Wednesday, December 30, 2009

Menteri Men-tweet


Sesaat setelah Tifatul Sembiring diamanahi posisi Menkominfo, saya sebagai salah satu pemakai Plurk mendapati account-nya di microblogging media yang identik dengan karma itu: ID tifsembiring. ID yang sama juga kita temukan di ranah ceracau bernama Twitter.  


Awalnya saya sempat skeptis, apa mungkin menteri dengan kesibukan luar biasa akan punya waktu "menyampah" di media online? Nyatanya, setiap saya membuka laman Plurk dan Twitter, ID sang menteri cukup updated dengan kabar teranyar berisi lantunan pantun, quotes penyemangat, dan tentu saja info kegiatan harian yang berhubungan dengan tugas kenegaraan semisal menghadiri peresmian ina ini ina itu. Belakangan, @tifsembiring makin rajin menyeracau dengan berbagai warta yang sifatnya bukan lagi satu arah, melainkan semacam bagian dari rangkaian aktifitas e-marketing. Sebut saja lomba menulis ibu dan internet, buku untuk followers, hingga lomba desain t-shirt. Iming-imingnya beragam, dari buku hingga gadget sejuta umat persembahan sponsor.


Virus twitter nampaknya telah mewabah bukan hanya menjangkiti selebriti yang sering wara wiri di layar beling, pak menteri kita pun pantang tertinggal. Menteri pun merasa perlu berinteraksi di dunia maya, terlepas dari pertanyaan besar apakah tweet pak menteri "langsung dari BB akyu" atau bukan, sebagai rintisan komunikasi antara pelayan rakyat dengan sebagian masyarakat Indonesia pengguna twitter (dikutip dengan senang hati dari sini).  
Menakjubkan, karena laman akun twitter @tifsembiring cukup interaktif dan hidup, bukan semata melempar isu seperti yang kerap terjadi di ranah ceracau itu. Silakan cek di sini untuk kepastian banyaknya reply pak menteri. Termasuk jawaban pak menteri tentang mobil mewah Crown jatah pejabat.


Twitter memang satu dari sekian efek kemaslahatan yang dihasilkan oleh internet, sejak booming di nusantara pada 2000 silam. Keberadaannya, perlahan tapi pasti mulai menggeser layanan SMS premium selebriti yang sempat menuai protes publik karena rakus menyedot pulsa pelanggannya. Dan kini, lewat twitter pula seorang pejabat negara --yang identik dengan tak tersentuh karena lapisan pengamanan plus sederet prosedur birokratif-- bisa menjamah (serta dijamah) elemen negara bernama rakyat. Jawaban pak menteri, tak ubahnya obrolan di teras rumah sambil menikmati teh manis panas dan pisang goreng keju:


@omagiel www, itu mobil dinas, yg dipinjamkan, hanya u/ dinas, tdk boleh dipakai u/ pribadi
@rizkaputranto sy msh pkai mbl pribadi sy, yg baru blum dikasih
about 2 hours ago from UberTwitter in reply to rizkaputranto 


Dengan menafikan kemungkinan keberpihakan, pak menteri memilih menjadi pejabat yang komunikatif memanfaatkan trend yang sedang happening. Ini halal-halal saja, selama masih menjadi corong kebaikan. Pak menteri, atau mungkin tim di baliknya, dengan cerdiknya mengimplementasikan 2 dari 12C: conversation dan connect.  Terhubung dengan rakyat, dan membangun komunikasi. Bila dibarengi dengan offline activities yang positif pula, ini tentu akan memberikan citra positif di mata pegiat daring sebagai potential market yang biasanya cenderung mengabaikan election alias golput. 


Para pegiat daring ini, meski saat ini jumlahnya belum lagi menggenapi separuh penduduk Indonesia, namun mereka memiliki kekuatan sebagai influencer dan memegang posisi cukup strategis menyuarakan aspirasi politik mereka secara bebas (semoga gak terjebak pasal karet UU ITE). Kalau --lima tahun ke depan-- @tifsembiring mencalonkan atau dicalonkan menduduki kursi RI 1, setidaknya ia sudah memiliki tiket emas untuk berkompetisi dengan finalis lainnya. 


CMIIW .... 

Monday, December 28, 2009

Lelaki: Otak atau Otot?


Jujur, pertama kali menyaksikan tayangan iklan rokok Surya 12 Premium ini, yang berkelebat di benak saya adalah: emang gak ada internet ya?


