang berlumur lumpur ke lantai yang baru beberapa menit dipel. Howaaaaah... rasanya mau deh guyur si oknum pakek kuah pel yang baru dipake buat bersihin sisa-sisa pembunuhan kambing korban (alias penuh darah).


Mengenang pertama kali jadi anak kos juga rasanya norak banget deh. Iya, kalian pasti gak percaya dan menganggap hoax kan kalo penyakit lama saya yaitu pendiam kambuh. Jadi, setiap keluar kamar dan beradu tampang dengan pemilik pintu kamar lain saya cuma pamer lesung pipi alias nyengir tapi diam-diam ngamatin kelakuan mereka dari dalam kamar.  Sebenernya sih otak lagi nyusun strategi gimana kenalan dan bisa akrab sama mereka hahahaha...  FYI dengan volume suara mencapai 120 desibel gak susah kan melakukan observasi kelakuan mereka dari balik jendela yang cuma berlapis kaca tipis? 


Masih banyak kerlap-kerlip derita anak kos baru yang sempet bikin shocked dan mecucu (kosa kata baru nih, sounds cozy banget ternyata). Tapi, tentu saja every cloud has silver lining lah kata perihbahasa impor. Satu hal yang perlu banget disyukuri adalah penyamaran saya berhasil hahahaha! Iya, jadi di antara dua lusin penghuni masih ada aja yang nyangka saya ini mahasiswa. Kasian banget kamu dek, coba sini cek minus mata kamu ya....  Atau ada juga yang bingung kok saya hampir tiap menit ada di rumah. Ya udah dengan senang hati saya mengulang pemaparan apa-sih-yang-saya-kerjain-di-rumah pada setiap kesempatan ketemu salah satu dari penghuni di area cuci mencuci atau dapur umum (yang kerap jadi sarana pedekate saya ke anak-anak muda ituh). 


Masuk bulan ketujuh jadi anak kos (tanpa perayaan, maap yeee ini bukan hamil) tentu saja tantangan-tantangan itu bisa saya lewatin dong. Ya lumayanlah, meski butuh waktu lama dan asupan nutrisi otak lebih banyak buat menghapal dua lusin anak muda itu saya udah mulai bisa mengakrabi dan mengenali karakter mereka. Dan, jadi anak kos ada hepinya juga kok. Lebaran haji kemarin, yang merupakan lebaran haji pertama saya jauh dari keluarga, dihabiskan bersama selusin (karena lima puluh persen penghuni kos memilih mudik) anak kos berpestapora di atap rumah bersama. Inisiatif siapa yang menjadi mula, pastinya kami sepakat urunan rupiah buat belanja bahan makanan untuk pesta dua malam hahaha...


Dan ketika daging ayam yang lembut membara kecoklatan (karena kecap sik, trus dibakar juga jadi item deh) kami kunyah bersama rasanya segala sekat dan batas usia itu lumer dalam kekeluargaan ... 8') 





Monday, May 30, 2011

Putus, Terus?

Pagi-pagi sekali, instant messenger saya disibukkan oleh pesan baru dari seorang temen dengan emoticon mewek berduka. Heh? Ada apa ini? Dalam keadaan separuh nyawa melekat di badan, saya mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menyimak ceritanya....


Teman : Bo... gw putus ama si X
Saya    : Eeeeeeww? 
Teman : Iya, gw gak nyangka deh dia bakal .....
*mengalirlah berparagraf curhatan penuh drama*


Sedikit kaget, meski gak 100% juga karena saya sudah menduga keputusan itu akan diambil si X, yang juga salah satu teman baik saya. Dan, dalam kondisi percintaan mereka yang retak berpixel-pixel itu, saya adalah tempat sampah curhat dua mahluk Tuhan itu. Iya, saya emang sering banget berusaha jadi pendengar yang baik bagi siapa aja yang lagi terluka mau pun bahagia. Mustinya sih bersyukur ya, karena berarti banyak yang percaya sama saya.... ihiir!!!


Nah, pasca sesi curhat pagi yang merenggut separuh rasa ngantuk saya itu, blog sang teman yang baru patah hati itu pun ter-updated dengan postingan penuh darah luka. It's very common sebetulnya. Dari jaman blog belum ada pun, cerita putus cinta selalu sukses bikin seseorang jadi puitis mendadak, galau, linglung, labil, sampai emosian. Ada lho temen kuliah yang pas putus pasca pacaran lebih dari enam tahun (dan sempet berencana mo married) trus jadi dendam membara sampe sekarang. Melebihi dendamnya Si Manis Jembatan Ancol. Saking dendamnya, mereka akhirnya nge-removed (dan nge-blocked!!!) satu sama lain di FB. Padahal ya, masing-masing udah punya keluarga yang tampak berbahagia lho....


Saya kok jadi mikir, apa betul putus cinta bikin sengsara semata karena kita terlalu mencintai pasangan? Bukan karena kita merasa diiinjek-injek dan dilindas pake tank Brimob (ada gak sih?) sampe berubah wujud dari 3D jadi 2D? 


