deBlogger Berbagi di Bulan Suci : Sejuta Cinta di Hari Senja

deBlogger Berbagi di Bulan Suci from ramadoni on Vimeo.


Akhir pekan kedua Ramadhan...
Menikmati waktu di panti, selalu memberi arti tersendiri di bulan segala bulan ini. Memoar akan beberapa perjalanan ke wisma yang tak berpunya kembali tergali.

Panti Balita di Cipayung, menyisakan sesak akan tunas-tunas haus cinta. Meski materi tak kekurangan, menatap mereka bergayut manja pada siapa pun yang berkenan datang tak ayal memicu kelenjar lakrimal memproduksi bulir bening di pipi.

Panti Tuna Ganda di Cimanggis, sungguh saya tak punya nurani jika hati tak terusik. Belasan manusia tak sempurna fisik dan jiwa, hanya bisa memandang nanar kami yang tertegun penuh haru. Terlahir dengan banyak keterbatasan, nyatanya keberadaan para tuna ganda ini membuka peluang beramal dalam bentuk ketulusan merawat mereka penuh cinta. Subhanallaah... sungguh Engkau menciptakan segala sesuatu tidak dengan sia-sia.

Panti Wredha Usaha Mulia, Sawangan. Ini adalah halte berbagi hati yang saya sampiri tahun ini. Bersama para narablog asal Depok, kami memang tak dibekali banyak materi untuk menebar cinta bagi kaum renta. Lelah usai mengukur jalan dengan kendara roda dua tak seberapa ketika tatap kami bersirobok dengan pandang hampa para lansia di sana.

Tersadar penuh, bahwa cinta tak pernah terbeli dengan harta, berkotak bingkisan yang tak lain translasi dari donasi tentunya bukan hal utama untuk diberi. Karenanya, petikan dawai akustik mengiring tembang lawas "Titip Rindu Buat Ayah" lebih pas menjadi pencair suasana. Hening tercipta, haru merambah. Terkenang sosok lelaki berpanggilan "bapak", tak ayal air mata menganaksungai. Terlebih bagi yang jauh dari pelukan orang tua.

Kenyataan bahwa manusia ingin bersama, tertuai jelas ketika kami mengajak mereka berlantun irama nostalgia. Pendekatan personal, mulai jelas terlihat saat sosok-sosok yang semula tak bergeming mendadak mengukir rona bahagia dalam bentuk senyum dan sungkan yang terurai. Ekspresi gembira tak cuma tertangkap dalam lantunan suara indah milik Oma Lastri, meski pendengarannya tak lagi sempurna tapi dengan bimbingan bahasa bibir kami bernyanyi bersama. Oma Maria yang masih tampak bugar, sejak awal ibu ini yang paling ramah dan energik, melantai menunjukkan kepiawaiannya berdansa seperti laiknya etnis Manado lain. Surprised teraba ketika Opa Leo yang rupawan tersenyum lebar mendengar Boogie Boogie dimainkan, meski menit-menit sebelumnya enggan berbaur karena not in the mood.

Seiring tirai senja mulai menurun, keriaan tak pelak musti diakhiri. Berat hati kami pergi, tapi kenyataan tak dapat dipungkiri. Usai mengambil gambar bersama, deru kuda besi perlahan beringsut meninggalkan pekarangan panti nan asri. Meski kaki menjejak pergi, tapi hati telah terisi memori tak terganti bersama mereka dari fase senja.


Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

20 comments:

ramadoni said...

widih, videonya dobel oy...mansttaappp..

lukman said...

bid'ah dalam penulisan judul! *ditimpuk*

luvie said...

nice post, eno...

walau telat.. :P

Aris said...

saya juga beda judul :P
si bu naga bisa juga memancing emosional pembaca yak (tears)

ipied said...

Oma maria sepertinya dulunya penari makannya lincah :D

wih baca postingan gratis nonton video 2 kali welelelelkekekeke

Iman said...

Walah ... bahasanya tingkat tinggi nih ... *lihat kamus besar bahasa Indonesia*

Banyak oleh-oleh hikmah yang bisa dibawa pulang dari Rumah Petir kemarin. DeBlogger jangan kapok ngadain acara sosial lagi ya :)

Dodi Mulyana said...

Bahasa tingkat tinggi :-D

Titip Rindu Buat Ayah memang dahsyat (cry)

Braveheart Novi said...

Titip Rindu Buat Ayah? Ntar pas nyanyi lagu ini, gue di SMS lagi ama Ayah gue ... haha, dia yg rindu ama gue ...

Nek ... bahasa lo .... nendang abis ke kalbu

Piecha said...

serasa melayang bacanya.. puitis abis.. so inspiring..

Alfian Abe said...

hiks...mba nagaaa.....*dibalik sosok naga-centil* menyentuh banget siih....

Anonymous said...

T_T jadi ingat diminta datang lagi sama oma lastri

Anonymous said...

bahasanya mantabbbbb.. ^^

e-no: si nagacentil said...

@doni : gimana dong ni biar ga dobel2?
@lukman : eeeh kan kesepakatan boleh kasih sub judul setelah judul bersama =P
@luvie : iyah maap telat, selaen baru nyampe si inspirasi datengnya juga musti diinduksi pake pisang... halah
@aris: eeh gw belom mampir ke blog lo ni..
@Iman: beginilah Klanis yang suka ngintip Kahlil Gibran ihihi
@Dodi : hidup Klanis! btw, sayang yah ga ada lagu Bunda dimaenin kemaren.. (T_T)
@Novi: eh judul lo juga beda ya? BTW gw dulu dijulukin pujangga kok hahaha
@Piecha : saya pujangga MIPA nak, lulusan sastra latin hahaha
@Abe: ga nyangka yak? *wink wink*
@tika : eh gw ditantangin xuexi zhongwen ama oma amoy huhuhu...
@mima: makasii .. makasii *pipi memerah* (#^_^#)

e-no: si nagacentil said...

@ipied eh gw takjub si Oma Maria itu umurnya udah 78 tapi paling lincah, gw yakin dia mudanya mah pasti gape dansa dansi tuh... ah jadi pengen belajar nge-dance juga

gajah_pesing said...

sukses buwat Komunitas Blogger Depok, semoga Kebersamaan dalam Berbagi tidak hanya dilakukan di bulan suci namun juga dibulan-bulan lainnya, amin.

Pencerah said...

Kirain puisi. Btw mantaff nich acaranya

shandyisme said...

salut dah ama oma yang satu ini..

bisa bahasa aneh juga ternyata, hihi

e-no: si nagacentil said...

@gajah harapannya bgitu, Ramadhan ini buat pemanasan
@pencerah hehehe kapan2 ikutan yuk
@shandy... maksuuuuud =p

piazola said...

Gw musti hati2 nih sama lo. Bisa2 kerjaan gw disabet.

e-no: si nagacentil said...

@piazola ah beda dong porsi kitah cyiiin.... obsesi gw nyaingin katon kok hahaha