Saya asumsikan tokoh utama di iklan ini: lelaki tampan perkasa yang sedang menikmati kopinya. Si tampan perkasa harus rela diganggu oleh dering telpon sekretaris jelita, minta proposal dikirimkan saat itu juga karena bos besar membutuhkannya untuk meeting. Alih-alih memanfaatkan jasa kurir cepat atau bahkan media internet, si tampan perkasa memilih mengantar sendiri dengan kuda besi, simbol maskulinitas. Menerjang segala bahaya termasuk melompati kereta yang sedang berjalan, demi mempertaruhkan karir dan masa depannya. Berhasil, proposal tiba tepat waktu ketika meeting baru akan dimulai. Contoh karyawan berdedikasi yang musti dan perlu dipelihara dengan baik. 

Ini memang iklan rokok, yang identik dengan kaum pria. Tagline-nya pun dibuat: taklukkan tantanganmu! Dan seperti iklan rokok lain yang terjegal banyak aturan, tak ada adegan tersurat yang menggambarkan kegiatan merokok atau bahkan unsur sang rokok sekali pun. Karenanya, pencitraan adalah kunci utama iklan ini. Citra yang ingin dibangun: lelaki pengonsumsi surya 12 premium adalah yang berani menaklukkan tantangan. Lelaki hebat.
Pertanyaannya: relevankah iklan itu di era 2.0 di mana dunia maya merajai setiap sendi kehidupan kita?

Saya, yang sangat sadar dengan kemampuan fisik saya yang rendah, tentu saja lebih mengandalkan otak ketimbak otot. Sehingga, wajar jika saya mempertanyakan haruskah berjibaku lewat serangkaian aksi macam stunt man film laga Hollywood untuk menyampaikan proposal yang tebalnya tidak seberapa itu? Saya jadi bertanya-tanya, jika si tampan perkasa memilih untuk mengirimkan proposal via internet berkecepatan tinggi, apakah dia akan kehilangan kelelakiannya? Atau slogan "Taklukkan tantangan" musti diartikan secara harafiah sebagai tantangan fisik? 

Jangan-jangan, setelah ini akan ada iklan ISP (internet service provider) yang mengambil storyboard serupa, hanya mengganti adegan jumpalitan di atas motor (yang juga pernah dipertontonkan oleh iklan Bajaj Pulsar) dengan scene: mencolokkan modem ke laptop dan voila!! Internet menyampaikan sang proposal dalam keadaan utuh di tangan sekretaris jelita. Atau, mungkin ada perusahaan kurir yang mengadaptasi iklan ini dengan memenggal bagian penuh aksi tadi. Lalu memilih skenario si Tampan Perkasa menelepon jasa kurir cepat untuk mengantar proposal dengan aman dan tetap cepat...


Saturday, December 26, 2009

Ibu vs Bumi


Bikin iklan itu gak gampang...
Selain pastinya permintaan yang punya duit  klien yang berharap bisa mendongkrak penjualan, iklan yang menarik dan membekas di ingatan pemirsa juga penting. Begitu tayangan diselip iklan, kebanyakan dari kita pasti mengandalkan remote control untuk menghindari tontonan titipan sponsor produk. 

Tanpa bermaksud mengecilkan kerja agensi, kadang pembuat iklan lupa side effect dari karya komersialnya. Contohnya iklan Yamaha Mio versi Hari Ibu ini. 

Meski maksudnya baik: meringankan beban ibu sebagai salah satu bentuk penghargaan dan bakti anak pada sosok ibu, iklan yang dibuat khusus untuk memperingati hari ibu ini tanpa sengaja mengabaikan unsur eco-friendly dan gerakan save the earth yang sedang gencar. Alih-alih mendukung gerakan Bike-2-Work yang sekarang menggejala di kota metro, iklan Mio justru mengampanyekan penggunaan motor sebagai pengganti sepeda. Subtitusi sepeda dengan motor matik memberi pencitraan modern ketimbang sepeda yang usang, tradisional, dan tentu saja melelahkan. Tak lupa, untuk memperkuat kesan modern keranjang anyaman bambu yang etnik klasik juga perlu diganti dengan keranjang plastik. Padahal, kita semua tahu plastik adalah penyumbang sampah terbesar di muka bumi ini yang palinng sulit terdegradasi secara alamiah oleh alam.