Saya juga pernah terluka kok, karena gagal dalam percintaan *ambil gitar, mulai nyanyik di bawah pohon beringin*. Jadi Audy (menangis semalam maksudnya) itu wajar. Tumpahin aja sampe mata bengkak dan bantal bisa diperas saking banyaknya ditumpahin air mata. Tapi, life must go on man! Kalo terus-terusan frustrasi, nonton film melow sambil makan sekotak es krim sampe BMI berada di skala overweight trus kita jadi jelek dan makin bikin si mantan bersorak: nah kan untung gw putusin elo! ..... 


Ketika pertama bubaran sama sang mantan, yang putra mahkota, mewek sih iya. Tapi ya setelah dianalisis kayaknya emang bukan karena cinta semata tapi gara-gara saya merasa direndahkan. Iya, upik abu yang gak ketemu-temu ibu peri mimpi bersanding sama putra mahkota? Hey, bangun! *guyur air sebaskom*.  Iya, persis kayak cerita telenovela, saya sama si mantan emang beda kasta secara sosial ekonomi. Dan seperti layaknya sinetron, si mantan pun akhirnya dijodohkan dengan sepupu jauhnya..... and they lived happily ever after? Gak tau, soalnya saya gak pernah kontak lagi kecuali ngebalas SMS ucapan lebaran. Ogah menuai resiko dicemberutin si istrik hahaha....


Trus saya gimana? Ya gak gimana-gimana. Tuntas kepedihan dan kesedihan, saya lebih memilih eksis dan menggali tambang duit. Dulu diputusin gara-gara miskin, makanya saya gak boleh jadi orang miskin dong. Alhamdulillah sih, meski gak menyamai kekayaan keluarga si mantan tapi saya bisa menghidupi diri sendiri tanpa minta ke ortu, belanja ina ini ina itu dengann uang sendiri yang rasanya nikmat banget. 


Ada juga sih beberapa orang yang menghibur ketika temennya putus cinta dengan: ya berarti dia gak layak dapetin elo, you deserve better! Ini bukan basa-basi lho, bertahun-tahun pasca putus dengan si putra mahkota trus saya dikasih kesempatan punya pacar yang super romantis. Awalnya sih menyenangkan, tapi lama-lama bikin mual ya? Belakangan ketauan kalo di balik sikap manisnya dia punya bibit KDRT. Hiiiiiiy.... ini terdeteksi dari kata-kata kasarnya yang mulai terlontar ketika saya nyungsep dengan sukses dari motor pas belajar bareng dia. Gara-gara salah mencet tombol rem dengan gas! Gak lagi-lagi deh, kalo diterusin bisa-bisa jadi korban kekerasan kelak ketika udah sah jadi istrinya!


Meski sempet sesenggukan, pada awalnya, akhirnya toh saya berhasil senyum lebar ear-to-ear dong. Dan petuah: you deserve better guy is proven lowh! Iya, si pacar yang sekarang ini emang 180 derajat berbeda fisik dan kelakuan dari saya. Kalo saya pecicilan luar biasa, maka si pacar adalah orang yang kalem, tenang, kayak telaga Handeleum. Itu sih baru sebagian, selebihnya lebih baik saya simpen aja yaa... Hihihhi.... Yang pasti, si pacar bukan putra mahkota yang mengandalkan warisan ortu dan sama sekali gak pernah ngomong kasar, apalagi main fisik. *wahai pacar selamat menikmati kegeeran dipuja-puji*


Trus point-nya apa nulis ini?


Gini, kalo kamu abis diputusin pacar jangan lama-lama nangisnya. Kamu boleh lho niru kiatnya Kate Middleton merebut hati si William sampe akhirnya bikin sirik seluruh cewek di dunia. Si Waity Kattie ini, setelah sempet diputusin William, bukannya trus ke-gap mabok atau ugal-ugalan, malah makin eksis di banyak event dengan penampilan yang makin diperkinclong supaya dilirik balik sang pangeran. Terlepas mereka emang berjodoh, bisa jadi si Will mikir rada nyesel gitu melepas Kate dan akhirnya... you-know-what lah.


Kalo emang si pacar udah telanjur punya pasangan sehidup semati alias terikat perkawinan ya gak perlu maksa dia buat berpaling lagi ke kamu. Biarkan aja, masih banyak lhooo keturunan Adam yang layak kamu gebet di dunia maya maupun nyata....


P.S: thanks buat yang abis curhat soal patah hati for inspiring me writing this crunchy post
image source: clipartof.com 



Friday, May 27, 2011

Cinta, Cemburu, Curiga

Cemburu belum tentu karena cinta, cemburu itu tanda insecure (Chichi, blogger).


Buat yang punya pasangan, cemburu udah pasti jadi bumbu dalam hubungan. Kata orang jaman dulu siiiih cemburu itu karena kita cinta. Tapi apa iya? Ibarat garam, cemburu emang bikin sedap dalam kadar secukupnya. Tapi kalo terus-terusan? Hmmmmm... siap-siap kena serangan hipertensi dan jantung yak!