Satu hal yang disayangkan dalam iklan, ketika membuat perbandingan seringkali tidak apple-to-apple. Di iklan Mio versi hari Ibu ini, si Ibu tidak "menggenjot" sepedanya, melainkan menuntun sepeda. Mungkin, akan lebih bijak jika adegan "bersepeda" ini diganti dengan jalan kaki menyunggi bakul dagangan naik turun bukit *sedikit lebay*. Dengan demikian, kelelahan yang menerpa akibat seharian berdagang (asumsi saya, pekerjaan ibu ini berdagang makanan keliling kampung, CMIIW) akan nyata terganti oleh motor matik yang memang menyasar kaum perempuan sebagai target utamanya itu.


Satu lagi, kalau sayang sama ibu kenapa gak menyertakan helm di paket hadiah hari Ibu-nya ya? Supaya bisa sekalian kampanye safety riding.






Saturday, December 19, 2009

Go Green, Go Away HIV/AIDS

Punya rencana apa long weekend kali ini?


Mengakhiri rangkaian panjang libur tahun  baru 1 Muharram 1431H, Depok didaulat menjadi tuan rumah kopdar besar komunitas mig33 Indonesia. Bukan sekedar kopdar, karena rencananya acara yang digelar Minggu pagi *20 desember besok* mulai jam tujuh sampe kelar itu juga dicanangkan sebagai hari pencanangan Depok Bebas Sampah dan peringatan hari AIDS.

Penggabungan dua event bermakna itu, juga dibarengi dengan pencatatan rekor MURI untuk replika belimbing terbesar *sebagai ikon kota Depok* berbahan sampah plus pemakaian pita merah *simbol peduli AIDS* untuk lima ribu orang!!! Whew....

Ketua panitianya sendiri memastikan, ada empat ribu anggota komunitas yang akan membanjiri lapangan O'Zone Margo City. Sedangkan penampil yang bakal unjuk aksi antara lain brand ambassador Indosat Saykoji dan Vierra, Souljah, September, serta Green Savanna. Bukan hajatan seru namanya kalau sepi dari hiburan interaktif macam bazar dan games berhadiah.

Jadi, segera dicatat dalam agenda ya.... 

Monday, December 14, 2009

Mereka Hanya Ingin Pulang ...


Sekelompok anak muda, melakukan pendakian ke Gunung Sarangan yang tersohor kerap menelan korban. Seperti pendahulunya, mereka tersesat di kawasan terlarang. Pasukan SAR pun dikerahkan untuk menemukan kembali mereka. Terdorong kepedulian, pendaki yang pernah mengalami kejadian serupa ikut terjun. As simple as that, ide cerita dalam Pencarian Terakhir besutan sutradara Affandi Abdul Rachman yang rilis perdana 2008 lalu. Meski terlihat sederhana, Pencarian Terakhir yang berdurasi tak kurang dari 100 menit ini diramu cukup apik sebagai tayangan bergenre thriller yang layak diperhitungkan.



Minus bintang terkenal, Pencarian Terakhir memasang Rischa Novischa, Alex Abbad, Yama Carlos, Mike Lucock (VJ Mike), dan Lukman Sardi (lagi) sebagai pelakon. Selebihnya, pemain baru atau nama yang jarang terdengar di ranah dunia hiburan (jarang wara wiri di tayangan infotainment).  Namun bukan berarti tanpa daya pikat. Sepanjang film, saya dibuat gemas karena berkali-kali jantung saya yang memang cukup sensitif ini dipermainkan debarnya.

Jangan bandingkan Pencarian Terakhir dengan Final Destination, I Know What You Did Last Summer dan sekuelnya, serta rombongan film sejenis yang senang mengirim beberapa anak muda untuk dikorbankan nyawanya di sebuah tempat berhantu. Meski memang Gunung Sarangan yang menjadi lokasi ditengarai "berpenghuni". Pencarian Terakhir tidak serta merta terjebak arus mematikan satu per satu pemerannya demi memuaskan hasrat membunuh sang hantu (apa betul hantu bisa membunuh ya?). Pencarian Terakhir juga kering dari adegan rawan sensor seperti kostum minimalis dan adegan bercinta. Ya iyalah, di gunung mana mungkin pake bikini sih hehehe...