Saya jadi inget curhatan seorang temen yang--entah kenapa-- selalu jadi korban cemburu dari pria yang udah punya pasangan, either itu menikah atau pacaran. Iya, gak ngerti kenapa para pria itu kok ya bisa akrab dan "lengket" sama dia. Padahal, dia gak ngerasa cantik (yang sering dituduhkan jadi daya pikat utama buat kaum Adam). Saya lirik dia, ehm iya juga sih kalo standar cantik itu kayak di iklan yang tinggi-putih-langsing-berambut hitam panjang lurus, maka temen saya itu cuma memenuhi dua syarat: cukup tinggi dan langsing. Putih? Lha kulitnya tuh ya Indonesia banget alias sawo mateng pohon. 


Dan, karena lumayan sering jadi tempat sampah curhatnya soal para pria itu, saya jadi memerhatikan perempuan-perempuan pencemburu di baliknya. Ada yang salah dengan mereka kah? 


Perempuan pencemburu pertama: punya syarat seperti diajukan agensi model dan berprofesi SPG. 
Perempuan pencemburu kedua: pinter, berwawasan luas, dan kritis, meski secara fisik biasa aja.
Perempuan pencemburu ketiga: ber-body curvy, jelas berkulit putih dan berwajah cantik, cerdas, pleus berasal dari keluarga terpandang.


So, kenapa musti cemburu ama gue? Apa gue musti operasi jadi jelek gitu? Keluh temen saya.


Saya lantas mengamati, apa yang bikin para pria tertarik dan akrab pada teman saya itu? Yak, sebagai teman yang baik tentu aja saya akhirnya menemukan beberapa alasannya. 


Tampang cantik, bukan jaminan pasangan bakal setia. Si pacar SPG rupanya bosen setiap ngobrol sangat gak nyambung, sementara dengan temen saya dia menemukan kenyamanan saat ngobrol. Nyambung terus, kayak slogan provider seluler.


Pacar si cerdas, jelas mengakui intelektualitas kekasihnya yang juga pewarta di harian ternama ibukota. Tapi, tentu aja dia ego kelelakiannya meminta porsi yang gak selamanya superior. Pengen juga gitu sekali-kali do crazy things dan ketawa ngakak, itulah yang dirasakan ketika dia sekali jalan bareng temen saya.


Pacar si curvy alias Nona Sempurna, hmmmm dia punya segalanya terus kenapa musti cemburu sama temen saya? Apa gitu yang dia gak punya? Hanya aja, sekilas lintas saya kenal dengan si cantik, terendus aroma arogansi. Wajar, she has everything. Sementara temen saya itu meski saya tau dia juga punya "sesuatu" yang dibanggakan, tetep low profile high profit. Bisa jadi, di depan temen saya itu si pacarnya Nona Sempurna bisa menghalau inferioritas dirinya. Iya, si Nona Sempurna ini emang populer luar biasa. Sementara pacarnya, pria sederhana berwajah kharismatik. Eyaaaa kenapa jadi ikutan muji hihihi...


Setiap orang, adalah sempurna. Seperti sabda Tuhan ketika menciptakan manusia: dalam bentuk yang sempurna. Selebihnya, kita sendiri yang membuatnya jadi kurang sempurna melalui attitude yang mungkin mengurangi poin kesempurnaan kita.


Alih-alih menyemburui temen saya, mustinya si SPG bisa megimbangi obrolan dengan sang pacar. Ketimbang jealous tiada tara pada temen saya, seharusnya si wartawati sesekali "down to earth" dengan kegiatan menyenangkan yang dimaui kekasihnya. Dan.... kalo aja si Nona Sempurna mau merendahkan diri hatinya, daripada nyemberutin temen saya yang udah berusaha jaga jarak sama pacarnya ituh, bisa jadi dia makin bikin pacarnya klepek-klepek. 


Adhitya Mulya (ini bener gak nulis Adhitya-nya ya?) dalam novel laris Jomblo menulis alasan kenapa seorang selingkuh: pasangannya yang gak sempurna, atau justru dia lah yang ngerasa gak sempurna. Iya, ini diungkapkan Agus yang cupu tapi bisa punya pacar dua nan cantek-cantek. Maafkan saya yaaa kalo salah mengutip, udah lama gitu bacanya .... (--")


Back to topic, jadi ya menurut saya sebelum kita "melabrak" perempuan lain yang kita curigai merebut perhatian si pacar, coba deh ambil cermin introspeksi. Iya, cari tau apa ya yang bikin si pacar kok perlu ngelirik perempuan lain. Pasti ada yang salah dari diri kita. Kalo bahasa medisnya mah ketimbang melakukan sterilisasi dan proteksi, mending kita pertebal keimanan imunitas alias perbagus diri sendiri. Kalau si pacar masih juga kepincut cewek lain? Bye bye aja... Itu mah P-L-A-Y-B-O-Y *sambil berubah jadi 7icons*


So, apakah setelah ini kamu bakal ngeborgol tangan pacar biar dunia tau dia pacarmu?


image source: googling dan gak nemu sumber aslinya, maafkan saya (--")

 

Popular Posts