Sebaliknya, Pencarian Terakhir tampaknya berusaha mematahkan stigma bahwa film laris adalah yang menjual tubuh mulus dan membayar lebih untuk pemain dari dunia lain. Meski ada penggambaran mahluk halus, keberadaannya tidak dalam bentuk menjijikkan (baca: berdarah-darah, bentuk tubuh gak normal, atau dibungkus kostum putih). Bahkan, salah satu penyebab nyasarnya rombongan pendaki amatir (saya sebut amatir karena sepertinya rombongan nyasar ini gak memahami betul rambu-rambu berpetualang di alam liar) ini adalah akibat mabuk-mabukan. It means, petuah don't drink while you are driving juga berlaku di gunung dan diterjemahkan sebagai don't drink while you are hiking. Setuju?

Sayang sejuta sayang, Pencarian Terakhir yang rilis akhir 2008 ini terseok di sisi penjualan. Laris atau terjungkalnya sebuah karya sinema, memang tidak bisa dilepaskan dari peran taktik promosi. Karena itu, selentingan beredar bahwa Pencarian Terakhir bakal dirilis ulang dan disertakan dalam sebuah festival film. Dengan catatan tambahan: tidak dirilis dalam bentuk cakram digital, kita tunggu saja realisasinya.




Sunday, December 13, 2009

Owe Owa


Bahwa Indonesia berlimpah biodiversitas, siapa yang memungkiri? Saking beragamnya, gak aneh jika beberapa dari kekayaan biodiversitas kita terabaikan atau kurang populer. Salah satunya owa Jawa. 


Penyandang nama latin Hylobates moloch ini memang kalah pamor ketimbang primata lain, seperti orang utan asal Kalimantan. Padahal, sebagai satwa endemik pulau Jawa,  status owa sudah masuk kategori kritis. Primata herbivora ini jumlahnya ditengarai tinggal 4000 ekor, akibat pengurangan habitat, perburuan, dan terpenjara sebagai peliharaan. Ketidakpedulian pada owa, cepat atau lambat akan berujung pada kepunahan. Tragis, seperti nasib harimau Bali yang cuma bisa dinikmati fotonya...(T_T)


Saya sendiri belum pernah bertatap muka dengan owa. Perjalanan ke TN Halimun pada pertengahan 90an, hanya menghasilan jeritan owa yang terdengar bersahutan di antara rumbun daun. Seperti kebanyakan primata penghuni hutan, owa agaknya cukup pemalu utuk berjumpa dengan kerabat jauhnya yang berbeda kasta. Namun, ingatan pada owa kembali melekat ketika di perhelatan marketer bertajuk Markplus Conference kemarin saya mendapati Conservation International mengampanyekan penyelamatan owa.



Lewat program Javan Gibbon Center atau JGC,  kolaborasi dari banyak pihak yang peduli akan keberadaan owa, para owa yang tercerabut dari akarnya sebagai penduduk asli hutan hujan tropis direhabilitasi untuk nantinya dikembalikan ke habitatnya semula. Bisa ditebak, biaya penyelamatan owa tidak sedikit. Setidaknya, butuh USD50,000 per tahun untuk program ini. Jumlah yang tidak kecil, untuk kegiatan yang masih belum menjadi skala prioritas di negara yang masih bergelut dengan permasalahan ekonomi.



Partisipasi untuk konservasi keluarga owa sendiri diupayakan melalui banyak pintu. Salah satunya, kita juga bisa mengadopsi owa. Jangan berpikir adopsi owa berarti kita bakal sekamar dan serumah dengan owa yang berwajah kiyut ini lho, sebab tindakan ini justru bertentangan dengan prinsip konservasi dan cinta pada satwa liar. Adopsi owa diejawantahkan lewat donasi untuk menyokong kegiatan di area konservasi dan bergabung bersama MOLI FAMILY. Sebagai anggota resmi Moli Family, kita akan menerima kaos eksklusif bergambar owa beserta fotonya dalam pose menggemaskan (minus tanda tangan tentunya). Selain itu, laporan rutin dari owa yang kita adopsi juga akan dikirimkan secara periodik bulanan. 


Fakta unik yang patut dicontoh dari owa adalah, primata berbulu abu-abu ini ternyata setia pada pasangan dan penganut paham monogami lho....


 

Vampir Kosmopolitan

Ini bukan posting euforia Twilight Saga atau New Moon...

Kalau beberapa hari ini status saya di wall Facebook maupun thread di Plurk nyebut-nyebut vampir, itu bukan karena saya terjangkiti virus six-packnya Taylor Lautner di sekuel drama cinta Twilight. Saya bahkan belum nonton lho hahaha...


Ceritanya begini...
Senin lalu saya terkapar seharian memeluk kasur, badan berasa bagai ayam kodok (ayam cabut tulang, cara membuatnya ada di sini): ga' punya nyali buat berdiri *lebay mode on*. Usut punya usut, ternyata kolaborasi liar hipotensi dan anemia berperan penting dalam ketidakberdayaan seorang saya hari itu. Pengukuran akurat menunjukkan nilai sistol/diastol sebesar 85/60 yang artinya: hipotensi, iya hipotensi: suatu keadaan di mana tekanan darah berada di bawah angka normal. Sejatinya, tekanan darah manusia yang normal ada di kisaran 110-120/70 mmHg. Ini berarti, angka tekanan darah saya mengalami diskon sebesar 30%...



Parahnya lagi, meski kandungan haemoglobin darah saya dinyatakan masih di ambang kenormalan, nyatanya hari itu saya positif didiagnosis anemia: kekurangan darah. Errrrr.... sebetulnya lebih tepat kalo dijabarkan sebagai minimnya kandungan eritrosit alias sel darah merah yang fungsi utamanya menjadi kurir oksigen ke seluruh bagian tubuh, terutama otak. No wonder, denyutan nyeri di kepala saya menggila...

Trus apa hubungannya sama vampir? Seorang pengidap hipotensi, mudah dikenali dari ketidaktahanannya terhadap paparan sinar matahari langsung yang bisa berefek sakit kepala hebat. Serupa dengan vampir yang gak pernah tahan kena sinar matahari, kecuali keluarga Cullen hahaha... Sementara, anemia ditandai dengan pucatnya warna kulit terutama kelopak mata bagian bawah. Persis vampir yang wajahnya ga pernah merona kan?

Melalui serangkaian perenungan dan penelaahan mendalam, saya merujuk pada satu hipotesis pemicu bersatunya dua bintang utama dalam kisah vampir saya. Bisa jadi, selain asupan gizi yang kurang memadai *makan banyak gak menjamin kebutuhan tubuh akan nutrisi terpenuhi*, faktor kelelahan juga ikut andil.  Mungkin juga, ini merupakan bentuk unjuk rasa tubuh saya yang merasa dizalimi karena perlakuan tidak adil tadi.


Ambil positifnya saja, menjadi "vampir" sebetulnya lebih menyenangkan ketimbang pengidap hipertensi. Kondisi "kekurangan gizi", mengharuskan pengidap mengonsumsi makanan bergizi dan enak-enak. Sementara sebagian orang musti mengurangi kenikmatan dunia dalam bentuk olahan kambing, saya justru mustinya cukup rajin mengunyah sajian daging merah. Tentunya dalam jumlah yang terkendali. Asyiknya lagi, pola makan bagi hipotensi yang disarankan adalah porsi kecil tapi sering....

Hmmmm.. kedengarannya menyenangkan *lari ke dapur cari makanan*


 


       

Saturday, December 05, 2009

Bengkel Hati


Patah hati bukan akhir segalanya. Maka, jika Anda terindikasi mengidap patah hati stadium awal hingga kronis sekali pun, kini ada agen HeartBreak.com yang siap menangani. Tersenyum, hadapi dunia dengan tegar dan rebut kembali cinta sejati Anda, itulah yang ditawarkan film bertajuk sama yang baru saja rilis resmi 3 Desember lalu.


Ini memang cerita dalam sinema, tapi bisa menginspirasi di tengah maraknya kasus mengakhiri hidup di metropolitan pekan ini. Setidaknya, menyaksikan film bergenre komedi romantis ini bisa membuat Anda menarik sudut bibir ke atas dan malu kenapa musti merasa sendirian di dunia cuma karena luka hati dikhianati kekasih.

Berkisah tentang retaknya jalinan cinta Agus Supriyatna (Ramon Y. Tungka) karena sang kekasih Nayla (Raihanuun Soeriaatmadja) memalingkan hatinya pada lelaki lain, Kevin (Gary Ishkak). Dengan dukungan sahabatnya, Wawan (Ananda Omesh) dan sang pacar Raya (Rischa Novischa), Agus berusaha merebut kembali hati Nayla melalui agen intelegensi HeartBreak.com yang dikomandoi mbak Elza (Sophie Navita). 

Cerita bergulir dengan serangkaian usaha Agus pasca putus cinta atas bimbingan dari mbak Elza dan tim (bagian ini layak ditiru dan perlu). Taburan humor segar mewarnai nyaris 90% tayangan, meski ada beberapa scene mengharukan yang mengaduk emosi dan membuat penonton mengheningkan cipta sejenak. No slapstick, sorry. Hingga akhirnya Nayla kembali tersadar bahwa Agus lah orang yang tepat untuknya, meski secara materi dan kasta bukan sejajar dengan Kevin. Sampai di sini, jangan kira film berakhir dengan bersatunya kembali Agus dan Nayla. Affandi Abdul Rahman agaknya tidak membiarkan kita terlena dengan ending yang biasa saja. Sutradara muda yang pernah mengenyam short course di Universal Academy dan juga alumni dari Columbia College of Hollywood jurusan Directing & Cinematography ini memberikan kejutan manis yang mengesankan. Durasi 105 menit pun menjadi jauh dari membosankan.  


HDBC sebenarnya mengangkat tema biasa: anak muda patah hati dengan latar belakang kehidupan mahasiswa yang secara ekonomi biasa saja. Hanya saja, Syamsul Hadi sang penulis cerita berhasil mengemasnya menjadi tidak biasa. Ditambah sentuhan midas Affandi Abdul Rachman, akting para pelakon pun jadi lebih natural.


Hanya satu nama yang akrab dengan dunia komedi di film ini, Ananda Omesh yang lebih kita kenal di tayangan komedi berbasis skenario Extravaganza. Di HDBC juga kita bisa menyaksikan Yama Carlos yang lain. Eh ya, HDBC juga menghadirkan cameo aktris sekelas Jajang C. Noer lho...


Mengejutkan memang, dengan masa produksi terbilang singkat --hanya 16 hari-- namun HDBC mampu membawa angin segar di layar lebar tanah air dengan mutu yang layak dibanggakan. Uniknya lagi, gala premiere HDBC justru menandai resmi beroperasinya situs solusi patah hati yang beralamat di http://www.heart-break.com/, satu solusi dunia maya guna mengantisipasi jatuhnya kembali korban yang mengatasnamakan cinta ...


Friday, December 04, 2009

Kekuatan Koin.. Datanglah!


Ini bukan mantra a la Sailor Moon yang bisa mengubah saya menjadi seorang superhero. Melainkan gerakan spontan tanpa bayaran, hanya digerakkan oleh hati nurani untuk mendukung sepenuhnya perjuangan seorang perempuan bernama Prita Mulyasari yang namanya mencuat berbarengan dengan si cantik sensasional Manohara Odelia Pinot. Bedanya, Prita kembali kembali menjadi headline seiring keharusannya menyetorkan dana sebesar 204 juta rupiah ke RS OMNI Internasional atas putusan PN Banten.  


Tanggapan reaktif tentu saja membanjiri aneka media sosial di ranah maya: nyaris seluruhnya mengutuk putusan itu. Dua ratus empat juta rupiah bukan angka yang kecil, terlebih bila kita menelusuri pangkal masalah hingga ke hulu dan mengikuti perjalanannya sampai ke muara bernama putusan hasil banding. Bersyukurlah, nusantara tercinta masih menyimpan tidak sedikit orang baik dan punya hati. Tak kurang seorang Fahmi Idris menggelontorkan 102juta rupiah sebagai solidaritas.


Para narablog sendiri sudah pasti pantang diam. Sebuah diskusi serius digelar dan membuahkan kesepakatan untuk melakukan aksi, salah satunya pengumpulan koin untuk menutup kekurangan biaya denda sampai MA memberikan jawaban kasasi Prita. 


Kenapa koin? Tentunya bukan asal meniru Coin-A-Chance yang telah sukses menghantar anak putus sekolah meraih harapan. Lima puluh juta rupiah dalam bentuk koin ini dapat diinterpretasikan sebagai isyarat banyaknya dukungan yang mengalir bagi Prita, korban timpangnya dunia justisia Indonesia kita.  Selain itu, bila MA masih tak punya cukup hati mengabulkan kasasi Prita, karungan koin juga berbicara sebagai protes keras dan keberatan yang teramat dalam...


Sekarang, coba cek saku dan dompet anda barangkali terselip kepingan koin untuk disalurkan ke Wetiga.com di Jalan Langsat I/3A, Kebayoran Baru atau di Markas Sehat yang letaknya di Jl Taman Margasatwa no. 60 Jatipadang, tlp 7800271. Keduanya di kawasan Jakarta Selatan... 

 

Popular Posts